Teori Dzikir Perspektif Abdurrauf As-Singkili dalam Menghadirkan Kesehatan Mental

dzikir Abdurrauf As-Singkili
Dzikir dengan Tangan (Foto: Dok. MMI)

Belakangan ini perguruan tinggi tak hanya berfungsi sebagai tempat untuk belajar melainkan juga sebagai tempat yang penuh tekanan.

Sasaran akademik, tuntutan untuk berprestasi, dan kekhawatiran mengenai masa depan yang menyebabkan banyak mahasiswa merasakan kelelahan mental.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Ironisnya ditengah banyaknya pembicaraan mengenai kesehatan mental, mahasiswa sering diminta untuk tetap kuat tanpa benar-benar didorong untuk memahami cara merawat jiwa mereka.

Banyak pelajar terlihat baik-baik saja di permukaan namun menyimpan kekhawatiran di dalam diri mereka.

Keberhasilan akademis sepertinya menjadi satu-satunya ukuran sukses sedangkan ketenangan jiwa jarang menjadi perhatian.

Kesehatan mental tidak hanya tentang kemampuan untuk bertahan tetapi juga kemampuan untuk menenangkan pikiran.

Dalam tradisi pemikiran Islam Nusantara, topik mengenai ketenangan batin bukanlah suatu hal yang baru.

Salah satu figur yang sangat memperhatikan aspek dimensi batin manusia ialah Abdurrauf As-Singkili, seorang cendekiawan terkemuka dari Aceh pada abad ke-17.

Lewat ajaran tasawuf nya, Abdurrauf menganggap dzikir sebagai cara utama untuk mempertahankan keseimbangan jiwa.

Baca Juga: Dzikir sebagai Pembersih Jiwa

Bagi Abdurrauf As-Singkili, dzikir tidak hanya sekedar diartikan sebagai pengulangan kata saja.

Dzikir merupakan suatu bentuk latihan kesadaran yang membuat hati hadir agar manusia tidak terjebak dalam keresahan dunia.

Dalam konteks ini, dzikir berperan sebagai pengendali jiwa yang mengarahkan manusia agar tidak terpengaruh oleh rasa cemas, ambisi yang berlebihan, dan beban hidup.

Jika ditempatkan dalam konteks para mahasiswa saat ini ajaran dzikir sangat berkaitan. Banyak mahasiswa terjebak dalam aliran pemikiran yang tak pernah berhenti, khawatir tertinggal, cemas, gagal, merasa tidak memenuhi harapan.

Pikiran yang terus-menerus berputar tanpa henti ini sering menjadi penyebab kelelahan mental. Dzikir menurut Abdurrauf berfungsi sebagai waktu jeda atau sebuah ruang di mana pikiran dan hati bisa kembali menjadi tenang.

Menarik untuk dicatat bahwa ajaran dzikir yang disampaikan oleh Abdurrauf As-Singkili mirip dengan praktik mindfulness yang banyak dikenal dalam psikologi masa kini.

Kedua pendekatan ini menekankan pentingnya kesadaran terhadap keadaan diri sendiri. Namun, dzikir memiliki makna yang lebih mendalam karena menghubungkan kesadaran tersebut dengan Tuhan sehingga ketenangan yang dicapai tidak hanya bersifat psikologis namun juga ketenangan dengan eksistensi.

Baca Juga: Keajaiban Berdzikir untuk Mempermudah Segala Urusan

Sayangnya kegiatan dzikir di antara mahasiswa seringkali kehilangan esensinya. Dzikir dilakukan sebagai kebiasaan namun tidak dirasakan sebagai bentuk introspeksi.

Hal ini mengakibatkan dzikir tidak memberikan pengaruh yang berarti bagi ketentraman jiwa.

Kritik ini disampaikan oleh Abdurrauf As-Singkili, ia mengatakan bahwa “Dzikir tanpa keterlibatan hati hanya akan menjadi kegiatan verbal yang tidak bermakna.”

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan universitas yang padat, para mahasiswa sebenarnya memerlukan cara sederhana dan penting untuk merawat kesehatan mental mereka.

Salah satunya dengan dzikir, jika dipahami dengan benar dapat mendukung mahasiswa dalam menciptakan kesadaran diri, menerima keterbatasan, dan menghadapi tekanan dengan lebih bijak.

Ini bukan tentang menghindari masalah namun lebih kepada menghadapi masalah dengan ketenangan jiwa.

Tentu saja dzikir bukanlah satu-satunya jawaban untuk semua masalah kesehatan mental. Pendekatan yang berlandaskan profesional seperti konseling masih sangat diperlukan.

Namun, melupakan aspek spiritual akan membuat usaha untuk merawat kesehatan mental menjadi tidak seimbang.

Di sinilah pemikiran Abdurrauf As-Singkili memiliki relevansinya yaitu kesehatan jiwa tidak dapat dipisahkan dari ketenangan batin.

Baca Juga: Dahsyatnya Dzikir bagi Ketenangan Jiwa

Sudah tiba waktunya bagi perguruan tinggi untuk menciptakan ruang bagi diskusi yang lebih mendalam mengenai kesehatan mental termasuk pandangan spiritual dan kearifan lokal.

Mahasiswa tidak hanya memerlukan cara untuk bertahan namun juga memerlukan cara untuk mencari makna dalam hidup.

Dalam tradisi Islam di Nusantara, dzikir bukan hanya aktivitas ibadah namun juga cara menjaga jiwa dan mungkin itulah yang sangat dibutuhkan oleh mahasiswa saat ini.


Penulis:
1. Rizki Melanie (Mahasiwa Magister Aqidah dan Filsafat Islam, UNIDA Gontor)
2. Assoc. Prof. Dr. Jarman Arroisi, M.Ud. (Dosen Pascasarjana UNIDA Gontor)


Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses