Belajar dari FOMO: Riset Mahasiswa UNNES Ajak Gen Z Lebih Bijak Berinvestasi di Kripto

Gen Z Bijak Berinvestasi di Kripto
(Anggota Tim PKM RSH dengan judul Fear of Missing Out in the Cryptocurrency Era: Kajian Mixed Methods Pengambilan Keputusan Investasi Generasi Z melalui Lensa Behavioral Finance)

Semarang, MMI – Tren investasi kripto semakin menggoda anak muda Indonesia. Dengan potensi cuan yang besar dan pergerakan harga yang cepat, dunia kripto menghadirkan sensasi tersendiri bagi Generasi Z. Namun, di balik gemerlapnya peluang digital ini, muncul satu tantangan psikologis yang kerap menjerat investor muda: Fear of Missing Out atau yang biasa dikenal dengan FOMO.

Fenomena FOMO membuat banyak anak muda merasa cemas ketika tidak ikut berinvestasi saat harga kripto sedang naik. Rasa takut tertinggal momen inilah yang sering kali memicu keputusan impulsif tanpa pertimbangan matang.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Berangkat dari keresahan tersebut, sekelompok mahasiswa Universitas Negeri Semarang (UNNES) yang tergabung dalam Program Kreativitas Mahasiswa – Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) 2025 mencoba meneliti lebih dalam tentang perilaku ini.

Tim yang diketuai oleh Azzaitun Nur Rachma (Psikologi 2022) bersama anggota Akhfiya Nasywa Faridah (Psikologi 2022), Rifdah Dwi Syafrina (Psikologi 2022), Krisna Wahyu Prabowo (Akuntansi 2023), dan Hugo Chrisna Ananta (Manajemen 2023) ini dibimbing oleh Laila Listiana Ulya, S.Psi., M.Psi., dosen Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi UNNES.

 

Mendengar Langsung dari Pelaku

Untuk memahami akar munculnya FOMO, tim tidak hanya mengandalkan teori, tetapi juga melakukan pengumpulan data langsung melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) pada Sabtu (29/08/2025).
Diskusi ini mempertemukan dua kelompok investor muda  yaitu mereka yang memiliki tingkat FOMO tinggi dan mereka yang lebih tenang serta rasional dalam mengambil keputusan investasi.

Baca juga: Ketika Media Sosial Mengendalikan Hidup: Saatnya Gen Z Melawan FoMO

Melalui sesi ini, tim menggali berbagai cerita dan pandangan peserta tentang bagaimana FOMO memengaruhi cara mereka berinvestasi. Dari sini, tim mendapatkan gambaran yang lebih utuh mengenai perbedaan pola pikir antara investor yang mudah terbawa tren dan mereka yang mampu menahan diri.

“Kami menemukan bahwa banyak anak muda terjun ke kripto bukan karena perhitungan, tapi karena dorongan emosional. Mereka takut kehilangan peluang, padahal belum tentu paham risikonya,” tutur Azzaitun, ketua tim PKM-RSH.

(Suasana Focus Group Discussion (FGD) yang digelar tim PKM-RSH UNNES. Sesi ini menjadi wadah untuk memahami secara mendalam perbedaan pola pikir antara investor dengan tingkat FOMO tinggi dan rendah.)
(Suasana Focus Group Discussion (FGD) yang digelar tim PKM-RSH UNNES. Sesi ini menjadi wadah untuk memahami secara mendalam perbedaan pola pikir antara investor dengan tingkat FOMO tinggi dan rendah.)

Berdasarkan hasil FGD dan wawancara mendalam, tim menemukan bahwa faktor emosional memainkan peran besar dalam pengambilan keputusan investasi. Investor dengan tingkat FOMO tinggi cenderung bertindak reaktif dan mengandalkan opini publik, sementara mereka yang rendah FOMO-nya lebih selektif dan rasional.

“Dari riset ini kami belajar bahwa keberhasilan investasi tidak hanya ditentukan oleh strategi finansial, tapi juga kemampuan mengendalikan emosi. Banyak yang rugi bukan karena kurang ilmu, tapi karena terlalu terburu-buru mengikuti tren,” ungkap Hugo, salah satu anggota tim.

Selama proses riset yang berlangsung sekitar empat bulan, tim melewati berbagai tahapan mulai dari penyusunan instrumen, pelaksanaan FGD, analisis hasil, hingga perumusan insight psikologis tentang perilaku investor muda.

(Meet community Cryptoindojogja & Komunitas Bitcoin Semarang)

 

Meningkatkan Literasi dan Kesadaran Finansial Gen Z

Melalui penelitian ini, tim PKM-RSH UNNES berharap dapat memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan literasi keuangan digital di kalangan generasi muda.

Hasil riset ini diharapkan mampu membantu investor pemula mengenali bias psikologis yang sering muncul saat berinvestasi, agar mereka lebih bijak dalam mengambil keputusan.

Baca juga: Belanja Online, Paylater, dan Tantangan Anak Muda Mengatur Keuangan

“Kami percaya bahwa pendekatan sosial-humaniora punya peran besar dalam membentuk kebiasaan finansial yang sehat. Riset ini menjadi langkah kecil untuk membantu generasi kami memahami bahwa keputusan investasi seharusnya didasari logika, bukan euforia,” jelas Azzaitun.

Langkah riset ini juga sejalan dengan arah PKM-RSH 2025, yang menekankan pentingnya riset berbasis sosial-humaniora guna memperkuat kesadaran digital dan psikologis generasi Z di era ekonomi digital.

 

Penulis:

  1. Azzaitun Nur Rachma
  2. Akhfiya Nasywa Faridah
  3. Rifdah Dwi Syafrina
  4. Krisna Wahyu Prabowo
  5. Hugo Chrisna Ananta

Mahasiswa Universitas Negeri Semarang
Dosen Pengampu: Laila Listiana Ulya, S.Psi., M.Psi.

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses