Dari Cup ke Citra Diri: Perilaku Konsumtif dan Identitas Sosial Mahasiswa Pelanggan Kopi Kenangan di Jakarta

Kopi Kenangan
Ilustrasi Kopi Kenangan (Sumber: MMI)

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara identitas sosial dan perilaku konsumtif pada mahasiswa urban pelanggan Kopi Kenangan di Jakarta. Perilaku konsumtif yang semakin meningkat di kalangan generasi muda perkotaan menjadi fenomena yang relevan untuk dikaji dari perspektif psikologi sosial, terutama kaitannya dengan pembentukan identitas melalui aktivitas konsumsi.

Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain korelasional. Partisipan berjumlah 41 mahasiswa aktif berusia 18–25 tahun yang berdomisili atau beraktivitas di Jakarta dan pernah membeli produk Kopi Kenangan dalam tiga bulan terakhir, dipilih menggunakan teknik purposive sampling.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner daring yang memuat Skala Perilaku Konsumtif (29 item, mengacu pada Fitriyani et al., 2013) dan Social Identity Scale versi Indonesia 18 item (Alviano & Saloom, 2022). Analisis data menggunakan uji korelasi nonparametrik Kendall’s Tau-b dan Spearman’s Rho.

Hasil menunjukkan terdapat hubungan positif yang signifikan antara identitas sosial dan perilaku konsumtif (Kendall’s Tau-b = 0,260, p = 0,021; Spearman’s Rho = 0,349, p = 0,025), dengan kekuatan hubungan dalam kategori cukup. Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin kuat identitas sosial mahasiswa sebagai bagian dari komunitas pelanggan Kopi Kenangan, semakin tinggi pula kecenderungan perilaku konsumtifnya.

Penelitian ini memberikan kontribusi empiris terhadap pengembangan psikologi konsumen dan psikologi sosial, khususnya dalam memahami dinamika konsumsi yang dilatarbelakangi motif identitas di kalangan generasi muda perkotaan Indonesia.

Kata kunci: perilaku konsumtif, identitas sosial, mahasiswa, Kopi Kenangan, psikologi konsumen

 

Pendahuluan

1. Latar Belakang

Perkembangan industri kopi di indonesia telah mengalami peningkatan yang luar biasa, karena kopi bukan hanya sekedar minuman tetapi beberapa tahun belakang ini kopi telah berubah sebagai sebuah gaya hidup terutama di kalangan para anak muda.

Salah satu perusahaan kopi yang memiliki pengaruh besar yaitu kopi kenangan, sebuah merek kopi kekinian yang berhasil menjadi pilihan utama para mahasiswa urban di jakarta dan juga berbagai kota besar lainnya. Fenomena tersebut dapat menarik perhatian para akademis karena pada aktivitas mengkonsumsi kopi tersebut terdapat dinamika psikologis dan sosial yang dapat berkaitan dalam membentuk dan menampilkan identitas sosialnya.

Pada masyarakan urban di indonesia coffee shop telah berkembang menjadi ruang sosial yang multifungsi karena banyak mahasiswa datang tidak hanya untuk menikmati kopinya saja tetapi untuk belajar, bersosialisasi, dan juga menampilkan identitas diri mereka kepada lingkungan sosialnya.

Menurut Hapsari dan Wijaya (2024) bahwa coffee shop telah menjadi bagian integral dari gaya hidup mahasiswa perkotaan, di mana kehadiran ditempat tersebut berfungsi sebagai penanda status sosial dan afiliasi kelompok. Tren ini sejalan dengan meningkatnya ekonomi dan budaya konsumsi kopi di indonesia yang dolaporkan oleh berbagai kajian sosial ekonomi terbaru (Duala Oktoriani, 2026)

Perilaku konsumtif pada kalangan mahasiswa dapat menjadi perhatian serius dalam kajian psikologis sosial. Menurut Fitriyani et al., (2023) dalam penelitian klasik mereka menemukan adanya hubungan yang signifikan antara korformitas dengan perilaku konsumtif pada mahasiswa, menunjukkan bahwa adanya tekanan kelompok sebaya yang memainkan peran penting dalam mendorong individu untuk berperilaku konsumtif.

Penemuan ini diuji kembali pada konteks urban jakarta oeh peneliti terbaru tahun 2024 yang menunjukkan pola serupa pada mahasiswa, konformitas terhadap norma kelompok dapat mendorong peningkatan perilaku konsumtif secara signifikan seain konformitas, karena faktor gaya hidup yang hedon juga dapat berkorelasi positif dengan prilaku konsumtif pada mahasiswa (Thamrin & Saleh, 2021). Hal tersebut semakin memperkuat argumen bahwa konsumsi kopi kekinian tidak dapat dilepas dari aspek identitas dan dorongan sosial.

2. Fenomena

Kopi kenangan adalah salah satu merek kopi lokal dengan nilai yang tinggi di asia tenggara karena berhasil untuk menciptakan komunitas bagi konsumen yang loyal khususnya pada kalangan mahasiswa.

Kopi kenangan mempunyai banyak gerai yang selalu memiliki antrian panjang dan memiliki tempat yang bagus serta cup kopi kenangan yang dapat menjadi bagian dari identitas sosial penggunanya. Collega coffee dan berbagai gerai yang mirip telah membuka kontribusi dalam membangun identitas sosial konsumennya (Rizqiadni et al., 2025).

Keterikatan mahasiswa untuk mengunjungi coffee shop umumnya muncul karena melihat aktivitas teman atau lingkungan sosialnya. Hal ini sesuai dengan penelitian Ludviyah et al., (2022) yang menyatakan bahwa coffee shop telah berkembang menjadi bagian dari budaya populer, yang ditandai dengan munculnya tren nongkrong sebagai gaya hidup yang diikuti secara luas (Siregar & Marnelly, 2026).

Sebagian besar mahasiswa dalam satu lingkungan memiliki kebiasaan yang sama. Sejalan dengan penelitian Idrus et al., (2023) yang menjelaskan bahwa aktivitas mengunjungi coffe shop telah menjadi kebiasaan yang dilakukan secara berulang dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari bagi anak muda (Siregar & Marnelly, 2026).

Pada era digital ini fenomena tersebut semakin diperkuat oleh berbagai media sosial. Media sosial sangat memiliki peran krusial dalam membentuk identitas konsumen pada anak muda, postingan dan konten yang terkait dengan konsumsi menjadi media ekspresi untuk identitasnya yang dapat mempengaruhi (Wilska et al., 2023).

Pada perilaku konsumtif generasi Z dalam era digital ini menunjukkan bahwa batas antara identitas yang asli dan identitas yang diskonstruksi melalui konsumsi akan semakin kabur serta menciptakan siklus konsumen yang didorong oleh kebutuhan validasi pada sosial digital (Harahap et al., 2023).

3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan pada penelitian tersebut maka penelitian ini memiliki beberapa tujuan, yaitu mendeskripsikan tingkat pada perilaku konsumtif kepada mahasiswa urban pelanggan kopi kenangan dijakarta, serta mendeskripsikan tingkat identitas sosial pada mahasiswa urban pelanggan kopi kenangan dijakarta, dan menguji hubungan antara identitas sosial dan perilaku konsumtif pada mahasiswa urban pelanggan kopi kenangan yang berada dijakarta.

Hasil penelitian tersebut diharapkan dapat memberikan pengembangan ilmu psikologi konsumen dan juga psikologi sosial yang khususnya untuk memahami dinamika konsumen menggunakan identitas di kalangan generasi muda perkotaan di indonesia.

 

Kajian Teori

1. Perilaku Konsumtif

Perilaku konsumtif merupakan sebuah kecenderungan seseorang untuk membeli atau mengosumsi barang dan jasa secara berlebihan atau melampui kebutuhan yang sebenarnya dan seringkali didorong oleh keinginan untuk mendapat kepuasan subjektif atau pengakuan oleh sosial (fitriyani et al., 2013).

Pada konteks mahasiswa maka perilaku konsumtif dapat dikaitkan dengan tahap perkembangan identitas yang sedang berlangsung, individu yang aktif mencari dan mengekspresikan jati dirinya melalui berbagai bentuk konsumsi.

Menurut Thamrin dan Saleh (2021) bahwa gaya hidup hedonis merupakan salah satu prediktor tentang perilaku konsumtif pada mahasiswa. Gaya hidup hedonis dapat dilihat pada orientasi kesenangannya, kenikmatan indra, dan menghindar dari hal yang tida menyenangkan.

Dalam pengkonsumsian kopi di coffee shop memiliki dimensi hedonis yang terlihat pada pemilihan tempat yang instagramable, produknya yang estetik, dan juga pengalaman konsumen yang dapat memberikan rasa senang dan status sosial.

Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara gaya hidup hedonis dengan perilaku konsumtif, yang artinya semakin tinggi gaya hidup maka semakin tinggi juga perilaku konsumtif dan sebaliknya jika semakin rendah daya hidup maka semakin rendah dalam berprilaku konsumtif (Thamrin & Saleh, 2021).

Konformitas terhadap norma kelompok merupakan faktor penting yang berkontribusi pada perilaku konsumtif mahasiswa. Kondisi tersebut menyebabkan munculnya pemborosan yang dilakukan mahasiswa kos dalam penggunaan uangnya, sehingga hal ini penting untuk diteliti.

Berdasarkan fenomena tersebut terdapat hubungan antara konformitas dengan perilaku konsumtif pada mahasiswa Geruk Indah Semarang (Fitriyani et al., 2013). Temuan tersebut sejalan dengan penelitian yang dilihat pada mahasiswa dijakarta yang memperihatkan pola hubungan yang sama.

Konformitas dalam hai ini dapat dipahami sebagai perubahan perilaku yang diakibatkan adanya tekanan nyata atau yang dibayangkan oleh kelompoknya. Ketika lingkungan pertemanan mahasiswa terbiasa nongkrong di kopi kenangan serta individu yang ingin diterima pada kelompok tersebut cenderum akan mengikuti pola konsumsi yang sama bahkan dapat melampaui kemampuan finansial mereka (Anjani et al, 2025).

Perilaku konsumsi pada mahasiswa di coffee shop dapat mencerminkan pergeseran nilai dikalangan generasi muda urban. Keputusan berkunjung ke coffee shop tidak hanya dipengaruhi oleh kualitas produk melainkan oleh faktor sosial seperti suasananya, lokasi strategis, dan juga kemampuan tempat dalam mendukung membentuk dan menampilkan identitas sosial pada pengunjungnya (Siregar & Marnelly, 2026).

2. Identitas Sosial

Identitas sosial merupakan bagian pada konsep diri seseorang yang berasal dari anggota dalam kelompok sosialnya beserta dengan nilai dan signifikansi emosional yang melekat pada anggota tersebut (Alviano & Saloom, 2022). Pada teori identitas sosial menjelaskan bahwa manusia secara alamiah mengkategorikan dirinya dan orang lain kedalam berbagai kelompok sosial dan anggota dalam kelompok menjadi sumber penting dari rasa percaya diri dan harga dirinnya.

Alviano dan Saloom (2022) dalam penelitian validasi mereka yang dipublikasikan berhasil mengembangkan dan menvalidasi instrumen pengukuran identitas sosial dengan versi indonesia tetapi menggunakan metode Confirmatory Factor Analysis (CFA).

Penelitian ini juga menegaskan bahwa konstruk identitas sosial dapat diukur secara reliabel dalam konteks budaya indonesia dan berisi dimensi utama seperti kognitif atau kesadaran dengan anggota kelompok, afektif atau ikatan emosional pada kelompok, dan evaluatif atau penilaian positif negatif kepada kelompok. Validasi instrumen ini penting karena memberikan alat ukur yang benar untuk penelitian selanjutnya mengenai identitas sosial di indonesia

Identitas sosial secara positif mempengaruhi customer engagement dan purchase intention terhadap produk pada budaya dan kreatif (Zhang & Li, 2022). Hal ini sesuai dengan konteks kopi kenangan yang berhasil memposisikan dirinya bukan hanya produk minuman tetapi sebagai produk gaya hidup yang memiliki nilai identitas bagi yang mengkonsumsinya.

Ketika konsumen dapat mengidentifikasi diri mereka dengan sebuah merek tertentu maka loyalitas merek akan terbentuk bukan hanya didasari pada kualitas produk tetapi pada sejauh mana merek dapat mempresentasikan atau memperkuat identitas sosialnya.

Meminum kopi ditempat tertentu dapat menjadi penanda identitas bagi generasi milenial dan gen Z untuk membangkitkan motivasi (Oktoriani, 2026). Pilihan coffee shop merupakan pernyataan identitas yang disengaja dan konsumen memiliki gerai kopi bukan hanya berdasarkan rasa kopi saja tetapi berdasrkan citra sosial yang ingin mereka bentuk (Rizqiadni et al, 2025).

3. Hubungan antara Identitas Sosial dan Perilaku Konsumtif

Hubungan antara identitas sosial dan perilaku konsumtif telah mendapatkan perhatian yang lumayan besar dalam literatur psikologi sosial dan konsumen. Penelitian mengenai hubungan antara identitas sosial dan kecederungan perilaku konsumtif  memberikan bukti empiris diawal bahwa individu yang memiliki identitas sosial kuat dengan kelompok maka cenderum menunjukkan perilaku konsumtif yang lebih tinggi, khususnya terhadap produk yang dianggap sebagai tanda anggota atau afiliasi kelompok (Meganingrum & Fauziah, 2017).

Dalam perspektif lain perilaku konsumtif generasi Z di era digital tidak bisa dipisahkan oleh dinamika identitas sosial mereka (Harahap et al., 2023). Generasi yang tumbuh bersama media sosial maka terbiasa membangun dan mengekspresikan identitas mereka melalui konten digital yang sering kali menampilkan produk atau pengalaman konsumsi tertentu.

Media sosial tidak hanya merefleksikan tetapi secara aktif membentuk identitas konsumen anak muda, menciptakan tekanan sosial yang mendorong konsumsi sebagai sarana ekspresi dan mendapat validasi sosial (Wilska et al., 2023). Pada konteks ini mengposting foto minuman depan logo kopi kenangan di instagram atau tiktok bukan hanya berbagi momen tetapi agar memberikan pernyataan identitas yang secara sadar atau tidak sadar untuk konsumsi publik.

Mekanisme psikologis yang menghubungkan identitas sosial dengan perilaku konsumtif dapat dijelaskan pada jalur konformitas yaitu individu berprilaku konsumtif untuk menyesuaikan diri dengan norma kelompok sosial yang ingin mereka ikuti, melalui jalur diferensiasi yaitu individu mengosumsi produk atau merek tertentu untuk membedakan diri dari kelompok lain dan menegaskan keunikan identitas kelompok, dan jelur ekspresi diri yaitu konsumsi menjadi nemingkat untuk mengekspresikan nilai, aspirasi, dan kelengkapan yang dianggap dapat melambangkan kelompok sosial yang didefinisikan orang dirinya (Fitriyani et al., 2013). Pada ketiga mekanisme tersebut dapat berfungsi secara bersamaan dalam konteks konsumsi kopi mahasisiwa urban.

Kopi kenangan sebagai merek yang telah berhasil membangun loyalitas menggunakan identitasnya, berbeda dengan kopi konvensional atau dengan merek kopi yang premium.

Kopi kenangan memposisikan dirinya sebagai merek kopi lokal yang bangga dengan keindonesiaan yang dimiliki tetapi tetap didambakan dan juga kekinian. Strategi tersebut menciptakan keakraban yang kuat pada mahasiswa urban yang sedang dalam penyesuaian yang dimiliki tanpa menghilangkan jati dirinya.

 

Metode

1. Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Desain korelasional digunakan untuk mengetahui hubungan antara identitas sosial dengan perilaku konsumtif pada mahasiswa pelanggan Kopi Kenangan di Jakarta. Data penelitian diperoleh melalui penyebaran kuesioner menggunakan skala Likert dan dianalisis secara statistik untuk melihat hubungan antarvariabel penelitian (Creswell & Creswell, 2018).

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah identitas sosial, sedangkan variabel terikat adalah perilaku konsumtif. Penelitian ini tidak memberikan perlakuan atau manipulasi terhadap variabel penelitian, melainkan hanya mengukur dan menganalisis hubungan yang terjadi secara alami pada responden.

2. Partisipan

Partisipan dalam penelitian ini adalah mahasiswa yang berdomisili atau beraktivitas di Jakarta dan pernah membeli produk Kopi Kenangan dalam tiga bulan terakhir. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling, yaitu pemilihan responden berdasarkan karakteristik tertentu yang relevan dengan tujuan penelitian (Etikan et al., 2016).

Kriteria partisipan meliputi: (1) berstatus mahasiswa aktif, (2) berusia 18–25 tahun, (3) pernah membeli atau mengonsumsi produk Kopi Kenangan minimal satu kali dalam tiga bulan terakhir, dan (4) bersedia menjadi responden penelitian. Jumlah responden yang digunakan minimal 40 orang sesuai ketentuan tugas penelitian kuantitatif sederhana. Data dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner secara daring menggunakan Google Form.

3. Instrumen Penelitian

a. Skala Perilaku Konsumtif

Variabel perilaku konsumtif diukur menggunakan skala perilaku konsumtif yang mengacu pada penelitian Fitriyani, Widodo, dan Fauziah (2013). Perilaku konsumtif didefinisikan sebagai kecenderungan individu untuk membeli atau mengonsumsi barang dan jasa secara berlebihan yang lebih didasarkan pada keinginan dibandingkan kebutuhan rasional.

Menurut Fitriyani et al. (2013), perilaku konsumtif pada mahasiswa sering kali dipengaruhi oleh faktor sosial, seperti kebutuhan untuk diterima dalam kelompok dan kecenderungan mengikuti perilaku konsumsi teman sebaya.

Skala perilaku konsumtif yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas 29 item pernyataan yang mengukur kecenderungan responden dalam melakukan konsumsi secara berlebihan, membeli karena dorongan emosional, membeli untuk memperoleh pengakuan sosial, serta membeli demi mengikuti tren yang berkembang di lingkungan sosial. Semakin tinggi skor yang diperoleh responden menunjukkan semakin tinggi tingkat perilaku konsumtif yang dimiliki.

Instrumen menggunakan format skala Likert lima pilihan jawaban, yaitu 1 (sangat tidak sesuai), 2 (tidak sesuai), 3 (netral), 4 (sesuai), dan 5 (sangat sesuai). Skala ini dipilih karena telah digunakan dalam penelitian perilaku konsumtif pada mahasiswa Indonesia dan terbukti mampu mengukur kecenderungan perilaku konsumtif yang berkaitan dengan faktor sosial dan psikologis (Fitriyani et al., 2013).

b. Skala Identitas Sosial

Variabel identitas sosial diukur menggunakan Social Identity Scale versi Indonesia yang telah diadaptasi dan divalidasi oleh Alviano dan Saloom (2022).

Instrumen ini dikembangkan berdasarkan teori Identitas Sosial yang dikemukakan oleh Tajfel dan Turner serta mengacu pada Social Identity Scale yang dikembangkan oleh Feitosa, Salas, dan Salazar (2012). Proses adaptasi dilakukan agar instrumen sesuai dengan konteks budaya Indonesia dan dapat digunakan pada populasi masyarakat Indonesia.

Alviano dan Saloom (2022) melakukan pengujian validitas konstruk terhadap instrumen ini menggunakan metode Confirmatory Factor Analysis (CFA) pada 258 responden masyarakat perkotaan Indonesia. Hasil pengujian menunjukkan bahwa seluruh item memiliki nilai t-value di atas 1,96 sehingga dinyatakan valid dan layak digunakan untuk mengukur identitas sosial pada populasi Indonesia. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa instrumen memiliki struktur faktor yang sesuai dengan teori identitas sosial yang mendasarinya.

Skala identitas sosial terdiri dari 18 item yang terbagi ke dalam tiga dimensi utama, yaitu categorization (kategorisasi), sense of belonging (rasa memiliki), dan positive attitude (sikap positif). Masing-masing dimensi terdiri dari enam item pernyataan.

Dimensi categorization (kategorisasi) menggambarkan kesadaran individu bahwa dirinya merupakan bagian dari suatu kelompok sosial tertentu. Dimensi ini berkaitan dengan bagaimana individu mendefinisikan dirinya sebagai anggota kelompok dan membedakan kelompoknya dengan kelompok lain. Dalam penelitian ini, kategorisasi merujuk pada sejauh mana mahasiswa memandang dirinya sebagai bagian dari kelompok pelanggan atau pengguna Kopi Kenangan.

Dimensi sense of belonging (rasa memiliki) menggambarkan keterikatan emosional individu terhadap kelompoknya. Individu yang memiliki rasa memiliki yang tinggi cenderung merasa terlibat dalam berbagai hal yang berkaitan dengan kelompok, menganggap keberhasilan kelompok sebagai keberhasilannya, serta merasa memiliki hubungan emosional yang kuat dengan kelompok tersebut.

Dimensi positive attitude (sikap positif) menggambarkan evaluasi positif individu terhadap kelompok yang diikutinya. Dimensi ini mencakup rasa bangga, nyaman, dan senang menjadi bagian dari kelompok. Semakin tinggi sikap positif terhadap kelompok, semakin kuat pula identitas sosial yang dimiliki individu.

Instrumen menggunakan format skala Likert lima pilihan jawaban, yaitu 1 (sangat tidak sesuai), 2 (tidak sesuai), 3 (netral), 4 (sesuai), dan 5 (sangat sesuai). Semakin tinggi skor yang diperoleh responden menunjukkan semakin tinggi tingkat identitas sosial yang dimiliki.

4. Teknik Analisis Data

Analisis data dalam penelitian ini dilakukan menggunakan teknik statistik nonparametrik, yaitu uji korelasi Kendall’s Tau-b dan Spearman’s Rho. Pemilihan kedua teknik tersebut didasarkan pada karakteristik data penelitian yang menggunakan skala Likert yang bersifat ordinal, sehingga tidak wajib memenuhi asumsi distribusi normal sebagaimana disyaratkan dalam statistik parametrik.

Korelasi Rank Spearman merupakan teknik analisis nonparametrik yang dapat digunakan untuk menguji hubungan antarvariabel pada data berskala ordinal dan tidak mengharuskan data berdistribusi normal (Fadilah et al., 2024).

Sementara itu, Kendall’s Tau-b merupakan alternatif yang juga andal untuk mengukur kekuatan dan arah hubungan antara dua variabel ordinal, dengan keunggulan dalam menangani data yang memiliki banyak nilai seri (ties).

Penggunaan kedua uji secara bersamaan bertujuan untuk mempertegas konsistensi hasil analisis, mengingat Yanti dan Akhri (2021) menunjukkan bahwa kedua uji tersebut menghasilkan nilai signifikansi yang hampir sama dan saling melengkapi dalam interpretasi keeratan hubungan.

Interpretasi kekuatan hubungan mengacu pada kategorisasi koefisien korelasi menurut Sarwono (2015), yaitu: 0,00–0,25 (hubungan sangat lemah), 0,26–0,50 (hubungan cukup), 0,51–0,75 (hubungan kuat), dan 0,76–0,99 (hubungan sangat kuat). Seluruh proses analisis data dilakukan dengan bantuan perangkat lunak SPSS versi 25.

 

Hasil

1. Uji Korelasi Identitas Sosial dengan Perilaku Konsumtif

Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan uji korelasi nonparametrik, yaitu Kendall’s Tau-b dan Spearman’s Rho. Kedua uji ini dipilih karena data penelitian menggunakan skala Likert yang bersifat ordinal dan tidak wajib memenuhi asumsi distribusi normal, sehingga penggunaan statistik nonparametrik lebih sesuai dibandingkan statistik parametrik.

Korelasi Rank Spearman merupakan teknik analisis nonparametrik yang dapat digunakan untuk menguji hubungan antarvariabel pada data berskala ordinal dan tidak mengharuskan data berdistribusi normal. Sejalan dengan itu, apabila tuntutan normalitas untuk koefisien korelasi Pearson tidak terpenuhi, maka digunakan koefisien korelasi nonparametrik seperti korelasi rank Spearman dan korelasi rank Kendall, yang keduanya menuntut variabel diukur sekurang-kurangnya dalam skala ordinal

Hasil analisis korelasi antara identitas sosial (Total_IS) dan perilaku konsumtif (Total_SPK) pada 41 responden mahasiswa urban pelanggan Kopi Kenangan di Jakarta disajikan pada tabel berikut.

Tabel 1. Hasil Uji Korelasi Identitas Sosial dengan Perilaku Konsumtif

Uji Korelasi Variabel Koefisien Korelasi Sig. (2-tailed) N
Kendall’s Tau-b Total_SPK 1,000 . 41
Total_IS 0,260* 0,021 41
Spearman’s Rho Total_SPK 1,000 . 41
Total_IS 0,349* 0,025 41

*: Korelasi signifikan pada taraf 0,05 (2-tailed)

Berdasarkan tabel di atas, hasil uji Kendall’s Tau-b menunjukkan koefisien korelasi sebesar 0,260 dengan nilai signifikansi 0,021 (p < 0,05), sedangkan uji Spearman’s Rho menghasilkan koefisien korelasi sebesar 0,349 dengan nilai signifikansi 0,025 (p < 0,05). Kedua uji statistik secara konsisten menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara identitas sosial dengan perilaku konsumtif.

Untuk menginterpretasikan kekuatan hubungan, penelitian ini berpedoman pada kategorisasi koefisien korelasi. Menurut Sarwono (2015), kriteria tingkat keeratan hubungan koefisien korelasi dapat dikategorikan sebagai berikut: nilai 0,00–0,25 artinya hubungan sangat lemah; nilai 0,26–0,50 artinya hubungan cukup; nilai 0,51–0,75 artinya hubungan kuat; dan nilai 0,76–0,99 artinya hubungan sangat kuat.

Berdasarkan kategorisasi tersebut, nilai Kendall’s Tau-b sebesar 0,260 berada pada kategori cukup, dan nilai Spearman’s Rho sebesar 0,349 juga berada pada kategori cukup, dengan arah hubungan yang positif atau searah.

 

Pembahasan

Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara identitas sosial dan perilaku konsumtif pada mahasiswa urban pelanggan Kopi Kenangan di Jakarta (Kendall’s Tau-b = 0,260, p = 0,021; Spearman’s Rho = 0,349, p = 0,025). Temuan ini sejalan dengan berbagai penelitian sebelumnya yang menegaskan peran identitas sosial dalam membentuk perilaku konsumsi.

Secara metodologis, penggunaan dua uji korelasi nonparametrik secara bersamaan dalam penelitian ini merupakan langkah yang tepat dan dianjurkan. Yanti dan Akhri (2021) menunjukkan bahwa uji korelasi Pearson, Spearman, dan Kendall Tau menghasilkan nilai p yang hampir sama, sehingga keduanya dapat digunakan secara berdampingan untuk memperkuat konsistensi hasil analisis.

Lebih lanjut, perbandingan antara uji Spearman dan uji Kendall menunjukkan bahwa untuk data berjenis ordinal, uji Pearson tidak disarankan, sedangkan uji Spearman dan Kendall Tau tetap direkomendasikan karena lebih sesuai dengan karakteristik data tersebut

Hasil ini sesuai dengan Social Identity Theory yang dikemukakan Tajfel dan Turner, yang menjelaskan bahwa individu cenderung berperilaku mengikuti norma dan ekspektasi kelompok sosial tempat mereka mengidentifikasi diri.

Mahasiswa yang memiliki identitas sosial kuat sebagai bagian dari komunitas pelanggan Kopi Kenangan cenderung meningkatkan frekuensi konsumsinya sebagai upaya mempertahankan dan memperkuat keanggotaan sosial tersebut.

Meganingrum dan Fauziah (2017) menemukan secara empiris bahwa individu dengan identitas sosial yang kuat terhadap suatu kelompok menunjukkan perilaku konsumtif yang lebih tinggi, khususnya terhadap produk yang dipandang sebagai simbol keanggotaan kelompok.

Rizqiadni et al. (2025) menegaskan bahwa pemilihan gerai kopi oleh konsumen muda bukan semata-mata didasarkan pada kualitas produk, melainkan pada citra sosial yang ingin mereka bentuk dan tampilkan. Ketiga, jalur diferensiasi, di mana konsumsi Kopi Kenangan menjadi penanda yang membedakan kelompok mahasiswa urban dari kelompok lainnya sekaligus memperkuat kebanggaan sebagai bagian dari komunitas kopi lokal yang kekinian.

Temuan ini juga sejalan dengan Harahap et al. (2023) yang menyatakan bahwa perilaku konsumtif Generasi Z di era digital tidak dapat dipisahkan dari dinamika identitas sosialnya. Media sosial turut memperkuat hubungan tersebut karena konsumsi tidak hanya terjadi secara fisik di gerai, tetapi berlanjut melalui dokumentasi digital yang berfungsi sebagai validasi identitas sosial di ruang publik virtual (Wilska et al., 2023).

Kekuatan korelasi yang berada pada kategori cukup mengindikasikan bahwa identitas sosial adalah faktor penting, namun bukan satu-satunya penentu perilaku konsumtif mahasiswa. Thamrin dan Saleh (2021) menunjukkan bahwa gaya hidup hedonis juga berkorelasi positif dengan perilaku konsumtif, sehingga terdapat kemungkinan variabel lain seperti konformitas, gaya hidup, dan tekanan sosial digital yang turut berkontribusi secara bersamaan.

 

Simpulan

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan, penelitian ini menyimpulkan beberapa hal berikut. Terdapat hubungan positif yang signifikan antara identitas sosial dan perilaku konsumtif pada mahasiswa urban pelanggan Kopi Kenangan di Jakarta.

Hal ini dibuktikan oleh nilai koefisien Kendall’s Tau-b sebesar 0,260 (p = 0,021 < 0,05) dan Spearman’s Rho sebesar 0,349 (p = 0,025 < 0,05). Arah hubungan yang positif mengindikasikan bahwa semakin kuat identitas sosial mahasiswa terhadap kelompok pengguna Kopi Kenangan, maka semakin tinggi pula kecenderungan perilaku konsumtifnya.

Kedua, berdasarkan kategorisasi Sarwono (2015), kekuatan hubungan antara kedua variabel berada pada kategori cukup, yang mengindikasikan bahwa identitas sosial berkontribusi secara bermakna namun masih terdapat faktor-faktor lain seperti gaya hidup hedonis, konformitas kelompok sebaya, dan pengaruh media sosial yang turut berperan dalam membentuk perilaku konsumtif mahasiswa secara keseluruhan.

Ketiga, konsistensi hasil antara uji Kendall’s Tau-b dan Spearman’s Rho memperkuat kepercayaan terhadap kesimpulan penelitian ini, mengingat kedua uji nonparametrik tersebut secara bersama-sama memberikan bukti yang saling menguatkan (Yanti & Akhri, 2021).

Keempat, temuan ini memberikan kontribusi empiris terhadap pengembangan psikologi konsumen dan psikologi sosial, khususnya dalam memahami dinamika konsumsi yang dilatarbelakangi motif identitas di kalangan generasi muda perkotaan Indonesia.

Penelitian selanjutnya disarankan untuk memperluas jumlah sampel, menambahkan variabel mediasi atau moderasi seperti konformitas dan gaya hidup hedonis, serta menggunakan pendekatan mixed methods agar dapat menggali lebih dalam pengalaman subjektif mahasiswa dalam mengonstruksi identitas sosialnya melalui konsumsi kopi kekinian

 


Penulis:

  1. Ananta Cayla Permata Hasmy
  2. Najwa Alina Putri Alamsyah
  3. Muhammad Nabil Maysan Putra
  4. Alvin Eryandra, S.,Psi., M.Si.

Mahasiswa Psikologi, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka


Dosen Pengampu: Alvin Eryandra, S.,Psi., M.Si.


Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi


Referensi

Alviano, I., & Saloom, G. (2022). Validasi Pengukuran Identitas Sosial Versi Indonesia Dengan Analisis Faktor Konfirmatori (CFA). Jurnal Ilmiah Psikologi, 10(4), 761-769.

Meganingrum, R., & Fauziah, N. (2017). Hubungan Antara Identitas Sosial Dengan Kecenderungan Perilaku Konsumtif Pada Penggemar Batu Akik Dan Batu Mulia Di Semarang. Jurnal Empati, 6(1), 365-373.

Rizqiadni, ZF, Hadiati, H., & Firmansyah, M. (2025). Collega Coffee dan Konstruksi Identitas Sosial Konsumen Perempuan. MUKASI: Jurnal Ilmu Komunikasi , 4 (3), 762-776.

Thamrin, H. T., & Saleh, A. A. (2021). Hubungan Antara Gaya Hidup Hedonis dan Perilaku Konsumtif pada Mahasiswa. Komunida: Media Komunikasi Dan Dakwah, 11(01), 1-12.

Anjani, R. P., Marsofiyati, M., & Utari, E. D. (2025). Hubungan antara Konformitas dengan Perilaku Konsumtif pada Mahasiswi di Jakarta. Mutiara: Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah, 3(1), 01-15.

Oktoriani, D. (2026). Tren Ekonomi dan Budaya Konsumsi Kopi di Indonesia. J. ISO J. Ilmu Sos. Polit. dan Hum, 6(1), 1-10.

Hapsari, ZR, & Wijaya, A. (2024). Kedai kopi dan gaya hidup pelajar perkotaan. Jurnal Aktivitas Remaja dan Luar Ruangan , 1 (2), 75-90.

Wilska, TA, Holkkola, M., & Tuominen, J. (2023). Peran media sosial dalam pembentukan identitas konsumen kaum muda. Sage Open , 13 (2), 21582440231177030.

Zhang, Z., & Li, W. (2022). Keterlibatan pelanggan seputar produk budaya dan kreatif: peran identitas sosial. Frontiers in psychology , 13 , 874851.

Harahap, RH, Marpaung, NZ, & Asengbaramae, R. (2023). Perilaku konsumtif Gen-Z dan identitasnya di era digital. Jurnal Sosiologi Andalas , 9 (2), 183-192.

Fitriyani, N., Widodo, P. B., & Fauziah, N. (2013). Hubungan antara konformitas dengan perilaku konsumtif pada mahasiswa di Genuk Indah Semarang. Jurnal Psikologi, 12(1), 1-14.

Siregar, N. A., & Marnelly, T. R. (2026). PERILAKU KONSUMSI MAHASISWA UNIVERSITAS RIAU DI COFFEE SHOP (STUDI PADA NORMA COFFEE). NUSANTARA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial, 13(6), 1511-1518.

Yanti, C. A., & Akhri, I. J. (2021). Perbedaan uji korelasi Pearson, Spearman dan Kendall Tau dalam menganalisis kejadian diare. Jurnal Endurance, publikasi LLDIKTI Wilayah X.

Fadilah, F., Khoirunisa, G., Salsabila, L., Afifah, A. N., Mariska, M., & Martini, T. (2024). Analisis korelasi Spearman dan Tau Kendall tentang hubungan jumlah makan dalam sehari dengan berat badan mahasiswa Agribisnis. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan. https://doi.org/10.5281/zenodo.13763658

Nurhalijah, S. D., Cahyati, N., Romadhona, A., Maulani, N., & Rahayu, M. S. (2024). Analisis korelasi Spearman untuk mengetahui hubungan antara penggunaan media sosial dan tingkat produktivitas akademis mahasiswa Agribisnis. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan.

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses