Tradisi Ma’Nene pada Masyarakat Suku Toraja

Masyarakat Suku Toraja.
Tradisi Ma'Nene pada Masyarakat Suku Toraja.

Indonesia merupakan negara yang dikenal akan seribu budayanya, Tana Toraja di Sulawesi Selatan merupakan salah satu buktinya. Di tengah pengunungan yang sejuk dan pemandangan alamnya yang sangat mempesona, hidup masyarakat Toraja yang masih memegang erat tradisi leluhurnya.

Salah satu tradisi yang paling ikonik, unik, dan sarat makna yaitu Ma’Nene yang merupakan ritual mengganti pakaian serta membersihkan jasad leluhur yang telah lama meninggal.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Tradisi ini bukan bukan hanya menjadi daya tarik bagi wisata dunia, tetapi juga menjadi cerminan kearifan lokal dan filosofi hidup masyarakat Toraja yang memandang kematian sebagai bagian abadi dari kehidupan. Oleh karena itu, artikel ini berupaya untuk mengulas Sejarah, proses, nilai budaya, hingga makna antropologi Ma’nene.

Sejarah Ma’Nene

Tradisi Ma’nene berakar dari kisah legendaris Pong Rumasek, seorang pemburu yang hidup ratusan tahun lalu. Pada suatu hari, dalam perjalanan berburunya di hutan pegunungan Balla, Pong Rumasek menemukan mayat manusia yang tergeletak tanpa perawatan. Dengan penuh rasa hormat, ia membungkus mayat tersebut dengan kain seadaanya yang ia punya.

Sejak kejadian itu, Pong Rumasek selalu memperoleh hasil buruan dan panen yang melimpah. Kisah ini pun menambah keyakinan bahwa merawat jasad leluhur dapat menjadi sumber keberkahan dan harus dilakukan secara turun-temurun (Alifvia et al. 2023; Kumparan, 2021).

Legenda ini menjadi fondasi moral dan spiritual bagi masyarakat Toraja, menegaskan bahwa pentingnya penghormatan kepada leluhur sebagai bagian dari siklus kehidupan yang tak terputus.

Proses Ritual Ma’nene

Ritual Ma’nene biasanya dilakukan setiap tiga tahun sekali, terutama setelah musim panen, karena dipercaya sebagai pembawa keberuntungan dan melindungi hasil panen dari hama.

Ritual ini dimulain dengan berkumpulnya keluargabesar dari berbagai penjuru, bahkan dari luar negeri, untuk bersama-sama melakukan penghormatan kepada leluhur. Berikut ini beberapa tahap ritual Ma’nene yaitu:

1. Pembukaan Liang Kubur

(Yayank Stiv/BeritaBenar), Pada tgl 3 September 2018 di Lembang Lempo, Kb. Toraja Utara, Sulawesi Selatan, Keluarga besar berkumpul di depan makam batu untuk memulai upacara Ma’nene.

Jasad leluhur dikeluarkan secara hati-hati dari liang batu (tunuan). Proses ini dilakukan dengan penuh penghormatan dan doa, baik menurut kepercayaan Aluk Todolo (Kepercayaan asli Toraja) maupun Kristen.

2. Pembersihan dan Penggantian Pakaian

Kemudia jasad dibersihkan, dirapikan, serta pakaiannya diganti dengan yang baru. Kain pembungkus menjadi simbol status sosial dan penghormatan. Semakin tinggi status sosial keluarga maka semakin mahal kain yang akan digunakan.

Baca Juga: Tradisi Rambu Solo di Suku Toraja

3. Doa dan Persembahan

Warga Desa Toraja membawa babi hutan sebagai persembahan saat upacara pemakaman yang dikenal sebagai “Rambu Solo” di Londa di Kabupaten Tana Toraja (12/09/2018). (AFP/Goh Chai Hin).

Doa-doa dipanjatkan sesuai dengan kepercayaan keluarga. Persembahan yang diberikan dapat berupa makanan, minuman, rokok, dan sesajian lainnya diberikan sebagai bentuk komunikasi dengan roh leluhur.

Meskipun ada beberapa masyarakat yang melakukan Babi dan Kerbau, namun dalam hal ini tidak ada aturan yang menwajibkan memotong hewan namun itu tergantung dari pihak keluarga masing-masing.

4. Makan Bersama

Setelah ritual selesai, keluarga akan makan bersama disekitar makam sebagai simbol kebersamaan dan Syukur. Dahulu, Hanya ubi parut yang boleh dibawa ke makam, karena nasi dianggap makanan dewa namun kini, nasi dapat dibawa karena dianggao sebagai simbol adaptasi budaya.

5. Pengembalian Jasad

Jasad pun dikembalikan ke liang kubur dengan pakaian baru, yang menandakan pembaruan hubungan antara yang hidup dan yang mati.

Keunikan ritual ini pun sering disebut sebagai fenomena mayat “berjalan” yang sebenarnya, fenomena ini merupakan jasad yang telah dibersihkan dan pakaiannya diganti “dibantu” berjalan menuju liang kubur atau bentuk pengangkatan jasad secara bersama-sama oleh keluarga.

Baca Juga: Mengantar sang Malaikat Kecil ke Surga: Ritual Pemakaman Bayi Suku Toraja yang Penuh Makna dan Keyakinan

Nilai Budaya dan Makna Antropologis

Nilai budaya yang terkandung dalam tradisi ini yaitu:

  1. Penghormatan kepada leluhur Ma’nene merupakan manifestasi penghormatan mendalam kepada leluhur. Bagi masyarakat Toraja, hubungan antara yang masih hidup dan yang sudah mati tidak perna benar-benar terputus. Mereka meyakini bahwa para leluhurnya tetap mengawasi dan menjaga keturunannya, sehingga penghormatan melalui Ma’nene adalah kewajiban moral dan juga spiritual
  2. Solidaritas dan identitas keluarga, ritual ini memperkuat solidaritas keluarga besa, mempererat tali hubungan kekerabatan, dan juga menegaskan identitas etnis toraja. Ma’nene menjadi momentum silahturahmi dan gotong royong, dimana seluruh anggota keluarga berpatisipasi aktif.
  3. Adaptasi dan dinamika budaya, Ma’nene merupakan contoh nyata adaptasi budaya. Masuknya agama Kristen dan katolik membawa perubahan pada keselarasan ritual, seperti penggantian doa-doa animism dengan doa Kristen, dan sesajian kini boleh dimakan bersama. Namun, esensi Ma’nene tetap Lestari: penghormatan kepada leluhur dan penguatan ikatan keluarga (Alifvia et al.,2023).
  4. Simbolisme dalam ritual, setiap elemen dalam Ma’nene memiliki makna simbolik. Kain pembungkus menandakan status sosial dan penghormatan; makanan dan sesaji menjadi media komunikasi antara dunia manusia dan roh leluhur. Ritual ini juga menjadi sarana transmisi nilai-nilai gotong royong, penghormatan, dan rasa Syukur kepada generasi muda.

Tradisi Ma’nene adalah bukti yang sangat nyata betapa kekuatan cinta, penghormatan, dan identitas maupun melintas batas kehidupan dan kematian. Bagi masyarakat Toraja, merawat leluhur bukanlah beban, melainkan suatu kehormatan dan sumber kebahagiaan.

Di tengah arus modernisasi ini, Ma’nene menjadi pengingat bahwa tradisi dan kearifan lokal adalah warisan yang tak tergantikan serta memperkaya mozaik budaya Indonesia.

Penulis:
1. Hilaria Herkulana Sabu
2. Luica De Leven
3. Gresia Natalia
4. Muhamad Riski Fauzi
Mahasiswa Psikologi Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Dosen Pengampu: Hartosujono, A. Md., S.E., S.Psi., M.Psi.

Editor: Ika Ayuni Lestari

Bahasa: Rahmat Al Kafi

Daftar Pustaka

Alifvia, N. B., Sulastri, S. N. A., & Mega Jaya, B. P. (2023). MA’NENE TRADITION IN THE LAND OF TORAJA AS INDONESIAN LOCAL WISDOM. Perpustakaan Internasional Waqaf Illmu Nusantara, Centre for Policy Research and International Studies (CenPRIS), Universiti Sains Malaysiahttps://www.waqafilmunusantara.com

Gunawan, R., & Merina. (2018). Tradisi Ma’nene Sebagai Warisan Budaya Etnis Toraja. Jurnal, 4(2), 107.

Kumparan. (2021, August 28). Sejarah Upacara Kematian Ma’nene, Tradisi Adat Mayat Berjalan di Tana Toraja. https://kumparan.com/selvi-suci-lestari/sejarah-upacara-kematian-manene-tradisi-adat-mayat-berjalan-di-tana-toraja-240ZDADfWiA

Liputan6. (2021, April 7). Ma’nene dan Tradisi Mayat Berjalan di Tana Toraja. https://www.liputan6.com/news/read/4533804/manene-dan-tradisi-mayat-berjalan-di-tana-toraja

Pebrianti Parrang. (n.d.). Pergeseran Makna Ritual Ma’nene Pada Masyarakat Baruppu Parodo Kabupaten Toraja Utara. Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Makassar.

Windrialde Datu Kalua, et al. (2020). Tradisi Ma’nene (Pembersihan jenazah Leluhur) Pada masyarakat Toraja (Studi Kasus di Desa Tonga Riu Kecamatan Sesean Suloara’ kabupaten Toraja Utara). Jurnal, 13(3).

 

 

Ikuti berita terbaru di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses