Dua Sisi Berat Badan Lahir Rendah: Sinyal Bahaya dari Kota Maju sekaligus Wilayah Tertinggal

bayi berat badan lahir rendah
Dua Sisi Berat Badan Lahir Rendah: Sinyal Bahaya dari Kota Maju sekaligus Wilayah Tertinggal. Sumber: MMI.

Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) adalah kondisi bayi lahir dengan berat di bawah 2.500 gram. BBLR merupakan indikator awal kualitas manusia Indonesia di masa depan. Bayi BBLR memiliki risiko kematian neonatal yang tinggi dan berpeluang 2,19 kali lebih besar mengalami stunting.

Selama ini, stigma BBLR adalah “penyakit” kemiskinan dan ketertinggalan. Namun, analisis terbaru terhadap data Riskesdas 2013, 2018, dan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mengungkap pergeseran pola yang mengejutkan. Peta masalah kesehatan Indonesia sedang berubah bentuk dan respons kebijakan kita tidak boleh terlambat.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Jika melihat tren nasional dalam satu dekade terakhir, kita akan menemukan dua babak cerita yang kontras. Babak pertama adalah periode penurunan signifikan (2013–2018). Pada masa ini, Indonesia berhasil menurunkan prevalensi BBLR secara signifikan dari 10,2 persen menjadi 6,2 persen.

Keberhasilan ini didorong oleh perbaikan sistem kesehatan dan implementasi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang memperluas akses ibu hamil terhadap layanan medis. Namun, kita kemudian memasuki babak kedua yang mengkhawatirkan yaitu periode stagnansi (2018–2023).

Dalam lima tahun terakhir, angka BBLR nasional “jalan di tempat”, hanya turun tipis menjadi 6,1 persen. Pandemi COVID-19 diperkirakan menjadi faktor penghambat utama, yang mengganggu layanan Posyandu dan pemeriksaan kehamilan rutin. Akan tetapi, angka rata-rata nasional ini menyembunyikan dua fenomena lokal yang saling bertolak belakang.

Anomali di Ibu Kota: Efek Samping Urbanisasi?

Fenomena pertama terjadi di pusat kemajuan. Secara mengejutkan, DKI Jakarta yang merupakan provinsi dengan APBD terbesar dan fasilitas kesehatan terlengkap justru mengalami kenaikan kasus (rebound effect). Prevalensi BBLR di Jakarta naik dari 6,1 persen pada 2018 menjadi 6,7 persen pada 20236.

Mengapa wilayah semaju Jakarta justru mengalami kemunduran? Data menunjukkan bahwa musuh di perkotaan telah berganti. Pemicunya bukan lagi gizi buruk akibat kelaparan, melainkan determinan lingkungan urban.

Paparan polusi udara yang tinggi dan tingkat stres psikososial pada ibu bekerja terbukti berkorelasi dengan gangguan pertumbuhan janin. Di kota besar, kemajuan ekonomi yang tidak dibarengi perlindungan kesehatan lingkungan dan mental justru menjadi bumerang bagi kesehatan janin.

Baca Juga: Sosialisasi Penanganan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) di Rumah Sakit Mitra Medika Tanjung Mulia

Realitas Baru di Timur: Membuka Kotak Pandora

Fenomena kedua terjadi di wilayah timur. Kebijakan pemekaran wilayah (Daerah Otonomi Baru/DOB) di Papua berhasil menyingkap masalah yang selama ini tertutup data agregat. Provinsi Papua Tengah kini tercatat sebagai provinsi dengan prevalensi BBLR tertinggi di Indonesia, mencapai 8,0 persen.

Sebelum pemekaran, angka tinggi ini “tenggelam” dalam rata-rata statistik provinsi induknya. Tingginya angka di Papua Tengah menegaskan bahwa tantangan klasik belum selesai.

Di wilayah pegunungan ini, masalah utamanya adalah akses fisik yang sulit, minimnya tenaga kesehatan, dan kendala geografis yang menghambat ibu hamil mencapai fasilitas kesehatan.

Pergeseran Strategi: Menuju Intervensi Presisi

Kita dapat menyimpulkan dari data satu dekade bahwa kesenjangan antarwilayah memang menyempit (tidak ada lagi provinsi dengan angka ekstrem di atas 10 persen), tetapi masalah kini terpecah ke dalam kantong-kantong spesifik (pockets of vulnerability). Oleh karena itu, strategi penanganan BBLR tidak bisa lagi dipukul rata.

Baca Juga: Waspada KEK! Ancaman Gizi yang Sering Tak Disadari Ibu Hamil

Kita memerlukan intervensi kesehatan presisi (precision public health). Untuk Wilayah Perkotaan (seperti Jakarta), fokus kebijakan harus pada pengendalian polusi udara, regulasi cuti hamil yang lebih baik, dan dukungan kesehatan mental bagi ibu pekerja.

Untuk Wilayah Tertinggal (seperti Papua Tengah), fokus tetap pada pembangunan infrastruktur dasar, pendekatan jemput bola (klinik bergerak), dan pemenuhan gizi ibu hamil.

Stagnasi angka nasional adalah “lampu kuning”. Jika kita tidak menyesuaikan strategi dengan karakteristik lokal masing-masing daerah, baik di hutan beton maupun di pegunungan, kita akan kesulitan menyelamatkan generasi masa depan dari ancaman BBLR.

Penulis:
1. Ghifary Hanan Noor
2. Fransisco Handito Hadimurti
3. Nayla Aqilah
4. Fairuzananda Kevinsyah Sieraj
Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI)

Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses