Di tengah hiruk-pikuk Jakarta, terdapat sebuah ruang budaya yang menawarkan pengalaman berbeda.
Little Tokyo dan Papaya Fresh Gallery di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, hadir sebagai representasi fisik budaya Jepang yang unik di tengah landscape urban Indonesia.
Lebih dari sekadar nongkrong anak muda, Little Tokyo menjadi manifestasi nyata dari strategi soft power Jepang yang telah berlangsung selama puluhan tahun di Indonesia.
Teori Soft Power dalam Hubungan Internasional
Soft power didefinisikan sebagai kemampuan untuk mempengaruhi preferensi dan perilaku aktor lain melalui daya tarik dan persuasi, bukan melalui paksaan atau pembayaran (Cahyani et al., 2025).
Menurut Joseph Nye, berbeda dengan hard power yang mengandalkan kekuatan militer dan ekonomi, soft power bekerja melalui tiga elemen utama (Cahyani et al., 2025).
- Budaya (di tempat-tempat yang menarik bagi orang lain)
- Nilai-nilai politik (ketika negara tersebut menjalani nilai-nilai tersebut di dalam dan luar negeri),
- Kebijakan luar negeri (ketika kebijakan tersebut dilihat sebagai legitimate dan memiliki otoritas moral).
Joseph Nye juga berargumen bahwa soft power menggambarkan kemampuan suatu negara dalam memengaruhi serta membentuk pandangan dan tindakan negara lain melalui citra positif yang ditimbulkan melalui elemen-elemen tersebut (Cahyani et al., 2025).
Jepang telah lama diakui sebagai salah satu negara yang paling sukses dalam menggunakan soft power.
Sejak pasca-Perang Dunia II, Jepang secara terus-menerus membangun dan memperbaiki citranya melalui ekspor budaya J- pop, teknologi, dan nilai-nilai, seperti disiplin, efisiensi, dan inovasi.
Dari anime dan manga, hingga kuliner, budaya Jepang telah menjadi komoditas global yang sangat diminati.

Little Tokyo sebagai Representasi Fisik Budaya Jepang di Indonesia
Little Tokyo di Blok M yang mulai berkembang sejak akhir 1980-an hingga awal 1990-an, seiring dengan masuknya investasi Jepang ke Indonesia dan meningkatnya jumlah orang Jepang yang bekerja di Jakarta.
Kawasan di sekitar Aldiron Plaza yang kini menjadi bagian dari Blok M Square menjadi titik awal terbentuknya Little Tokyo, ketika banyak perusahaan Jepang membuka kantor di Jakarta dan orang-orang Jepang mulai menetap di ibu kota Indonesia.
Kawasan Blok M, yang secara geografis strategis dan memiliki aksesibilitas tinggi, menjadi pilihan natural bagi komunitas Jepang untuk berkumpul dan menciptakan comfort zone di negeri orang.
Kawasan Little Tokyo Blok M terletak di Jalan Melawai di area Blok M, Jakarta Selatan.
Keunikan Little Tokyo terletak pada kemampuannya menghadirkan nuansa Jepang di tengah kesibukan Jakarta melalui arsitektur bangunan yang khas, papan nama dengan huruf Kanji dan Hiragana, serta lampion Jepang (chochin) yang menghiasi kawasan.
Terutama saat malam hari, suasana lampu yang menghiasi jalan-jalan di tempat ini membuat pengunjung merasa seperti berada di distrik Shibuya atau Shinjuku di Tokyo.
Salah satu restoran nuansa Jepang tertua yang menjadi penanda sejarah Little Tokyo adalah Kira Kira Ginza yang berdiri sejak tahun 1985.
Restoran ini awalnya bernama Izakaya Don/Jorin pada tahun 1986, kemudian berganti nama menjadi Kira Kira Ginza pada tahun 1998.
Kira Kira Ginza dikelola oleh DAISEI GROUP di bawah kepemimpinan Daisei Takeya. Restoran ini menyajikan masakan Jepang autentik.
Keunikan Kira Kira Ginza terletak pada atmosfer izakaya yang kental, pengunjung harus melepas alas kaki, terdapat area tatami, sushi bar, dan rak-rak yang dipenuhi botol sake dan komik Jepang.
Kuliner dan Pengalaman sebagai Salah Satu Bentuk Soft Power

Hal tersebut merupakan bentuk bahwa kuliner merupakan salah satu bentuk paling mudah dijangkau dalam pengaruh soft power suatu negara karena sifatnya yang universal dan mudah diterima.
Melalui makanan, orang dapat merasakan aspek budaya yang paling dalam. Proses menikmati makanan Jepang juga sering disertai dengan pembelajaran tentang etika makan, cara menggunakan sumpit, atau pemahaman tentang konsep umami yang menjadi dasar kuliner Jepang.
Restoran-restoran di Little Tokyo tidak hanya menjual makanan, tetapi juga pengalaman. Interior yang mengusung desain Jepang, musik tradisional atau J-pop yang diputar, hingga pelayanan yang mengedepankan hospitalitas ala Jepang, semuanya berkontribusi pada penciptaan atmosfer yang membuat pengunjung seolah-olah mendapatkan pengalaman “mini Jepang” tanpa harus terbang ke Tokyo.

Papaya Fresh Gallery, Tidak Hanya Ruang Ekonomi tapi Juga Ruang Budaya
Selain kuliner, Little Tokyo juga dipenuhi dengan toko-toko yang menjual berbagai produk Jepang.
Papaya Fresh Galler merupakan supermarket yang menawarkan berbagai produk impor dari Jepang, mulai dari makanan, minuman, hingga produk kecantikan dan kebersihan.
Supermarket ini sangat populer di kalangan komunitas Jepang di Jakarta dan menjual produk-produk yang sulit ditemukan di tempat lain, termasuk natto (kedelai fermentasi) yang merupakan makanan khas Jepang dengan daya tarik terbatas.
Papaya Fresh Gallery berbagi gedung dengan toko serba ada Daiso, yang menjual berbagai barang kebutuhan sehari-hari unik dari Jepang.
Tak hanya itu, Papaya Fresh Gallery juga menjual aneka sushi, sashimi, bahkan ramune. Salah satu barang unik yang menjadi representasi fisik jepang di Papaya Fresh Gallery adalah majalah dengan Bahasa Jepang.
Salah satu majalah berbahasa Jepang yang ditemukan ketika berkunjung di supermarket adalah majalah dari media Lifenesia edisi 27 November 2025.
Uniknya, Papaya Fresh Gallery juga menggunakan Bahasa Jepang dalam menuliskan papan pengumuman dan produknya. Hal tersebut memudahkan orang Jepang dan lokal dalam membeli produk di supermarket tersebut.

Strategi Soft Power dalam Membentuk Persepsi Positif
Kehadiran dan ketersediaan restoran dan produk-produk Jepang di Blok M ini telah memfasilitasi gaya hidup ala Jepang tak hanya untuk orang Jepang yang tinggal di Indonesia namun juga bagi masyarakat Indonesia.
Masyarakat Indonesia dapat membeli produk Jepang yang terkenal dengan kualitasnya, serta membeli makanan dan minuman yang sering muncul di anime atau manga.
Melalui konsumsi produk-produk ini, terjadi proses identifikasi dan aspirasi terhadap gaya hidup Jepang.
Dalam konteks soft power, konsumsi produk budaya bukan sekadar transaksi ekonomi, tetapi juga proses pembentukan preferensi dan afiliasi emosional.
Ketika seseorang rutin mengkonsumsi produk dari negara tertentu dan merasa puas, secara tidak langsung terbentuk persepsi positif terhadap negara tersebut secara keseluruhan.
Penulis: Vania Azarine Nariswari
Mahasiswa Prodi Hubungan Internasional, Universitas Kristen Satya Wacana
Dosen Pengampu: Sih Natalia Sukmi, Ph.D
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












