Analisis Efektivitas Program MBG terhadap Kondisi Negara Saat Ini: Apakah Bermanfaat atau Justru Menjadi Beban bagi Negara?

Makan Bergizi Gratis
Ilustrasi Program MBG (Sumber: MMI)

Abstrak

Artikel ini membahas Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai salah satu strategi nasional untuk meningkatkan kesehatan gizi anak serta mendukung visi Generasi Emas 2045. Program ini dinilai relevan mengingat masih tingginya angka stunting, ketimpangan akses makanan bergizi, dan rendahnya kualitas pendidikan yang dipengaruhi kondisi kesehatan siswa.

Artikel ini meninjau latar belakang kebutuhan program, potensi manfaat seperti penurunan stunting, perluasan akses gizi bagi kelompok rentan, penguatan ekonomi lokal, hingga kontribusi MBG sebagai investasi jangka panjang bagi kualitas SDM Indonesia.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Di sisi lain, artikel ini juga menguraikan sejumlah tantangan, termasuk besarnya beban anggaran, ketidakmerataan distribusi, risiko penurunan kualitas makanan, potensi penyalahgunaan dana, serta keraguan terkait keberlanjutan jangka panjang.

Melalui analisis kritis, artikel ini menegaskan bahwa meskipun MBG memiliki manfaat strategis, perbaikan pada aspek pengawasan, pendanaan, sasaran penerima, serta standar keamanan pangan sangat diperlukan agar program berjalan efektif, tepat sasaran, dan berkelanjutan.

Penulis mengambil posisi kritis namun terbuka, menekankan pentingnya evaluasi berkelanjutan agar program benar-benar menghasilkan dampak signifikan terhadap kesehatan dan kualitas pendidikan anak Indonesia.

 

Abstract

This article discusses the Free Nutritional Meal Program (MBG), initiated by President Prabowo Subianto as a national strategy to improve children’s nutritional health and support the vision of the Golden Generation 2045. This program is considered relevant considering the persistently high stunting rate, unequal access to nutritious food, and low quality education influenced by students’ health conditions.

This article reviews the background to the program’s need, potential benefits such as reducing stunting, expanding nutritional access for vulnerable groups, strengthening the local economy, and the MBG’s contribution as a long-term investment in the quality of Indonesian human resources.

Furthermore, this article also outlines several challenges, including the large budget burden, inequitable distribution, the risk of declining food quality, potential misuse of funds, and doubts regarding its long-term sustainability.

Through critical analysis, this article asserts that while the MBG has strategic benefits, improvements in oversight, funding, recipient targeting, and food safety standards are essential for the program to be effective, targeted, and sustainable.

The author takes a critical yet open stance, emphasizing the importance of ongoing evaluation to ensure the program truly has a significant impact on the health and quality of education of Indonesian children.

 

Pendahuluan

Kesehatan dan gizi anak adalah aspek krusial yang digunakan untuk mencapai sumber daya manusia yang berkualitas. Banyak negara yang memiliki masalah serius terkait malnutrisi dan keterbatasan akses terhadap makanan bergizi.

Akses terhadap gizi yang memadai merupakan salah satu elemen fundamental dalam mencapai kesehatan dan kesejahteraan individu, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan perempuan. Oleh karena itu, upaya untuk meningkatkan akses dan kualitas gizi sangat penting untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan optimal, serta untuk memastikan keberlanjutan kesehatan masyarakat secara keseluruhan (Syarah, 2024).

Sebagian riset terdahulu sudah menguak sebagian negara mengalami kasus gizi anak usia sekolah serta permasalahan mutu Sumber Daya Manusia (SDM). Oleh karena itu negara negara tersebut membuat terobosan dengan mengimplementasikan kebijakan pemberian makanan sehat kepada anak usia sekolah.

Kualitas pendidikan memiliki keterkaitan dengan berbagai elemen yang mencakup input, proses, output, dan hasil pembelajaran. Oleh karena itu, komponen-komponen ini merupakan ukuran penting untuk menilai keberhasilan sistem pendidikan (Mukhid, 2007).

Adapun tanda-tanda pendidikan berkualitas termasuk kompetensi guru, akses yang merata, relevansi kurikulum dengan kebutuhan dunia kerja, dan pemanfaatan teknologi untuk pembelajaran inklusif. Kemampuan siswa dalam literasi, numerasi, dan pemecahan masalah juga merupakan indikator kualitas pendidikan.

Sebaliknya, Kebijakan seperti Merdeka Belajar, penguatan infrastruktur sekolah, dan pelatihan guru berkelanjutan harus dimasukkan ke dalam sistem untuk meningkatkan kualitas pendidikan (Nadziroh, dkk., 2023). Maka dari itu, kebijakan tersebut akan menjadi indikator dalam membedakan kualitas antara kota dan pedesaan dalam adaptasi terhadap revolusi industri 4.0.

Pendidikan di Indonesia saat ini tengah mengalami perubahan signifikan menjelang generasi emas tahun 2045 yang diharapkan menjadi generasi unggul, berkarakter, dan kompetitif di tingkat global (Albaburrahim, dkk., 2022).

Sebagai langkah untuk meningkatkan mutu pendidikan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi telah menerapkan kebijakan kurikulum merdeka belajar dengan memanfaatkan teknologi digital, menciptakan kurikulum yang lebih fleksibel, serta memperkuat kompetensi para guru (Hidayat, 2021).

Berbagai inisiatif telah diluncurkan oleh pemerintah, seperti program Guru Penggerak, Sekolah Penggerak, dan digitalisasi sekolah, yang bertujuan untuk memperkecil kesenjangan pendidikan di berbagai wilayah dan memastikan pembelajaran yang inklusif serta relevan dengan tuntutan era industri 4.0 (Jahudin, dkk., 2025).

Oleh karena itu, untuk mengatasi masalah seperti rendahnya literasi sains dan perbedaan kualitas pendidikan di daerah terpencil, diperlukan kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat.

Generasi Emas 2045 merupakan salah satu sasaran yang ingin dicapai dalam perkembangan Indonesia, tentu saja hal ini berkaitan erat dengan pendidikan di tanah air yang harus diprioritaskan dalam membangun karakter dan keterampilan yang relevan dengan abad ke-21. Kurikulum perlu memadukan nilai-nilai kreativitas, kewirausahaan, serta Pancasila.

Hasil penelitian PISA 2022 menunjukkan bahwa literasi dan numerasi di Indonesia mengalami peningkatan, meskipun tetap masih di bawah rata-rata internasional (Ariani, 2020). Oleh sebab itu, perlu adanya percepatan dalam peningkatan kualitas pendidikan di semua aspeknya.

Selain itu, keterlibatan Indonesia dalam Agenda Pendidikan ASEAN dan SDGs 2030 menguatkan tekadnya untuk menciptakan sistem pendidikan yang berkelanjutan dan berfokus pada masa depan. Indonesia memiliki peluang untuk menghasilkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perubahan global dengan melaksanakan langkah strategis ini (Hutajulu, dkk., 2024).

Salah satu inisiatif pemerintah Indonesia untuk membentuk Generasi Emas 2045 yang sehat dan cerdas adalah peluncuran Program Makanan Bergizi Gratis (MBG), yang merupakan salah satu program dari Presiden Prabowo Subianto. Melalui program ini, anak-anak yang sedang bersekolah akan mendapatkan makanan bergizi secara gratis.

Program Pangan Sehat Gratis (PSG) adalah salah satu inisiatif utama yang diusulkan oleh pemerintah Presiden Prabowo Subianto. Tujuannya adalah untuk menangani isu gizi dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Indonesia, terutama di kalangan anak-anak dan wanita hamil.

Rencana pelaksanaan program ini telah mengalami berbagai kemajuan sejak pertama kali diperkenalkan. Program ini sempat disebut sebagai “makan siang gratis,” tetapi kemudian diperluas menjadi penyediaan makanan bergizi tanpa biaya dua kali sehari, yaitu pada pagi dan siang hari.

Perubahan ini didasarkan pada data dari Kementerian Kesehatan dan Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan yang menunjukkan bahwa 41 persen siswa di Indonesia mengalami kekurangan makanan saat sedang belajar, yang berdampak buruk pada kualitas pendidikan mereka.

Program PSG tidak hanya ditujukan untuk anak-anak sekolah, tetapi juga diperluas untuk mencakup anak balita, wanita hamil, dan ibu yang menyusui. Pemerintah telah menganggarkan Rp71 triliun dalam RAPBN 2025 untuk tahap awal program ini, yang dijadwalkan mulai pada 2 Januari 2025. Diharapkan program ini dapat menjangkau hingga 82,9 juta penerima saat sudah dilaksanakan secara penuh.

 

Kenapa Program Ini dibutuhkan?

Ada tiga faktor bagian yang tak terpisahkan dalam mencapai generasi emas 2045, yaitu pendidikan, kesehatan, dan kesetaraan sosial. Pendidikan yang merupakan salah satu faktor utama tentu harus menjadi salah satu prioritas dalam menyiapkan generasi emas 2024.

Selain itu, keberadaan layanan kesehatan seperti rumah sakit, puskesman, dan layanan posyandu tentu harus melakukan pemeriksaan kesehatan rutin dan melacak Albaburrahim, dkk ENTITA: Jurnal Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial dan Ilmu-Ilmu Sosial; Special Edition Renaisans: 1stInternational Conference of Social Studies770perkembangan anak (Maisaroh & Untari, 2024).

Berdasarkan data dari World Bank (2023) menunjukkan bahwa angka stunting di wilayah yang menerapkan program serupa telah menurun sebesar 15% dalam tiga tahun terakhir (Truna, dkk., 2024).

Gagasan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) muncul ketika Presiden Prabowo Subianto melihat langsung kondisi memprihatinkan anak-anak di beberapa daerah, di mana banyak dari mereka bertubuh kecil dan lemah meskipun usianya jauh lebih besar yang di mana ini adalah sebuah tanda awal dari stunting dan kekurangan gizi.

Ia bahkan sempat terkejut melihat anak berusia 10–11 tahun yang terlihat seperti balita, sehingga hal ini membuatnya sadar bahwa kebijakan formal saja tidak cukup tanpa intervensi gizi yang nyata.

Dari pengalaman tersebut, sejak 2023 Prabowo mulai merancang program MBG atau yang bisa kita sebut dengan Makan Bergizi Gratis dengan meniru berbagai macam program makan gratis di sekolah luar negeri, dengan harapan Indonesia dapat menjamin asupan gizi dasar bagi anak-anak dan ibu hamil.

MBG pun dirancang bukan sekadar memberikan makanan, tetapi sebagai upaya untuk memutus rantai stunting sehingga dapat membangun generasi yang lebih sehat, cerdas, serta produktif sebagaimana ditegaskan dalam berbagai penjelasan pemerintah pusat dan kementerian terkait.

Dukungan terhadap program ini telah datang dari banyak pihak, salah satunya yaitu dukungan dari luar negeri dari negara seperti Amerika Serikat dan China.

Presiden Joe Biden dari AS telah mengungkapkan dukungannya terhadap program nasional Indonesia yang bertujuan menyediakan makanan yang sehat dan bergizi bagi anak-anak di sekolah dan perempuan hamil. Di sisi lain, pemerintah China juga telah membuat perjanjian pendanaan untuk mendukung inisiatif ini.

 

Potensi dan Manfaat MBG

1. Menurunkan Stunting dan Meningkatkan Kesehatan Gizi Anak

Program MBG terbukti memiliki potensi besar untuk menurunkan stunting karena memberikan makanan bergizi dengan standar AKG setiap hari kepada siswa.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah enam bulan uji coba, terjadi peningkatan status gizi pada siswa, termasuk turunnya angka anemia hingga 15% serta peningkatan Indeks Massa Tubuh secara proporsional. Artinya, intervensi gizi rutin benar-benar berdampak pada kesehatan fisik anak, yang selama ini menjadi persoalan mendasar di Indonesia.

2. Memperluas Akses Makanan Bergizi untuk Kelompok Rentan

Program ini tidak hanya menyasar anak sekolah, tetapi juga balita, ibu hamil, dan ibu menyusui Adalah kelompok yang paling berisiko mengalami kekurangan gizi.

Dalam implementasinya, MBG ditargetkan menjangkau lebih dari 80 juta penerima di seluruh Indonesia, sehingga membuka akses makanan sehat secara merata, termasuk bagi keluarga berpendapatan rendah. Pendekatan ini membuat MBG bukan sekadar program makan gratis, tetapi instrumen pemerataan gizi nasional.

3. Menggerakkan Ekonomi Lokal dan UMKM

Salah satu kekuatan MBG terletak pada keterlibatan petani lokal, UMKM pangan, dan pemasok bahan makanan. Program ini menciptakan multiplier effect: UMKM mendapatkan permintaan rutin, petani memiliki pasar yang pasti, dan mitra distribusi seperti pengemudi ojek memperoleh pendapatan tambahan.

Contohnya, pelaksanaan MBG oleh GoTo di 31 sekolah telah melibatkan UMKM bersertifikasi dan menargetkan penyediaan 3 juta porsi makanan, sekaligus meningkatkan pendapatan pelaku usaha kecil.

4. Wujud Konkret Negara Hadir bagi Rakyat

Pembentukan Badan Gizi Nasional melalui Perpres No. 83/2024 menunjukkan bahwa kebijakan ini bukan sekadar program jangka pendek, tetapi strategi negara dalam membangun kualitas manusia.

Kehadiran negara juga tampak dari dukungan internasional baik Amerika Serikat maupun China yang melihat MBG sebagai kebijakan strategis Indonesia untuk meningkatkan kesehatan generasi muda. Dengan demikian, MBG memperlihatkan bahwa pemerintah aktif melindungi dan meningkatkan kesejahteraan kelompok rentan.

5. Investasi Jangka Panjang pada Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM)

Secara akademik, MBG adalah bentuk investasi jangka panjang pada SDM Indonesia. Penelitian menunjukkan bahwa siswa yang menerima makanan bergizi mengalami peningkatan motivasi belajar, kehadiran yang lebih stabil, serta kenaikan skor akademik sebesar 5–10% pada mata pelajaran dasar.

Nutrisi yang baik membuat siswa lebih fokus, energik, dan siap menerima pelajaran, sehingga program ini berkontribusi langsung pada peningkatan kualitas pendidikan dan pencapaian visi Generasi Emas 2045.

 

Tantangan dan Kritik MBG

1. Anggaran Sangat Besar dan Membebani APBN

Salah satu kritik paling signifikan terhadap MBG adalah kebutuhan dana yang sangat besar. Program ini membutuhkan dukungan finansial yang berkelanjutan untuk penyediaan makanan, logistik, distribusi, dan pengawasan mutu.

Beberapa studi menggarisbawahi bahwa tanpa perencanaan anggaran yang baik, tekanan pada APBN bisa meningkat dan dapat mengganggu pengeluaran strategis lainnya. Masalah ini diperparah oleh hasil penelitian komunikasi program yang menunjukkan bahwa pelaksanaan program gizi nasional seringkali terhambat oleh ketidakstabilan dalam alokasi dana.

2. Distribusi dan Implementasi Belum Merata

Penelitian mengindikasikan bahwa penyebaran makanan sehat ke sekolah dan kelompok target sering terkendala oleh variasi tingkat kesiapan daerah, kurangnya infrastruktur yang memadai, serta ketidaksetaraan dalam kapasitas koordinasi di berbagai wilayah.

Beberapa daerah yang lebih maju mampu melaksanakan program dengan efisien, namun daerah yang lebih terpencil menghadapi masalah dalam hal keterlambatan distribusi, kurangnya tempat penyimpanan, dan keterbatasan mitra penyedia makanan. Ketidakseimbangan ini bisa membuat program MBG tidak terlaksana dengan merata di seluruh Indonesia.

3. Masalah Kualitas dan Higienis Makanan

Dalam sejumlah penelitian mengenai program makanan sehat, terungkap bahwa mutu sajian sangat dipengaruhi oleh kemampuan penyedia lokal, kebersihan dapur, dan standar kebersihan yang sering kali diabaikan.

Ancaman kontaminasi makanan, penyimpanan yang tidak sesuai standar, serta pemakaian bahan baku berkualitas rendah menjadi masalah yang signifikan. Apabila pengawasan tidak dilakukan dengan ketat, MBG bisa saja menimbulkan isu kesehatan baru, bukannya mengatasinya.

4. Risiko Penyalahgunaan Dana

Pengelolaan dana yang besar dan keikutsertaan banyak pihak meningkatkan kemungkinan terjadinya penyimpangan, seperti penambahan harga, pengadaan yang tidak nyata, atau kerjasama gelap antara penyedia makanan dan pengelola program.

Laporan penelitian mengenai pelaksanaan kebijakan gizi menyatakan bahwa minimnya transparansi dan lemahnya sistem akuntabilitas sering kali menciptakan celah untuk munculnya bahaya moral dalam program besar nasional. Mengingat MBG melibatkan ratusan ribu penyedia di berbagai wilayah, risiko ini menjadi lebih signifikan jika tidak didukung oleh sistem audit yang kuat.

5. Pertanyaan Soal Ketepatan Sasaran

Kritik lain muncul dari pertanyaan apakah seluruh penerima MBG benar-benar membutuhkan bantuan gizi atau justru ada kelompok yang lebih rentan tetapi tidak masuk cakupan.

Studi kebijakan gizi menunjukkan bahwa program sering terkendala dalam memetakan kelompok risiko tinggi, sehingga bantuan tidak selalu diterima oleh pihak yang paling membutuhkan. Jika pemetaan sasaran tidak akurat, program bisa menjadi tidak efektif, boros, dan tidak memberi dampak signifikan pada penurunan stunting.

6. Keraguan tentang Keberlanjutan Jangka Panjang

Keberlangsungan MBG diragukan karena tergantung pada tiga faktor: kestabilan anggaran, kemampuan daerah untuk melanjutkan program, dan konsistensi politik dari berbagai pemerintahan.

Banyak studi mengungkapkan bahwa program gizi nasional sering kali terhenti atau kualitasnya berkurang ketika terjadi perubahan kebijakan atau pergantian kepemimpinan. Tanpa adanya rancangan keberlanjutan yang kokoh, MBG berpotensi menjadi program temporer yang tidak memberikan pengaruh yang maksimal bagi perkembangan sumber daya manusia.

Baca juga: Antara Perut Kenyang dan Otak Kosong: MBG dan Krisis Investasi Pendidikan

 

Apa yang Sudah Terlihat dari MBG?

Sejak awal peluncurannya, Program MBG dirancang untuk memanfaatkan hasil panen petani lokal sebagai bahan baku utama. Kebijakan ini menjanjikan pasar yang stabil bagi para petani, sebuah hal yang kerap menjadi tantangan besar di sektor pertanian.

Selain itu, pemerintah menggandeng koperasi dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dalam pengadaan bahan makanan, menciptakan ekosistem ekonomi lokal yang inklusif. Dengan meningkatnya permintaan terhadap produk lokal, para petani menyambut program ini dengan harapan besar.

Program MBG membawa dampak positif yang terasa hingga ke desa, mulai dari meningkatnya permintaan produk lokal yang membantu petani mendapatkan pasar yang lebih pasti, hingga pemberdayaan ekonomi melalui koperasi dan BUMDes yang memperkuat perputaran uang dan membuka lapangan kerja baru.

Anak-anak dari keluarga kurang mampu juga memperoleh asupan nutrisi yang lebih baik, sehingga berkontribusi pada penurunan gizi buruk dan stunting. Di samping itu juga, dari segi pertumbuhan anak, program ini juga telah meningkatkan indeks massa tubuh anak di sejumlah daerah penerima manfaat.

Hasil pemantauan selama 15 minggu pelaksanaan program di Kota Bogor menunjukkan adanya peningkatan rata-rata IMT menurut umur. Hal serupa juga terjadi di Aceh, di mana status gizi siswa sekolah dasar penerima Program MBG menunjukkan perbaikan ke arah status gizi yang lebih baik,” kata Ikeu Tanziha, Dewan Pakar Bidang Gizi BGN di SDS Barunawati II, Slipi, Jakarta Barat, Senin (14/7/2025).

Namun, program ini tidak lepas dari kritik, seperti risiko terciptanya ketergantungan masyarakat pada bantuan pemerintah, turunnya pendapatan UMKM makanan yang biasa berjualan di sekolah, serta tantangan implementasi berupa kualitas makanan yang tidak seragam dan distribusi yang belum optimal.

Jika tantangan ini tidak ditangani dengan baik, dampak positif MBG dapat berkurang dan bahkan menghambat tujuan program dalam meningkatkan kesehatan masyarakat secara berkelanjutan. Tidak hanya itu saja, di beberapa daerah yang menerima MBG, banyak anak-anak sekolah yang mulai mengalami keracunan.

Setidaknya 1.376 anak sekolah diduga menjadi korban keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di berbagai daerah. Pakar gizi masyarakat juga ada yang menyarankan agar program ini dihentikan sementara sambil menunggu evaluasi menyeluruh terhadap insiden keracunan yang terjadi di berbagai daerah.

 

Menimbang Efektivitas Program

Program MBG sebenarnya memang sangat banyak manfaatnya, mulai dari peningkatan gizi anak, dukungan terhadap petani lokal, hingga penguatan ekonomi desa. Akan tetapi, efektivitas terhadap biayanya tetap harus ditimbang lagi karena apabila program ini menekan biaya yang banyak, maka akan sangat membebani APBN.

Pemerintah pada awalnya menganggarkan MBG sebesar Rp 71 triliun untuk 2025, dengan target penerima sekitar 19–20 juta penerima manfaat dengan alokasi biaya per porsi makanan dipatok di angka Rp 10.000 per porsi, akan tetapi di tahun 2026, anggaran MBG melonjak drastis menjadi sekitar Rp 335–335 triliun (bervariasi di laporan: Rp 335 triliun maupun Rp 330 triliun) untuk melayani target penerima yang jauh lebih besar, yakni sekitar 82,9 juta orang, hanya saja alokasi biaya per porsinya masih tetap sama.

Menurut saya, Program MBG saat ini belum cukup efisien karena menimbang anggarannya yang tidak sedikit untuk dikeluarkan, hal ini disebabkan oleh jumlah murid di seluruh Indonesia sangatlah banyak, tetapi porsi perorang dipatok dengan harga yang sangat minimum untuk sebuah makan yang dianggap bergizi.

Kenapa? karena untuk menghasilkan makanan yang bergizi tentu memerlukan biaya yang lebih daripada itu, contoh kecilnya saja, makanan yang dijual di kaki lima saja yang “belum tentu bergizi” pun masih dipatok dengan harga 12.000 minimal, apalagi kalau judulnya makanan bergizi tentu saja kita memerlukan biaya yang lebih besar lagi.

Hal ini disebabkan karena standar gizi lengkap membutuhkan komponen yang tidak murah, yang di mana itu terdiri dari sumber protein yang cukup, karbohidrat, sayuran dan buah. Realitanya, harga satu telur saja di beberapa daerah sudah Rp 2.500–3.000. Jika ditambah sayur, karbohidrat, dan sedikit lauk, Rp 10.000 menjadi sangat sulit dipenuhi tanpa memangkas kualitas.

Artinya, standar gizi yang diharapkan pemerintah berpotensi tidak tercapai jika biaya per porsi tidak disesuaikan, belum lagi biaya operasional dan distribusi lainnya seperti biaya pengolahan, tenaga memasak, distribusi, pengemasan, dan penyimpanan bahan pangan.

Sehingga hal ini berakibat pada kualitas makanan yang diharapkan tidak akan terlaksana yang dimana ini bertentangan dengan tujuan utama MBG yaitu memperbaiki nutrisi anak. Tidak hanya itu saja, akses penggelapan dana juga bisa terjadi dengan mudah karena program ini kan tersebar di seluruh Indonesia, otomatis pengawasannya pun tidak terlalu ketat.

 

Apa yang Perlu diperbaiki?

Agar Program MBG berjalan lebih efektif, sejumlah perbaikan perlu dilakukan terutama pada aspek pengawasan distribusi dan kualitas makanan. Pemerintah harus memastikan bahwa setiap tahap, mulai dari pemilihan bahan pangan, proses memasak, hingga pendistribusian yang diawasi secara ketat untuk mencegah penurunan kualitas maupun ketidaksesuaian standar gizi.

Transparansi anggaran juga harus diperkuat agar aliran dana dapat dipantau publik dan meminimalkan risiko penyalahgunaan. Selain itu, program ini perlu memprioritaskan sasaran yang benar-benar membutuhkan, seperti daerah dengan angka stunting tinggi atau wilayah dengan keterbatasan akses makanan bergizi, sehingga alokasi anggaran menjadi lebih tepat guna.

Tidak kalah penting, standarisasi dapur dan pelatihan petugas penyedia makanan harus ditingkatkan agar proses pengolahan memenuhi standar higiene dan keamanan pangan, sekaligus menjamin konsistensi kualitas makanan di seluruh wilayah. Dengan perbaikan ini, MBG berpotensi mencapai tujuan besarnya secara lebih optimal dan berkelanjutan.

 

Penutup

Secara keseluruhan, saya mengambil posisi kritis namun terbuka terhadap program ini. Di satu sisi, program tersebut menunjukkan arah yang cukup progresif dan memiliki peluang membawa manfaat besar bagi masyarakat.

Namun di sisi lain, masih terdapat sejumlah catatan penting terkait efektivitas, transparansi, dan konsistensi pelaksanaannya. Karena itu, saya tidak sepenuhnya pro maupun kontra, melainkan berada pada posisi yang menimbang kedua sisi secara seimbang.

Untuk harapannya kedepan, saya berharap program ini tidak hanya berhenti pada tataran wacana atau slogan politik, tetapi benar-benar diterjemahkan dalam kebijakan yang terukur dan dapat dipertanggungjawabkan. Pemerintah, lembaga pelaksana, dan seluruh pihak terkait perlu memperkuat mekanisme evaluasi, meningkatkan keterlibatan publik, serta memastikan bahwa setiap alokasi anggaran digunakan secara tepat sasaran.

Sebagai pembaca dan warga negara, kita perlu bersikap lebih aktif dalam melihat arah kebijakan publik. Kita tidak boleh hanya menerima program pemerintah sebagai sesuatu yang sudah pasti benar, tetapi harus berani mengamati, mengkritisi, dan menilai dampaknya secara rasional.

Dengan cara itu, kita dapat berkontribusi pada budaya politik yang lebih dewasa dan memastikan bahwa setiap kebijakan benar-benar berpihak pada kepentingan masyarakat luas.

 

Penulis: Asyifa Zahra Putri
Mahasiswa Administrasi Publik, Universitas Andalas
Dosen Pengampu: Edi Hasymi. Dr. M.Si

 

Referensi

Febryanti, I., Indiati, I., Pane, M. A., & Astuti, P. (2025). Implementasi Kebijakan Makan Bergizi Gratis (MBG) (Studi Kasus pada SDN 3 Kepanjen Kabupaten Malang). Dialogue: Jurnal Ilmu Administrasi Publik, 7(1), 67–79. https://doi.org/10.14710/dialogue.v7i1.26628

Albaburrahim, A. P. A. P., Efendi, A. N., Alatas, M. A., Romadhon, S., & Wachidah, L. R. (2025). Program Makan Bergizi Gratis: Analisis Kritis Transformasi Pendidikan Indonesia Menuju Generasi Emas 2045. ENTITA: Jurnal Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial dan Ilmu-Ilmu Sosial, Special Edition Renaisans: 1st International Conference of Social Studies. Diakses dari https://ejournal.iainmadura.ac.id/index.php/entita

Merlinda, A. A., & Yusuf, Y. (2025). Analisis Program Makan Gratis Prabowo Subianto terhadap Strategi Peningkatan Motivasi Belajar Siswa di Sekolah: Tinjauan dari Perspektif Sosiologi Pendidikan. Ranah Research Journal, 7(2). https://doi.org/10.38035/rrj.v7i2

Hidayat, R., & Ratnaningsih, D. J. (2025). Analisis Sentimen Program Makanan Bergizi Gratis Menggunakan Algoritma Random Forest dan Naive Bayes. Journal of Computing and Informatics Research, 5(1), 395–400. https://doi.org/10.47065/comforch.v5i1.2355

Pranandana, V. A. K., Haryanti, N., & Meifilina, A. (2025). Analisis Framing Pemberitaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Media Online Kompas.com dan Kumparan.com. Jurnal Media Akademik (JMA), 3(9), XX–XX. https://doi.org/10.62281

Aisyah, & Usman, S. (2025). Analisis Strategi Komunikasi Digital dalam Meningkatkan Pemahaman Masyarakat Desa terhadap Manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG). MUKASI: Jurnal Ilmu Komunikasi, 4(4), 1779–1788. https://doi.org/10.54259/mukasi.v4i4.5741

Ritonga, A. R., & Sazali, H. (2025). Analisis Komunikasi Pembangunan terhadap Regulasi dan Kebijakan Program Makan Bergizi Gratis. Vijnana: Jurnal Hasil Penelitian Multidisiplin, 1(1), 32–40. Diakses dari https://e-journal.samsarainstitute.com/jhpm/index

“Sejarah dan Latar Belakang Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Gagasan Prabowo hingga Gerakan Nasional Lawan Stunting.” Ralali Blog. Diakses 10 Desember 2025, dari https://www.ralali.com/blog/mbg/sejarah-dan-latar-belakang-program-makan-bergizi-gratis-mbg-dari-gagasan-prabowo-hingga-gerakan-nasional-lawan-stunting/

“Apa Tujuan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang Diberikan oleh Pemerintah — Anda Wajib Tahu Sebelum Menerima.” Melintas.id. Diakses 10 Desember 2025, dari https://www.melintas.id/pendidikan/345656245/apa-tujuan-makan-bergizi-gratis-mbg-yang-diberikan-oleh-pemerintah-anda-wajib-tahu-sebelum-menerima#google_vignette

“Anggaran Tembus Rp71 T, Berapa Jatah MBG per Porsi?” CNN Indonesia, 1 Oktober 2025. Diakses 10 Desember 2025, dari https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20251001112320-92-1279657/anggaran-tembus-rp71-t-berapa-jatah-mbg-per-porsi

“Alokasi MBG Tetap Rp 10.000 per Porsi Meski Anggaran Naik Jadi Rp 355 Triliun.” Katadata.co.id. Diakses 10 Desember 2025, dari https://katadata.co.id/berita/nasional/68a5d8d467113/alokasi-mbg-tetap-rp-10000-per-porsi-meski-anggaran-naik-jadi-rp-355-triliun

“Berapa Anggaran dan Budget MBG per Porsi? Ini Aturannya.” Tirto.id. Diakses 10 Desember 2025, dari https://tirto.id/berapa-anggaran-dan-budget-mbg-per-porsi-ini-aturannya-hlcb

“Dampak Positif MBG: Indeks Massa Tubuh Anak Meningkat.” Indonesia.go.id. Diakses 10 Desember 2025, dari https://indonesia.go.id/kategori/sosial-budaya/9696/dampak-positif-mbg-indeks-massa-tubuh-anak-meningkat?lang=1

R2J: Ranah Research Journal, Diakses dari https://www.jurnal.ranahresearch.com/index.php/R2J/article/view/1360

ENTITA: Jurnal Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial dan Ilmu-Ilmu Sosial. Diakses dari https://ejournal.iainmadura.ac.id/index.php/entita/article/view/19191

“Dampak Ganda MBG: Membangun Ekonomi Rakyat dan Generasi Sehat Indonesia.” uai.ac.id. Diakses 10 Desember 2025, dari https://uai.ac.id/dampak-ganda-mbg-membangun-ekonomi-rakyat-dan-generasi-sehat-indonesia/

“Dampak Positif dan Negatif Makan Bergizi Gratis.” Koransulindo.com. Diakses 10 Desember 2025, dari https://koransulindo.com/dampak-positif-dan-negatif-makan-bergizi-gratis/

“Ribuan siswa keracunan Makan Bergizi Gratis, orang tua trauma dan larang anaknya konsumsi MBG – ‘Bukannya meringankan malah mau membunuh” BBC Indonesia. Diakses 10 Desember 2025, dari https://www.bbc.com/indonesia/articles/cm2zney05ypo

 

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses