Setiap hari kita mungkin menatap layar lebih lama dibanding menatap wajah orang lain. Jari yang tak berhenti menggulirkan layar, mata terpaku tertuju pada video singkat, dan perlahan fokus kita menghilang begitu saja.
Begitulah potret generasi yang sekarang ini tumbuh dan berkembang di tengah banjir informasi, namun sering kali kita terbawa arus dalam konten cepat yang tidak memberi ruang sama sekali untuk berpikir mendalam hingga lupa waktu.
Kejadian ini disebut brain rot yaitu keadaan di mana otak sudah lelah bukan karena hasil berpikir terlalu keras, namun karena tidak berpikir sama sekali.
Istilah singkat tersebut mengandung ancaman serius bagi masa depan kesehatan mental dan kualitas SDM generasi muda penerus bangsa.
Fenomena brain rot kini menjadi tantangan baru bagi umat manusia dan menjadi tanda bahwa kemajuan teknologi tidak selalu sejalan dengan kemampuan berpikir manusia.
Kemudahan untuk mengakses informasi tanpa batas, namun nyatanya mengurangi kemampuan dalam berpikir kritis.
Karena itu brain rot bukan hanya masalah gaya hidup tetapi juga tantangan dalam menggapai SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) dan SDG 4 (Pendidikan Berkualitas).
Keduanya saling berkaitan erat karena kesehatan mental dengan kualitas pendidikan tidak dapat terpisahkan.
Banyak orang yang tidak sadar bahwa kecanduan konten digital sama melelahkannya dengan lelah akibat kerja fisik yang berat.
Laporan dari National Center for Health Statistics (2024) bahwa remaja yang menghabiskan lebih dari empat jam sehari di depan layar lebih rentan untuk mengalami gangguan mental akibat otak kelelahan.
Hasilnya, akan membuat seseorang sulit untuk berkonsentrasi, mudah cemas, dan merasa tidak puas dengan hidupnya.
Di Indonesia, risikonya juga nyata. Survei Kementerian Komunikasi dan Informatika bersama UNICEF (2022) menunjukkan bahwa lebih dari 67% pelajar Indonesia menggunakan media digital lebih dari 4–6 jam per hari, dan sekitar 30% mengaku sulit berkonsentrasi saat belajar akibat terlalu banyak konsumsi konten hiburan.
Beberapa dampak dapat dirasakan ketika berusaha untuk fokus saat belajar dan kesulitan untuk tidur. Kelelahan mental seperti ini seakan tak terlihat, tapi efeknya perlahan nyata.
Langkah sederhana yang bisa dilakukan untuk mencegahnya yaitu dengan membagi waktu yang seimbang antara hiburan, istirahat, dan bekerja.
Menjaga kesehatan mental di era modern sekarang ini sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik untuk mencapai kehidupan yang sejahtera sesuai dengan tujuan SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera).
Sementara itu, di bidang pendidikan, brain rot menurunkan kemampuan berpikir tajam kalangan muda.
Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan di PubMed Central (PMC, 2019), waktu menatap layar yang berlebihan terbukti memiliki hubungan dengan penurunan prestasi akademik pada anak dan remaja.
Studi tersebut menganalisis 58 penelitian dan menemukan jika semakin lama seseorang menatap layar, semakin rendah kemampuan akademiknya, terutama dalam literasi dan memahami pelajaran.
Menurut saya, hal ini harusnya sudah menjadi peringatan untuk mulai bijak menggunakan teknologi, karena brain rot tidak muncul karena teknologi itu sendiri, melainkan kebiasaan manusia sebagai penggunanya.
Dalam mencapai SDG ke empat yaitu pendidikan berkualitas tentu harus mendorong anak muda untuk bisa kritis dan reflektif terhadap kemajuan teknologi sekarang ini.
Pendidikan harusnya bukan sekedar mengajarkan siswanya untuk mengakses informasi saja, namun membimbing dalam memahami makna di balik informasi itu.
Dari sinilah pentingnya kemampuan literasi digital bagi tenaga pendidik dan orang tua untuk mengawasi fungsi dari teknologi sebagai alat untuk belajar bukan sumber distraksi.
Baca Juga: Cegah Brain Rot: Mahasiswi UMB Ajak Siswa Melek Kesadaran Digital dan Self-Regulation
Dari fenomena ini kita melihat kemajuan teknologi tidak selaras dengan kemajuan cara pikir manusia. Internet menjadi media untuk kita bisa mengakses pengetahuan tanpa batas, tapi di sisi lain juga membuat perhatian kita sirna.
Oleh karena itu, banyak pihak yang perlu terlibat seperti pemerintah dan lembaga pendidikan perlu bekerja sama untuk membuat program literasi digital yang mengajarkan kritis menggunakan internet.
Orang tua juga berperan penting dalam membatasi usia penggunaan gadget, memberikan contoh, dan mengawasi penggunaan gadget agar tidak berlebihan.
Menjaga kesehatan mental dan membangun gaya hidup yang sehat merupakan investasi penting untuk masa depan Indonesia.
Penulis: Nicholas Shalom Satria Kirana
Mahasiswa Prodi Teknik Bioproses, Universitas Brawijaya
Aktif Juga sebagai Kastrat BEM FTP Universitas Brawijaya 2025
Referensi
- National Center for Health Statistics (NCHS). (2024). Daily Screen Time Among Teenagers: United States, July 2021–December 2023. Centers for Disease Control and Prevention (CDC).
- PubMed Central (PMC). (2019). Screen Time and Academic Performance in Children and Adolescents: A Meta-Analysis of 58 Studies. National Library of Medicine.
- Kementerian Komunikasi dan Informatika & UNICEF. (2022). Digital Literacy and Online Behaviour Among Indonesian Students.
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












