Di era digital saat ini, siapa yang tidak kenal dengan TikTok? Dalam beberapa tahun terakhir, aplikasi ini seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari remaja.
Namun di balik keseruannya, TikTok menyimpan dua wajah yang sangat berbeda di satu sisi bisa menjadi panggung ekspresi diri yang memberdayakan, tapi di sisi lain juga berpotensi menjadi sumber tekanan yang perlahan membebani. Mana yang lebih dominan sangat ditentukan oleh bagaimana seseorang memilih untuk menggunakannya.
TikTok menawarkan kebebasan berkreasi yang sulit ditemukan di tempat lain. Cukup dengan ponsel dan sedikit kreativitas, remaja bisa menampilkan bakat, ide, maupun kepribadian mereka kepada audiens yang sangat luas. Tidak sedikit yang justru menemukan passion-nya dari sini, entah itu menyanyi, menari, memasak, atau sekadar berbagi cerita sehari-hari. Ketika konten mereka mendapat respons positif, kepercayaan diri pun ikut tumbuh secara alami sesuatu yang tidak selalu mudah didapat di kehidupan nyata.
Lebih jauh, TikTok juga terbukti mendorong kreativitas penggunanya. Fitur editing yang terus berkembang, tantangan yang mengundang partisipasi, hingga tren audio yang silih berganti membuat remaja terbiasa berpikir out of the box dalam mengemas sebuah ide. Bahkan tanpa disadari, mereka sedang mengasah kemampuan storytelling dan produksi konten yang cukup berharga. Sebuah laporan dari We Are Social mencatat bahwa Indonesia termasuk negara dengan pengguna TikTok terbesar di dunia, dengan mayoritas penggunanya berusia 18 hingga 24 tahun usia di mana kreativitas sedang berada di puncaknya.
Baca Juga: Kajian Psikologis tentang Dampak Negatif Penggunaan Media Sosial TikTok pada Kondisi Mental Remaja
Tidak hanya soal kreativitas, TikTok juga membuka ruang interaksi sosial yang lebih luas. Lewat kolom komentar, duet, hingga kolaborasi konten, remaja bisa terhubung dengan orang-orang yang memiliki minat serupa dari berbagai penjuru daerah bahkan negara. Bagi sebagian remaja yang merasa sulit menemukan “tempatnya” di lingkungan sekitar, komunitas di TikTok bisa menjadi tempat yang terasa lebih nyaman dan menerima.
Namun, ada sisi lain yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Algoritma TikTok dirancang untuk terus menyodorkan konten yang paling menarik perhatian, dan konten semacam itu sering kali menampilkan standar fisik, gaya hidup, atau pencapaian yang jauh dari kenyataan kebanyakan orang. Sebuah studi dari Royal Society for Public Health menemukan bahwa media sosial berbasis visual, termasuk platform seperti TikTok, memiliki korelasi dengan meningkatnya rasa cemas dan rendah diri pada remaja, terutama perempuan. Angka ini bukan sekadar statistik di baliknya ada remaja sungguhan yang merasa dirinya tidak cukup baik.
Tekanan untuk mengikuti tren dan mendapatkan validasi lewat jumlah likes atau followers pun bisa berubah jadi beban yang tidak ringan. Remaja yang terpapar konten semacam itu tanpa filter rentan melakukan perbandingan sosial, merasa penampilannya kurang ideal, atau merasa gagal hanya karena kontennya tidak viral. Padahal, apa yang tampil di layar sudah melewati banyak filter, pencahayaan yang diatur, dan editing yang tidak sebentar. Tekanan seperti inilah yang perlahan bisa mengikis rasa percaya diri dan memunculkan kecemasan yang sebenarnya tidak perlu ada.
Baca Juga: Fenomena TikTok terhadap Transformasi Budaya Digital Generasi Z
Oleh karena itu, kuncinya bukan berhenti menggunakan TikTok, melainkan belajar menggunakannya dengan lebih bijak batasi waktu, selektif dalam memilih konten yang dikonsumsi, dan yang terpenting jangan jadikan TikTok sebagai tolok ukur nilai diri. TikTok bukan sesuatu yang sepenuhnya baik atau sepenuhnya buruk. Dengan kesadaran yang cukup, ia bisa menjadi ruang yang benar-benar bermanfaat untuk berkreasi, bertumbuh, dan terhubung dengan dunia.
Penulis: Syarifah Salwa Rahmatunnisa (1102025177)
Mahasiswa Kedokteran Universitas YARSI (UY)
Dosen Pengampu: Aulia Rahmi, S.Pd., M.Pd.
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












