Pernahkah kamu merasa sulit tidur setelah berjam-jam menonton video pendek di TikTok atau Instagram?
Atau mungkin kamu sering merasa mood mu naik turun tanpa alasan jelas setelah menghabiskan waktu lama di media sosial?
Jika ya, kamu mungkin sedang mengalami dampak dari fenomena yang kini populer disebut sebagai “brainrot”.
Apa Itu Brainrot?
Brainrot adalah istilah viral di kalangan Gen Z untuk menggambarkan kebiasaan mengonsumsi konten digital yang cepat, singkat, dan menarik perhatian tetapi minim nilai informasi.
Menurut Aminata (2025), salah satu contohnya seperti fenomena “anomali” yang sempat viral: karakter buatan AI dari gabungan dua benda absurd yang memberikan kepuasan instan.
Data APJII 2025 mengungkapkan bahwa 34,17% pengguna TikTok di Indonesia menghabiskan 1-2 jam per hari, 33,03% menghabiskan 2-3 jam, bahkan 14,99% lebih dari 4 jam setiap hari. Angka-angka ini menunjukkan betapa masifnya konsumsi konten brainrot di Indonesia.
Baca Juga: Hubungan Konsumsi Konten Brainrot dengan Tingkat Distraksi dan Fokus Belajar pada Mahasiswa Gen Z
Ketika Layar Mencuri Waktu Tidurmu
Menonton video pendek sebelum tidur terasa seperti relaksasi, padahal justru membuat otak tetap aktif.
Konten yang cepat dan penuh warna menstimulasi sistem saraf, ditambah cahaya biru dari layar mengganggu produksi hormon melatonin yang mengatur siklus tidur.
Akibatnya, muncul kebiasaan menunda tidur meski sudah lelah (sleep procrastination).
Survei Kurious Katadata 2023 menunjukkan hanya 34,9% penduduk Indonesia tidur 6-8 jam per hari, mayoritas (46,2%) hanya tidur 4-6 jam.
Penelitian di SMK Nusantara Raya memperkuat ini: 68,1% responden dengan penggunaan media sosial tinggi, 60,2% mengalami kualitas tidur buruk. Semakin sering menggunakan media sosial, semakin buruk kualitas tidur.
Dampaknya nyata: kantuk di pagi hari, sulit fokus saat belajar atau bekerja, dan produktivitas menurun.
Mood Swing dan “Dopamine Fatigue”
Konten dengan gerakan cepat memicu pelepasan dopamin zat kimia pembuat senang di otak.
Namun, rangsangan dopamin berlebihan dari konten singkat dan menghibur membuat kemampuan otak mengatur emosi alami menurun.
Ketika berhenti mengakses konten, kita jadi mudah bosan, cemas, atau marah. Ini disebut dopamine fatigue otak “lelah” mencari stimuli yang sama.
Penelitian di STIKES Adi Husada dan SMA Hutama Bekasi membuktikan hubungan signifikan antara durasi media sosial dengan perubahan mood.
Pada Gen Z, ini terlihat dari mudah tersinggung, sulit konsentrasi, dan menurunnya motivasi belajar atau bekerja.
Baca Juga: Sosialisasi “Dampak Negatif Media Sosial bagi Mental Health Remaja” di SMPN 94 Jakarta
FOMO: Tekanan Sosial di Balik Layar
Media sosial kini bukan sekadar hiburan, tapi tempat membentuk identitas dan rasa percaya diri.
Banyak remaja merasa harus terus mengikuti tren dan konten viral agar tidak tertinggal. Inilah Fear of Missing Out (FOMO) kecemasan karena takut ketinggalan informasi atau tren terkini.
Tekanan sosial untuk tetap diterima di dunia maya membuat Gen Z terus mengonsumsi konten brainrot tanpa sadar.
Kebiasaan ini sulit ditinggalkan karena memenuhi kebutuhan psikologis akan penerimaan sosial.
Saatnya Membangun Kesadaran Digital
Jika tidak dikendalikan, konsumsi konten brainrot dapat menurunkan produktivitas, kemampuan berpikir kritis, dan meningkatkan risiko gangguan mental.
Namun, bukan berarti kita harus meninggalkan media sosial sepenuhnya.
Baca Juga: Cegah Brain Rot: Mahasiswi UMB Ajak Siswa Melek Kesadaran Digital dan Self-Regulation
Yang diperlukan adalah Yang diperlukan adalah kesadaran digital dan kemampuan memilih konten yang bermanfaat. Beberapa langkah yang bisa dilakukan:
- Batasi waktu scrolling, terutama sebelum tidur. Hindari penggunaan handphone minimal 1 jam sebelum tidur.
- Pilih konten edukatif yang memberikan nilai tambah, bukan sekadar hiburan sesaat.
- Aktifkan fitur screen time untuk memantau dan membatasi penggunaan aplikasi media sosial.
- Cari alternatif aktivitas yang lebih sehat seperti membaca buku, berolahraga, atau berinteraksi langsung dengan teman dan keluarga.
- Jangan takut ketinggalan. Ingat, tidak semua tren perlu diikuti. Kesehatan mental dan fisik jauh lebih penting.
Gen Z memiliki potensi besar memanfaatkan teknologi untuk pengembangan diri.
Dengan menggunakan media sosial secara bijak, kita bisa mendapat manfaatnya tanpa mengorbankan kesehatan mental dan kualitas hidup.
Saatnya kita mengambil kendali atas konsumsi konten digital, bukan dikontrol olehnya.
Penulis: Naila Ramadani
Mahasiswa Prodi Psikologi, Universitas Jambi
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Referensi
Adinda, M., & Indrawati, E. (2025). Jurnal Ikraith-Humaniora, 9(2).
Aminata, S. L. (2025). Serayunews.com.
Annur, C. M. (2023). Databoks Katadata.
Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (2025). Bisnis.com.
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












