Dakwah di Era Digital: Menjaga Adab, Kreativitas, dan Kesesuaian Zaman dalam Menyebar Kebaikan

strategi dakwah di era digital
Dakwah di Era Digital: Menjaga Adab, Kreativitas, dan Kesesuaian Zaman dalam Menyebar Kebaikan. Sumber: MMI.

Media digital sekarang telah membuka peluang luas untuk mengakses segala sesuatu bagi semua orang, termasuk dalam menyebarkan pesan dakwah. Perkembangan tersebut mengubah cara manusia dalam berinteraksi, berkomunikasi, dan mengakses informasi, termasuk dalam penyebaran pesan dakwah.

Dakwah yang biasnya banyak dilakukan melalui kegiatan seperti pengajian, melalui mimbar, ataupu majelis taklim, sekarang dapat dilakukan melalui berbagai platform digital seperti Youtube, TikTok, Instagram, atau media sosial lainnya, karena penyebarannya yang cepat dan meluas.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Perubahan ini memberi kesempatan bagi semua orang untuk menyampaikan nilai-nilai ajaran islam kepada masyarakat yang lebih luas dan banyak, terutama pada generasi muda yang dekat dengan dunia digital.

Namun, disamping kesempatan tersebut, terdapat tantangan tersendiri yang mengharuskan seseorang yang menyebar dakwah untuk menjaga etika, adab, dan tanggung jawab terhadap pesan yang disampaikan.

Menurut Dr. moh, aziz dalam bukunya yang berjudul ilmu dakwah, menjelaskan bahwa dakwah berasal dari kata da’a, yad’u, da’watan yan berarti mengajak atau menyeru. Secara konsep dakwah merupakan ajakan kepada seseorang untuk senantiasa melakukan kebaikan dan menjauhi larangan.

Dakwah tidak hanya disampaikan oleh sebatas para ulama saja, tapi juga tanggung jawab setiap orang muslim dengan kemampuan dan kapasitasnya masing-masing.

Media sosial membuka peluang baru kepada semua orang untuk selalu menebar kebaikan melalui dakwah dengan berbagai bentuk konten, seperti quotes, vidio pendek, atau pun desain grafis yang menarik dan menginspirasi.

Kegiatan ini menjadikan pesan dakwah mudah diakses oleh masyarakat dan sesuai dengan realita masyarakat modern.

Namun, kemudahan ini juga mempunyai tantangan seperti kurangnya kualitas konten dakwah, adanya pemaknaan agama yang kurang sesuai, serta kebanyakan mengejar popularitas followers, likes, dan jumlah penayangan.

Dalam melakukan dakwah diera digital, keikhlasan dan niat yang lurus menjadi kunci utama yang tidak boleh disepelekan oleh para pendakwah. Dakwah dimedia sosial banyak dilakukan hanya untuk megejar popularitas, sehingga niat yang harusnya bernilai ibadah tergeserkan semata hanya untuk popularitas.

Padahal dakwah yang seharusnya adalah dengan ikhlas demi mendapat ridho yang menjadikan dakwah tersampaikan dengan kebenaran.

Dakwah yang dilakukan secara ikhlas juga mempengaruhi cara penyampaian dakwah, karena seorang yang melakukan dakwah dengan ikhlas cenderung lebih tenang, penyampaiannya tidak provokatif, dan menghindai konflik.

Baca Juga: Mengungkap Jejak Ilmu Kalam di Era Digital: Sejarah, Aliran, dan Tantangan Dakwah Kontemporer

Selain niat yang ikhlas, menggunakan bahasa yang santun juga menjadi peran penting dalam menyampaikan dakwah dimedia sosial. di media sosial seringkali menimbulkan perdebatan dan komentar yang tidak baik, sehingga dakwah dapat berpotensi menjadi ajang konflik.

Dakwah yang disampaikan dengan bahasa yang lemah lembut dan penuh kasih sayang akan lebih mudah menyentuh hari pendengar dan mendorongnya untuk melakukan hal baik.

Oleh karena itu, peggunaaan bahasa yang santun, jelas, peuh kasih sayang, dan tidak menghakimi seseorang menjadi kewajiban pendakwah dalam menyampaikan ajaran islam. Karena kesantunan dalam berbahasa mencerminkan akhlak pendakwah dan apakah ddakwah dapat diterima dengan baik oleh masyarakat.

Selain santun dalam berbahasa, bertanggung jawab dan memverifikasi kebenaran sumber sebelum menyamaikan dakwah dimedia sosial juga sangat penting. Diera modern, informasi sangat mudah tersebar, tapi tidak semua informasi tersebut benar dari sumbernya.

Hoaks, pengambilan kutipan hadits, dan penafsiran ayat Al-Qur’an banyak yang tidak sesuai sumber yang menjadikan penyesatan bagi pendengar.

Prinsip tabayyun dalam penyebaran dakwah sangatlah penting, agar pesan yang disampaikan memiliki dasar yang jelas dan dapat dipercaya masyarakat, menjadi dakwah yang benar-benar sumber ilmu yang  baik, bukan hanya pendapat pribadi.

Etika dalam berdakwah memang sangat penting, tapi agar dakwah dapat diterima dengan efektif, pendakwah perlu mempunyai strategi yang kuat dalam menyampaikan pesan dakwah. Menggunakan bahasa yang sesuai dengan zaman dan ide kreatif memungkinkan dakwah lebih menarik para khalayak tanpa mengurangi nilai ajarannya.

Pendakwah dapat menyampaikan informasi yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat, seperti permasalahan pergaulan, etika dalam menggunakan media sosial, atau upaya menjaga iman di tengah zaman yang modern.

Dakwah yang kreatif dan sesuai dengan dengan realita kehidupan tidak hanya menberikan pemahaman terhadap pendengar, tapi juga memberikan solusi terhadap permaslahan yang dihadapi.

Selain itu, kolaborasi juga menjadi strategi yang penting dalam berdakwah dimedia sosial. Kerja sama antara pendakwah, tokoh masyarakat yang terkenal, komunitas yang memiliki tujuan sama, pesan dakwah dapat tersebar kepada masyarakat yang lebih luas serta dapat meningkatkan kualitas dakwah.

Melalui kolaborasi, dakwah yang disampaikan tidak hanyan pendapat pribadi saja, tapi juga aksi bersama dalam membangun kerjasama dan saling mendukung.

Kolaborasi juga memperluas penyebaran dakwah untuk meningkatkan jangkauan pendengar, dalam berkolaborasi juga harus mempunyai usaha untuk mengembangkan cara pandang dalam penyampaian pesan keagamaan.

Baca Juga: Hikmah Berdakwah bagi Remaja Muslim: Pelajaran Berharga dari Tafsir Surah ‘Abasa

Kegiatan lain yang juga efektif untuk penyampaian dakwah  di media sosial adalah menggunakan metode storytelling, dimana pesan disampaikan melalui bentuk cerita. Dengan menggunakan cerita, dakwah yang tersampaikan memiliki kekuatan emosional yang mampu menyentuh hati pendengar, sehingga membuat pesan lebih mudah diingat dan diterapkan. Storytelling juga membantu pendengar memahami pesan dakwah dengan penyampaian yang menggabungkan dengan realitas kehidupan yang dapat mendorong refleksi dan perubahan sikap seseorang secara alami.

Dengan demikian, penyampaian dakwah diera digital yang seimbang antara etika dan strategi ini tidak hanya memanfaatkan teknologi saja, tetapi juga menjaga nilai-nilai etika Islam.

Keihlasan dan niat yang lurus, kesantunan dalam berbahasa, tanggung jawab dan verifikasi, penggunaan komunikasi yang kreatif dan sesuai zaman, kolaborasi, dan metode storytelling menjadi pondasi agar konten dakwah dimedia sosial dapat tersampaikan efektif dan membawa kebaikan.

Dakwah yang dilakukan denga etika dan rasa tanggung jawab, Dakwah dapat menjadi sarana yang efektif dalam mengembangkan masyarakat yang berakhlak, dapat menebar kebaikan juga, serta saling menjalin toleransi antar masyarakat di tengah arus perkembangan teknologi yang sangat pesat.

Penulis: Alika Naysa As’adani
Mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia UIN Gusdur

Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses