Mengungkap Konsep Wabi-Sabi dalam Shoji dan Fusuma

wabi-sabi japan
Mengungkap Konsep Wabi-Sabi dalam Shoji dan Fusuma. Sumber: unsplash.

Budaya Jepang dikenal memiliki karakteristik yang unik karena mampu untuk tetap eksis di tengah berjalannya era modernisasi seperti saat ini. Sama seperti negara-negara lainnya, Jepang tentunya tetap ingin mempertahankan kebudayaan mereka sebagai bagian dari identitas nasional.

Salah satu budaya yang tetap mereka pertahankan hingga saat ini yakni rumah tradisional Jepang. Rumah tradisional Jepang tidak hanya sekadar berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga menunjukkan cara pandang masyarakatnya terhadap kehidupan dan alam sekitar.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Jika melihat dari gaya hidup masyarakat Jepang sehari-hari, dapat dipahami bahwa mereka memiliki gaya pandangan hidup yang bersifat minimalis, disiplin, bersih, serta menghargai keindahan. Selain itu, orang Jepang juga memahami pentingnya menjaga keharmonisan antara kehidupan manusia dan alam.

Salah satu konsep penting dalam budaya Jepang adalah wabi-sabi. Dalam konsep wabi-sabi, meskipun suatu hal bersifat sederhana, hal tersebut tetap dapat dipandang sebagai bagian dari nilai estetika.

Nilai wabi-sabi dapat terlihat dari penggunaan material rumah yang alami, warna yang tidak mencolok, serta desain rumah yang sederhana namun tetap elegan.

Gaya pandangan hidup mereka ini kemudian tercermin dalam berbagai elemen rumah tradisional Jepang, di antaranya yakni shoji dan fusuma. Melalui elemen-elemen ini, rumah tradisional Jepang dapat mencerminkan filosofi kehidupan masyarakat Jepang.

Konsep Wabi Sabi

Kata wabi (侘) dan sabi (寂) jika dilihat berdasarkan tiap karakter kanjinya, bermakna kesederhanaan yang terpuji dan kesunyian atau kesepian (Armansyah & Astuti, 2023). Berbeda dengan pandangan estetika modern yang sering menekankan kemewahan dan kesempurnaan, wabi-sabi justru menghargai bentuk yang sederhana dan alami.

Dalam konsep ini, sesuatu tidak harus terlihat megah untuk dianggap indah, karena keindahan juga tetap dapat ditemui dalam hal-hal yang sederhana dan tidak mencolok. Wabi-sabi menekankan pada keindahan yang terdapat dalam ketidaksempurnaan, kesederhanaan, dan keterhubungan dengan alam (Koren, 2008, dalam Giri dkk., 2025).

Hal ini bermakna bahwa konsep wabi-sabi tidak hanya mencakup kesederhanaan, tetapi juga mencakup ketidaksempurnaan. Wabi sabi merupakan suatu konsep spiritual yang ditemui dalam ritual keagamaan Zen Buddhisme pada pertengahan abad ke-16 (Muthmainnah et al., 2021).

Konsep ini menekankan kesadaran akan ketidakkekalan segala sesuatu di dunia. Dalam pandangan ini, sesuatu dipahami memiliki sifat yang terus berubah, menua, dan pada akhirnya akan mengalami kerusakan.

Oleh karena itu, wabi-sabi tidak memandang penuaan sebagai sesuatu yang harus dihindari, melainkan sebagai bagian dari kehidupan. Nilai estetika wabi-sabi justru muncul dari proses tersebut. Misalnya, melalui tekstur material alami yang berubah seiring waktu atau tampilan yang berubah.

Selain menekankan ketidaksempurnaan, wabi-sabi juga menolak kesan berlebihan yang dapat mengganggu ketenangan. Estetika ini cenderung menggunakan warna-warna yang netral, serta bentuk-bentuk yang sederhana dan tidak rumit.

Baca Juga: Ramadhan di Negeri Minoritas: Catatan Dakwah dari Jepang dan Hongkong

Shoji

Shoji (障子) merupakan salah satu elemen rumah tradisional Jepang yang dapat difungsikan sebagai jendela sekaligus pintu. Shoji terbuat dari rangka kayu dan kertas washi, yaitu kertas yang terbuat dari bahan-bahan alami seperti pohon murbei, mitsumata, atau gampi (NHK Educational, t.t.).

Kertas washi digunakan sebagai salah satu material shoji karena sifatnya yang masih dapat ditembus oleh sinar matahari. Kertas washi pada shoji juga bersifat polos tanpa adanya motif tertentu. Cahaya yang masuk secara lembut melalui shoji dapat menciptakan suasana yang tenang dan nyaman di dalam rumah.

Shoji sangat tepat digunakan pada rumah tradisional Jepang yang berada di negara empat musim. Pada musim panas, rumah perlu memiliki ventilasi yang baik agar udara dapat mengalir dengan lancar. Sementara itu, pada musim dingin, ruangan tetap membutuhkan pencahayaan alami.

Pada rumah tradisional Jepang, shoji kerap ditempatkan sebagai penghubung antara ruangan dengan taman. Melalui shoji, dapat dipahami bahwa masyarakat Jepang bukan hanya ingin menjaga keseimbangan antara kehidupan manusia dan alam, melainkan juga sebagai bentuk penerapan konsep wabi-sabi dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Konsep wabi-sabi pada shoji dapat ditemukan melalui desainnya yang polos dan sederhana, dengan tetap mempertahankan nilai estetikanya. Material shoji yang terbuat dari bahan-bahan alami juga mencerminkan ketidaksempurnaan dari konsep wabi-sabi yang seiring waktu akan terus berubah dan mengalami penuaan.

Fusuma

Selain shoji, terdapat juga fusuma (襖) atau pintu geser yang terdapat pada rumah tradisional Jepang. Fusuma digunakan sebagai pembatas antar ruangan yang terbuat dari beberapa lembar kertas washi atau kain yang ditempelkan pada kerangka kayu sehingga menjadi tebal dan tidak tembus cahaya (K.C., 2024).

Berbeda dengan shoji, fusuma lebih difungsikan untuk menjaga privasi dan mengatur ukuran ruangan sesuai dengan kebutuhan. Satu ruangan di dalam rumah dapat difungsikan untuk bermacam-macam aktivitas seperti menerima tamu, beristirahat, dan berkumpul bersama keluarga.

Dengan adanya fusuma, ukuran ruangan dapat diubah dengan mudah hanya dengan menggeser pintu. Fusuma juga dihiasi dengan lukisan atau motif tradisional Jepang yang indah. Biasanya lukisan yang ditampilkan berupa unsur alam seperti pohon, gunung, atau pemandangan alam lainnya.

Fungsinya sebagai bagian dari dekorasi interior rumah tradisional Jepang. Meskipun terdapat lukisan pada fusuma, tetapi penggunaannya tetap dapat dikategorikan sebagai representasi dari wabi-sabi. Lukisan dan tampilan yang ada pada fusuma dibuat sederhana dan tidak berlebihan, dengan tetap mempertahankan nilai estetikanya.

Penggunaan fusuma sebagai pengatur ukuran ruangan juga menjadikannya sebagai salah satu elemen yang melambangkan kesederhanaan sebab, pengaturan ruangan di dalam rumah menjadi fleksibel dan tidak rumit.

Material yang digunakan pada fusuma berasal dari bahan-bahan alami yang seiring waktu akan mengalami penuaan, dan sesuai dengan konsep wabi-sabi.

Baca Juga: Menilik Soft Power Jepang di Blok M lewat Little Tokyo dan Papaya Fresh Gallery

Penggunaan shoji dan fusuma, menggambarkan bahwa masyarakat Jepang tidak menekankan kemewahan dalam tempat tinggal. Sebaliknya, mereka lebih menghargai kesederhanaan yang tetap dapat memberikan kenyamanan dan ketenangan. Dalam konsep wabi-sabi, keindahan tidak harus muncul dari bentuk yang rumit.

Cahaya yang difilter oleh kertas washi pada shoji menghasilkan pencahayaan yang lembut dan tidak menyilaukan. Suasana ini menciptakan kesan hangat serta membantu penghuni rumah merasakan ketenangan.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa shoji dan fusuma merupakan bagian dari rumah tradisional Jepang yang mencerminkan konsep wabi-sabi dan tidak dapat dipisahkan.

Melalui penggunaan material alami, pencahayaan lembut, serta desain yang tidak berlebihan, kedua elemen ini menunjukkan bahwa keindahan dapat ditemukan dalam bentuk yang sederhana sekalipun.

Penggunaan bahan material alami dalam shoji dan fusuma juga melambangkan ketidaksempurnaan sebab, seiring waktu material tersebut akan mengalami perubahan karena penuaan.

Tidak hanya itu, masyarakat Jepang juga tetap dapat mempertahankan konsep wabi-sabi yang telah menjadi pandangan hidup mereka sejak dahulu melalui rumah tradisional. Hal ini merupakan metode yang tepat, karena rumah menjadi salah satu tempat utama manusia beraktivitas sehari-hari.

Selain dari pendidikan formal, masyarakat Jepang juga dapat mengenal nilai kebiasaan dan kebudayaan leluhur mereka dari hal yang paling sering mereka jumpai sehari-hari yakni, rumah.

Konsep pemikiran masyarakat Jepang dari generasi ke generasi kemudian dapat diturunkan dengan mudah untuk tetap mempertahankan kelestarian nilai-nilai budaya mereka.


Penulis: Nasywa Arifah Aliyah
Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (UNAIR)


Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi


Daftar Pustaka

Armansyah, B. S., & Astuti, M. S. P. (2023). Estetika Jepang Wabi-Sabi dan Mono no Aware dalam Film Memories of Matsuko tahun (2006). Japanology: The Journal of Japanese Studies, 165–181. https://doi.org/10.20473/jjs.v10i2.55502

Giri, K. R. P., Ni Kadek Yuni Utami, & Ni Made Sri Wahyuni Trisna. (2025). Estetika Wabi-Sabi dan Kenyamanan Interior Pendekatan Berbasis Data terhadap Desain Holistik. Waca Cipta Ruang, 11(1), 1–7. https://doi.org/10.34010/wcr.v11i1.15822

K.C. (2024, Juni 2). Fusuma: traditional Japanese sliding partitions. Japan Experience.
Muthmainnah, E., Mugiyanti, & Rukhyana, B. (2021). Konsep Keindahan Wabi Sabi Dalam Puisi Karya Nakahara Chuuya. Idea Sastra Jepang, 3, 41–48.

NHK Educational. (t.t.). The Mark of Beauty: Shoji screens. Google Arts & Culture.

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Daftar Isi dan Poin-Poin Artikel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses