Scroll, Like, Diagnose: Ketika Narasi Psikologi Viral Menggantikan Profesional dan Self-Diagnosis Jadi Tren Kesehatan Mental

Self-Diagnosis Kesehatan Mental
Ilustrasi Kesehatan Mental

Fenomena Baru di Layar Gadget

Media sosial kini bukan lagi sebatas tempat berbagi momen atau menghibur diri setelah hari panjang. Platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube perlahan berubah menjadi sumber belajar cepat tentang kesehatan mental. Pengguna disuguhi video singkat yang menjelaskan kecemasan, depresi, ADHD, hingga gangguan kepribadian dengan gaya yang ringan dan mudah dicerna.

Akibatnya, banyak orang merasa ceritanya serupa dengan apa yang mereka lihat. Narasi yang kelihatannya cocok ini mendorong munculnya fenomena “Scroll, Like, Diagnose”. Istilah tersebut menangkap bagaimana orang menilai kondisi psikologisnya melalui konten viral, tanpa pendampingan profesional.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

 

Data Penelitian yang Mulai Mengkhawatirkan

Fenomena ini bukan sekadar persepsi sosial. Johns Hopkins Medicine pada 2023 mencatat meningkatnya perilaku self-diagnosis pada remaja yang sering menonton konten psikologi. Temuan ini menunjukkan bahwa literasi psikologis masyarakat masih rendah.

Banyak orang mengenali istilah gangguan mental, tetapi belum tentu memahami makna klinisnya. Ada jarak antara popularitas konten dan kemampuan menilai kesehatan diri secara objektif.

 

Kenapa Kita Cepat Merasa “Cocok”?

Penelitian Hasan, Foster, dan Cho pada 2023 memberikan penjelasan penting. Normalisasi kecemasan di media sosial membuat banyak orang percaya bahwa gejala ringan yang mereka alami adalah bagian dari gangguan tertentu. Proses ini dikenal sebagai identification without clinical understanding.

Ketika konten terasa relevan, keyakinan pun muncul, walaupun tanpa landasan ilmiah. Mekanisme ini diperkuat oleh availability heuristic, yaitu kecenderungan mempercayai informasi karena sering muncul di layar. Pada akhirnya, seseorang bisa merasa “mirip” dengan gangguan tertentu hanya karena paparan yang berulang.

 

Pengaruh Algoritma dan Perbandingan Sosial

Fenomena ini juga berkaitan dengan cara manusia menilai dirinya. Teori Festinger pada 1954 menjelaskan bahwa individu cenderung membandingkan pengalaman pribadi dengan orang lain. Di ruang digital, perbandingan ini tidak lagi terbatas pada lingkungan sosial nyata.

Metzler pada 2023 menunjukkan bahwa algoritma menghadirkan konten yang serupa dengan apa yang pengguna lihat sebelumnya. Siklus paparan ini menciptakan ruang gema digital, di mana informasi yang sama terus muncul dan memperkuat keyakinan awal. Situasi tersebut membuat pandangan pengguna terasa semakin valid, meskipun belum diverifikasi secara profesional.

 

Sisi Positif: Kesadaran Publik Meningkat

Di tengah risiko yang ada, fenomena ini tetap memiliki sisi cerah. Media sosial membantu membuka pembicaraan yang selama ini dianggap tabu, terutama mengenai kesehatan mental. Kampanye digital seperti “What’s Up With Everyone?” yang diteliti Curran pada 2023 terbukti meningkatkan pemahaman remaja tentang kesehatan psikologis.

Selain itu, banyak psikolog dan edukator digital ikut berperan dalam menyampaikan informasi berbasis penelitian. Gaya penyampaian yang mudah diikuti membuat masyarakat lebih berani mengenali dan membicarakan kondisi emosionalnya.

 

Sisi Negatif: Labeling Tanpa Dasar

Namun, penyebaran informasi yang tidak lengkap memunculkan tantangan baru. Label gangguan digunakan secara longgar dan keluar dari konteks ilmiah. Contohnya adalah penggunaan istilah “narsistik” untuk menggambarkan perilaku percaya diri atau kurang sensitif.

Padahal DSM 5 TR tahun 2022 menyatakan bahwa Narcissistic Personality Disorder memiliki kriteria yang jauh lebih kompleks dan memerlukan observasi profesional. Underhill pada 2024 menemukan bahwa banyak orang mengandalkan internet untuk menilai kondisi mentalnya sendiri.

Sementara Rivaldiansyah pada 2024 mencatat bahwa pengguna TikTok sering mencari validasi dari komentar, bukan dari tenaga profesional. Kondisi ini membuat kesalahpahaman semakin mudah menyebar.

 

Dari Kacamata Behaviorisme

Jika dilihat melalui teori behaviorisme B. F. Skinner, perilaku memberi label gangguan pada diri sendiri dapat dipahami sebagai bentuk negative reinforcement. Individu merasa lega karena mereka menemukan penjelasan cepat mengenai apa yang dirasakan. Namun, rasa lega ini bersifat sementara.

Penelitian Nurmaya pada 2024 menegaskan bahwa self-diagnosis sering menimbulkan kebingungan identitas, peningkatan kecemasan, bahkan penggunaan obat tanpa resep. Perilaku yang tampak sederhana ini dapat berujung pada risiko yang lebih besar.

 

Paradoks Media Sosial

Fenomena “Scroll, Like, Diagnose” menggambarkan paradoks besar di era digital. Di satu sisi, media sosial membantu meningkatkan empati publik dan membuka ruang diskusi mengenai kesehatan mental. Di sisi lain, penyederhanaan konsep ilmiah berpotensi menciptakan persepsi keliru. Budaya serba cepat dan kebutuhan validasi emosional membuat orang lebih rentan menilai dirinya berdasarkan narasi viral, bukan penilaian klinis.

Baca juga: Fenomena Meningkatnya Tren Self-Diagnosis Kesehatan Mental Akibat Konten Psikologi Viral di Media Sosial

 

Langkah ke Depan

Solusi dari fenomena ini bukan membatasi konten kesehatan mental. Yang diperlukan adalah penguatan literasi digital dan psikologi. Pendidikan formal perlu memberikan pemahaman bahwa mengenali gejala tidak sama dengan menegakkan diagnosis.

Kolaborasi antara akademisi, profesional kesehatan mental, dan pemerintah perlu diperluas agar media sosial dapat menjadi ruang yang aman dan informatif. Harapannya, masyarakat dapat menggunakan konten digital sebagai pijakan awal untuk memahami diri, bukan sebagai alat diagnosis utama.

 

Penulis: Amanda Putri Vadya
Mahasiswa Psikologi, Universitas Jambi

 

Referensi

Association, A. P. (2022). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (5th ed., text rev.). Author.

Choudhry, F. R., Mani, V., Ming, L. C., & Khan, T. M. (2016). Beliefs and perception about mental health issues: A meta-synthesis. Neuropsychiatric Disease and Treatment, 12, 2807–2818. https://doi.org/10.2147/NDT.S111543

Curran, T., Ito-Jaeger, S., Perez Vallejos, E., & Crawford, P. (2023). “What’s Up With Everyone?”: The effectiveness of a digital media mental health literacy campaign for young people. Journal of Mental Health, 32(3), 612–618. https://doi.org/10.1080/09638237.2023.2182412

Festinger, L. (1954). A theory of social comparison processes. Human Relations, 7(2), 117–140. https://doi.org/10.1177/001872675400700202

Gilmore, R., Beezhold, J., Selwyn, V., Howard, R., Bartolome, I., & Henderson, N. (2022). Is TikTok increasing the number of self-diagnoses of ADHD in young people? European Psychiatry, 65(S1), S571–S571. https://doi.org/10.1192/j.eurpsy.2022.1463

Nurmaya, A., Murdiana, S., & Ismail, I. (2024). Gambaran Self Diagnose Mental Disorder pada Dewasa Awal Pengguna Media Sosial. Jurnal Ilmiah Psikomuda Connectedness, 4(1), 35–47. https://e-journal.unimudasorong.ac.id/index.php/jipmc/article/view/1297

Rivaldiansyah, W., Ramdan, A. R., Asariningrum, D., Syantifa, R. A., & Sarathan, I. (2024). Fenomena Self Diagnose terhadap Konten Kesehatan Mental di Media Sosial TikTok: Analisis Wacana Multimodal terhadap Asumsi Masyarakat di Kolom Komentar. Jurnal Sains Sosial Dan Humaniora, 8(2), 125–134. https://doi.org/10.30595/jssh.v8i2.23784

Foster, A., & Ellis, N. (2024). TikTok-inspired self-diagnosis and its implications for educational psychology practice. In Educational Psychology in Practice (Vol. 40, Issue 4, pp. 491–508). Routledge. https://doi.org/10.1080/02667363.2024.2409451

Hasan, F., Foster, M. M., & Cho, H. (2023). Normalizing Anxiety on Social Media Increases Self-Diagnosis of Anxiety: The Mediating Effect of Identification (But Not Stigma). Journal of Health Communication, 28(9), 563–572. https://doi.org/10.1080/10810730.2023.2235563

Underhill, R., & Foulkes, L. (2024). Self-diagnosis of mental disorders: A qualitative study of attitudes on Reddit. Qualitative Health Research, 35(7), 779-792. https://doi.org/10.1177/10497323241288785

Metzler, H., & Garcia, D. (2024). Social drivers and algorithmic mechanisms on digital media. Perspectives on Psychological Science, 19(5), 735–748. https://doi.org/10.1177/17456916231185057

 

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses