Satu Dolar Nyaris Rp18.000 tapi PDB Naik, Apakah Indonesia Sedang Menuju Krismon 98?

krisis moneter Indonesia

Saat ini, Indonesia tengah berada di dalam kekhawatiran akibat Rupiah yang melemah akibat adanya tekanan eksternal, yaitu gejolak geopolitik global di Selat Hormuz dan Kebijakan Moneter ketat Amerika Serikat. Investor asing keluar dari pasar keuangan negara Indonesia (bond market) yang menekan nilai tukar Rupiah hingga Rp17.600 per Dolar AS. Secara psikologis, angka ini kian intim mendekati level Rp18.000, memicu ingatan kolektif bangsa pada memori kelam 28 tahun silam: Krisis Moneter 1998.

Namun, jika kita melihat melampaui riuh rendahnya papan valuta asing, data Pertumbuhan Ekonomi atau PDB berbanding terbalik dengan nilai kurs Rupiah. PDB Indonesia meningkat secara signifikan di tahun 2026, yang awalnya di tahun 2024 sebesar 5,11% tapi di tahun 2026 naik menjadi 5,61%.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Baca juga: Sentilan dari Dolar yang Menguat: Dari Kebutuhan Pokok hingga Turunnya Daya Beli

Lemahnya Rupiah ke angka Rp 17.600 tidak selamanya buruk disemua sektor, sektor komoditas unggulan Indonesia seperti Kelapa Sawit (CPO), nikel, batu bara—serta sektor pariwisata justru meningkat pendapatannya. Mereka menerima pendapatan dalam Dolar AS, namun mengeluarkan biaya operasional (gaji buruh, logistik lokal) dalam Rupiah. Ketika dikonversi, keuntungan bersih mereka melonjak tajam, yang otomatis mendongkrak angka PDB nasional.

Selain itu pemerintah telah membuat dan menerapkan startegi belanja APBN yang dipercepat sejak diawal tahun. Hal ini memiliki dampak positif yaitu dapat menjaga ekonomi Indonesia agar tetap stabil, membiayai proyek terhadap peningkatan infrastruktur dengan tepat waktu, dan meberikan bantuan sosial bagi Masyarakat kelas bawah sebagai bantalan atau (shock absorber) . Maka dari itu konsumsi domestik menyumbang lebih dari 50% dari total PDB Indonesia agar daya beli masyarakat tidak rontok akibat sentimen global.

Baca juga: Rupiah Melemah terhadap Dolar Singapura: Apa yang Sebenarnya Terjadi pada Sistem Keuangan Kita?

Saat ini Indonesia memiliki Cadangan devisa yangkuat di angka $130 – $140+ miliar, sedangkan pada tahun 1998 Cadangan devisa berada dibawah $20 miliar, saat itu Bank Indonesia kehabisan amunisi dari Dolar AS untuk melakukan intervensi di pasar domestic, mengakibatkan nilai tukar rupiah sangat melemah dan rapuh. Sedangkan saat ini tepatnya pada tahun 2026 Bank Indonesia meredam kurs mata uang dengan melalui startegi Triple Intervention.

Selain itu pada tahun 2026, Indonesia sangat disiplin untuk menjaga rasio utang terhadap PDB Indonesia dikisaran 38%-39% dan salah satu yang terendah juga aman si Kawasan ASEAN. Namun, pada tahun 1998, rasio utang terhadap PDB Indonesia menlonjak sangat tinggi hingga melewati 80% dan sempat menyentuh 100% hal tersebut sangat mengkhwatirkan.

Baca juga: Di Bawah Bayang-Bayang Dolar: Tantangan Rupiah dalam Sistem Keuangan Global

Walaupun saat ini hanya nilai tukar rupiah yang melemah, namun Cadangan Devisa, Rasio Utaang dan PDB yang meningkat. Namun Bank Indonesia harus tetap menjaga stabilitas ekonomi mellaui kebijakan fiscal dan moneter. Bank Indonesia juga harus memaksimalkan instrument portofolio domestic (Saham, Obligasi, Reksa Dana, & Deposito) tanpa harus menaikkan nilai suku bunga yang terlalu ekstrem. Pelaku usaha di berbagai sektor yang bergantung pada komponen impor harus mulai berali ke rantai pasok local. Saat Ini Indonesia tidak sedang menuju 1998, namun Indonesia sedang diuji seberapa tangguhnya kekuatan ekonomi Indonesia di Tengah badai dunia.

Penulis: Ekawati Andini
Mahasiswa Program Studi Akuntansi Universitas Pamulang (Unpam)

Editor: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses