Ketika Satu Kalimat Menyentuh Jutaan Perempuan
Kamu pernah berhenti di tengah scroll, membaca satu kalimat, lalu tiba-tiba merasa, “Ini tentang aku.” Bukan karena kalimat itu puitis. Bukan karena penulisnya terkenal. Namun, karena kalimat itu menyentuh sesuatu yang selama ini kamu simpan sendiri.
Itulah yang terjadi setiap hari pada jutaan perempuan Indonesia yang membuka telepon seluler (ponsel) mereka dan menemukan akun @evtessia. Akun ini milik Evangelina Tessia Pricilla, kreator konten perempuan asal Indonesia yang kini diikuti lebih dari satu juta orang di Instagram.
Bukan karena ia menjual kehidupan yang sempurna. Justru sebaliknya, ia berbicara tentang hal-hal yang tidak sempurna, yang menyakitkan, dan yang selama ini dianggap wajar, padahal tidak.
Di tengah banyaknya konten yang berlomba-lomba memperlihatkan tubuh ideal dan gaya hidup tanpa cela, @evtessia memilih berbicara tentang ghosting, standar ganda, laki-laki manipulatif, dan mengapa perempuan tidak perlu terus-menerus menyalahkan diri sendiri. Ternyata, banyak orang yang mendengarkan, terlihat dari jumlah pengikut yang dimilikinya.
Fenomena ini bukan sekadar soal satu akun Instagram yang viral. Ini tentang bagaimana ruang digital, khususnya platform Instagram, telah berubah menjadi ruang baru perjuangan kesetaraan gender di Indonesia.
Evangelina Tessia Pricilla adalah salah satu contoh paling nyata dari pergeseran itu. Seorang perempuan muda yang menggunakan konten edukasi sehari-hari untuk mendorong kesadaran kritis jutaan perempuan tentang hak, relasi, serta cara mereka memandang dan mengembangkan diri sendiri.
Berdasarkan laporan Napoleon Cat (2025), pengguna Instagram di Indonesia telah mencapai hampir 100 juta orang dengan 53,9 persen di antaranya adalah perempuan. Lebih dari separuh narasi yang berputar di platform tersebut setiap hari dikonsumsi oleh perempuan. Namun, selama bertahun-tahun, narasi itu jarang menempatkan mereka sebagai subjek yang setara.
Situasi ini semakin mendesak untuk diperhatikan. Data SAFEnet Indonesia (2024) mencatat lonjakan kasus Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) dari 118 kasus pada triwulan I 2023 menjadi 480 kasus pada triwulan I 2024, meningkat empat kali lipat hanya dalam satu tahun.
Ruang yang seharusnya menjadi tempat berekspresi justru menjadi arena baru kerentanan perempuan. Di sinilah relevansi @evtessia, yakni mengisi kekosongan narasi tersebut dengan cara yang sederhana, jujur, dan dapat diakses siapa saja.
Perempuan dan Tekanan yang Tak Kasatmata
Setiap hari, perempuan dihadapkan pada standar yang terus muncul di linimasa, seperti tuntutan memiliki tubuh ideal, tampil cantik, menjadi pasangan sempurna, hingga terlihat sukses di berbagai aspek kehidupan. Tidak jarang pula mereka menjadi sasaran body shaming dan komentar yang meremehkan.
Akibatnya, media sosial tidak hanya memengaruhi cara perempuan memandang orang lain, tetapi juga cara mereka memandang diri sendiri.
Instagram, sebagai salah satu platform visual terbesar, telah lama disorot sebagai ruang yang memperparah kondisi tersebut. Namun, dalam beberapa tahun terakhir terjadi pergeseran. Semakin banyak perempuan yang tidak lagi hanya menjadi konsumen narasi, tetapi juga aktif memproduksinya, berbicara dari pengalaman nyata, bukan dari naskah yang telah dipoles.
@evtessia menjadi salah satu yang paling konsisten melakukannya. Kehadirannya menjadi bukti bahwa media sosial dapat menjadi alat yang justru membebaskan perempuan dari berbagai tekanan tersebut, bukan memperparahnya, apabila digunakan dengan niat dan kesadaran yang tepat.
Apa yang Sebenarnya Dibagikan @evtessia?
Bio akunnya sudah berbicara banyak: “Upgrade mindset #Cewekpolos jadi #Upgradediri dan #PerempuanHebat biar #SamaSamaCantik.”
Kalimat tersebut bukan sekadar tagline. Kalimat itu menjadi benang merah yang menyatukan seluruh kontennya. Namun, apakah muatan konten-kontennya benar-benar konsisten dengan pesan tersebut? Berikut gambaran dari beberapa tipe konten yang kerap diunggah:
Dari gambaran konten-konten tersebut, penulis melihat bahwa @evtessia secara konsisten menempatkan perempuan sebagai subjek aktif yang berhak menentukan standarnya sendiri, bukan objek yang harus terus menyesuaikan diri dengan ekspektasi orang lain.
Riset Indari (2025) dalam analisisnya terhadap akun @evtessia menyimpulkan hal serupa, yaitu bahwa @evtessia secara konsisten menerjemahkan pesan kesetaraan gender melalui simbol, warna, dan teks yang mencerminkan perspektif feminis. Konsistensi inilah yang membuat pesan-pesannya tidak terasa seperti kampanye, melainkan seperti percakapan.
Ketika Kolom Komentar Menjadi Ruang Dukungan
Yang membuat pendekatan @evtessia berhasil bukan hanya kontennya, tetapi juga apa yang terjadi setelahnya. Banyak perempuan masuk ke kolom komentar bukan hanya untuk merespons, melainkan juga untuk berbagi cerita mereka sendiri. Ruang komentar berubah menjadi semacam lingkaran dukungan digital, sesuatu yang jarang tercipta secara organik di platform yang lebih sering memicu perbandingan daripada solidaritas.
Para peneliti komunikasi menyebut fenomena ini sebagai cyberfeminisme, yaitu pemanfaatan ruang digital sebagai arena baru pemberdayaan dan kesetaraan gender. Alatas (2019) mencatat bahwa media sosial membuka peluang bagi perempuan untuk tidak lagi sekadar menjadi objek narasi, tetapi menjadi subjek yang aktif membentuk wacana tentang diri mereka sendiri.
Penulis melihat hal ini terjadi secara nyata di akun @evtessia. Kolom komentar bukan sekadar fitur platform, melainkan telah berubah menjadi ruang perjumpaan antarperempuan yang saling menguatkan. Ini adalah bentuk solidaritas digital yang tidak bisa dianggap sepele.
Media Sosial dalam Komunikasi Pembangunan
Dalam kerangka komunikasi pembangunan, apa yang dilakukan @evtessia dapat dibaca lebih jauh dari sekadar konten hiburan. Castells (2009) dalam Communication Power berargumen bahwa siapa pun yang mengendalikan narasi di media pada dasarnya mengendalikan makna sosial.
Dahulu, narasi tentang perempuan sebagian besar dibentuk oleh media yang tidak selalu ramah terhadap perspektif perempuan. Kini, media sosial mengubah siapa yang dapat berbicara, dan perempuan tidak lagi hanya menjadi objek cerita.
Dibungkam dan Rentan: Perspektif Feminis tentang Nasib Perempuan dalam Konflik Israel-Palestina
Kajian Setiawati dkk. (2024) menemukan bahwa pendekatan edukasi ringan yang menyentuh pengalaman nyata terbukti mampu meningkatkan kesadaran perempuan terhadap hak-hak mereka, sekaligus mendorong partisipasi aktif dalam kehidupan sosial. Yang terjadi di layar ponsel itu jauh lebih berdampak daripada yang kita kira.
Tentu ada tantangannya. Algoritma Instagram tidak selalu berpihak pada konten yang serius. Jangkauan bisa dibatasi, pesan dapat tenggelam di antara ribuan konten lain yang lebih mudah viral. Ada pula risiko bahwa narasi kesetaraan di media sosial hanya menjadi estetika, terlihat progresif di permukaan, tetapi kosong secara substansi.
Ini merupakan tantangan nyata yang tidak bisa diabaikan. Menurut penulis, justru di sinilah letak pentingnya konsistensi yang dimiliki @evtessia. Selama substansi pesannya tidak bergeser, tantangan algoritma sekalipun tidak akan mengubah makna yang telah tertanam di benak audiensnya.
Penutup
Kita kembali ke momen awal, seseorang berhenti di tengah scroll, membaca satu kalimat, lalu merasa, “Ini tentang aku.” Momen itu tampak kecil. Namun, dalam skala satu juta pengikut, momen-momen kecil tersebut menjadi sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar angka.
Evangelina Tessia Pricilla sepertinya membuktikan bahwa perubahan sosial tidak selalu datang dari kebijakan yang ditandatangani di atas meja. Terkadang, perubahan hadir melalui video pendek yang ditonton seseorang di kamarnya sendiri pada tengah malam, lalu membuatnya akhirnya berpikir, “Aku tidak salah untuk merasa seperti ini.”
Di sinilah komunikasi pembangunan menemukan wajah barunya. Bukan hanya melalui program pemerintah atau kampanye formal, tetapi juga melalui konten yang dibuat dengan niat tulus agar orang lain merasa dilihat. Satu juta orang mendengarkan. Dan dari sanalah, dari satu pergeseran cara pandang pada satu orang, perubahan itu dimulai.
Daftar Pustaka
Alatas, M. F. (2019). Cyberfeminisme dan Ruang Digital sebagai Arena Pemberdayaan Perempuan. Jurnal Komunikasi Indonesia.
Badan Pusat Statistik. (2024). Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2024. Jakarta: BPS.
Butler, J. (1990). Gender Trouble: Feminism and the Subversion of Identity. Routledge.
Castells, M. (2009). Communication Power. Oxford University Press.
Indari. (2025). Analisis Konten Feminis pada Akun Instagram @evtessia.
Napoleon Cat. (2025). Instagram Users in Indonesia October 2025. Diakses dari napoleoncat.com.
Nasrullah, R. (2015). Media Sosial: Perspektif Komunikasi, Budaya, dan Sosioteknologi. Simbiosa Rekatama Media.
SAFEnet Indonesia. (2024). Laporan Kekerasan Berbasis Gender Online Triwulan I 2024. Jakarta: SAFEnet.
Setiawati, dkk. (2024). Komunikasi Pembangunan Berbasis Komunitas dan Pemberdayaan Perempuan. Jurnal Ilmu Komunikasi.
Van Zoonen, L. (1994). Feminist Media Studies. Sage Publications.
Penulis:
Meutya Rara Anggraeni (2306015104)
Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka
Anisa Amalia Fasya (2306015026)
Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka
Ghaniyya Illyani Gumilar (2306015038)
Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka
Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI















