Lebaran selalu punya sihirnya sendiri. Bukan hanya di Indonesia, tapi di seluruh penjuru dunia, momen ini menjadi magnet yang menarik kembali sanak saudara ke pelukan keluarga. Setelah satu bulan penuh menahan diri dalam ibadah puasa, Idulfitri hadir sebagai hari kemenangan.
Inilah saatnya tali silaturahmi kembali dikencangkan; yang jauh melangkah mendekat, dan yang dekat menjadi semakin akrab dalam kehangatan maaf.
Namun, di balik sukacita persiapan mudik dan hidangan khas, sering kali muncul diskusi yang sudah menjadi “langganan” tahunan: kapan tepatnya 1 Syawal tiba? Untuk tahun 1447 Hijriah ini, kemungkinan perbedaan itu kembali menyapa.
Muhammadiyah, melalui metode hisab atau perhitungan astronomi, telah menetapkan Lebaran jatuh pada 20 Maret 2026. Sementara itu, Pemerintah dan Nahdlatul Ulama (NU) diprediksi akan merayakannya pada 21 Maret 2026, sembari menunggu hasil pengamatan langsung atau rukyatul hilal dalam sidang isbat.
Bagi sebagian orang, perbedaan ini mungkin terasa membingungkan atau bahkan memicu perdebatan kecil. Namun, jika kita mau menilik lebih dalam, perbedaan ini sebenarnya adalah cerminan kekayaan pemikiran dalam Islam, bukan sebuah pertentangan yang harus diperdebatkan hingga panas hati.
Secara prinsip, ini hanyalah soal metode. NU memilih bersetia pada pengamatan mata telanjang terhadap hilal, sementara Muhammadiyah mengandalkan ketelitian perhitungan matematis. Keduanya memiliki dasar hukum yang kuat dan telah digunakan sejak lama. Jadi, ini bukan soal siapa yang paling benar, melainkan tentang keragaman cara dalam memahami dan menjalankan ajaran agama.
Fenomena ini sering kali menciptakan pemandangan unik di tengah masyarakat kita. Tak jarang dalam satu lingkungan atau bahkan satu rumah ada yang sudah merayakan Idulfitri saat yang lainnya masih menunaikan hari terakhir puasa.
Di sinilah sebenarnya letak ujian kedewasaan beragama kita. Sejauh ini, masyarakat Indonesia telah menunjukkan sikap yang luar biasa bijak. Kita tetap bisa saling menghormati, tidak memaksakan keyakinan, dan yang paling penting, tetap menjaga kerukunan tanpa ada rasa canggung.
Sebab, pada akhirnya, Lebaran sejatinya bukan hanya tentang tanggal di kalender. Esensi kemenangan yang sesungguhnya terletak pada nilai-nilai keikhlasan, kesabaran, dan kelapangan dada untuk saling memaafkan. Nilai-nilai kemanusiaan inilah yang jauh lebih penting daripada sekadar teknis waktu pelaksanaan.
Perbedaan antara NU dan Muhammadiyah seharusnya tidak kita lihat sebagai jurang pemisah, melainkan sebagai peluang untuk mempererat rasa persaudaraan. Dengan saling memahami, kita sedang menunjukkan kepada dunia bahwa meski kita berbeda dalam langkah teknis, iman dan tujuan kita tetap satu: bersimpuh di hadapan Allah dan menjaga keharmonisan di antara sesama manusia.
Penulis: Juwita (2306102010061)
Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas Syiah Kuala
Dosen Pengampu: Herman R, S.Pd., M.Pd.
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












