Dalam keluarga terdapat adanya anggota keluarga yakni suami, istri dan anak, masing-masing dari anggota keluarga memiliki peran dan tanggung jawab masing-masing.
Seorang istri dengan berstatus single parent mengharuskan seorang perempuan untuk menjalankan tanggung jawab peran ganda menjadi ayah dan ibu. Perempuan single parent memiliki beban yang berat dibandingkan dengan orang tua yang lengkap.
Beban ganda atau double burden artinya beban pekerjaan yang diterima salah satu jenis kelamin lebih banyak dibandingkan jenis kelamin lainnya. Peran perempuan sering dianggap peran yang statis dan permanen, walau saat ini banyak peningkatan jumlah perempuan yang bekerja di ranah publik.
Namun hal ini tidak mengurangi beban mereka di wilayah domestik. Akibatnya mereka mengalami beban. Beban ganda perempuan merupakan masalah yang sering dihadapi perempuan yang aktif bekerja.
Beban ganda tersebut mau tidak mau harus dialami seorang perempuan single parent, dimana mereka harus menjalankan dua peran sekaligus sebagai pencari nafkah dan mengasuh anak.
Hal ini terjadi setelah adanya perceraian atau kehilangan pasangan meninggal dunia, tanggung jawab mereka meningkat mencakup ranah publik dan ranah domestik. Menjadi single parent adalah pilihan yang tidak diinginkan oleh seorang perempuan.
Single parent sendiri adalah seorang ayah atau seorang ibu yang memikul tanggung jawabnya sendiri sebagai kepala keluarga sekaligus ibu rumah tangga. Perempuan single parent membutuhkan perjuangan yang berat, mereka harus melakukan tantangan dua peran sekaligus.
Mereka harus mengurus rumah tangga mereka sendiri tanpa bantuan dari pasangannya, seperti membesarkan anak dan memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Apapun alasan menjadi single parent tidaklah gampang, melakukan hal ini memiliki beban yang lebih berat dibanding dengan orang tua lengkap, dimana dijalankan oleh dua orang.
Saat ini semakin meningkatnya jumlah perempuan single parent yang berkarir, peran mereka dalam keluarga semakin kompleks. Single parent yang berkarir menghadapi tantangan unik, termasuk kebutuhan untuk menyeimbangkan pekerjaan dan tanggung jawab pengasuhan.
Beban ganda ini seringkali menciptakan tekanan finansial dan emosional yang signifikan. Kebanyakan single parent harus mengelola semua aspek kehidupan rumah tangga, dari pengasuhan anak hingga pengelolaan keuangan, tanpa dukungan pasangan. Mereka juga sering mengalami stigma sosial, yang dapat menambah rasa isolasi dan kecemasan.
Saat ini semakin meningkatnya jumlah perempuan single parent yang berkarir, peran mereka dalam keluarga semakin kompleks. Adanya stigma sosial negatif beban ganda tersebut menuntut mereka untuk mengatur waktu serta energi secara efektif agar dapat menjalankan kedua peran tersebut dengan baik.
Oleh karenanya dukungan dari anggota keluarga termasuk anak sangat diharapkan Perempuan karir single parent untuk menciptakan keseimbangan antara karir dan kehidupan berkeluarga.
Tuntutan beban ganda yang dihadapi perempuan single parent dapat menciptakan beberapa dampak dalam kesehatan mental dan fisik ketika mereka harus menyetarakan antara tanggung jawab pekerjaan dan tugas domestik.
Beberapa hal ini menjadi dampak negatif karena beban ganda, seperti masalah kesehatan fisik meliputi gangguan sistem kekebalan tubuh, kesehatan mental meliputi stres, burnout atau kelelahan fisik dan emosional yang berkepanjangan, dan terciptanya konflik peran. Namun hal ini dapat diminimalisir dengan melalui dukungan keluarga.
Dengan adanya dukungan dari keluarga menjadi solusi yang signifikan untuk mengatasi beban ganda yang dihadapi perempuan single parent.
Dukungan dari anggota keluarga dapat menciptakan hal positif kepada perempuan berstatus single parent, seperti mengurangi stres, meningkatkan semangat, produktif dan profesional saat bekerja, terakhir perempuan dapat lebih mudah mengatur waktu antara pekerjaan dan tanggung jawab dalam rumah tangga.
Keluarga harus berperan ganda dalam mendukung perempuan karir agar mereka tidak merasa tertekan.
Penulis: Nabila Sahda Brahmasta
Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













