Tempurung kelapa, kulit pisang, sekam padi, atau kerak nasi biasanya dianggap sampah dan dibuang begitu saja. Namun, di laboratorium Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), bahan-bahan tersebut tengah diteliti sebagai cikal bakal material canggih. Material ini diproyeksikan mampu mendeteksi bahan kimia berbahaya, menjadi komponen baterai kendaraan listrik, hingga menjadi sumber energi terbarukan.
Itulah keseharian yang dijalani selama empat bulan oleh saya, Syawa Maharani Putri Wintoro, mahasiswi Program Studi Fisika Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Jawa Timur. Melalui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), saya berkesempatan magang di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) BJ Habibie, Serpong—kompleks riset milik negara yang menjadi rumah bagi ratusan ilmuwan Indonesia—sejak 5 Januari hingga 5 Mei 2026.
Selama program ini, saya dibimbing langsung oleh Dr. Vinda Zakiyatuz Zulfa, S.Si., selaku pembimbing harian di lapangan. Sementara itu, bimbingan akademik dilakukan oleh Dr. Nailul Hasan, S.Si., guna memastikan keselarasan antara praktik lapangan dengan kurikulum universitas.
Kedisiplinan Tinggi di Laboratorium Nasional
Siapa pun yang pernah mengikuti praktikum di kampus tentu familier dengan polanya: ikuti langkah di modul, catat hasil, lalu selesai. Namun, di laboratorium riset nasional, ceritanya berbeda. Prosedur di sini jauh lebih ketat; setiap langkah harus mengikuti Standar Operasional Prosedur (SOP) yang presisi, dan kedisiplinan menjadi harga mati.
“Di sini, satu kesalahan kecil bisa merusak sampel yang sudah disiapkan berhari-hari,” ungkap saya saat merefleksikan pengalaman tersebut. Menimbang bahan harus akurat hingga angka desimal terkecil, suhu pemanasan tidak boleh melenceng satu derajat pun, dan setiap tahapan wajib dicatat secara real-time.
Pengalaman ini menanamkan nilai etika riset, ketelitian, dan integritas data yang menjadi fondasi seorang peneliti profesional sekaligus membuka akses bagi mahasiswa dari universitas untuk berkontribusi di riset tingkat nasional.

Menyulap Kerak Nasi Menjadi Material “Ajaib”
Inti dari penelitian ini adalah mengembangkan material bernama Reduced Graphene Oxide (rGO). rGO merupakan lembaran karbon sangat tipis dengan kemampuan luar biasa: menghantarkan listrik lebih baik dari tembaga, jauh lebih kuat dari baja, namun sangat ringan. Bayangkan sebuah plastic wrap dapur, tetapi ribuan kali lebih tipis dari sehelai rambut manusia dan terbuat dari karbon murni—itulah gambaran visualnya.
Hal yang membuat riset ini istimewa adalah sumber bahan bakunya. Alih-alih menggunakan bahan kimia industri yang mahal, rGO ini disintesis dari biomassa limbah organik seperti tempurung kelapa, sekam padi, kulit pohon pisang, hingga kerak nasi. Melalui proses pemanasan terkontrol menggunakan alat khusus, limbah tersebut diubah menjadi karbon berkualitas tinggi yang kemudian diolah menjadi rGO.
Saya sempat tidak menyangka bahwa kerak nasi dari dapur bisa bertransformasi menjadi material mutakhir di laboratorium nasional. Riset ini mengajarkan saya untuk melihat potensi besar di balik sesuatu yang sering dianggap tidak berguna.
Potensi Masa Depan: Kesehatan hingga Energi
Pemanfaatan rGO sangat luas. Di dunia kesehatan, lapisan tipis rGO dapat diintegrasikan ke dalam biosensor—perangkat kecil yang mampu mendeteksi kadar gula darah, penanda penyakit, hingga virus tanpa perlu prosedur invasif.
Di sektor energi, rGO menjadi material andalan untuk elektroda superkapasitor dan baterai generasi baru. Saat dunia berlomba meninggalkan bahan bakar fosil, kehadiran material penyimpan energi yang efisien dan berbasis bahan lokal terbarukan menjadi kunci yang sangat dibutuhkan. Lebih jauh lagi, produksi rGO skala industri berbasis biomassa berpotensi menciptakan lapangan kerja baru di sektor sains dan teknologi.

Menemukan Makna di Balik Kegagalan
Salah satu bagian paling berharga dari perjalanan ini adalah saat menghadapi kegagalan. Tidak semua eksperimen berjalan mulus; terkadang sampel tidak homogen atau hasil karakterisasi melenceng jauh dari prediksi.
Namun, saya belajar bahwa hasil yang tidak sesuai harapan bukanlah akhir, melainkan sebuah petunjuk. Hal tersebut memberi tahu variabel mana yang perlu diperbaiki dan kondisi apa yang belum optimal. Dari sanalah cara berpikir ilmiah saya benar-benar teruji dan terasah.
Bagi saya, empat bulan di BRIN bukan sekadar ajang mengumpulkan Satuan Kredit Semester atau memenuhi syarat kelulusan. Ini adalah perjalanan pertumbuhan intelektual untuk berpikir lebih sistematis. Fisika yang dulunya hanya sekadar kumpulan rumus di papan tulis, kini memiliki wajah nyata—ada di dalam baterai ponsel kita, hingga di dalam superkonduktor energi masa depan.
Investasi Jangka Panjang bagi Peneliti Muda
Keterlibatan mahasiswa dalam riset nasional sekelas BRIN membawa pesan penting: inovasi tidak boleh hanya eksklusif bagi praktisi senior, tetapi harus menjadi bekal bagi mahasiswa sebelum terjun ke dunia kerja.
Sinergi antara BRIN sebagai institusi pemerintah yang akuntabel dengan UPN “Veteran” Jawa Timur melalui program MBKM adalah bukti nyata bahwa kolaborasi pendidikan dan riset harus terus diperluas. Hasilnya bukan sekadar laporan magang, melainkan lahirnya generasi peneliti muda yang sudah matang secara mental dan logika ilmiah sejak di bangku sarjana. Inilah investasi jangka panjang yang sesungguhnya bagi Indonesia.
Ucapan Terima Kasih
Saya, Syawa Maharani Putri Wintoro, menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Dr. Vinda Zakiyatuz Zulfa atas bimbingan lapangan yang sabar dan telaten, serta Dr. Nailul Hasan atas dukungan akademik yang tak ternilai. Terima kasih pula kepada seluruh tim BRIN yang telah menciptakan lingkungan ilmiah yang terbuka dan inklusif.
Penulis: Syawa Maharani Putri Wintoro
Mahasiswa Program Studi Fisika, Universitas Pendidikan Negeri “Veteran” Jawa Timur
Dosen Pengampu: Dr. Nailul Hasan, S.Si,. Ph.D.
Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












