Tawuran Antar Pelajar: Bukti Nyata Kegagalan Pendidikan

Pendidikan
Gambar dibuat dengan teknologi AI.

Hampir tiap harinya kita melihat warna dari media pemberitaan di tayangan televisi dan juga media sosial (Instagram, Facebook, Twitter, dan sejenisnya) fenomena tawuran di kalangan pelajar.

Fenomena ini terjadi di kalangan pelajar yang seharusnya di usia mereka perhatian dari orang tua serta tenaga pendidik sangat diperlukan dan berperan sangat penting. Tawuran di kalangan pelajar memberi identitas baru dengan menjadikannya kebiasaan dan trend, bahkan sudah menjadi tradisi yang turun-temurun di kalangan pelajar.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Tawuran antar pelajar sepertinya menjadi persoalan klasik yang tidak pernah terselesaikan  Bahkan di pertengahan tahun ini peristiwa tawuran bukan hanya sekadar kenakalan remaja, tidak hanya terjadi di lingkungan atau sekitar sekolah saja, namun terjadi di jalan-jalan umum yang digunakan oleh masyarakat umum, tidak jarang disertai pengrusakan fasilitas publik.

Perilaku ini selanjutnya, telah menjurus pada perbuatan kriminal karena sudah terjadi timbul korban kekerasan bahkan sampai pembunuhan. Hal ini jelas beralasan karena dilihat dari senjata yang biasa dibawa dan dipakai oleh pelajar saat tawuran bukan senjata biasa.

Mereka tidak mengandalkan tangan kosong, Tetapi sudah menggunakan alat-alat yang berbahaya dan mematikan, seperti batu, bambu, dan kayu, serta senjata tajam.

Misalnya, parang, pedang, pisau, tongkat besi, gir dan rantai motor, atau semacam benda tajam dan tumpul lainnya yang disesuaikan oleh pelajar yang sewaktu-waktu terlibat tawuran langsung bisa digunakan sebagai senjata.

Faktor Pemicu Tawuran

Menurut Vera (Psikolog klinis anak dan remaja dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia), ada dua faktor yang menjadi alasan para remaja melakukan tawuran, yakni faktor internal dan eksternal.

Faktor internal, yaitu fungsi otak remaja yang belum optimal sehingga membuat mereka kurang dapat memikirkan konsekuensi jangka panjang.

Sementara dari faktor eksternalnya adalah adanya tradisi tawuran di sekolah dan lingkungan akibat tidak disediakan wadah atau fasilitas bagi remaja untuk menyalurkan energi dan semangat mereka pada hal-hal positif. 

Ditambah lagi dengan pengaruh negatif dari media sosial yang telah menjadi salah satu alat untuk mengakomodir kebutuhan remaja yang cenderung suka terhadap sensasi, ingin dianggap berani, keren, dan menjadi perhatian masyarakat.

Oleh karena itu, menurutnya berbagai kenakalan remaja baik dalam bentuk aksi tawuran antar pelajar maupun yang lainnya tidak akan pernah selesai ketika kedua faktor ini tidak diperhatikan secara serius sebagai sebuah problem yang harus segera diselesaikan.

Terlebih lagi, aksi tawuran saat ini semakin marak dan dilakukan dengan membekali diri mereka dengan membawa senjata tajam (sajam). Sehingga aksi ini terus menelan korban luka-luka bahkan korban jiwa.

Baca Juga: Permasalahan Pendidikan Indonesia Tahun 2023 Perihal Perundungan Anak dibeberapa Tingkat Sekolah SD, SMP, SMA

Sebenarnya, fenomena kenakalan remaja dan maraknya aksi tawuran terjadi disebabkan oleh negara yang telah menerapkan sistem kapitalisme-sekuler, kemudian mengambil sistem pendidikan sekuler menjadi dasar dalam kurikulum pendidikan generasi.

Sementara sudah lumrah bahwa selain visi dan misi pendidikan sekuler hanya berorientasi pada materialistik. Tujuan dan fungsi sistem pendidikan ini juga menjadi media paling aktif dalam penyebaran pemikiran dan pemahaman liberalisme bagi setiap peserta didik.

Sehingga pemikiran dan paham liberalisme-sekularisme terus berkembang, menjadi paham dan budaya kehidupan di masyarakat.

Parahnya lagi, pola pendidikan ini juga telah membentuk dan melahirkan mental para pelajar yang rusak, baik dalam berpikir maupun dalam mengendalikan emosi dan bersikap.

Sehingga akhirnya tercipta generasi muda yang lemah, tidak mandiri dan tidak mampu bertanggung jawab terhadap kebutuhan dan kehidupannya pada saat ini dan di masa depan.

Baca Juga: Kenakalan Remaja Meresahkan Warga

Dengan demikian, maka tidaklah berlebihan jika kondisi remaja saat ini dinilai sebagai salah satu bukti bahwa sistem pendidikan sekuler adalah sistem pendidikan yang gagal. Karena pola pendidikan sekuler telah nyata-nyata mempertontonkan potret buram kondisi pelajar kita hari ini.

Moral pelajar makin rusak sebab sistem pendidikan hari ini tidak mampu membentuk dan meningkatkan taraf berpikir pelajar pada taraf pemikiran yang lebih tinggi. Yaitu memiliki cita-cita menjadi manusia yang unggul dan mulia yang mampu membangun negeri.

Upaya yang bisa kita lakukan sebagai pelajar untuk menghindari terjadinya hal negatif termasuk tawuran yaitu, dengan mengikuti kegiatan positif yang ada di sekolah maupun di luar sekolah, bergabung dengan organisasi mendidik yang bisa menambah wawasan serta meningkatkan potensi kita di suatu bidang yang disukai.

Yang terpenting adalah mendekati diri kepada Tuhan Yang Maha Esa dan juga rajin beribadah, dan menjadi pribadi yang terbuka dengan orang di sekitar. Selain itu kita juga harus bisa memilah mana yang baik atau buruk, hingga memilih pergaulan yang baik, dan menjadi pelajar yang berpikir rasional dan kritis. 

Penulis: Bryan Calvin Putra Halawa
Mahasiswa Ilmu Hukum Universitas Katolik Santo Thomas

Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses