Bulan Mei jadi bulan paling tegang untuk orang tua TK. Bukan karena perpisahan, tapi karena ‘tes masuk SD’. Syaratnya satu: anak bisa tulis namanya sendiri. Alhasil di grup WA kelas penuh keluh kesah: “Bu, anak saya nangis tiap disuruh les nulis”; “Bu, gimana ya tangannya masih kaku pegang pensil?”.
Saya sedih. Sejak kapan gerbang SD dijaga satpam bernama ‘wajib calistung’? Padahal hakikat anak usia dini itu bermain, bukan di-drill jadi mesin fotokopi huruf.
Faktanya, menulis bukan keterampilan yang jatuh dari langit. Ia butuh ‘tangga’ bernama pra-menulis. Dan anak tangganya ada di ujung jari. Di kelas saya, awal semester, 80% anak pegang pensil dengan kepalan, seperti pegang palu. Bukan nakal. Otot jari telunjuk, jempol, dan pergelangan mereka memang belum siap.
Kalau dipaksa, yang muncul bukan tulisan, tapi trauma. Maka saya hentikan LKA menebalkan. Gantinya 15 menit sehari, jimpit pom-pom, ikat karet di pensil, memilin kertas, menekan plastisin. Tiga minggu kemudian 15 anak mengubah pegangannya ke 3 jari tanpa disuruh.
Tika yang dulu selalu bilang, ”Bu, tanganku pegel”, tiba tiba pamer: “Bu, lihat! Aku bisa bikin huruf O nggak keluar garis”. Itu bukan sulap. Itu karena jarinya sudah ‘pemanasan’ lewat main.
Baca Juga: Calistung: Baca, Tulis, Berhitung sebagai Upaya untuk Mencerdaskan Anak atau Sebaliknya?
Teori Tahapan Pra-Menulis Berry VMI
Kemampuan menulis adalah hasil akhir dari integrasi visual motorik. Anak harus lulus dulu di tahapan pra-menulis: mencoret, menjiplak garis, membentuk dari plastisin, koordinasi mata-tangan. Memaksa lompat tahap ibarat suruh bayi lari sebelum bisa duduk. Hasilnya? Otak stres, jari kaku, anak benci buku.
STPPA Kemendikbud sudah benar pada anak usia 5-6 tahun capaiannya ‘membuat coretan bermakna’, bukan menulis dikte. Kita orang dewasanya yang salah dalam terjemahkan.
Saya tahu ketakutan terbesar orang tua: “Nanti ketinggalan di SD!” Dulu saya juga takut. Tapi data bicara lain. Murid saya yang jarinya dilatih lewat 7 gerakan main, masuk SD nulisnya cepat selesai. Kenapa?
Karena dia tidak buang energi untuk ‘perang’ dengan pensil. Energinya fokus ke ide. Anak yang fondasi motorik halusnya kokoh justru melesat, karena tidak capek duluan. Yang ketinggalan itu yang tangannya tauma, yang tiap lihat pensil ingatkan bentakan.
Jadi stop balapan yang salah arah. Untuk SD… Hentikan tes tulis sebagai tiket masuk. Ganti dengan lihat cara anak main balok atau pegang krayon. Untuk guru TK… Berani kurangi LKA, ganti dengan pos main jimpit. Untuk ayah bunda… Ubah pertanyaan dari “Sudah bisa nulis apa?” jadi “Tadi jari main apa yang seru?”.
Anak bukan kertas kosong yang harus cepat penuh tulisan kita. Mereka benih yang perlu waktu menguatkan akar yaitu jari.
Kalau kita sepakat bahwa hak anak untuk berharap lebih penting dari gengsi ‘anakku sudah bisa nulis’, bagikan tulisan ini ke satu orang tua lain. Biar makin banyak anak masuk SD dengan kepala tegak dan jari yang gembira, bukan air mata dan kepalan yang gemetar.
Penulis:
Lukista Diyana, S.Pd.AUD
Mahasiswa Magister Pedagogi Universitas Muhammadiyah Malang
Dosen Pengampu: Dr. Daroe Iswatiningsih
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













