Masuk ke dunia perkuliahan adalah pengalaman yang tidak selalu mudah, terlebih ketika memilih Prodi Matematika. Di semester pertama, saya menyadari bahwa kuliah matematika bukanlah soal siapa yang paling cepat memahami materi, tetapi siapa yang mampu bertahan dalam prosesnya.
Bertahan pertama kali berarti bertahan dari rasa kaget terhadap sistem belajar yang baru. Di bangku kuliah, dosen tidak lagi menjelaskan semuanya secara rinci seperti di sekolah. Mahasiswa dituntut lebih mandiri dan aktif. Di awal, hal ini terasa berat, terutama ketika materi terasa sulit dipahami.
Baca juga: Matematika yang Selalu Setia Menemani Kita dalam Kehidupan Sehari-hari
Bertahan juga berarti mampu mengatur waktu. Sebagai mahasiswa baru, saya harus membagi waktu antara kuliah, tugas, dan kehidupan pribadi. Matematika tidak bisa dipelajari secara instan, sehingga dibutuhkan kebiasaan belajar yang konsisten.
Tidak jarang muncul perasaan tertinggal saat melihat teman lain tampak lebih cepat memahami materi. Perasaan ini wajar, tetapi tidak seharusnya menjadi alasan untuk menyerah. Saya belajar bahwa salah adalah bagian dari proses belajar, khususnya di matematika.
Di kehidupan sehari-hari, banyak orang dewasa menghindari angka karena merasa tidak mampu. Akibatnya, informasi berbasis data sering disalahartikan. Di sinilah pentingnya literasi numerasi bagi masyarakat.
Melalui mata kuliah Metode Statistika, saya mulai memahami bagaimana data dapat dibaca dan ditafsirkan dengan benar. Ilmu ini sangat relevan untuk membantu masyarakat memahami isu publik seperti ekonomi dan kebijakan sosial.
Baca juga: Matematika itu Tidak Sulit, Asal yang Mengajarnya Enak
Beasiswa KIP-K memberi saya kesempatan untuk terus bertahan di bangku kuliah. Dukungan ini tidak hanya membantu secara finansial, tetapi juga menjadi dorongan moral untuk tidak mudah menyerah.
Bagi saya, bertahan di semester pertama berarti bertahan pada tujuan awal: belajar dan berkembang. Matematika mengajarkan bahwa setiap masalah bisa diselesaikan langkah demi langkah. Pelajaran ini sangat berharga, tidak hanya di kelas, tetapi juga dalam kehidupan.
Penulis: Libran Abyan Pasha
Mahasiswa Prodi Matematika Universitas Pamulang
Aktif juga di Himatika (Himpunan Mahasiswa Matematika)
Editor: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












