Karakter Terbentuk dari Cara Berbahasa Indonesia yang Benar

Cara Berbahasa Indonesia yang Benar

Coba perhatikan cara orang-orang di sekitar kita berbicara hari ini. Di warung kopi, di grup WhatsApp, di komentar media sosial, bahkan di ruang kelas sekalipun, bahasa Indonesia yang kita dengar semakin sulit dikenali sebagai bahasa yang pernah diikrarkan dalam Sumpah Pemuda.

Kata-kata asing menyusup tanpa permisi, kalimat disusun asal jadi, dan yang paling mengkhawatirkan, hal itu sudah dianggap biasa. Kita tertawa membaca singkatan-singkatan konyol, membenarkan campuran bahasa sebagai tanda pergaulan luas, dan perlahan melupakan bahwa cara kita berbahasa mencerminkan siapa kita sebenarnya.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Bahasa bukan sekadar alat untuk menyampaikan pesan. Dalam pandangan Jean Piaget, psikolog perkembangan yang pemikirannya masih relevan hingga kini, bahasa adalah alat berpikir. Anak yang tumbuh dengan pemahaman simbol dan kata yang baik akan memiliki fondasi kognitif yang lebih kokoh.

Baca juga: Bahasa Indonesia di Era Digital: Antara Adaptasi dan Ancaman Kemunduran?

Ketika seorang anak belajar menggunakan kata dengan tepat, ia sebenarnya sedang melatih otaknya untuk berpikir secara teratur. Dan ketika kebiasaan itu terbentuk sejak dini, ia tidak hanya menjadi pandai berbicara, tetapi juga pandai bersikap. Bahasa yang baik membentuk pikiran yang baik, dan pikiran yang baik membentuk karakter yang kuat.

Saya teringat saat mengobservasi peserta didik di TK Attaqwa Mojokampung, Bojonegoro. Anak-anak di sana mengikuti ekstrakurikuler drumband selama tiga bulan, dan hasilnya mengejutkan banyak pihak. Bukan hanya kemampuan bermusik mereka yang berkembang, tetapi juga kemampuan bahasa dan karakter sosialnya. Anak-anak yang tadinya pendiam dan minim kosakata mulai dengan percaya diri menyebut istilah seperti ritme, tempo, dan harmoni dalam percakapan sehari-hari.

Mereka belajar menunggu giliran, mendengarkan, dan bekerja sama. Ternyata ritme musik melatih otak untuk memproses bahasa, karena pola-pola ketukan yang dipelajari mengaktifkan area otak yang sama dengan yang digunakan saat membaca dan memahami kalimat. Ini mengajarkan kita bahwa pembentukan karakter melalui bahasa bisa dimulai dari mana saja, bahkan dari sebuah stik drum di tangan anak usia lima tahun.

Baca juga: Peran Pembelajaran Bahasa Indonesia dalam Meningkatkan Kemampuan Komunikasi dan Berbahasa Siswa

Vygotsky, pemikir lain yang banyak memengaruhi dunia pendidikan, pernah mengatakan bahwa anak berkembang melalui interaksi sosialnya. Begitu pula dengan bahasa. Tidak ada anak yang tiba-tiba mahir berbahasa dengan baik tanpa lingkungan yang mendukung. Di sinilah tanggung jawab kita bersama dimulai. Keluarga adalah sekolah pertama tempat anak belajar berbicara.

Ketika orang tua terbiasa menyusun kalimat dengan jelas, berbicara dengan santun, dan memilih kata dengan cermat, anak akan menyerap semua itu jauh sebelum ia menginjakkan kaki di sekolah. Di lingkungan pergaulan, tekanan untuk terlihat kekinian memang nyata.

Iswatiningsih, Fauzan, dan Pangesti (2021) dalam penelitiannya mencatat bahwa remaja milenial menggunakan bahasa gaul sebagai ekspresi identitas sosial dan sarana membangun keakraban dalam kelompok, sehingga penggunaannya menyebar sangat cepat melalui media sosial.

Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri, karena tanpa pembiasaan yang kuat di lingkungan keluarga dan pendidikan, bahasa gaul berpotensi menggeser kebiasaan berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Berbahasa Indonesia yang baik bukan berarti kaku atau ketinggalan zaman, justru di situlah letak kedewasaan seseorang, mampu menempatkan bahasa sesuai konteks tanpa kehilangan identitas.

Baca juga: Media Sosial terhadap Penggunaan Bahasa Indonesia

Sekolah tentu memiliki peran yang tidak bisa diabaikan. Bukan hanya dalam pelajaran Bahasa Indonesia, tetapi di seluruh ruang belajar, bahasa yang digunakan guru dan murid seharusnya menjadi cerminan budaya akademik yang sehat.

Ketika guru membiasakan diskusi dengan bahasa yang runtut, ketika siswa diajak untuk menyampaikan pendapat dengan kata-kata yang dipilih dengan sungguh-sungguh, maka secara perlahan sekolah menjadi laboratorium pembentukan karakter melalui bahasa.

Pada akhirnya, berbahasa Indonesia yang benar bukan soal mengikuti aturan demi aturan. Ini soal menghormati warisan bersama, menjaga identitas yang sudah diperjuangkan, dan membangun karakter dari hal yang paling sederhana dalam keseharian kita.

Setiap kalimat yang kita susun dengan baik adalah langkah kecil menuju bangsa yang lebih beradab. Dan karakter sejati seseorang tidak hanya terlihat dari apa yang ia lakukan, tetapi juga dari bagaimana ia mengungkapkannya.

Penulis:
1. Khusnatul Mawaddah
2. Daroe Iswatiningsih
Mahasiswa Magister Pedagogi Universitas Muhammadiyah Malang


Daftar Pustaka

Iswatiningsih, D., Fauzan, F., & Pangesti, F. (2021). Ekspresi remaja milenial melalui penggunaan bahasa gaul di media sosial. KEMBARA: Jurnal Keilmuan Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya, 7(2), 476-489. https://doi.org/10.22219/kembara.v7i2.18301

Editor: Rahmat Al Kafi

 

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses