Hubungan Konsumsi Konten Brainrot dengan Tingkat Distraksi dan Fokus Belajar pada Mahasiswa Gen Z

Konsumsi Konten Brainrot
Foto: Dok. MMI

Istilah brainrot semakin banyak digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika individu secara berlebihan terpapar konten digital berdurasi pendek yang menyajikan rangsangan cepat dan padat.

Fenomena ini berkembang seiring meningkatnya penggunaan platform, seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts, khususnya di kalangan mahasiswa.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Kondisi tersebut tidak hanya memengaruhi pola hiburan, tetapi juga berkaitan dengan perubahan dalam fungsi kognitif, terutama kemampuan konsentrasi dan pengolahan informasi.

Bhagwath (2024) menyatakan bahwa brainrot muncul akibat paparan stimulus visual dan auditif berkecepatan tinggi yang memengaruhi sistem dopamin sehingga menurunkan motivasi terhadap aktivitas kognitif kompleks.

Berdasarkan DataReportal (2024), pengguna internet di Indonesia menghabiskan lebih dari tiga jam per hari untuk mengonsumsi video pendek, dengan kelompok usia 18–24 tahun menunjukkan persentase tertinggi.

Selain itu, Harsanto, Yunike, dan Kusumawaty (2025) menemukan bahwa semakin tinggi durasi konsumsi konten digital cepat, semakin besar gangguan fokus dan risiko brain fog.

Oleh karena itu, tulisan ini bertujuan menganalisis hubungan antara konsumsi konten brainrot dengan tingkat distraksi dan penurunan fokus belajar pada mahasiswa Gen Z, serta implikasinya terhadap capaian akademik.

Baca Juga: Brain Rot: Ancaman Sunyi bagi Kesehatan dan Pendidikan

Konten brainrot memiliki ciri utama berupa tempo cepat, visual intensif, dan durasi singkat, yang menghasilkan kepuasan instan melalui pelepasan dopamin (Bhagwath, 2024).

Kebiasaan ini menyebabkan otak terbiasa terhadap rangsangan cepat sehingga mengalami kesulitan mempertahankan perhatian dalam aktivitas yang membutuhkan pemrosesan mendalam dan berkelanjutan.

Hal ini selaras dengan Teori Cognitive Load yang dikemukakan oleh Sweller (1988), yang menjelaskan bahwa otak memiliki kapasitas terbatas dalam memproses informasi.

Ketika individu terbiasa menerima stimulasi cepat secara berulang, beban kognitif meningkat dan menurunkan efektivitas fokus, memori kerja, dan kemampuan berpikir kritis.

Dalam konteks mahasiswa, dampak tersebut terlihat pada kesulitan memahami bacaan akademik, menelaah teori, atau mengerjakan tugas yang membutuhkan penalaran sistematis.

Fenomena ini tidak hanya terbatas pada gangguan kognitif, tetapi juga memengaruhi pola perilaku belajar mahasiswa.

Dalam lingkungan kampus, mahasiswa cenderung mencari sumber pembelajaran yang instan, seperti video ringkasan teori di TikTok atau YouTube Shorts, daripada membaca literatur asli.

Meskipun cara ini terasa efisien, kebiasaan tersebut justru membentuk pola belajar dangkal (surface learning) yang menekankan hasil cepat tanpa memahami konsep mendalam.

Baca Juga: Pengaruh Media Sosial terhadap Perilaku Belajar Siswa

Hal ini sejalan dengan pandangan Ward (2020) bahwa otak manusia modern semakin sulit menunda gratifikasi karena terbiasa dengan pola reward instan yang ditawarkan media digital.

Selain itu, konsumsi brainrot secara berlebihan meningkatkan distraksi digital dalam kegiatan belajar.

Harsanto dkk. (2025) menunjukkan bahwa mahasiswa yang mengonsumsi TikTok dan Reels selama lebih dari tiga jam per hari mengalami penurunan kemampuan fokus hingga 52%.

Sementara itu, Roberts dan Foehr (2020) menjelaskan bahwa algoritma media sosial secara aktif dirancang untuk mempertahankan atensi pengguna melalui penyajian konten yang terus diperbarui.

Kondisi ini memicu perilaku pengecekan aplikasi secara berulang dan tidak disadari, sehingga individu kehilangan kemampuan mempertahankan perhatian dalam durasi panjang.

Pola peralihan fokus yang cepat tersebut mengganggu proses belajar yang memerlukan konsentrasi stabil.

Dalam konteks keseharian, fenomena brainrot tampak jelas pada perilaku mahasiswa saat perkuliahan daring atau luring.

Misalnya, saat dosen sedang menjelaskan materi, sebagian mahasiswa kerap membuka ponsel hanya untuk “cek notifikasi”, namun akhirnya tergoda menonton video singkat.

Meskipun aktivitas tersebut hanya berlangsung beberapa menit, pergantian fokus berulang seperti ini menurunkan kualitas pemrosesan informasi dalam jangka panjang.

Baca Juga: Pemanfaatan Teknologi sebagai Metode Distraksi untuk Mengatasi Kecemasan pada Anak di Lingkungan Medis

Situasi tersebut menggambarkan bagaimana konsumsi konten cepat dapat secara tidak langsung menurunkan efisiensi belajar, bahkan tanpa disadari oleh pelaku.

Lebih jauh, paparan konten brainrot juga berpengaruh terhadap motivasi akademik. Li, Geng, dan Wu (2024) menemukan bahwa kecanduan video pendek dapat meningkatkan kecemasan akademik dan menurunkan keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan perkuliahan.

Otak yang terbiasa pada kepuasan instan menganggap aktivitas akademik sebagai proses yang lambat, kompleks, dan kurang menarik.

Ward (2020) menyatakan bahwa perubahan sensitivitas sistem ganjaran otak menyebabkan tugas akademik dipersepsi lebih menuntut usaha, sehingga motivasi belajar menurun.

Walaupun demikian, Li dkk. (2024) menegaskan bahwa penggunaan media sosial secara terarah tetap dapat mendukung pembelajaran apabila konten yang dikonsumsi bersifat edukatif dan pengguna menerapkan regulasi diri.

Permasalahan brainrot di kalangan mahasiswa tidak bisa dipandang sekadar kebiasaan konsumsi hiburan, tetapi sebagai bentuk perubahan kognitif dan perilaku belajar yang perlu disikapi serius.

Pergeseran ini menuntut adaptasi strategi pembelajaran di perguruan tinggi, misalnya dengan mengintegrasikan metode microlearning yang relevan dengan karakteristik Gen Z, namun tetap menjaga kedalaman materi.

Selain itu, literasi digital dan kemampuan regulasi diri perlu dikembangkan agar mahasiswa mampu menyeleksi konten sesuai tujuan akademik, bukan sekadar hiburan.

Baca Juga: Sulit Fokus saat Membaca? Berikut 7 Teknik Cepat Menyelesaikan Bacaan untuk Mahasiswa!

Berdasarkan pembahasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa konsumsi konten brainrot yang berlebihan memiliki hubungan erat dengan meningkatnya distraksi dan penurunan fokus belajar pada mahasiswa Gen Z.

Hal ini terjadi karena paparan rangsangan cepat mengubah pola kerja sistem perhatian dan sistem ganjaran otak.

Oleh sebab itu, diperlukan upaya pengelolaan konsumsi media digital melalui pembatasan waktu penggunaan, penerapan mindfulness, dan peningkatan literasi digital.

Lembaga pendidikan juga berperan dalam membangun lingkungan pembelajaran yang mendukung regulasi diri dan kebiasaan belajar mendalam (deep learning).

Dengan demikian, teknologi dapat dimanfaatkan secara produktif sebagai pendukung akademik, bukan sebagai faktor penghambat konsentrasi dan performa belajar.

Di sisi lain, fenomena brainrot tidak selalu harus dipandang sebagai ancaman terhadap proses belajar, melainkan dapat menjadi peluang inovasi dalam pendidikan digital.

Konten berdurasi pendek yang memanfaatkan prinsip atensi cepat justru dapat diadaptasi sebagai media pembelajaran kreatif, seperti video edukatif singkat atau penjelasan teori melalui format visual interaktif.

Baca Juga: Program Pelangi Capstone Sustainability Manajemen IPB University: Peningkatan Kognitif Linguistik dan Numerik melalui Pendekatan Game Based Learning dengan Teknik Meronce bersama Adik-Adik di Yayasan Rumah Langit

Dengan strategi desain instruksional yang tepat, karakteristik media cepat ini dapat menarik minat mahasiswa tanpa mengorbankan kedalaman pemahaman.

Oleh karena itu, tantangan utama bukan sekadar mengurangi konsumsi brainrot, tetapi mengarahkan penggunaannya agar sejalan dengan tujuan akademik.

Upaya ini membutuhkan kolaborasi antara pendidik dan mahasiswa untuk membangun kesadaran digital yang kritis serta kemampuan memanfaatkan teknologi secara produktif dan reflektif.

 

Penulis: Bintang Adriani Sianturi (G1C124052)
Mahasiswa Prodi Psikologi, Universitas Jambi

Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Daftar Pustaka

Bhagwath, A. (2024). The psychology of brain rot [Unpublished manuscript]. JAIN Deemed-to-be University. Retrieved from https://www.researchgate.net/.

Harsanto, E., Yunike, Y., & Kusumawaty, I. (2025). Brain rot and focus disorders survey: Impact of consumption of TikTok and Instagram Reels content on teenagers. International Journal of Scientific and Professional (IJ-ChiProf), 4(3), 593–600. https://doi.org/10.56988/chiprof.v4i3.103

Li, G., Geng, Y., & Wu, T. (2024). Effects of short-form video app addiction on academic anxiety and academic engagement: The mediating role of mindfulness. Frontiers in Psychology, 15, 1428813. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2024.1428813

Roberts, D., & Foehr, U. (2020). Media in the lives of Gen Z: Cognitive and behavioral impacts. Oxford University Press.

Sweller, J. (1988). Cognitive load during problem solving: Effects on learning. Cognitive Science, 12(2), 257–285. https://doi.org/10.1207/s15516709cog1202_4

Gazzaley, A., & Rosen, L. D. (2016). The distracted mind: Ancient brains in a high-tech world. Cambridge, MA: MIT Press. https://mitpress.mit.edu/9780262534437/the- distracted-mind/

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses