Menata Ulang Kehidupan Pasien Stroke melalui Intervensi Fisioterapi

pemulihan pasien stroke
Gait Training (Foto: Dok. MMI)

Banyak isu kesehatan yang menggemparkan dunia saat ini, baik itu isu kesehatan global maupun nasional. Isu-isu kesehatan tersebut meliputi penyakit menular dan penyakit tidak menular (PTM).

Adapun penyakit menular biasanya disebabkan oleh virus dan bakteri yang menyebabkan HIV/AIDS, flu, herpes, TBC, dll.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Sedangkan penyakit tidak menular biasanya disebabkan oleh gaya hidup yang tidak sehat, lingkungan, maupun genetik, contoh penyakit tidak menular diantaranya stroke, asam urat, kanker, dll.

Dalam artikel ini akan dikupas lebih dalam tentang stroke, yaitu penyakit yang terjadi ketika aliran darah ke otak terhambat yang menyebabkan kerusakan sel otak.

Akibatnya, penderita mengalami penurunan dan gangguan fungsi tubuh, seperti gangguan bicara, penurunan keseimbangan tubuh, kelumpuhan, bahkan kematian.

Stroke sering kali disebut “serangan otak”, sama seperti serangan jantung namun terjadi di otak.

Efek stroke terhadap setiap individu yang terkena berbeda-beda tergantung dari bagian otak mana yang terserang serta seberapa tinggi tingkat kerusakannya.

Baca Juga: Poltekkes Kemenkes Mataram Latih Kader Desa Batu Kumbung Cegah Komplikasi Stroke

Namun secara umum stroke berefek terhadap fisik, mental, maupun sosial. Adapun efeknya terhadap fisik diantaranya kesulitan berjalan atau bergerak, kelemahan atau kelumpuhan satu sisi tubuh, serta kehilangan kemampuan menelan (disfagia).

Sedangkan, efeknya terhadap mental penderita stroke sering kali kehilangan rasa percaya diri dan motivasi, emosi tidak stabil, serta depresi pascastroke.

Hal ini menyebabkan terganggunya kehidupan sosial individu tersebut, seperti kesulitan bekerja atau melakukan aktivitas mandiri, gangguan komunikasi dengan orang sekitar, serta ketergantungan pada orang lain untuk makan, mandi, serta berpakain. Hal-hal tersebut mempengaruhi kualitas hidup pasien (Pratiwi, 2024).

Seorang fisioterapis berperan penting dalam proses pemulihan pasien stroke, terutama dalam membantu pasien beradaptasi dengan kehidupannya, dengan membantu mengembalikan kemampuan motorik, keseimbangan, serta keterampilan dalam menjalani kegiatan sehari-hari.

Meta-analisis oleh Veerbeek et al. (2014) terhadap lebih dari 25.000 pasien stroke menunjukkan bahwa fisioterapi secara signifikan meningkatkan fungsi motorik, aktivitas sehari-hari, dan keseimbangan tubuh.

Setelah mengalami stroke, umumnya pasien sering mengalami kelumpuhan (paralisis) atau kelemahan (hemiparesis) pada salah satu sisi tubuh.

Seorang fisioterapis biasanya memberikan latihan mobilisasi pasif dan aktif, koordinasi gerak, dan penguatan otot, untuk membantu memperbaiki fungsi gerak serta melatih agar membentuk jalur saraf baru untuk memutasikan fungsi yang hilang.

Baca Juga: Poltekkes Kemenkes Semarang Gelar Pengabdian Masyarakat: Peran Keluarga dalam Mengenali dan Menangani Dampak Depresi Pasca Stroke di Kelurahan Srondol Wetan Kota Semarang

Di samping itu, latihan keseimbangan dan propriosepsi dilakukan untuk meningkatkan stabilitas tubuh, sementara latihan pemulihan keterampilan kegiatan sehari-hari (ADL) seperti berpakaian, makan, mandi, serta berjalan bertujuan untuk membantu pasien kembali mandiri dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

Selain itu, pemulihan terhadap pasien stroke akan lebih optimal ketika pasien tersebut berolahraga dengan rutin, sehingga dapat meningkatkan kualitas hidupnya (Pitaloka & Kariasa, 202).

Di dalam dunia fisioterapi, terdapat berbagai jenis terapi yang berperan penting dalam proses pemulihan pasien, terutama bagi pasien penderita stroke atau gangguan sistem gerak.

Salah satu bentuknya adalah latihan mobilitas, yang bertujuan untuk mengembalikan kemampuan gerak sendi dan otot agar pasien dapat bergerak lebih bebas melalui latihan pasif, latihan aktif-bantuan, maupun latihan aktif-mandiri.

Selanjutnya, terapi untuk berjalan (gait training) yang berfokus pada pemulihan kemampuan berjalan yang benar dan efisien dengan atau tanpa alat bantu.

Latihan keseimbangan (balance training) juga sangat penting untuk membantu meningkatkan stabilitas postur dan mencegah jatuh baik itu melalui latihan statis maupun dinamis.

Selain itu, terapi fungsional (functional training) berfokus pada aktivitas sehari- hari seperti duduk, berdiri, dan berjalan tujuannya agar pasien kembali mandiri.

Baca Juga: Pengertian Stroke

Dalam sebuah penelitian ditunjukkan bahwa intervensi fisioterapi dini (early rehabilitation) setelah stroke dapat meningkatkan kemampuan fungsional hingga 30-40% lebih cepat dibandingkan pasien yang tidak mendapatkan fisioterapis intensif (Kleim & Jones, 2019).

Kemudian, stimulasi pada sistem neuromuskular yaitu terapi yang menggunakan rangsangan listrik ringan untuk membantu mengaktifkan kembali otot yang lemah dan memperkuat hubungan saraf otot.

Sedangkan melalui latihan neuroplastisitas (kemampuan otak membentuk koneksi baru) melalui fisioterapi dapat membantu otak mempelajari kembali fungsi yang hilang akibat stroke (Winstein et al., 2016)

Dalam perawatan pasien stroke terdapat berbagai hambatan yang mempengaruhi efektivitas proses pemulihan.

Salah satu hambatan utamanya yaitu rendahnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya rehabilitasi dini.

Banyak pasien maupun keluarga pasien yang menganggap bahwa setelah perawatan medis selesai, maka proses pemulihannya akan berlangsung sendiri tanpa perlu terapi lanjutan dari fisioterapis.

Padahal, rehabilitasi pascamedis sangat dibutuhkan dan jika terlambat maka dapat menyebabkan penurunan fungsi tubuh secara permanen.

Baca Juga: Mengenal Luka Tekan pada Pasien Stroke Beserta Pencegahannya

Hambatan yang selanjutnya yaitu kurangnya fasilitas kesehatan yang memadai, baik keterbatasan tenaga fisioterapis, alat, serta sarana pendukung lainnya dapat menyebabkan terapi berjalan tidak maksimal.

Selain itu, dukungan keluarga berperan penting untuk memotivasi pasien dalam menjalani terapi jangka panjang (Rahma Rufaida Susetyo, 2023).

Jika ini tidak terpenuhi maka pasien tidak dapat mencapai pemulihan yang optimal.

Fisioterapi memiliki peran penting dalam membantu pasien untuk mengubah kehidupannya menuju kondisi yang lebih baik.

Dengan memberikan berbagai bentuk terapi yang bertujuan untuk membantu memulihkan fungsi tubuh, meningkatkan kemandirian, serta memperbaiki kualitas hidup pasien.

Namun, keberhasilan serta lama waktu yang dibutuhkan dalam proses penyembuhan tidak hanya bergantung pada fisioterapis, akan tetapi dukungan dari keluarga meliputi dukungan emosional dan motivasi dapat mempercepat proses pemulihan.

Melalui kerjasama antara fisioterapis, keluarga, dan tenaga kesehatan lainnya, diharapkan pasien stroke dapat mencapai pemulihan yang optimal dengan cepat dan kembali menjalani kehidupan secara mandiri serta produktif.


Penulis: Karina Arastia Pratiwi
Mahasiswa Prodi Fisioterapi, Universitas Muhammadiyah Malang


Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi


Daftar Pustaka

Pitaloka, R. D., & Kariasa, I. M. (2021). Rehabilitasi Latihan Fisik terhadap Pemulihan Pasca Stroke. Jurnal Keperawatan Silampari, 5(1), 499–512. https://doi.org/10.31539/jks.v5i1.2975

Pratiwi, A. (2024). Faktor yang Mempengaruhi QOL Pasien Stroke. Jurnal Kesmas Asclepius, 6(2), 234–240. https://doi.org/10.31539/jka.v6i2.11492

Rahma Rufaida Susetyo. (2023). Literatur Review Peran Dukungan Keluarga pada Pasien Pasca Stroke dalam Latihan Rehabilitasi Medik. Detector: Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan, 1(4), 107–116. https://doi.org/10.55606/detector.v1i4.2538

Winstein, C. J., Stein, J., Arena, R., Bates, B., Cherney, L. R., Cramer, S. C., Deruyter, F., Eng, J. J., Fisher, B., Harvey, R. L., Lang, C. E., MacKay-Lyons, M., Ottenbacher, K. J., Pugh, S., Reeves, M. J., Richards, L. G., Stiers, W., & Zorowitz, R. D. (2016). Guidelines for Adult Stroke Rehabilitation and Recovery: A Guideline for Healthcare Professionals from the American Heart Association/American Stroke Association. In Stroke (Vol. 47, Issue 6, pp. e98–e169). Lippincott Williams and Wilkins. https://doi.org/10.1161/STR.0000000000000098

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses