Prinsip 1: Bird In Hand
Di tengah perubahan yang terus berlangsung, banyak mahasiswa yang baru saja lulus (fresh graduate) bingung ingin mengerjakan apa dan selalu merasa bahwa untuk menjadi sukses dibutuhkan modal besar, jaringan luas, atau kondisi yang benar-benar siap.
Padahal, dalam banyak kasus, langkah awal justru dimulai dari apa yang sudah ada di tangan. Gagasan ini dikenal sebagai Bird in Hand Principle.
Prinsip ini menekankan bahwa fresh graduate tidak perlu menunggu segalanya sempurna untuk mulai bergerak. Yang lebih penting adalah mengenali kemampuan, pengalaman, relasi, dan pengetahuan yang sudah dimiliki saat ini. Dari titik itulah peluang bisa dibangun.
Daripada mencari pekerjaan sendiri dan mulai dari nol, coba pikirkan apa yang kalian sekarang punya. Menurut saya peluang paling besar berada di orang tua kita, tidak perlu harus punya bisnis keluarga baru bisa membuat anda sukses.
Namun, anda cukup mengetahui bahwa orang tua mempunyai keterampilan dan pengalaman di bidang yang mereka kerja dan tekuni. Dengan pertanyaan yang benar, orang tua anda bisa memberikan kalian ilmu dan pengalaman mereka. Inilah menurut saya dasar kesuksesan dari seorang fresh graduate.
Salah satu contoh yang hebat berupa dari Steve Jobs, co-founder Apple, dikenal sebagai salah satu entrepreneur terhebat dalam sejarah. Steve Jobs tidak terlahir dari keluarga yang sangat kaya, dia diadopsi oleh keluarga yang bercukupan. Ayah tirinya, Paul Reinhold Jobs merupakan mekanik yang fokus dalam presisi engineering.
Dari kecil, Steve Jobs ditanamkan keterampilan dalam detail teknis oleh ayahnya dan membawa ilmu dan mindset tersebut hingga Apple. Steve Jobs sendiri pernah mengatakan bahwa ayahnya mengajarkan: “bagaimanapun bagian yang tidak terlihat tetap harus indah dan rapi.”
Yang membuatnya menjadi salah satu fondasi Apple hingga sekarang. Steve Jobs tidak mulai dari nol, dia belajar dari keterampilan dan pengalaman ayahnya dan membawanya hingga membuat salah satu perusahaan paling bernilai di dunia.
Baca Juga: Koneksi Digital dan Arah Baru Karier Generasi Muda Indonesia
Prinsip 2: Fokus
Salah satu hal yang saya perhatikan dengan fresh graduate adalah bagaimana mereka suka mengerjakan banyak hal yang berbeda sekaligus. Mereka kerja proyek A dan B sekaligus, bekerja 5 pekerjaan sekaligus bahkan membuka banyak bisnis sekaligus. Namun kenyataanya, cara cara ini membuat mereka tidak berkembang.
Mengapa demikian? Karena sehebat-hebatnya seseorang, orang yang membagi fokusnya ke teralu banyak hal hampir selalu akan kalah dengan mereka yang mendalami satu bidang secara konsisten. Fokus memberikan kedalaman, sedangkan teralu banyak aktivitas seringkali hanya menghasilkan keluasan tanpa keunggulan.
Ada sebuah pengalaman pribadi yang membuat saya berpegang teguh dengan prinsip ini. Dalam proses perkuliahan saya, kami diberitahu untuk membuat proyek bisnis, di saat itu tim saya berhasil meraih pendanaan PKM-K (Program Kreativitas Mahasiswa-Kewirausahaan), namun dikarenakan bisnis tersebut dari semester sebelumnya dan saya berencana untuk bikin bisnis lain untuk mata kuliah semester ini akhirnya saya membuat bisnis baru tersebut yang membuat saya harus mengerjakan 2 bisnis sekaligus.
Saya merasa bangga kepada diri saya sendiri saat itu karena tim saya berhasil didanai PKM-K dan membuat bisnis baru lagi. Namun, di semester selanjutnya, kedua bisnis saya terpaksa harus saya tutup dikarenakan tim yang kurang kompeten dan yang paling krusial karena saya sendiri tidak fokus, gimana tim bisa fokus.
Dari pengalaman inilah yang membuat saya refleksi berat, apa kesalahan yang saya buat. Ternyata, salah satu kesalahan terbesar yang saya lakukan adalah pentingnya fokus. Bukan hanya dari saya, Jack Ma juga merasa sama: “Kamu tidak pelru menjadi orang jenius untuk menjadi sukses, kamu hanya perlu fokus.”
Bagi fresh graduate, godaan untuk mencoba banyak hal memang sangat besar. Ada keinginan untuk mengumpulkan sebanyak mungkin pengalaman, mencoba berbagai peluang dan bergerak secepat mungkin untuk bisa sukses di usia muda.
Namun dalam banyak kasus, keunggulan justru lahir dari konsistensi dan kedalaman, bukan dari banyaknya hal yang dicoba dalam waktu bersamaan.
Penutup
Banyak fresh graduate menginginkan kesuksesan cepat atau mulai dari nol. Saya juga berpikir demikian. Namun dari pengalaman pribadi, saya belajar bahwa kesuksesan tidak selalu datang dari memulai sesuatu sendirian, dan tidak selalu datang dari melakukan banyak hal sekaligus.
“Jika saya dapat melihat lebih jauh, itu karena saya berdiri di atas bahu para raksasa,” Isaac Newton.
Kesuksesan sejati terjadi ketika kita membangun di atas pengetahuan, pengalaman dan kontribusi orang-orang sebelum kita, lalu mengembangkanya dengan fokus hingga menghasilkan sesuatu lebih baik.
Penulis: Richard Hermawan
Mahasiswa Intenational Business Management—International Class Universitas Ciputra Surabaya (UC)
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













