Pada tahun 2019, saat itu saya masih menjadi seorang atlet dan menurut saya juga menegangkan sekaligus paling berharga dalam hidup saya, selama satu bulan penuh, saya mengikuti lomba pencak silat kategori fighter (tanding) tingkat kota.
Ini bukan pertama kalinya saya turun ke gelanggang sebagai wakil sekolah, dan sejak SD sudah turun di kelas figthter di kelas bebas.
Persiapan dimulai sebulan sebelum lomba. Setiap pagi & sore saya berlatih di padepokan bersama pelatih dan teman-teman. Fokus saya bukan hanya meningkatkan kekuatan fisik, tetapi juga mengendalikan emosi dan strategi bertarung.
Berhubung pelatih yang melatih ayah sendiri, beliau sering memberi motivasi dan selalu drill tiap hari latihan dan juga ayah seorang yang memiliki sifat keras dan juga anaknya harus keras ketika mengikuti pertandingan dan saya masih ingat pesan ayah saya, “Fighter sejati bukan yang paling kuat, tapi yang paling tenang.” Pesan itu terus terngiang di dalam diri saya sendiri
Sebelum pertandingan, saya mengikuti TC di tempat latihan saya karena di sana sudah terbentuk program latihan setiap minggunya dan paling terasa sangat berat waktu latihan fisik karena pelatih fisik itu ayah saya sendiri, ayah saya sendiri melatih anak-anak TC itu.
Kebanyakan siswa yang mengikuti latihan fisik banyak mengeluhnya, mungkin ayah saya terlalu keras melatihnya, entah karena hal lainnya, tetapi menurut saya sendiri memang keras karena saya bukan di tempat latihan saja dilatih sama ayah, di rumah pun saya di-drill fisik ketika tidak jadwal latihan apalagi untuk pola makan, ayah saya selalu mengingatkan saya seperti tidak boleh makan minum yang pedas atau es dan makanan lainya yang bisa menguras energi, karena ketika saat bertanding akan jelek mainnya, apalagi seorang fighter butuh latihan endurance yang sangat bagus.
Saat itu saya latihan di padepokan, saya mendapatkan musibah yang sangat fatal yaitu cedera kaki, kaki jempol saya bengkok akibat latihan atau sparing sesama teman, itu karena saya habis menendang tangan, bagian mana saya pun lupa, awalnya saya tidak tau dan tidak merasakan kaki saya tiba-tiba sudah bengkok dan yang mengetahui itu teman saya, di situ sparing diberhentikan oleh pelatih saya.
Saat itu pun pelatih saya sangat kebingungan karena pertandingan kurang 1 bulan, di situ saya memikirkan juga dengan keadaan saya yang tidak memungkinkan, tetapi saya memaksakan diri untuk mengikuti pertandingan tersebut karena pertandingan itu yang saya tunggu-tunggu.
Di kemudian hari saya disuruh istirahat sama pelatih saya selama 1 minggu dan itupun saya cuma modal dibawa ke tukang urut saja tetapi saya sangat kecewa dengan tukang urut tersebut karena dibawa ke tukang urut kedua katanya salah memijatnya dan tidak memungkinkan sembuh total.
Baca Juga: 7 Fakta Menarik tentang Maharashtra Pencak Silat Association yang Perlu Kamu Ketahui
Tetapi saya sangat memaksakan diri untuk mengikuti pertandingan itu, di situ saya memulai latihan perlahan-lahan dan saya juga berhati-hati meskipun dengan latihan sendiri tidak dengan temen padepokan saya, saya berlatih di rumah dengan ayah saya sendiri.
Dengan memulai program latihan sendiri, di rumah saya latihan menggunakan deker kaki atau tapping dan selalu melakukan latihan tendangan dengan perlahan-lahan.
Setelah mendekati pertandingan, saya mulai memberanikan diri untuk sparing antar teman dan alhamdulillah selama sparing menuju pertandingan tidak ada apa-apa, mungkin teman saya mengerti juga dengan keadaan saya yang habis cedera.
Setelah itu, H-6 sebelum pertandingan, saya diingatkan lagi oleh pelatih saya karena saya ingin mengikuti pertandingan tersebut, dan saya juga memikirkan takutnya kedepannya ada apa-apa, dan saya juga sangat yakin untuk mengikuti pertandingan dan percaya diri entah nanti di gelanggang kalau ada apa-apa urusan belakangan, yang penting saya mengikuti dulu pertandingan tersebut, dan saya turun di kelas H remaja dan di Walikota Cup, di situ bertemu lagi musuh waktu Porkota.
Di situ saya mulai mengikuti pertandingan dan saya mendapatkan juara 3 karena kondisi saya terutama kaki sangat tidak memungkinkan dan saya kalah.
Di situ saya evaluasi untuk diri saya sendiri dengan kekurangannya di mana saja saat bertanding dan setelah pertandingan tersebut kaki saya mulai kambuh lagi dan bengkak.
Baca Juga: Eksplorasi Pencak Silat sebagai Warisan Budaya dan Seni Bela Diri
Sampai sekarang saya vakum karena kaki saya saat ini tidak kembali, seperti bengkok sedikit meskipun bisa menendang tetapi trauma itu masih ada sampai saat ini, dan jujur saya ingin turun lagi di gelanggang setelah cedera tersebut tapi ayah saya tidak memperbolehkan apalagi sekarang banyak perubahan atau revisi-revisi peraturan pencak silat yang baru. Kalau saya ikut lagi, saya sama saja belajar dari nol lagi.
Di sini saya mempunyai banyak pembelajaran bagi diri saya sendiri, mengikuti lomba pencak silat pada tahun 2019 menjadi pengalaman yang sangat berarti meskipun dipenuhi berbagai tantangan dari cedera kaki memang menjadi masalah utama, tetapi semangat juang tetap menyala hingga pertandingan usai meskipun hanya berhasil meraih posisi juara 3.
Pengalaman lomba tersebut memberikan pelajaran berharga tentang arti kerja keras dalam menjadi seorang atlet pencak silat, serta pentingnya menjaga kondisi fisik meskipun saya vakum dari pencak silat akibat cedera dan adanya banyak perubahan peraturan menjadi ujian tersendiri, tetapi saya selalu ingat apa yang diperoleh dari pengalaman perlombaan tersebut.
Penulis: Muh. Qolbuddin Ikhmatiar
Mahasiswa Pendidikan Kepelatihan Olahraga Universitas Negeri Malang
Dosen Pengampu: Nurrul Riyad Fadhli, S.Pd., M.Or.
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












