Topeng “Baik-baik Saja” di Kehidupan Modern
Di era sekarang, mengatakan “aku baik-baik saja” sering kali bukan lagi bentuk kejujuran, melainkan sebuah kebiasaan. Kalimat itu terasa aman, singkat, dan tidak mengundang pertanyaan lanjutan. Kita menggunakannya seperti tameng untuk menutupi sesuatu yang sebenarnya belum selesai di dalam diri.
Fenomena ini bukan hal baru, tetapi semakin terasa nyata di tengah kehidupan yang serba cepat dan penuh tuntutan. Media sosial, misalnya, menjadi ruang di mana semua orang tampak bahagia, produktif, dan “hidupnya baik-baik saja.”
Foto-foto yang rapi, senyum yang terlihat tulus, serta pencapaian yang dibagikan seolah menjadi standar kebahagiaan yang harus diikuti. Namun di balik layar, tidak sedikit yang sedang berjuang dengan rasa lelah, cemas, bahkan kehilangan arah.
Tekanan untuk Selalu Terlihat Kuat
Ada semacam tekanan tidak tertulis untuk selalu terlihat kuat. Seolah-olah mengakui bahwa kita sedang tidak baik-baik saja adalah tanda kelemahan. Padahal, manusia bukan mesin yang bisa terus berjalan tanpa henti. Kita punya batas, punya emosi, dan punya titik di mana kita merasa rapuh.
Sayangnya, ruang untuk menunjukkan kerentanan itu sering kali tidak tersedia, atau bahkan tidak dianggap penting. Kita lebih sering diajarkan untuk “tahan saja” daripada “ceritakan saja.” Akibatnya, banyak orang memilih diam, meskipun sebenarnya mereka butuh didengar.
Ketika Perasaan Terus Dipendam
Ironisnya, semakin sering kita menyangkal perasaan sendiri, semakin jauh kita dari diri kita yang sebenarnya. Kita terbiasa memendam, menunda, bahkan mengabaikan apa yang kita rasakan. Kita sibuk meyakinkan orang lain bahwa semuanya baik, sambil diam-diam berusaha bertahan dari hal-hal yang tidak pernah benar-benar kita selesaikan.
Baca juga: Pengaruh Trauma terhadap Gaya Komunikasi: Perspektif Psikologi
Lama-kelamaan, hal kecil yang tidak terselesaikan bisa menumpuk menjadi beban yang jauh lebih besar. Perasaan yang diabaikan tidak hilang, tetapi hanya tertunda.
“Baik-baik Saja” sebagai Topeng Sosial
“Baik-baik saja” akhirnya berubah menjadi topeng sosial. Kita memakainya agar tetap diterima, agar tidak merepotkan orang lain, atau sekadar agar percakapan tetap berjalan ringan. Ada ketakutan bahwa jika kita jujur, orang lain akan menjauh, menghakimi, atau tidak mengerti.
Akibatnya, kita memilih diam. Kita memilih menyimpan semuanya sendiri.
Belajar Jujur pada Diri Sendiri
Padahal, tidak ada yang salah dengan merasa tidak baik-baik saja. Justru dari pengakuan itulah proses pemulihan bisa dimulai. Mengakui bahwa kita sedang lelah, bingung, atau sedih bukan berarti kita lemah. Itu justru tanda bahwa kita masih peka terhadap diri sendiri.
Mungkin yang kita butuhkan bukan selalu solusi, tetapi ruang. Ruang untuk didengar tanpa dihakimi, untuk bercerita tanpa harus terlihat sempurna. Terkadang, kelegaan datang bukan dari jawaban, tetapi dari perasaan bahwa kita tidak sendirian.
Menjadi Manusia Seutuhnya
Kita juga perlu belajar untuk lebih jujur pada diri sendiri. Tidak harus selalu kepada semua orang, tetapi setidaknya kepada diri kita sendiri. Mengakui apa yang kita rasakan adalah langkah kecil yang sering kali diabaikan, padahal dampaknya besar.
Pada akhirnya, menjadi manusia bukan tentang selalu kuat, tetapi tentang berani jujur. Bahwa di balik kata “baik-baik saja,” kadang ada cerita yang belum sempat diungkapkan. Dan itu tidak apa-apa.
Karena mungkin, langkah pertama untuk benar-benar baik-baik saja adalah dengan berhenti berpura-pura, dan mulai memberi ruang bagi diri sendiri untuk merasa apa adanya.
Penulis: Maristela Odini Mbara
Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Widya Mataram Yogyakarta
Dosen Pengampu: Dyaloka Puspita Ningrum, S. I. Kom., M.I.Kom
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












