Ramadhan di Negeri Minoritas: Catatan Dakwah dari Jepang dan Hongkong

Ramadhan di Jepang

Dakwah tidak selalu berlangsung di negeri yang mayoritas Muslim. Di berbagai belahan dunia, Islam justru tumbuh dalam sunyi—di tengah masyarakat yang berbeda bahasa, budaya, bahkan keyakinan. Namun di tempat-tempat seperti itulah sering terlihat wajah Islam yang tulus, sederhana, dan penuh keteguhan.

Pengalaman tersebut saya rasakan ketika melakukan safari dakwah ke negara-negara minoritas Muslim di Asia Timur, khususnya Jepang dan Hongkong. Dalam beberapa kesempatan saya diberi amanah untuk mengisi kajian, menjadi imam shalat, sekaligus berinteraksi langsung dengan komunitas Muslim di sana. Hingga saat ini, saya telah tiga kali melakukan safari dakwah ke Jepang dan sekali ke Hongkong Bersama para santri Thursina pada tahun 2023,2024,2025, dan 2026

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Perjalanan ini tidak sekadar agenda ceramah, tetapi juga perjalanan belajar. Saya menyaksikan bagaimana umat Islam menjaga iman di tengah kehidupan kota modern yang sangat sibuk. Di tengah masyarakat yang berbeda kultur dan keyakinan, mereka membangun komunitas kecil yang saling menguatkan. Masjid dan pusat komunitas menjadi tempat berkumpul, tempat belajar, sekaligus tempat menemukan keluarga spiritual di negeri perantauan.

Ketika Ramadhan tiba di Jepang dan Hongkong, suasananya sangat berbeda dengan negeri-negeri Muslim. Tidak ada spanduk Ramadhan di jalan-jalan, tidak ada suara azan yang terdengar di berbagai sudut kota, dan tidak ada keramaian pasar takjil seperti di Indonesia. Kehidupan berjalan seperti biasa: kereta tetap datang tepat waktu, perkantoran tetap sibuk, dan restoran tetap dipenuhi orang yang makan pada siang hari.

Bagi seorang Muslim yang berpuasa, kondisi ini tentu menjadi tantangan tersendiri. Namun justru dalam suasana seperti itulah puasa terasa lebih bermakna. Ia tidak sekadar menjadi tradisi sosial, melainkan benar-benar menjadi ibadah personal antara seorang hamba dengan Tuhannya.

Masjid menjadi pusat kehidupan spiritual umat Islam selama Ramadhan. Di sanalah mereka berkumpul untuk berbuka puasa, melaksanakan shalat berjamaah, serta mengikuti kajian keislaman. Komunitas Muslim di Jepang dan Hongkong sangat beragam: mahasiswa internasional, pekerja migran, keluarga Muslim dari berbagai negara, hingga warga lokal yang telah memeluk Islam.

Ngisi tablik akbar di aula kbri Tokyo Jepang 2023
Ngisi tablik akbar di aula kbri Tokyo Jepang 2023

Salah satu momen paling mengesankan adalah saat berbuka puasa bersama. Di dalam masjid, umat Islam dari berbagai bangsa duduk dalam satu saf panjang menunggu waktu berbuka. Orang Indonesia, Pakistan, Turki, Bangladesh, Malaysia, Timur Tengah, hingga warga lokal Jepang duduk bersama dalam suasana persaudaraan yang hangat.

Menu berbuka sering kali sederhana—kurma, nasi, sup hangat, atau makanan yang dibawa oleh para jamaah. Namun dalam kesederhanaan itu terasa kehangatan yang luar biasa. Berbuka puasa menjadi ruang pertemuan lintas budaya, ruang berbagi cerita, sekaligus ruang saling menguatkan sebagai sesama Muslim yang hidup di negeri minoritas.

Mengadakan pesantren kilat di kanagawa Jepang 2023
Mengadakan pesantren kilat di kanagawa Jepang 2023

Di sisi lain, kehidupan di Jepang dan Hongkong juga memberikan pelajaran penting tentang karakter masyarakat negara maju. Kedisiplinan menjadi bagian dari budaya sehari-hari. Waktu dihargai dengan sangat serius, aturan dipatuhi dengan kesadaran tinggi, dan setiap orang berusaha menjalankan pekerjaannya dengan penuh tanggung jawab.

Di Jepang, keterlambatan kereta beberapa menit saja sudah dianggap sebagai masalah serius. Di Hongkong, sistem pelayanan publik berjalan sangat efisien karena masyarakatnya memiliki budaya tertib yang kuat. Etos kerja, profesionalitas, dan komitmen terhadap kualitas menjadi nilai yang membentuk kemajuan negara-negara tersebut.

Bagi umat Islam, nilai-nilai ini sebenarnya sangat dekat dengan ajaran agama kita: amanah, disiplin, kejujuran, dan kesungguhan dalam bekerja.

Ngisi tablik akbar di masjid Indonesia Tokyo 2024
Ngisi tablik akbar di masjid Indonesia Tokyo 2024

Dalam salah satu kesempatan, saya berbincang dengan seorang warga Indonesia yang telah bekerja di Jepang selama lebih dari dua puluh tahun. Ia menceritakan refleksi hidupnya.

“Dulu kami datang dengan keyakinan bahwa jika bekerja seperti orang Jepang—disiplin dan bekerja keras seperti robot—kami akan bahagia. Dan memang benar, secara materi kami berhasil. Tapi lama-lama terasa hampa. Hidup hanya diisi oleh pekerjaan.”

Ia kemudian melanjutkan, “Sampai akhirnya kami mulai datang ke masjid, ikut mengaji, dan mengikuti kegiatan keislaman. Sejak itu rasanya seperti lahir kembali. Ibadah di sini menjadi kebutuhan bagi jiwa kami yang lama kosong karena terlalu sibuk mengejar dunia.”

Percakapan itu menjadi pengingat bahwa kemajuan materi saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan terdalam manusia.

Pemberian sertifikat penghargaan oleh Founder masjid as Sholihin Yokohama Jepang 2024
Pemberian sertifikat penghargaan oleh Founder masjid as Sholihin Yokohama Jepang 2024

Dari perjalanan dakwah di Jepang dan Hongkong, setidaknya ada dua pelajaran penting yang bisa kita ambil. Pertama, iman sering kali justru tumbuh lebih kuat ketika seorang Muslim hidup sebagai minoritas. Kedua, kemajuan sebuah bangsa sangat ditentukan oleh karakter masyarakatnya—kedisiplinan, tanggung jawab, dan komitmen terhadap aturan.

Ramadhan di negeri minoritas mungkin tidak seramai di negeri-negeri Muslim. Namun dari sana kita belajar bahwa iman dan kerja keras dapat berjalan beriringan—membangun kehidupan yang tidak hanya maju secara materi, tetapi juga bermakna secara spiritual.

Penulis: Syaikhul Islam
Murobbi Thursina IIBS

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses