Rasanya aku mulai kehilangan kendali, tapi aku masih berusaha melawan. Aku merasa kewalahan dan tertekan oleh begitu banyaknya hal yang harus aku lakukan. Aku tidak tahu harus mulai dari mana. Aku merasa sangat malu pada diriku sendiri.
Aku ingin bersembunyi. Aku ingin menutup tirai dari dunia luar dan hidup dalam gelembung waktu. Aku ingin menghentikan waktu sejenak—untuk beristirahat, menarik napas, dan merasa lebih baikan.
Aku merasa malu dengan kebutuhanku akan hal itu. Ironisnya, aku tidak mau diriku untuk benar-benar melakukannya, sehingga keadaanku justru memburuk: aku tampak sibuk bekerja, padahal sebenarnya tidak menghasilkan apa-apa. Aku iri pada orang-orang yang bisa berjalan tanpa perlu itu semua.
Aku juga ingin berhenti merasakan terlalu banyak—berlebihan—hingga akhirnya terjebak, membeku di antara dorongan untuk melawan atau lari, hanya karena perasaan yang terlalu penuh.
Aku merasa malu karena setiap pagi, meskipun sudah terbangun, aku menunda untuk beranjak dari tempat tidur. Aku takut menanggung beban besar yang seharusnya kulakukan, tapi aku merasa kewalahan untuk melakukannya.
Aku menunda bukan hanya pekerjaannya, tapi juga perasaan membenci diri sendiri yang pasti akan datang. Padahal, perasaan itu tetap membayangi di belakang pikiranku—meskipun aku bekerja atau tidak.
Aku merasa kesulitan untuk memaksa diriku untuk mengerjakan apa pun yang menguras banyak energi untuk berpikir. Aku dapat menulis dengan lebih baik jika aku mabuk karena di saat inilah aku tidak terus-menerus menghajar diriku untuk menulis setiap kalimat.
Kata-kataku dapat mengalir dengan lebih bebas dengan dorongan dari minuman itu. Kalau tidak, kepala ini seperti berdengung layaknya kaset rusak yang memutar lagu sama berulang-ulang: ‘norak’, ‘jelek’, dan ‘nggak berbakat.’
Aku iri pada pasanganku atau siapa pun yang bisa mengendalikan emosi mereka dengan lebih baik walaupun hampir semua orang bisa melakukannya. Aku merasa terasingkan bekerja di lingkungan kerja yang ‘normal’ karena aku sering kewalahan oleh perasaan sendiri dan terus-menerus harus minta izin ke kamar mandi hanya untuk menangis.
Tolong, biarkan aku sendiri saja. Aku justru bekerja lebih baik dengan rebahan seharian di tempat tidur, masih pakai piyama, pencahayaan seadanya, keripik berminyak, dan teh yang sudah dingin karena terlalu lama direbus di meja samping tempat tidur. Aku benar-benar tidak mengerti bagaimana dia bisa melakukannya; menjadi orang biasa yang fungsional.
Baca Juga: Generasi Z di Persimpangan Era Digital dan Dunia Kerja
Aku selalu bilang kalau aku kewalahan. Aku merasa kewalahan, jadi membiarkan diriku untuk istirahat sebentar. Aku melakukannya, tapi entah kenapa aku tidak kunjung merasa lebih baik. Sebenarnya aku tahu apa saja yang seharusnya kulakukan supaya merasa lebih baik.
Lari? Makan lebih sehat? Tapi tetap saja tidak kulakukan, karena semuanya terasa berat. Aneh rasanya, bagi kebanyakan orang, hidup dengan cukup tenang dan beraktivitas dengan normal itu seperti kondisi bawaan. Sementara bagiku, itu terasa seperti tugas yang teramat berat, seperti mendaki gunung yang teramat tinggi.
Semua masalah ini berakar pada perasaan bahwa apa pun yang kulakukan sama sekali tidak berarti. Kalau memang begitu, untuk apa melakukan ini dan itu? Aku jadi terdorong untuk terus mengerjakan hal-hal yang memberi hasil instan—sesuatu yang langsung bisa kulihat.
Menulis dan membuat video terasa lebih mudah karena selalu ada bukti di akhirnya. Lihat, ini yang kutulis hari ini. Ini yang aku buat.
Lalu aku merasa sedikit lebih baik hari itu, sampai keesokan harinya siklus yang sama dimulai lagi, karena tidur seolah menghapus semua kemajuan emosional yang sudah kucapai sehari sebelumnya.
Rasanya seperti ada lubang hitam di dalam diriku, rakus dan tak pernah puas. Apa pun yang masuk ke dalamnya justru membuatnya semakin besar, bukan membuatnya berhenti tumbuh.
Jika aku membandingkan diriku sekarang dengan diriku dua tahun lalu, aku sadar bahwa aku sudah melangkah cukup jauh. Versi diriku dua tahun lalu pasti akan terkejut, dan cukup bahagia, melihat siapa aku hari ini. Namun, kesadaran itu hanya berhenti di kepala.
Aku tidak benar-benar merasakan apa pun. Keinginanku justru semakin banyak dan rasa tidak puas itu tetap mengendap dalam-dalam. Bahkan rasa malu yang seharusnya berkurang setelah semua usaha ini, sama sekali tidak memudar. Mungkin malah sedikit bertambah.
Aku merasa frustasi ketika orang-orang mengatakan bahwa aku hanya perlu bekerja dengan lebih keras. Jika aku bekerja dengan lebih keras dan mengungguli mereka, aku pasti akan merasa jauh lebih baik. Tapi tak peduli seberapa banyak kemajuan yang dicapai untuk mewujudkan itu, aku belum juga merasa lebih baik.
Aku hanya merasa agak lega pada hari-hari ketika aku merasa telah melakukan cukup banyak hal untuk pantas merasa lebih baik—dan itu pun jarang terjadi. Namun, perasaan itu selalu akan memudar keesokan harinya.
Jadi sebenarnya, apa yang sedang aku perjuangkan? Kenapa logika bahwa “kalau aku bekerja cukup keras, aku bisa merasa bahagia” terdengar masuk akal, tetapi terkadang sulit dirasakan?
Lalu orang-orang bilang, pasang saja target yang jelas dan bisa diukur. Aku sudah melakukannya. Tapi setelah satu per satu target itu tercapai, aku tetap tidak merasa lebih baik. Apa targetnya yang salah? Tapi aku juga tidak tahu target lain apa yang harus dibuat.
Aku sudah berusaha merencanakan semuanya sebaik mungkin, dan bahkan dengan target yang paling masuk akal sekalipun, rasanya tetap saja hancur.
Mungkin karena, jauh di dalam lubuk hati, aku tidak pernah benar-benar menghargai apa yang aku kerjakan. Suatu pekerjaan hanya terlihat mengesankan saat aku belum memahaminya atau belum mencapainya. Begitu aku mulai paham cara kerjanya dan sudah punya pencapaian di sana, sudut pandangku langsung berubah.
Awalnya, saat masih awam, semuanya terasa rumit dan mengagumkan karena aku belum mengerti apa-apa. Namun setelah terbiasa dan memiliki pengalaman, bidang itu justru terasa biasa saja. Hal-hal yang dulu terlihat sulit kini terasa mudah, bukan karena memang sederhana, tetapi karena sudah melekat sebagai kebiasaan dan intuisi.
Misalnya, menulis esai akademik di bidang humaniora terasa mudah bagiku, bahkan aku merasa heran kenapa ada orang yang menganggap ini sulit.
Menjaga konsistensi tenses, menyusun paragraf dengan rapi, mencari sumber dan menuliskannya dalam sitasi, serta berbagai aspek teknis lainnya terasa begitu intuitif, dan bahkan aku sampai tidak perlu banyak memikirkannya, sehingga akhirnya terlihat seperti pekerjaan yang ‘bisa diselesaikan sambil tidur.’
Semua yang aku lakukan jika sudah menjadi intuisi, dapat aku selesaikan ‘bagai air yang mengalir’! Di situlah masalahnya.
Satu-satunya cara agar seseorang yang mengerjakan hal-hal yang ia anggap remeh itu bisa menghargai dirinya sendiri adalah dengan membandingkan diri dengan orang lain yang tidak memiliki kemampuan tersebut—baru kemudian ia menyadari bahwa keterampilan yang ia kuasai sebenarnya tidak sesederhana itu. Namun, kesadaran semacam ini hanya bertahan sementara.
Biasanya, setelah momen aneh ketika aku menyadari bahwa sesuatu yang bagiku terasa mudah ternyata tidak berlaku bagi orang lain, aku sempat merasa sedikit lebih percaya diri pada kemampuanku. Tapi perasaan itu cepat hilang, lalu aku kembali merasa hampa dan kurang percaya diri.
Baca Juga: Pengaruh Teknologi Digital terhadap Produktivitas Kerja pada Generasi Milenial di Masa Kini
Jadi, bagaimana caranya mempertahankan rasa percaya diri terhadap kemampuan yang kita miliki dalam jangka panjang? Hal itu mudah dilakukan jika kemampuan tersebut dianggap bergengsi secara sosial dan bernilai tinggi secara finansial.
Namun, menjadi sangat sulit ketika hampir tidak ada yang peduli pada bidang yang dikuasai—seperti yang sering terjadi pada bidang seni.
Aku berharap bisa berhenti—atau bahkan kembali ke masa ketika kegiatan artistik masih dianggap keren. Saat pendidikan daripada itu justru dianggap sebagai berkelas, bukan pengangguran. Aku ingin menghentikan waktu, ketika keterampilanku masih dibutuhkan dan belum tergeser oleh AI.
Aku ingin menghentikan waktu untuk beristirahat, mengambil jarak, dan menata ulang pijakan. Aku ingin menghentikan waktu agar, setidaknya untuk sesaat, aku bisa berdamai dengan diriku sendiri—tanpa alasan apa pun selain karena aku ingin.
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













