Teknologi Geofisika untuk CBM: Mendeteksi, Memantau, dan Membangun Kepercayaan Publik

Teknologi Geofisika untuk CBM: Mendeteksi, Memantau, dan Membangun Kepercayaan Publik
Sumber: freepk.com

Mengenal CBM

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki sumber daya batubara cukup besar.

Sejauh ini, pemanfaatan batubara di Indonesia dilakukan dengan melakukan ekspor produk mentah atau sebagai bahan baku pembangkit listrik dalam negeri.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Kondisi tersebut mengakibatkan kebutuhan akan batubara cukup besar. Apabila kondisi itu terus berlangsung, dikhawatirkan akan terjadi krisis energi di Indonesia.

Coal Bed Methane (CBM) diharapkan dapat menjadi solusi atas permasalahan tersebut sekaligus sebagai upaya transisi energi.

CBM merupakan gas metana yang terperangkap dalam lapisan batubara. Gas ini terbentuk secara alami selama berjuta tahun bersamaan dengan proses pembentukan batubara.

Berbeda dengan gas alam pada umumnya, CBM bukan terletak di antara batupasir atau batu penghasil gas alam lain, tetapi langsung di dalam batubara itu sendiri.

Air dalam lapisan batubara perlu dipompa keluar terlebih dahulu agar tekanan berkurang sehingga gas dapat dilepaskan.

Baca Juga: Dampak Pertambangan Batubara bagi Ekosistem Lingkungan

Manfaat CBM

Gas metana yang tersimpan di dalam lapisan batubara ini tidak hanya dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk pembangkit listrik dan industri, tetapi juga memiliki keunggulan karena lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan bahan bakar fosil konvensional.

Salah satu hal menarik dari CBM adalah perannya dalam mengurangi emisi gas rumah kaca.

Metana yang biasa terlepas ke atmosfer dan menjadi penyumbang pemanasan global justru dapat ditangkap dan digunakan sebagai energi, sehingga dapat menyediakan energi sekaligus berperan besar dalam lingkungan.

Bagi Indonesia yang sedang menghadapi penurunan produksi minyak dan gas konvensional, CBM dapat menjadi solusi untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

Selain itu, karena CBM tersebar di wilayah darat yang dekat dengan pusat konsumsi energi, pengembangannya menjadi lebih jauh efisien secara ekonomi.

Baca Juga: BUMI MEMBERI CLUE: Kajian Prekursor Gempa Bumi sebagai Prakiraan Tanda Awal Gempa Bumi

Potensi CBM di Indonesia

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tahun 2007, Indonesia memiliki potensi CBM yang sangat besar, yaitu sekitar 450 triliun cubic feet (TCF).

Wilayah potensi ini terbagi menjadi kategori high prospective, moderate, dan low prospective.

Kategori ini dibagi berdasarkan urutan keyakinan keberadaan sumber daya yang dapat diproduksi secara ekonomis.

Basin atau cekungan dengan kategori high prospective adalah Sumatera Selatan (183 TCF), Barito (101,6 TCF), Kutei (89,4 TCF), dan Sumatera Tengah (52,5 TCF).

Kategori moderate yaitu Pasir/Asam-Asam (3,0 TCF) dan Jatibarang (0,8 TCF). Sedang basin Sulawesi (2,0 TCF) dan Bengkulu (3,6 TCF) berkategori low prospective.

Potensi yang cukup besar ini juga didukung oleh kualitas CBM berupa tingginya kandungan metana.

Indonesia memiliki keunggulan geologis berupa kedalaman lapisan batubara yang relatif dangkal, yaitu sekitar 500-1500 m, yang membuat biaya pengeboran lebih murah dan bisa memanfaatkan data dan infrastruktur migas yang telah ada sebelumnya.

Hal ini tentu membuka peluang besar bagi pengembangan energi yang lebih terjangkau dan berkelanjutan.

Baca Juga: Optimalisasi Pemanfaatan Energi Surya di Indonesia dengan Smartflower Solar Panels untuk Mendukung Net Zero Emission 2060

Tantangan Pengembangan CBM di Indonesia

Berdasarkan berbagai kajian literatur, pengembangan proyek CBM di Indonesia dihadapkan pada sejumlah tantangan.

Salah satu tantangan utama dalam pengembangan CBM di Indonesia adalah kekhawatiran terhadap pencemaran air tanah akibat limbah produksi.

Proses dewatering, yaitu proses pengeluaran air dari lapisan batubara untuk menurunkan tekanan formasi sehingga gas metana dapat dilepaskan dan diproduksi, dan hydraulic fracturing, teknik yang digunakan untuk meningkatkan laju produksi minyak atau gas dari batuan yang memiliki permeabilitas rendah, berisiko menghasilkan air buangan yang mengandung zat terlarut, senyawa organik, dan logam berat yang berpotensi meresap ke akuifer dangkal.

Kurangnya pengelolaan limbah yang memadai dapat menyebabkan kontaminasi air bersih yang digunakan oleh masyarakat sekitar.

Hal ini menimbulkan resistensi sosial dan kekhawatiran lingkungan yang cukup besar. Selain itu, kurangnya transparansi data bawah permukaan memperburuk persepsi publik terhadap risiko yang sebenarnya bisa dikelola secara teknis.

Tantangan ini semakin kompleks karena belum adanya standar pemantauan lingkungan yang spesifik untuk proyek CBM.

Pengawasan terhadap rembesan fluida sering kali tidak dilakukan secara real-time, sehingga penanganan kebocoran menjadi reaktif, bukan preventif.

Oleh karena itu, pemanfaatan teknologi geofisika untuk deteksi dini dan pemantauan berkala menjadi sangat penting guna menjawab pro-kontra yang berkembang di masyarakat.

Baca Juga: Telekomunikasi Hijau 6G: Efisiensi Energi untuk Ekosistem Berkelanjutan

Peran Geofisika

Ground Penetrating Radar (GPR) adalah salah satu metode geofisika non-destruktif yang digunakan untuk memetakan kondisi bawah permukaan dengan resolusi tinggi.

Secara umum, GPR bekerja dengan memancarkan gelombang elektromagnetik frekuensi tinggi ke dalam tanah menggunakan antena khusus.

Ketika gelombang ini mengenai batas antar material yang memiliki kontras nilai konstanta dielektrik (misalnya antara lapisan tanah kering dan air limbah), sebagian energi akan dipantulkan kembali ke permukaan dan direkam oleh sistem.

Pantulan ini kemudian dianalisis untuk menghasilkan citra penampang bawah tanah.

Salah satu tantangan teknis dalam pemantauan limbah CBM adalah membedakan antara air tanah alami dan air limbah hasil produksi.

Secara umum, perbedaan ini dapat dikenali berdasarkan sifat fisik dan kimia masing-masing fluida.

Air tanah biasanya memiliki kandungan mineral yang relatif stabil dan rendah konduktivitas, sedangkan air limbah dari CBM sering kali mengandung kadar ion terlarut tinggi, bahan kimia fracking, serta senyawa organik yang menyebabkan kontras signifikan dalam parameter dielektrik dan konduktivitas.

Perbedaan inilah yang dimanfaatkan dalam interpretasi data geofisika, khususnya menggunakan metode Ground Penetrating Radar (GPR).

Dalam konteks pemantauan limbah CBM, GPR efektif digunakan untuk mendeteksi keberadaan rembesan air limbah yang meresap ke dalam lapisan dangkal.

Baca Juga: Dampak Pengolahan Limbah dan Air Terhadap Keberlangsungan Hidup Manusia

Air limbah umumnya memiliki kandungan ion dan kelembaban tinggi, sehingga menghasilkan anomali reflektif yang kontras dibandingkan tanah di sekitarnya.

Dengan melakukan survei GPR secara teratur di area sekitar sumur produksi, fasilitas fracking, atau kolam pembuangan, operator dapat mendeteksi sejak dini potensi kebocoran atau akumulasi fluida bermasalah.

Data GPR biasanya divisualisasikan dalam bentuk penampang 2D atau volume 3D, yang menunjukkan posisi dan kedalaman anomali.

Wilayah penerapan metode GPR difokuskan pada area berisiko tinggi seperti sekitar casing sumur, area pengolahan air limbah, zona transisi antara formasi batubara dan akuifer dangkal, serta lingkungan pemukiman atau konservasi air tanah.

Karena GPR memiliki keterbatasan penetrasi di tanah liat atau lingkungan dengan kadar garam tinggi, metode ini sering dikombinasikan dengan resistivitas atau pemodelan hidrogeologi untuk meningkatkan akurasi.

Dengan pendekatan ini, pemantauan air limbah menjadi lebih presisi, preventif, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, sehingga membantu mengatasi kekhawatiran lingkungan dari masyarakat dan mendukung pengelolaan CBM yang berkelanjutan.

 

Penulis: Talitha Giovani Auryn Nathania
Mahasiswa Prodi Teknik Geofisika, Institut Teknologi Bandung

 

Referensi

Firma, dkk. (2021). Modelling of Water Content Estimation in Land based on Ground Penetrating Radar (GPR) With Vector Network Analyzer. E-Proceeding of Engineering, 8(6), 11629-11637.

Hartiniati. (2011). Dampak Lingkungan dan Sosial dari Pengembangan CBM di Indonesia. Jurnal Teknik Lingkungan, 12(2), 207-216.

Wahab, dkk. (2021). Coalbed Methane As A New Source of Energy in Indonesia and Some Developed Countries. Journal of Ocean, Mechanical and Aerospace, 65(2), 40-60.

 

Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Daftar Isi dan Poin-Poin Artikel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses