Ngada, MMI – Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) melaksanakan kegiatan Road Show Jurnalistik bertema “Sinergi Media dan Komunitas dalam Membangun Daerah yang Berdampak pada Pertumbuhan Ekonomi” di Kampung Adat Be’a, Desa Be’a Pawe, Kecamatan Golewa Barat, Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) (22/01/2025).
Kegiatan ini diselenggarakan oleh mahasiswa PGSD dengan pendampingan bapak Philip Wonga Kaka, S.Pd., M.Pd., dosen PGSD yang juga bertindak sebagai penyelenggara kegiatan.
Dalam wawancaranya, bapak Philip Wonga Kaka menjelaskan bahwa road show jurnalistik ini bertujuan untuk membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya media sebagai sarana strategis dalam memperkenalkan potensi lokal.
“Media memiliki peran penting dalam mengangkat kekayaan budaya, sosial, dan alam desa. Jika dikelola dengan baik, publikasi yang tepat dapat mendorong pembangunan yang berkelanjutan dan berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Kegiatan tersebut mendapat sambutan hangat dari keluarga besar dan seluruh masyarakat Kampung Adat Be’a.
Antusiasme warga terlihat dari keterlibatan aktif masyarakat sejak awal kegiatan.
Rangkaian acara diawali dengan prosesi adat Ti’I ka Ebu Nusi, sebuah ritual adat sebagai ungkapan syukur serta permohonan restu kepada Tuhan dan leluhur agar seluruh kegiatan berjalan lancar dan membawa kebaikan bagi masyarakat.
Kampung Adat Be’a merupakan salah satu kampung adat yang hingga kini masih menjaga dan menjalankan kebudayaan secara tertib dan teratur.
Nilai-nilai adat tetap menjadi pedoman dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, mulai dari tata hubungan sosial, penyelesaian konflik, hingga pelaksanaan ritus adat.
Kehidupan masyarakat Kampung Adat Be’a ditopang oleh empat suku (klan) utama, yakni Suku Deru, Suku Gizi, Suku Be’a Pawe, dan Suku Be’a, yang hidup berdampingan secara harmonis dan memiliki peran penting dalam struktur sosial adat.
Sebagai bentuk perlindungan terhadap adat istiadat, Pemerintah Desa Be’a Pawe menetapkan Peraturan Desa (Perdes) yang mengatur seluruh ketentuan budaya yang berlaku di Kampung Adat Be’a.
Perdes ini memuat norma adat, tata aturan sosial, serta sanksi atau hukuman budaya yang digunakan dalam penyelesaian setiap persoalan yang terjadi di desa.
Aturan tersebut disepakati bersama masyarakat dan berfungsi menjaga ketertiban, keharmonisan, serta persatuan antarsuku.
Salah satu tradisi adat yang masih dijalankan dengan penuh makna adalah upacara adat Reba. Kepala Desa Be’a Pawe, bapak Marianus Oktavianus Kila, dalam wawancaranya menjelaskan bahwa Reba bukan hanya ritual adat, tetapi juga memiliki makna spiritual dan sosial yang sangat kuat.
“Selain sebagai ungkapan rasa syukur kepada Dewa Zeta Nitu Zale atas kehidupan dan hasil bumi, Reba juga dimaknai sebagai panggil pulang, yaitu memanggil seluruh keluarga dan suku untuk berkumpul, mempererat persaudaraan, serta menghormati leluhur,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa upacara adat Reba tidak dapat dilaksanakan apabila seluruh keluarga dan suku belum berkumpul, karena kebersamaan dan persatuan menjadi nilai utama dalam pelaksanaan adat tersebut.
Hal senada disampaikan oleh bapak Polus tokoh adat Kampung Adat Be’a, yang menegaskan bahwa Reba merupakan puncak persatuan masyarakat adat.
“Reba adalah waktu sakral untuk menyatukan semua suku dan keluarga. Tanpa kebersamaan, adat tidak bisa dijalankan,” ungkapnya.
Selain itu, dalam pelaksanaan upacara adat Reba juga terdapat ketentuan dan larangan adat yang harus dipatuhi oleh seluruh masyarakat baik yang dari kampung bea mau pun masyarakat luar.
Salah satunya adalah larangan membawa makanan laut serta daun koli ke dalam kampung adat selama pelaksanaan Reba.
Dalam rangkaian upacara adat Reba, terdapat situs adat yang sangat sakral, yakni Watu Lanu, sebuah batu adat yang berbentuk menyerupai baskom dan memiliki nilai spiritual tinggi bagi masyarakat Kampung Adat Be’a.
Pada hari-hari biasa, Watu Lanu tidak dapat diakses maupun dilihat dari jarak dekat karena dilindungi oleh aturan adat yang ketat.
Batu ini hanya dapat didekati pada saat pelaksanaan upacara adat Reba yang berlangsung setiap 27 Desember.
Dalam prosesi adat tersebut, Watu Lanu biasanya digunakan sebagai tempat menyimpan moke yang dipersembahkan sebagai simbol penghormatan dan persembahan bagi para leluhur, sebagai wujud rasa syukur serta pengakuan atas peran leluhur dalam menjaga kehidupan dan kesejahteraan masyarakat Kampung Adat Be’a.
Selain kekayaan budaya, Kampung Adat Be’a juga memiliki potensi alam berupa air terjun Wae Roa. Dalam bahasa Indonesia, Wae Roa berarti “air yang menyala”, sebuah sebutan yang diwariskan oleh orang tua terdahulu.
Wae Roa merupakan kawasan alam murni tanpa campur tangan manusia, dengan aliran air jernih, bebatuan alami, serta pepohonan yang tumbuh subur di sekitarnya.
Saat ini, mata pencaharian utama masyarakat Kampung Adat Be’a adalah berkebun.
Masyarakat berharap potensi Wae Roa dapat diperkenalkan dan dikembangkan secara bertahap dan bijaksana, tanpa menghilangkan keaslian alam serta nilai-nilai adat, sehingga mampu membuka peluang ekonomi baru bagi warga.
Melalui kegiatan Road Show Jurnalistik ini, mahasiswa PGSD mendorong terbangunnya sinergi antara media, komunitas, dan pemerintah desa dalam mempublikasikan potensi Kampung Adat Be’a.
Media diharapkan tidak hanya menjadi sarana penyebaran informasi, tetapi juga alat pemberdayaan masyarakat.
Sebagai penutup, kegiatan ini menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak harus mengorbankan adat dan alam.
Dengan kolaborasi yang tepat, nilai budaya yang kuat, sistem adat yang terjaga melalui Perdes, serta potensi alam yang masih murni seperti Wae Roa dapat menjadi kekuatan utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan berbasis kearifan lokal.
Penulis:
1. Andriani Mbaga (2315301902009)
2. Mertin Diana Mbowa (2315301902086)
3. Maria Jesica Soy Waso (2315301902055)
4. Fiktoria Nau Bhaghi (2315301902025)
5. Cicilia Narcia Ndao (2315301902018)
6. Natalia Ermelinda Leka (2315301902089)
7. Maria Dorty Tanggo (2315301902045)
8. Maria Fenansia Watu (2315301902050)
9. Maria Noo (2315301902069)
Mahasiswa Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Sekolah Tinggi Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Citra Bakti
Dosen Pengampu: Pelipus Wungo Kaka, M.Pd.
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












