Advokasi Penguatan Program MBG: Evaluasi Pelaksanaan dan Rekomendasi Dapur di Sekolah

Program Makan Bergizi Gratis
Makanan Basi yang Dikumpulkan dari Kotak Makan MBG (Foto: BBC)

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah sebuah program yang diusulkan oleh Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang diberikan kepada siswa mulai dari jenjang Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas.

Mengutip dari laman Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, selain untuk memastikan ketersediaan asupan gizi, program MBG juga menjadi intervensi kesehatan untuk mencegah stunting, obesitas, dan masalah gizi lainnya.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Program yang pertama kali diluncurkan pada tanggal 6 Januari 2025 ini telah menjadi menarik perhatian semua pihak karena merupakan langkah nyata pemerintah untuk meningkatkan kualitas kesehatan dan tumbuh kembang pelajar di Indonesia.

Dalam pelaksanaan suatu program terkadang masih terdapat permasalahan atau kekurangan yang menghambat efektivitas pelaksanaannya.

Permasalahan dapat terjadi karena perencanaan program kurang matang termasuk dalam pelaksanaan program MBG itu sendiri.

Mengutip dari Antara News, beberapa ahli gizi menyebutkan jarak distribusi yang jauh dan kurangnya kontrol suhu yang memadai dalam kendaraan pengiriman, memicu makanan menjadi rusak sebelum disantap sehingga menyebabkan beberapa kasus keracunan akibat MBG yang terjadi di beberapa daerah.

Baca Juga: Analisis Efektivitas Program MBG terhadap Kondisi Negara Saat Ini: Apakah Bermanfaat atau Justru Menjadi Beban bagi Negara?

Masalah lainnya yang timbul akibat distribusi MBG adalah kasus kecelakaan mobil SPPG yang terjadi pada hari Kamis, 11 Desember 2025 di Jakarta Utara yang menyebabkan luka-luka pada beberapa siswa, sehingga masalah pendistribusian MBG ini menjadi salah satu aspek yang harus dievaluasi.

Program Makan Bergizi Gratis
Mobil Distribusi MBG yang Menabrak Siswa di Jakarta Utara (Foto: Detik)

Salah satu langkah advokasi yang dapat dilakukan mengevaluasi permasalahan distribusi adalah dengan penyediaan dapur MBG di masing-masing sekolah.

Ide ini telah diterapkan di berbagai negara yang menerapkan konsep school feeding berbasis sekolah seperti Jepang melalui school lunch program yang menekankan dapur mandiri sekolah sebagai pusat penyediaan makanan sehat.

Selain membangun dapur MBG di sekolah, pemerintah juga dapat mensinergikan hal ini dengan pihak kantin sekolah yang telah beroperasi sebelumnya.

Hal ini karena kantin sekolah memiliki infrastruktur dasar dan pengalaman dalam penyediaan makanan harian.

Baca Juga: Antara Perut Kenyang dan Otak Kosong: MBG dan Krisis Investasi Pendidikan

Melalui pelatihan standar gizi, pengawasan oleh dinas terkait, serta kontrak kerja yang jelas, pihak kantin dapat menjadi pelaksana inti penyediaan makanan MBG.

Pendekatan ini lebih efisien dibandingkan membangun sistem baru dari nol, terutama bagi sekolah dengan keterbatasan lahan.

Beberapa dampak positif yang menguntungkan dengan adanya dapur MBG di masing-masing sekolah adalah sebagai berikut:

1. Mengurangi Risiko Makanan Basi

Masalah keracunan akibat makanan basi dapat diminimalisir dengan adanya dapur MBG di masing-masing sekolah karena produksi makanan dapat dilakukan ketika sudah mendekati waktu makan siang, sehingga makanan yang akan disantap siswa masih dalam kondisi hangat dan siap disantap. Hal ini karena idealnya proses produksi makanan hingga siap untuk dikonsumsi penerima adalah 4-6 jam.

2. Mengurangi Risiko Kecelakaan Kendaraan Akibat Pendistribusian Jarak Jauh

Kasus kecelakaan mobil MBG yang terjadi belakangan ini yang menyebabkan luka-luka pada beberapa siswa juga dapat dihindari.

Hal ini karena proses pendistribusian dapat dilakukan dengan mudah karena lokasi dapur MBG yang sangat dekat atau berada di dalam lingkungan sekolah.

3. Meningkatkan Transparansi dan Kontrol Kualitas Makanan

Dengan adanya dapur MBG di lingkungan sekolah, sangat memungkinkan pihak guru dan dinas terkait untuk mengontrol proses produksi makanan, sehingga dapat mengurangi risiko keracunan akibat proses produksi yang tidak sesuai SOP yang ditetapkan oleh Badan Gizi Nasional.

Baca Juga: MBG Mahal, Kesiapsiagaan Bencana Kecil: Prioritas Anggaran Perlu dipertanyakan

4. Siklus Ekonomi di Kalangan Penjual Kantin

Sinergi antara dapur MBG dengan pihak kantin di lingkungan sekolah tetap memungkinkan pihak kantin memperoleh penghasilan tetap.

Apabila sinergi ini dilakukan, pihak kantin yang telah berjualan sebelumnya akan dilibatkan menjadi tim produksi makanan.

Kemudian, pihak SPPG hanya perlu merekrut orang lainnya untuk mengisi posisi yang kosong di dapur tersebut.

MBG merupakan program yang sangat potensial dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan siswa.

Namun, efektivitas pelaksanaannya membutuhkan perbaikan pada aspek distribusi dan kualitas makanan.

Pembentukan dapur MBG di sekolah serta kerja sama dengan pihak kantin sekolah menjadi salah satu rekomendasi advokasi yang paling realistis untuk diterapkan saat ini.

 

Penulis: Rhafy Andika Yanori
Mahasiswa Prodi Matematika Terapan, IPB University
Mata Kuliah Negosiasi dan Advokasi Agribisnis

Dosen Pengampu: Dr. Ir. Burhanuddin, M.M.

Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Daftar Pustaka

ANTARA. MBG van crashes Jakarta school, BGN vows full support for victims. [diakses 12 Desember 2025]. https://en.antaranews.com

ANTARA. 2025. Balancing nutrition and safety in Indonesia’s free meals program. [diakses 12 Desember 2025]. https://en.antaranews.com/

BBC. 2025. Lini masa dugaan keracunan karena MBG, dari ayam kecap basi hingga daging mentah berdarah – ‘Perlu evaluasi besar-besaran sebelum jatuh korban jiwa’. [diakses 13 Desember 2025]. https://www.bbc.com/indonesia

DETIK. 2025. Potret Mobil MBG yang Tabrak Belasan Siswa dan 1 Guru SD di Cilincing. [diakses 13 Desember 2025]. https://news.detik.com/

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2024. Profil Kesehatan Indonesia 2023. Jakarta: Kemenkes RI. [diakses 12 Desember 2025]. https://kemkes.go.id/

Tanaka N, Miyoshi M. 2012. School Lunch Program for Health Promotion Among Children in Japan. Asia Pacific Journal of Clinical Nutrition. 21(1):155–158.

UNICEF. 2025. Ministry of PPN/Bappenas, BGN, IPB University and UNICEF Launch National Centre of Excellence for the Free Nutritious Meals Programme. [diakses 12 Desember 2025]. https://www.unicef.org/

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses