Dampak Kegagalan Pengawasan Manajemen Korporasi terhadap Kerentanan Sosial dan Lingkungan

Manajemen Korporasi
Ilustrasi Manajemen Korporasi (Sumber: MMI)

Baru-baru ini telah terjadi kerusakan hutan yang berujung pada terjadinya banjir bandang di Pulau Sumatera, banjir bandang merupakan permasalahan lingkungan serius yang sering terjadi diberbagai wilayah di Indonesia. Fenomena ini tidak dapat dipandang semata-mata sebagai akibat dari faktor alam atau cuaca ekstrem, melainkan berkaitan dengan aktivitas ekonomi yang tidak terkendali.

Berbagai laporan media dan temuan lembaga penelitian menunjukkan bahwa pembalakan hutan masih dilakukan secara besar-besaran dan meluas, pembalakan hutan diduga melibatkan korporasi, hal ini telah  menyebabkan hutan kehilangan perannya sebagai pelindung alam dan penunjang kehidupan masyarakat.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Lemahnya pengawasan manajemen korporasi terhadap aktivitas operasional di kawasan hutan mengakibatkan eksploitasi sumber daya alam berlangsung tanpa memperhatikan prinsip keberlanjutan. Oleh karena itu, kegagalan pengawasan manajemen menjadi titik awal kerusakan lingkungan sehingga menyebabkan banjir badang.

Kegagalan pengawasan manajemen korporasi tidak hanya berdampak pada kerusakan lingkungan saja, tetapi juga menimbulkan kerentanan social yang signifikan bagi masyarakat sekitar. Ketika hutan rusak akibat penebangan liar dan alih fungsi lahan yang tidak terkendali, daya serap tanah terhadap air hujan menurun secara drastis sehingga banjir bandang mudah terjadi.

Baca juga: Mengapa Budaya Korporat Berperan Penting dalam Meningkatkan Kinerja Karyawan

Data dari lembaga riset nasional menunjukkan bahwa sebagian besar bencana  banjir bandang di Sumatera dipicu oleh kerusakan lingkungan, bukan semata karena faktor cuaca eskrem. Kondisi ini menyebabkan masyarakat kehilangan tempat tinggal, sumber mata pencaharian, serta akses terhadap infrastruktur dasar.

Dengan demikian, kegagalan tata kelola korporasi memperluas dampak bencana dari asoek lingkungan ke ranah social, sehingga masyarakat menjadi kelompok paling rentan akibat keputusan keputusan manajerial yang tidak bertanggung jawab.

Dalam persepktif manajemen, penerapan tata kelola korporasi yang baik seharusnya menjadi mekanisme utama untuk mecegah kerusakan lingkungan. Prinsip akuntabilitas dan tanggung jawab menuntut manajemen perusahaan untuk memastikan seluruh aktivitas bisnis mematuhi regulasi lingkungan dan etika keberlanjutan. Namun, sejumlah kasus menunjukkan bahwa pengawasan internal sering kali bersifat administratif dan tidak disertai evaluasi ketat.

Hal ini membuka peluang terjadinya praktik pembalakan liar yang melibatkan kepentingan korporasi, baik secara langsung maupun tidak langsung. Ketika fungsi pengendalian dan pengawasan diabaikan, risiko lingkungan meningkat dan potensi bencana menjadi tidak terhindarkan. Oleh sebab itu, lemahnya pengawasan manajemen mencerminkan kegagalan structural dalam tata kelola korporasi.

Kegagalan pengawasan manajemen korporasi terbukti berkontribusi besar terhadap kerusakan hutan dan meningkatnya kerentanan sosial serta lingkungan. Permasalahan ini menegaskan bahwa tanggung jawab korporasi tidak hanya berorientasi pada pencapaian keuntungan ekonomi, tetapi juga pada perlindungan ekosistem dan kesejahteraan masyarakat.

Penguatan tata kelola korporasi melalui pengawasan yang efektif, kepatuhan terhadap regulasi lingkungan, serta komitmen terhadap prinsip pembangunan berkelanjutan merupakan langkah strategis yang tidak dapat ditawar.

Tanpa perbaikan serius dalam sistem pengawasan manajemen, kerusakan hutan dan bencana banjir bandang akan terus berulang. Oleh karena itu, manajemen korporasi memiliki peran kunci dalam menciptakan keseimbangan antara kepentingan ekonomi, kelestarian lingkungan, dan keadilan sosial.

Kata Kunci: Kerusakan hutan, banjir bandang, tata kelola korporasi, pengawasan manajemen, tanggung jawab lingkungan, kerentanan sosial, pembangunan berkelanjutan.

 

Referensi

Arah Publik. (2025). Dugaan pembalakan hutan secara liar picu banjir bandang Sumatera, eks penyelidik KPK yakin dilakukan korporasi. Diakses dari https://www.arahpublik.com/berita-publik/1256941299/dugaan-pembalakan-hutan-secara-liar-picu-banjir-bandang-sumatera-eks-penyelidik-kpk-yakin-dilakukan-korporasi

Arah Publik. (2025). Penyebab bencana banjir Sumatera bukan cuaca ekstrem semata, BRIN: 80 persen dipicu kerusakan lingkungan. Diakses dari https://www.arahpublik.com/berita-publik/1256972499/penyebab-bencana-banjir-sumatera-bukan-cuaca-ekstrem-semata-brin-80-persen-dipicu-kerusakan-lingkungan?page=2

CNN Indonesia. (2025). Temuan terkini soal pembalakan liar di hutan Sumatra penyebab banjir. Diakses dari

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20251208085156-12-1303982/temuan-terkini-soal-pembalakan-liar-di-hutan-sumatra-penyebab-banjir

 


Penulis: Kelompok 8

  1. Risa Rediana Nugraha (0301524046)
  2. Sinbi Idelia Anugrah (0301524052)
  3. Beta Windyana Putri (0301524008)

Mahasiswa Manajemen, Universitas Al-Azhar Indonesia


Dosen Pengampu: Prof. Dr. Dewi Elfidasari, S.Si., M.Si


Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses