Barbie (2023) tidak hanya berfungsi sebagai film komedi fantasi, tetapi juga sebagai teks budaya yang menampilkan kritik sosial mengenai konstruksi gender.
Kajian akademik pascarilis film cenderung menyoroti isu femininitas dan pemberdayaan perempuan, namun fokus tersebut sering mengaburkan aspek lain yang sama pentingnya: representasi maskulinitas dan krisis identitas laki-laki.
Melalui karakter Ken, film ini menggambarkan bagaimana maskulinitas modern dibangun, dinegosiasikan, dan kerap kali rapuh ketika tidak memperoleh validasi sosial.
Analisis maskulinitas dalam film ini relevan dengan teori hegemonic masculinity (Connell, 1995), yang melihat maskulinitas sebagai konstruksi sosial yang berupaya meneguhkan dominasi laki-laki melalui praktik tertentu.
Perubahan perilaku Ken setelah mengunjungi dunia manusia hingga membangun “Mojo Dojo Casa House” menunjukkan bagaimana ia mencoba meniru bentuk maskulinitas hegemonik sebagai kompensasi atas rasa tidak cukup dan posisi subordinatnya di Barbie Land.
Konsep toxic masculinity (Kupers, 2005) memperjelas mekanisme ini, terutama ketika tekanan sosial tentang dominasi dan ketangguhan membuat Ken memunculkan perilaku kontrol dan agresi simbolik.
Baca Juga: Serial Reacher dan Representasi Maskulinitas: Identitas Laki-Laki dalam Budaya Populer
Selain itu, pendekatan masculine fragility (Ging, 2017) membantu menjelaskan bagaimana identitas maskulin mudah runtuh ketika tidak mendapat pengakuan eksternal.
Ketergantungan Ken pada validasi Barbie memperlihatkan rapuhnya fondasi identitas tersebut.
Perspektif ini berpadu dengan teori performativitas gender Butler (1990) yang menegaskan bahwa gender dibentuk melalui tindakan berulang, bukan esensi biologis.
Dalam film, Gerwig menggunakan satire untuk menunjukkan bahwa maskulinitas Ken adalah performa imitasi yang dapat dipertanyakan dan dibongkar ulang.
Riset kontemporer mengenai maskulinitas (2020–2024) semakin menegaskan relevansi film ini, terutama terkait bagaimana media populer membentuk pemahaman laki-laki tentang diri mereka (Seaborn, 2023; Wicaksono & An Nur, 2023).
Barbie menawarkan ruang reflektif untuk melihat maskulinitas sebagai konstruksi yang cair, tidak tunggal, dan terus diproduksi ulang melalui interaksi sosial.
Dengan demikian, film ini memperluas diskusi gender dengan menempatkan maskulinitas sebagai bagian dari struktur yang juga perlu dikritisi.
Penulis: Licelia Kaiwai (372024010)
Mahasiswa Prodi Hubungan Internasional, Universitas Kristen Satya Wacana
Dosen Pengampu: Sih Natalia Sukmi, Ph.D
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












