Tanya Lima O: Jurus Jitu Mahasiswa Unsika Ajak Warga Karawang Cermat Gunakan Obat

Pelajari panduan penggunaan obat yang benar melalui prinsip Tanya Lima O dan cara mencegah resistensi antibiotik hasil edukasi mahasiswa Farmasi Unsika di Karawang.
Kegiatan sosialisasi mahasiswa Farmasi Unsika di Posyandu Nusa Indah 7. (Foto: Dok. Penulis)

Karawang, MMI – Literasi kesehatan masyarakat mengenai penggunaan obat-obatan yang benar masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Minimnya pemahaman tentang dosis, waktu konsumsi, hingga penggolongan obat sering kali memicu kegagalan terapi atau risiko efek samping yang membahayakan. Selain itu, edukasi mengenai antibiotik sangat krusial guna mencegah resistensi. Pemahaman yang tepat diperlukan agar bakteri tidak menjadi kebal, sehingga efektivitas pengobatan tetap terjaga dan infeksi tidak semakin sulit disembuhkan di masa depan.

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan pada Sabtu (21/02/2026), bertempat di Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) Nusa Indah 7, Kelurahan Palumbonsari. Acara yang dimulai pukul 11.00 Waktu Indonesia Barat ini merupakan bagian dari luaran mata kuliah wajib praktikum komunitas, yang mempertemukan teori akademik dengan realita kebutuhan masyarakat. Kegiatan ini dibimbing langsung oleh dua dosen Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika), yaitu Dr. apt. Indah Laily Hilmi, S.Farm., M.KM. dan Apt. Hadi Sudarjat, S.Farm., M.Farm., Ph.D.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Dalam sosialisasinya, mahasiswa menekankan konsep “Cermat Obat” untuk membantu warga memahami informasi dasar sebelum mengonsumsi obat-obatan. Salah satu instrumen utama yang diperkenalkan adalah prinsip “Tanya Lima O”, yakni memastikan nama dan kandungan obat, khasiat, dosis, cara penggunaan, hingga efek sampingnya.

Ketepatan waktu penggunaan juga menjadi poin edukasi yang krusial. Mahasiswa menjelaskan bahwa dalam dunia farmasi, satu hari dihitung 24 jam sehingga aturan minum obat harus disesuaikan dengan interval yang tetap. Sebagai contoh, obat yang diminum tiga kali sehari seharusnya dikonsumsi setiap delapan jam guna menjaga kadar obat dalam darah tetap berada pada tingkat terapeutik. Warga juga diberikan pemahaman mengenai arti simbol lingkaran pada kemasan: hijau untuk obat bebas, biru untuk obat bebas terbatas, dan lingkaran merah dengan huruf K untuk obat keras yang wajib menggunakan resep dokter.

Kegiatan edukasi yang dilakukan oleh Mahasiswa. (Foto: Dok. Penulis)

Sejalan dengan literasi obat umum, kelompok mahasiswa lainnya berfokus pada isu penggunaan antibiotik. Hal ini dilatarbelakangi oleh temuan praktik penggunaan antibiotik yang kurang tepat, seperti membeli tanpa resep atau mengonsumsi berdasarkan saran orang lain tanpa diagnosis medis. Mahasiswa memaparkan bahaya resistensi antibiotik, yaitu kondisi ketika bakteri menjadi kebal sehingga infeksi sulit diobati. Warga diingatkan bahwa antibiotik hanya untuk infeksi bakteri, bukan virus seperti flu.

Baca juga: Panduan Lengkap Penggunaan Obat Antibiotik: Apa yang Harus Diketahui?

“Antibiotik harus digunakan berdasarkan resep dokter, diminum sesuai aturan, serta wajib dihabiskan meskipun kondisi tubuh sudah terasa membaik,” tegas tim penyuluh di hadapan para peserta.

Selain fokus pada farmakoterapi, mahasiswa memberikan edukasi mengenai kesehatan ibu hamil dan menyusui, khususnya terkait risiko anemia. Ibu menyusui juga diimbau memperhatikan waktu pemberian air susu ibu setelah meminum obat guna meminimalkan risiko paparan zat obat pada bayi. Di sela-sela penyuluhan, mahasiswa turut membantu kader Posyandu dalam layanan kesehatan, seperti pendampingan penimbangan bayi lima tahun ke bawah dan pelayanan ibu-anak. Sebagai bentuk dukungan gizi, mahasiswa juga membagikan susu kepada anak-anak yang hadir.

Mahasiswa membantu kegiatan Posyandu. (Foto: Dok. Penulis)

Kegiatan ini mendapat respons positif dari warga. Dalam sesi diskusi, beberapa warga menunjukkan pemahaman baru mengenai pentingnya tidak menggunakan obat kedaluwarsa serta penggunaan antibiotik yang bijak. Keberhasilan kegiatan ini diperkuat oleh analisis data statistik melalui perangkat lunak Statistical Packages for the Social Sciences berdasarkan hasil pre-test dan post-test.

Baca juga: Cara Kerja Obat Antibiotik dalam Mengatasi Infeksi

Pada topik antibiotik, rata-rata nilai pengetahuan peserta meningkat tajam dari 50,14 menjadi 91,00. Sementara itu, hasil uji paired sample t-test untuk materi “Cermat Obat” menunjukkan nilai signifikansi (2-tailed) sebesar 0,000, yang berarti peningkatan pemahaman masyarakat bersifat sangat signifikan.

Salah seorang kader Posyandu menuturkan, “Kami berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi bagian dari pembelajaran mahasiswa, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dalam menggunakan obat secara benar.” Melalui kegiatan ini, mahasiswa Farmasi Unsika diharapkan dapat terus berperan sebagai agen edukasi kesehatan untuk mendorong terciptanya masyarakat yang lebih bijak dalam menggunakan obat.


Penulis:
Hilmah Ayu Mardhiyya
Mahasiswa Program Studi Farmasi, Universitas Singaperbangsa Karawang


Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses