Perkembangan kecerdasan buatan dalam beberapa tahun terakhir terasa seperti lompatan besar yang sulit diabaikan, terutama di dunia coding.
Dulu, menulis kode identik dengan proses panjang, trial-error, dan debugging yang melelahkan.
Sekarang, banyak proses itu bisa dilakukan secara otomatis oleh AI, mulai dari menghasilkan kode, mendeteksi bug, hingga membantu dokumentasi.
Bahkan, AI sudah mampu menerjemahkan bahasa manusia menjadi kode yang bisa langsung dijalankan.
Hal ini membuat proses pengembangan software menjadi jauh lebih cepat dan efisien, sekaligus memunculkan pertanyaan besar: jika mesin sudah bisa “ngoding”, lalu apa peran manusia ke depannya?
Di sisi lain, kehadiran generative AI juga mengubah cara kerja dalam Software Development Life Cycle (SDLC).
Baca Juga: AI Generatif dalam Pengembangan Software: Studi Kasus Indonesia
Banyak tahapan yang dulunya dilakukan manual—seperti perencanaan, desain, hingga testing—sekarang bisa dipercepat dengan bantuan AI.
Bahkan ada pandangan bahwa ke depan, programmer mungkin tidak lagi menulis kode dari nol, melainkan lebih banyak berperan sebagai reviewer atau editor dari hasil yang dihasilkan AI.
Efisiensi meningkat, tetapi konsekuensinya juga jelas: kebutuhan tenaga kerja bisa berkurang karena satu orang kini mampu mengerjakan lebih banyak hal dalam waktu yang lebih singkat.
Namun, melihat AI hanya sebagai ancaman jelas terlalu sempit.
Faktanya, AI juga membuka peluang baru bagi programmer untuk berkembang ke arah yang lebih strategis.
Banyak tugas rutin seperti coding dasar, debugging sederhana, atau testing kini bisa diambil alih oleh AI, sehingga programmer bisa fokus pada hal yang lebih kompleks seperti perancangan sistem, integrasi teknologi, hingga pengambilan keputusan berbasis data.
Selain itu, AI juga mendorong munculnya peran baru, seperti AI engineer atau spesialis integrasi sistem cerdas.
Artinya, profesi programmer tidak hilang, melainkan sedang berevolusi.
Menariknya lagi, AI juga membuat dunia coding menjadi lebih inklusif.
Dengan adanya tools berbasis AI dan platform low-code/no-code, orang yang sebelumnya tidak punya latar belakang IT pun kini bisa membuat aplikasi sederhana.
Ini memang membuka akses yang lebih luas, tapi sekaligus menantang posisi programmer konvensional.
Bahkan dalam konteks pendidikan, AI seperti ChatGPT terbukti mampu menjawab soal pemrograman dengan tingkat akurasi tinggi, sampai bisa lulus ujian sertifikasi.
Hal ini memunculkan kekhawatiran tentang validitas kemampuan seseorang: apakah dia benar-benar paham, atau hanya “dibantu” oleh AI?
Pada akhirnya, pertanyaan “apakah programmer masih dibutuhkan?” tidak bisa dijawab dengan ya atau tidak secara sederhana.
Programmer tetap dibutuhkan, tetapi dengan peran yang berbeda.
AI bukan pengganti, melainkan alat yang mempercepat dan mengubah cara kerja manusia.
Tantangannya ada pada kemampuan kita untuk beradaptasi—belajar hal baru, memahami cara kerja AI, dan memanfaatkannya secara optimal.
Di era ini, bukan lagi soal siapa yang paling jago coding, tapi siapa yang paling mampu berkolaborasi dengan AI.
Penulis: Latifa
Mahasiswa Prodi Teknik Informatika, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka
Dosen Pengampu: Rifky, S.T., M.M.
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al-Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












