Budaya Scroll Tanpa Henti: Hiburan atau Kecanduan?

scrolling media sosial
Ilustrasi Scrolling (Foto: Freepik)

Di era digital yang serba cepat ini, kebiasaan scrolling media sosial telah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari.

Bangun tidur, membuka ponsel; sebelum tidur, kembali menatap layar.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Tanpa disadari, aktivitas sederhana seperti menggulir layar atau scrolling telah berkembang menjadi budaya baru, khususnya di kalangan generasi muda.

Pertanyaannya, apakah kebiasaan ini sekadar bentuk hiburan, atau justru telah berubah menjadi kecanduan?

Pada dasarnya, media sosial memang dirancang untuk memberikan hiburan.

Beragam konten menarik, mulai dari video singkat, meme, hingga informasi ringan, tersedia dalam satu genggaman.

Tidak dapat dipungkiri, scrolling bisa menjadi cara efektif untuk melepas penat setelah menjalani aktivitas yang padat.

Dalam waktu singkat, seseorang dapat tertawa, mendapatkan inspirasi, atau bahkan mempelajari hal baru.

Baca Juga: Doomscrolling: Ketika Konsumsi Informasi Berlebihan Mengancam Kesehatan Mental

Dalam konteks ini, scrolling jelas memiliki sisi positif sebagai sarana relaksasi.

Namun, persoalan muncul ketika aktivitas ini dilakukan secara berlebihan dan tanpa kendali.

Fitur infinite scroll atau guliran tanpa batas membuat pengguna terus terdorong untuk melihat konten berikutnya, tanpa jeda yang jelas.

Waktu yang awalnya hanya beberapa menit sering kali berubah menjadi berjam-jam.

Tanpa disadari, banyak orang kehilangan waktu produktif hanya untuk menonton konten yang sebenarnya tidak terlalu penting.

Lebih dari sekadar menghabiskan waktu, budaya scroll tanpa henti juga dapat memengaruhi kondisi mental.

Paparan konten yang terus-menerus, terutama yang bersifat hiburan instan, dapat menurunkan kemampuan fokus dan konsentrasi.

Selain itu, kebiasaan membandingkan diri dengan kehidupan orang lain yang tampak “sempurna” di media sosial juga dapat memicu rasa tidak percaya diri.

Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi menimbulkan stres bahkan kelelahan mental.

Baca Juga: Scroll, Like, Diagnose: Ketika Narasi Psikologi Viral Menggantikan Profesional dan Self-Diagnosis Jadi Tren Kesehatan Mental

Fenomena ini tidak lepas dari peran algoritma media sosial yang dirancang untuk membuat pengguna betah berlama-lama di dalam aplikasi.

Setiap interaksi pengguna dianalisis untuk menyajikan konten yang semakin sesuai dengan minatnya.

Akibatnya, pengguna merasa terus “ditarik” untuk tetap scrolling.

Di sinilah batas antara hiburan dan kecanduan menjadi semakin tipis.

Meski demikian, bukan berarti media sosial sepenuhnya harus dihindari.

Kunci utamanya terletak pada bagaimana kita menggunakannya.

Pengguna sebenarnya memiliki kendali untuk menentukan apa yang dikonsumsi dan berapa lama waktu yang dihabiskan.

Mengatur durasi penggunaan, memilih konten yang bermanfaat, serta menyadari kapan harus berhenti adalah langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk menjaga keseimbangan.

Selain itu, penting juga untuk membangun kebiasaan alternatif di luar dunia digital.

Baca Juga: Scrolling Tanpa Henti: Bagaimana Konten “Brainrot” Mengganggu Tidur dan Mood Generasi Z

Menghabiskan waktu bersama keluarga, berolahraga, atau sekadar menikmati suasana tanpa gangguan layar dapat menjadi cara efektif untuk mengurangi ketergantungan terhadap media sosial.

Dengan begitu, waktu luang tidak hanya diisi dengan scrolling, tetapi juga aktivitas yang lebih bermakna.

Pada akhirnya, budaya scroll tanpa henti adalah fenomena yang tidak dapat dihindari di era modern.

Ia bisa menjadi hiburan yang menyenangkan, tetapi juga berpotensi menjadi kecanduan jika tidak dikontrol.

Oleh karena itu, kesadaran diri menjadi kunci utama.

Bukan soal berhenti menggunakan media sosial, melainkan bagaimana kita tetap menjadi pengendali, bukan yang dikendalikan.


Penulis: Siti Nur Zaenab Rosada
Mahasiswa Prodi Ilmu komunikasi, Universitas Widya Mataram Yogyakarta


Dosen Pengampu: Dyaloka Puspita Ningrum, S.I.Kom., M.I.Kom.


Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses