Bagaimana Peran Guru dan Orang Tua dalam Perkembangan Anak

peran guru dan orang tua
Bagaimana Peran Guru dan Orang Tua dalam Perkembangan Anak. Sumber: MMI.

Perlu kita ketahui bahwa perkembangan seorang anak sebagian besar akan berlangsung ketika ia duduk di bangku SD. Belajar bukan hanya tentang menghafal rumus atau mengerjakan tugas, tetapi tentang bagiamana seseorang memahami makna dari proses belajar itu sendiri.

Kita sebagai guru nantinya mempunyai peran besar untuk membantu siswa memahami pelajaran. Ada dua teori yang sering digunakan dalam dunia pendidikan, yang pertama teori kontekstual.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Teori kontekstual belajar dari kehidupan nyata, teori kontekstual atau contextual teaching and learning (CTL) menekankan bahwa belajar akan lebih bermakna jika peserta didik mengaitkan materi pelajaran dengan pengalaman sehari-hari.

Misalnya saat guru mengajarkan konsep volume, siswa diajak mengukur air menggunakan botol di rumah. Dengan cara ini, siswa tidak hanya tau “apa” itu volume, tetapi juga “mengapa” dan “bagaimana” konsep itu berguna dalam kehidupan.

Melalui pembelajaran kontekstual, siswa menjadi lebih aktif, kreatif, dan kritis karena mereka belajar melalui pengalaman langsung. Dan yang kedua teori behavoristik, belajar melalui kebiasaan dan penguatan, teori ini dikembangkan oleh tokoh-tokoh seperti B. F. Skinner dan Ivan Pavlov.

Menurut Behavostik, belajar adalah perubahan perilaku akibat adanya stimulus dan respon. Contohnya, ketika guru memberikan pujian atau bintang emas setelah siswa menyelesaikan tugas dengan baik, hal itu menjadi bentuk penguatan positif (positve reinforcement).

Dengan ini, siswa termotivasi untuk mengulagi perilaku baik tersebut. Meskipun terdengar sederhana, teori ini efektif dalam membentuk kedisiplinan dan kebiasaan belajar yang konsisten.

Keduanya bisa saling melengkapi dalam praktiknya, teori kontekstual dan behavoristik tidak harus dipisahkan. Guru bisa memadukan keduanya agar proses lebih seimbang.

Pemikiran Konrad Lorenz yang Kontekstual

Lorenz sendiri meyakinkan bahwa perilaku tidak bisa dipahami tanpa melihat konteks lingkungannya. Artinya, perilaku baik pada manusia maupun hewan selalu muncul sebagai respons terhadap situasi, kondisi, dan kebutuhan yang ada di lingkungan tempat individu itu hidup.

Contohnya: seekor anak angsa yang baru menetas akan mengikuti objek pertama yang dilihatnya (biasanya induknya). Tapi dalam eksperimen Lorenz, anak angsa mengikuti dirinya karena dialah yang pertama dilihat.

Fenomena ini disebut imprinting (pencetakan perilaku). Sama halnya dengan pandangan kita yang akan kita terapkan padan manusia, maka perilaku seorang anak juga sangat dipengaruhi oleh konteks lingkungan dan pengalaman awal kehidupannya.

Baca Juga: Meningkatkan Kualitas Pendidikan melalui Komunikasi yang Efektif: Peran Guru, Orang Tua, dan Siswa

Anak manusia sama halnya dengan anak angsa yang di mana anak tersebut akan mengikuti perilaku orang tuanya dan akan melekat secara emosional pada figur pertama yang dekat denganya. Contoh, seorang bayi baru lahir yang dirawat dengan penuh kasih sayang akan merasa aman dan belajar bahwa dunia ini adalah tempat nyaman.

Sebaliknya, jika bayi tumbuh dalam lingkungan yang keras, ia bisa mengembangkan rasa takut atau tidak percaya pada orang lain. Sama halnya anak-anak di sekolah dasar sering meniru gurunya. Jika guru mengajar dengan penuh kasih sayang, sabar, dan perhatian, anak itu akan meniru hal posistif itu.

Namun di saat guru mengajar dan melontarkan kata-kata kasar, marah, ataupun sering mengkritik anak, anak bisa ter-imprinting pada pola emosi yang negatif. Biasanya anak akan mudah marah di saat orang tuanya menyuruh untuk melakukan sesuatu dan bisa juga anak akan mengatakan hal yang tak pantas seperti cacian.

Pemikiran Ivan Pavlov yang Behavoristik

Ivan Pavlov menegaskan bahwa perilaku manusia dapat dibentuk, diubah, dan dikendalikan melalui proses belajar dari lingkungan. Ia melihat perilaku sebagai hasil dari hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi secara berulang dan konsisten.

Dengan demikian, dalam pandangan behavoristik, manusia adalah mahkluk yang bisa berinteraksi terhadap lingkungan, belajar melalui pengalaman kontekstual, dan membentuk perilakunya berdasarkan asosiasi antara peristiwa dan konsekuensinya.

Dari pandangan Ivan Pavlov dapat disimpulkan bahwa perilaku manusia tidak muncul secara spontan, tetapi merupakan hasil dari proses belajar yang dipengaruhi oleh konteks lingkungan.

Contoh dalam kehidupan sehari-hari: Seorang anak kecil yang setiap kali berhasil menyapu lantai lalu dipuji oleh orang tuanya, akan belajar bahwa membantu pekerjaan rumah adalah hal yang menyenangkan.

Sebaliknya, jika setiap kali berbuat salah anak langsung dibentak, ia bisa takut mencoba hal baru. Berdasarkan teori ini, proses belajar di sekolah dapat dibentuk melalui stimulus yang tepat dan positif dari guru. Pujian, penghargaan,  maupun latihan berulang dapat membantu siswa bertanggung jawab, rajin, dan disiplin.

Kesimpulan dari Dua Pandangan tersebut

Baik teori Lorenz maupun teori Pavlo sama-sama menekankan bahwa perilaku manusia tidak muncul begitu saja, tetapi dibentuk oleh lingkungan dan pengalaman yang dialami individu sejak awal kehidupannya. Perbedaannya, Lorenz lebih menyoroti akan emosional dan pengalaman awal yang membentuk kepribadiannya.

Sedangkan teori Pavlo menekankan pengaruh stimulus dan respon dari lingkungan yang membentuk kebiasaan melalui penguatan (reward) ataupun dukungan.

Baca Juga: Guru TK sebagai Arsitek Karakter: Peran Kecerdasan Sosial, Emosional, dan Etika dalam Membangun Kepercayaan dan Keadilan di Lingkungan Belajar Anak Usia Dini

Dengan demikian, guru berperan bukan hanya sebagai pengajar tetapi juga sebagai pembentuk karakter dan emosi siswa melalui lingkungan yang mendukung, kasih sayang, serta sistem pembelajaran yang konsisten.

Melalui kombinasi keduanya, sekolah dapat menjadi tempat di mana siswa tidak hanya belajar pengetahuan, tetapi juga membangun kepribadian yang sehat, disiplin, dan memiliki motivasi yang kuat.

Penulis: Christin Imanuela Saya (NIM 292025065)
Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Kristen Satya Wacana

Dosen Pengampu: Trivena, S.Pd., M.Pd.

Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses