Lonjakan Harga Plastik: Ancaman Tersembunyi yang Mengancam Masa Depan UMKM dan Ketahanan Ekonomi Nasional

UMKM Indonesia
Ilustrasi Lonjakan Harga Plastik (Gambar: Dok. Penulis)

Dalam beberapa pekan terakhir, harga berbagai produk plastik di dalam negeri mengalami lonjakan yang tajam, dipicu oleh terganggunya pasokan bahan baku impor akibat konflik berkepanjangan antara Iran dan Amerika Serikat.

Fenomena ini bukan hanya sekadar kenaikan harga, melainkan sinyal bahaya yang mengancam keberlanjutan usaha kecil dan menengah (UMKM) serta stabilitas ekonomi nasional.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Seperti dikutip dari IDN Times, Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI), Reynaldi Sarijowan, mengungkapkan bahwa lonjakan harga plastik berkisar antara Rp500 hingga Rp700 per pekan.

Hampir seluruh jenis plastik berbahan PE (polyethylene) dan PP (polypropylene) mengalami kenaikan signifikan.

Padahal, kedua bahan ini merupakan bahan utama dalam pembuatan kemasan makanan, kantong belanja, serta berbagai peralatan rumah tangga.

Baca Juga: Di Balik Plastik dan Deterjen: Mengapa Indonesia Perlu Beralih ke Oleokimia?

Mengapa Harga Plastik Melonjak?

PE dikenal sebagai plastik yang ringan dan fleksibel, umum digunakan untuk kantong plastik dan botol minuman, sedangkan PP lebih tahan panas dan sering dipakai untuk wadah makanan microwave-safe, tutup botol, hingga karung plastik.

Sejak pekan kedua Ramadan, harga keduanya melonjak hingga 50%, bahkan ada yang mencapai 100%.

Sebagai contoh, harga plastik kresek naik dari Rp10 ribu menjadi Rp15 ribu per pak, dan jenis lain dari Rp20 ribu menjadi Rp25 ribu.

Menurut Yoyok Riyo Sudibyo, anggota Komisi VII DPR RI, kenaikan ini dipicu oleh terganggunya pasokan bahan baku utama seperti nafta dari Timur Tengah akibat konflik geopolitik.

Indonesia, yang masih mengimpor sekitar 60 persen bahan baku plastik, menjadi sangat rentan terhadap gejolak ini.

Ia menambahkan bahwa dampaknya tidak hanya dirasakan oleh industri besar, tetapi juga oleh usaha kecil yang bergantung pada bahan baku ini untuk operasional sehari-hari.

Baca Juga: Pembuatan Mesin Pengepres Sampah Plastik untuk Meningkatkan Efektivitas dan Efisiensi Pengelolaan Sampah di TPS 3R “Ngudi Sehat” Desa Gumpang

Dampak yang Lebih Luas

Kenaikan biaya produksi ini memicu kenaikan harga bahan makanan dan menyusutnya ukuran produk konsumsi, karena produsen berusaha menyesuaikan margin mereka.

Jika konflik ini berlanjut, risiko meluasnya dampak ke sektor pariwisata berbasis UMKM dan aktivitas ekonomi lokal sangat mungkin terjadi.

UMKM, yang sangat bergantung pada plastik untuk kemasan dan kemudahan distribusi, kini menghadapi tekanan yang semakin berat.

Sebagai contoh, sekitar 60-70% biaya produksi kuliner UMKM berasal dari bahan baku dan kemasan.

Ketika harga plastik melonjak hingga 100%, margin keuntungan mereka pun semakin tergerus.

Banyak pelaku usaha kecil yang mulai mempertimbangkan berhenti beroperasi karena tidak mampu menanggung biaya operasional yang membengkak, apalagi daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya.

Baca Juga: Wajib Halal 2026: Solusi Ekonomi atau Beban Baru bagi UMKM?

Konsekuensi Jangka Panjang dan Strategi Menghadapi

Fenomena ini mencerminkan adanya tekanan struktural dalam perekonomian nasional yang dipicu oleh dinamika global, mulai dari harga minyak dunia hingga kelangkaan pasokan bahan baku.

Lonjakan biaya bahan baku ini akan berimbas langsung pada kenaikan biaya pokok produksi (COGS), yang akhirnya mempengaruhi harga jual dan daya saing produk di pasar.

Untuk menyiasati situasi ini, pelaku UMKM perlu segera melakukan inovasi dan adaptasi strategis.

Misalnya, beralih ke kemasan alternatif yang lebih stabil harganya dan ramah lingkungan, seperti kemasan berbahan kertas, besek bambu, atau kemasan dari singkong.

Selain itu, inovasi model bisnis seperti sistem “bawa wadah sendiri” juga bisa menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan pada plastik sekali pakai.

Peran Pemerintah Sangat Penting

Tak kalah penting adalah peran pemerintah dalam menghadapi krisis ini. Kebijakan yang komprehensif dan tidak sebatas imbauan menjadi kunci utama.

Pemerintah dapat memberikan insentif pajak kepada UMKM yang terdampak, menghapuskan sementara bea impor bahan baku alternatif nonplastik, serta melakukan intervensi pasar melalui BUMN untuk menstabilkan harga bahan baku domestik.


Penulis: Aprida
Mahasiswa Program Magister Akuntansi, Universitas Pamulang


Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses