Konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah memberikan dampak besar terhadap berbagai sektor ekonomi global, termasuk Indonesia. Salah satu imbas yang mulai dirasakan masyarakat adalah kenaikan harga plastik yang cukup signifikan di pasaran.
Kenaikan ini mulai terasa sejak awal 2026 dan terus melonjak seiring memanasnya situasi di Timur Tengah dalam beberapa minggu terakhir.
Penyebab utama kenaikan ini adalah terganggunya pasokan bahan baku plastik dari Timur Tengah. Bahan baku seperti nafta, yang merupakan turunan minyak bumi, mengalami hambatan distribusi akibat konflik yang memengaruhi jalur pelayaran internasional strategis, termasuk Selat Hormuz.
Baca juga: Analisis Lonjakan Harga Plastik 2026: Penyebab, Dampak, dan Solusi Strategis
Akibatnya, impor bahan baku ke Indonesia terhambat dan biaya pengiriman (freight cost) melonjak tajam. Kondisi inilah yang memicu meroketnya harga jual plastik di tingkat pedagang domestik.
Dampak dari lonjakan ini terutama dirasakan oleh para pedagang pasar tradisional dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah yang bergantung pada kemasan plastik sebagai kebutuhan utama usaha mereka. Berdasarkan laporan terbaru, harga beberapa jenis produk plastik bahkan mengalami kenaikan drastis hingga mencapai 50% sampai 70%.
Menghadapi situasi ini, para pelaku usaha mengaku dilematis. Mereka terpaksa menaikkan harga jual produk, tetapi di sisi lain khawatir akan kehilangan pelanggan. Beberapa di antaranya bahkan memilih untuk mengurangi stok karena keterbatasan modal.
Mengingat banyaknya produk kebutuhan sehari-hari yang menggunakan kemasan plastik, kenaikan ini berpotensi memicu efek domino terhadap kenaikan harga barang lainnya di masyarakat.
Baca juga: Dari Plastik ke Harga Makanan: Kenaikan yang Diam-diam Mencekik Masyarakat
Jika konflik di Timur Tengah terus berlanjut, bukan tidak mungkin harga plastik akan semakin tidak terkendali.
Oleh karena itu, diperlukan langkah antisipasi cepat dari pemerintah dan pelaku industri, seperti mencari sumber bahan baku alternatif atau memperkuat kapasitas produksi dalam negeri agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada impor.
Penulis: Keysa Alya Dinara
Mahasiswa Program Studi Akuntansi, Universitas Pamulang
Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













