Belajar Dharma dari Balik Panggung: Refleksi Diri atas Pementasan Anoman Obong Nasional

kostum anoman obong
Belajar Dharma dari Balik Panggung: Refleksi Diri atas Pementasan Anoman Obong Nasional. Sumber: Penulis.

Secara faktual, Ramayana merupakan salah satu cerita yang mampu bertahan lama, bahkan dibaca orang-orang sepanjang massa. Hal tersebut disebabkan di dalamnya terkandung persoalan kemanusiaan, keadilan, serta ajaran-ajaran yang lengkap, meliputi etika, sosiologi, dan politik.

Bahkan, Ramayana dianggap tulisan yang memiliki nilai religi yang apabila didengarkan secara terus-menerus di tengah-tengah manusia maka dapat menyelamatkan mereka dari segala dosa (Saksono Prijanto:2015).

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Namun, salah satu bagian paling menggugah hati dari Ramayana adalah cerita Anoman Obong. Anoman obong adalah adegan ikonik dalam pementasan sendratari Ramayana, khususnya versi Jawa atau Bali.

Wujud tokoh anoman menjadi salah satu role model ketika berusaha mencapau strata sempurna berupa idealisme batinilah yang terpusat pada alam numinous dengan pribadi yang bisa menciptakan kondisi psikologis berupa ketentraman batin sehingga permasalahan tokoh Anoman dalam mencapai spiritual kasampurnan (Eko Wahyu Prihantoro:2023).

Anoman Obong adalah adegan dalam Ramayana dimana Anoman dibakar Rahwana tapi tidak terbakar karena kekuatannya. Anoman melepaskan diri dan membalas dendam. Adegan ini popular dalam seni pertunjukkan teater, menunjukkan kekuatan dan keberanian anoman.

Aku terlibat sebagai panitia makeup dan kostum karena sejak awal aku tertarik pada dunia rias panggung dan ingin mencoba pengalaman baru di pementasan besar. Aku ikut dengan harapan bisa belajar teknik rias tradisional, bekerja sama dalam tim seni, dan berkontribusi menghadirkan penampilan terbaik bagi para penonton.

Baca Juga: Mengenal Komunitas Reog Pacitan Singo Umbaran pada Acara Bazar UMKM dan Rawat Budaya Desa Jatigunung Kabupaten Pacitan

Menjadi panitia makeup dan kostum di pementasan Anoman Obong membuatku belajar teliti, sigap, dan sabar. Dari memasang aksesoris hingga merias tokoh kera dan raksasa, aku merasakan tanggung jawab besar. Meski bekerja di balik panggung, aku bangga ikut menghidupkan cerita.

Anoman obong menggambarkan keberanian Hanoman saat membakar Alengka sebagai wujud perjuangan menegakkan dharma. Dengan kesetiaan pada Rama, ia menghancurkan keangkuhan Rahwana. Adegan pembakaran ekornya menjadi simbol pengorbanam, keberanian, dan kemenangan kebenaran atas kejahatan (Wawan Susetya:2012).

Rias dan kostum memiliki peran penting dalam menghidupkan tokoh-tokoh Ramayana. Melalui rias wajah yang tegas dan detail, karakter seperti Anoman, Rama, Sinta, dan Rahwana tampil dengan ekspresi kuat dan tegas sesuai sifat mereka.

Kostum tradisional mempertegas identitas masing-masing tokoh, seperti bulu putih Hanoman, busana agung Rama dan Sinta, serta ornamen garang Rahwana. Untuk prajurit kera, rias dinamis dan kostum ringan membantu menonjolkan gerakan lincah mereka.

Kombinasi rias dan kostum tidak hanya memperindah panggung saja, tetapi juga membantu pemain memasuki peran dan menyampaikan energi kepada penonton. Mereka menjadi jembatan visual antara legenda Ramayana dan emosi yang dirasakan penonton secara lebih mendalam.

Nilai dharma tercermin ketika setiap tokoh menerima akibat dari tindakannya: kebaikan Rama dan Hanoman membawa ketenangan, kesetiaan Sinta memulihkan kehormatannya, sementara keserakahan dan kejahatan Rahwana berakhir pada kehancuran. Setiap tindakan memicu balasan yang setimpal.

Dharma tanggung jawab terasa saat aku mengatur waktu rias , fitting kostum, dan koordinasi dengan aktor sambil menjaga kostum tetap rapi dan sesuai karakter. Ketelitian dan kejujuran dibutuhkan untuk menyatukan warna, simbol, serta melaporkan perlengkapan rusak.

Bekerja sama dengan artistik, tata panggung, dan lighting makin diuji ketika angin kencang membuat aktor gelisah hingga menangis. Dharma pengabdian tampak saat bekerja tulus dibalik panggung, memastikan pemain tampil sempurna meski usaha kami jarang terlihat penonton.

Menjelang pementasan dimulai, dharma benar-benar terasa ketika suasana belakang panggung menjadi sangat hektik. Aku deg-degan mengejar riasan tokoh utama seperti Anoman dan Rahwana agar ekspresi mereka terlihat hidup dibawah sorot lampu.

Setiap detik terasa cepat, namun aku berusaha tetap fokus menyempurnakan detail terakhir. Ketika mereka akhirnya melangkah ke panggung dengan penuh wibawa, ada kepuasan yang sulit diungkapkan.

Melihat penonton terpesona oleh gerakan, warna, dan karakter yang turut kubentuk melalui riasan dan kostum membuatku merasa bahwa kontribusiku, meski dari balik panggung, ikut menyempurnakan keseluruhan pementasan.

Baca Juga: Pementasan Macapat oleh Paguyuban Sekar Kenanga di Bangsal Srimanganti Keraton Yogyakarta

Pengalaman di divisi make up dan kostum menjadi pelajaran berharga yang mengubah cara pandangku tentang tanggung jawab dan budaya. Aku belajar bahwa menjaga detail kecil dari warna riasan hingga ketepatan kostum adalah bentuk penghormatan terhadap warisan seni.

Dari prose situ, aku semakin mengenali diriku ternyata aku mampu bekerja disiplin, sabar, dan teliti meski dalam tekanan. Aku juga menyadari pentingnya ketulusan, karena sebagian besar kerja panitia memang tidak terlihat penonton.

Namun, justru disulah nilai pengabdian terasa. Pengalaman ini membuatku lebih menghargai proses, bukan hanya hasil akhirnya

Menjadi panitia make up dan kostum adalah sekolah dharma yang mungkin tidak terlihat, namun sangat bermakna. Aku berharap dapat kembali berkontribusi dalam seni dan budaya Indonesia melalui pengalaman ini.

Dari balik panggung, aku menemukan cahaya dharma yang diam-diam membimbing langkahku menuju kedewasaan dan pengabdian.


Penulis: Afaf Ula Kusuma
Mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia Universitas Islam Negeri K. H. Abdurahman Wahid Hasyim Pekalongan
Aktif juga di Kepanitiaan Warastra/UKM Teater/2025


Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi 


Referensi

Wawan Susetya(2012).”Ramayana.Yogyakarta, Media Pressindo

Saksono Prijanto(2015). “Komik Ramayana Karya R. A. Kokasih: Siklus Kehidupan Spriritual Sri Rama dan Dewi Sinta. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Vol 13, No 2

Eko Wahyu Prihantoro(2023).”Riwayat Sang Anoman”.Lakon Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Wayang. Vol. 20, No. 1

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses