Implementasi Kurikulum Merdeka sejatinya bukan hanya soal mengganti dokumen kurikulum atau format modul ajar. Tantangan terbesarnya justru terletak pada mengubah mindset dan cara kerja guru dalam menghadapi keberagaman peserta didik. Di sinilah supervisi akademik seharusnya memainkan peran strategis. Tapi apa yang terjadi? Di banyak sekolah, supervisi masih dipahami sebatas kewajiban administratif tahunan—datang ke kelas, mengisi instrumen, lalu selesai.
Padahal, Kurikulum Merdeka menuntut pendekatan yang jauh lebih manusiawi dan reflektif. Guru dituntut jadi arsitek pembelajaran berdiferensiasi, deep learning, serta penguatan well-being siswa. Jika supervisi tetap dilakukan secara kaku dan direktif, maka yang terjadi bukan penguatan kapasitas guru, melainkan burnout profesional.
Praktik menarik justru muncul dari Sekolah Menengah Pertama (SMP) Laboratorium School Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Sekolah laboratorium ini menjadikan supervisi akademik sebagai proses pendampingan berbasis coaching dan kolaborasi, bukan sebagai alat kontrol. Pengalaman sekolah ini memberi pelajaran penting bahwa pengubahan pendidikan tidak lahir dari instruksi satu arah, melainkan dari dialog profesional yang berkelanjutan.
Baca juga: Memahami Konsep Dasar Supervisi Pendidikan: Panduan Lengkap untuk Guru dan Kepala Sekolah
Dari Supervisi Menghakimi ke Supervisi Memberdayakan
Supervisi akademik idealnya tidak lagi berfungsi sebagai “alat inspeksi mendadak”, melainkan sebagai ruang aman bagi guru untuk bertumbuh. Di SMP Lab School FIP UMJ, supervisi dilakukan melalui siklus klinis yang terencana—pra-observasi, observasi, dan refleksi pasca-observasi—dengan penekanan pada refleksi, bukan penilaian semata.
Pendekatan non-direktif yang digunakan pimpinan sekolah mendorong guru untuk menemukan solusi mereka sendiri melalui pertanyaan reflektif. Guru tidak langsung “diperbaiki”, tetapi diajak berpikir: apa yang sudah berjalan, apa yang belum, dan apa yang bisa ditingkatkan. Pola ini selaras dengan semangat coaching dalam pendidikan, yang menempatkan guru sebagai subjek profesional, bukan objek pembinaan.
Baca juga: Supervisi sebagai Ruang Belajar, bukan Ruang Menghakimi
Lebih dari itu, supervisi juga dilakukan secara kolaboratif antarsejawat. Guru tidak merasa sendirian menghadapi kompleksitas kelas heterogen, karena ada ruang berbagi praktik, kendala, dan strategi. Supervisi pun berubah menjadi proses belajar bersama.
Teacher Sharing: Supervisi yang Hidup dalam Budaya Sekolah
Salah satu praktik paling relevan untuk direplikasi adalah budaya teacher sharing yang dilakukan secara harian dan mingguan. Forum ini bukan rapat formal penuh laporan, melainkan ruang diskusi reflektif yang jujur dan kontekstual. Guru saling berbagi pengalaman mengajar, melakukan micro-teaching, dan memberi umpan balik secara setara.
Model ini menjawab persoalan klasik di sekolah: keterbatasan waktu dan beban kerja ganda guru. Ketika supervisi dilebur ke dalam aktivitas keseharian, proses peningkatan mutu tidak lagi terasa sebagai beban tambahan, melainkan sebagai bagian dari kultur profesional.
Baca juga: Tantangan Utama dalam Pelaksanaan Supervisi Pendidikan
Yang menarik, budaya ini diperkuat oleh nilai lokal yang disebut “legowo”—kesediaan untuk menerima kritik demi perbaikan bersama. Tanpa budaya seperti ini, pendekatan coaching dan kolaboratif tidak akan berjalan efektif.
Mengawal Diferensiasi dan Deep Learning Secara Nyata
Supervisi yang kuat terbukti berdampak langsung pada kualitas pembelajaran. Guru di sekolah ini tidak hanya diminta memetakan gaya belajar siswa (visual, auditori, kinestetik), tetapi juga didampingi agar pemetaan tersebut benar-benar diterjemahkan ke dalam variasi konten, proses, dan produk pembelajaran.
Integrasi konsep deep learning menjauhkan pembelajaran dari sekadar mengejar ketuntasan materi. Guru didorong memastikan siswa memahami secara mendalam, kontekstual, dan bermakna. Dampaknya bukan hanya pada capaian akademik, tetapi juga pada kesejahteraan belajar (well-being) siswa, yang merasa dihargai sesuai kebutuhan belajarnya.
Pelajaran bagi Sekolah Lain
Pengalaman ini menunjukkan bahwa keberhasilan Kurikulum Merdeka tidak ditentukan oleh kelengkapan dokumen, melainkan oleh kualitas supervisi akademik dan budaya sekolah. Supervisi yang adaptif, dialogis, dan kolaboratif mampu menjembatani tuntutan kebijakan nasional dengan realitas psikososial guru di lapangan.
Sudah saatnya supervisi akademik di sekolah-sekolah Indonesia keluar dari jebakan formalitas. Jika ingin pembelajaran berdiferensiasi benar-benar hidup di kelas, maka yang perlu diperkuat bukan hanya instrumen supervisi, tetapi relasi profesional, budaya refleksi, dan kepemimpinan yang memanusiakan guru.
Karena pada akhirnya, kualitas pendidikan tidak lahir dari pengawasan yang menekan, melainkan dari pendampingan yang menguatkan.
Penulis: Yuni Sahra
Mahasiswi Program Studi Pendidikan Agama Islam, Universitas Perguruan Tinggi Ilmu Al Quran Jakarta
Dosen Pengampu: Dr. Sarwenda, S.S.I., MA. Pd
Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












