Dari Konten Viral ke Pengalaman Nyata: Intensi Perilaku Konsumen Generasi Z pada Kuliner di Pujasera, Blok M

kuliner di pujasera blok m square
Dari Konten Viral ke Pengalaman Nyata: Intensi Perilaku Konsumen Generasi Z pada Kuliner di Pujasera, Blok M. Sumber: MMI.

ABSTRAK

Perkembangan media sosial telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi dan menentukan pilihan konsumsi, terutama pada Generasi Z yang tumbuh di era digital. Salah satu fenomena yang berkembang adalah kuliner viral yang banyak diperkenalkan melalui  media sosial. Fenomena ini juga terlihat pada Pujasera Blok M yang semakin dikenal setelah berbagai konten kuliner viral beredar di platform digital. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat intensi perilaku Generasi Z setelah merasakan pengalaman mengkonsumsi kuliner di Pujasera Blok M yang sebelumnya mereka temukan melalui konten viral di media sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan melibatkan 60 responden Generasi Z pengguna aktif media sosial. Data dikumpulkan menggunakan instrumen Behavioral Intention Scale yang dikembangkan oleh Zeithaml, Berry, dan Parasuraman (1996) dan dianalisis menggunakan statistik deskriptif. Hasil menunjukkan hasil nilai rata-rata intensi perilaku sebesar 32,43 dengan standar deviasi 4,069, skor minimum 20, dan skor maksimum 42. Temuan ini menunjukkan bahwa Generasi Z yang aktif menggunakan media sosial memiliki intensi perilaku yang cenderung positif terhadap kuliner viral di Pujasera Blok M setelah mereka memperoleh pengalaman konsumsi secara langsung. Berdasarkan konsep behavioral intention, kecenderungan tersebut mencerminkan respon perilaku konsumen terhadap suatu produk yang dapat terlihat melalui dimensi Loyalty, Switch, Pay More, External Response dan Internal Response. Temuan ini juga menunjukkan bahwa pengalaman mengkonsumsi kuliner yang sebelumnya dikenal melalui media sosial tidak hanya mendorong keinginan untuk mencoba, tetapi juga berkaitan dengan munculnya berbagai kecenderungan perilaku setelah konsumsi, seperti keinginan untuk melakukan pembelian kembali, kemungkinan berpindah ke produk lain, kesediaan membayar harga yang dianggap sesuai dengan pengalaman yang diperoleh, memberikan rekomendasi kepada orang lain, serta menyampaikan masukan atau keluhan kepada pengelola atas pengalaman yang dirasakan.

Kata Kunci: Intensi Perilaku; Generasi Z; Viral; Pujasera Blok M.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

PENDAHULUAN

Perkembangan media sosial saat ini telah mengubah cara masyarakat mencari informasi dan menentukan apa yang mereka konsumsi, terutama Generasi Z yang tumbuh berdampingan dengan teknologi digital. Media sosial tidak lagi hanya menjadi tempat berbagi cerita, tetapi juga memengaruhi berbagai keputusan sehari-hari, termasuk dalam memilih makanan. Salah satu fenomena yang banyak muncul adalah kuliner viral, yaitu makanan atau minuman yang menjadi populer karena tersebar melalui TikTok, Instagram, dan platform media sosial lainnya.

Di Indonesia, tren ini umumnya berawal dari konten ulasan, rekomendasi, atau pengalaman konsumsi yang kemudian mendorong orang lain untuk ikut mencoba (Andi et al., 2026). Fenomena tersebut juga terlihat pada Pujasera Blok M. Meskipun memiliki konsep yang sederhana seperti pujasera pada umumnya, tempat ini menjadi ramai diperbincangkan setelah banyak konten kuliner viral beredar di media sosial. Banyak orang, khususnya Generasi Z, tertarik untuk datang karena melihat makanan yang sedang populer di internet.

Kondisi ini menunjukkan bahwa keputusan konsumsi Generasi Z tidak hanya dipengaruhi oleh kebutuhan atau rasa, tetapi juga oleh informasi yang mereka temukan di media sosial, seperti visual makanan, ulasan pengguna lain, dan tingkat viral suatu tempat (Adriyansyah et al., 2025). Informasi yang diperoleh melalui media sosial dapat menimbulkan rasa penasaran yang kemudian mendorong seseorang untuk datang, mencoba, dan bahkan merekomendasikan pengalaman tersebut kepada orang lain. Dengan demikian, apa yang dilihat di media sosial tidak berhenti pada proses menerima informasi, tetapi dapat berkembang menjadi tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Fenomena tersebut juga mencerminkan terbentuknya budaya konsumen digital, yaitu pola konsumsi yang dipengaruhi oleh aktivitas, interaksi, dan tren yang berkembang di ruang digital. Generasi Z menjadi kelompok yang paling dekat dengan pola ini karena tumbuh di tengah arus informasi digital yang cepat dan terus-menerus. Oleh karena itu, Generasi Z dipilih sebagai populasi penelitian karena dianggap paling sering terpapar konten kuliner viral sekaligus paling responsif terhadap tren yang berkembang di media sosial.

Baca Juga: Analisis Risiko Operasional pada UMKM Kuliner di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

Penelitian mengenai pengaruh media sosial terhadap perilaku konsumsi telah banyak dilakukan sebelumnya. Meliyanti et al., (2026) menunjukkan bahwa media sosial memiliki pengaruh terhadap perilaku konsumsi individu. Temuan serupa juga dijelaskan oleh Siddiq & Barlian (2026).

Sementara itu, penelitian Tjokrosaputro (2023) menunjukkan bahwa pengalaman yang diperoleh saat mengkonsumsi makanan dapat berkaitan dengan munculnya intensi perilaku pada Generasi Z. Penelitian oleh Sekarsari (2018) juga menunjukkan bahwa kepuasan dari pengalaman konsumen memiliki hubungan dengan  intensi perilaku pada konsumen restoran. Temuan tersebut menunjukan bahwa pengalaman konsumen tidak hanya berhenti pada aktivitas mencoba makanan, tetapi juga dapat berkaitan dengan munculnya perilaku setelah konsumsi.

Namun demikian, penelitian yang secara khusus menganalisis intensi perilaku konsumen untuk berkunjung kembali, dan merekomendasikan suatu tempat kuliner terhadap kuliner viral masih relatif terbatas untuk diteliti. Selain itu, penelitian mengenai fenomena kuliner viral pada lokasi sederhana tetapi populer di media sosial, seperti Pujasera Blok M, juga masih belum banyak ditemukan.

Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat intensi  perilaku konsumen Generasi Z setelah merasakan pengalaman mengkonsumsi kuliner Pujasera Blok M yang sebelumnya mereka temukan dari konten viral di media sosial. Intensi perilaku konsumen dapat tercermin dalam kecenderungan untuk melakukan pembelian kembali, mempertimbangkan berpindah ke produk lain, kesediaan membayar harga yang dianggap sesuai dengan pengalaman, memberikan rekomendasi kepada orang lain dan menyampaikan masukan atau keluhan langsung kepada pengelola atas pengalaman yang diperoleh.

KAJIAN TEORI

Media sosial merupakan platform digital yang memungkinkan pengguna untuk membuat, membagikan, dan memperoleh informasi secara cepat. Dalam konteks konsumsi, media sosial menjadi salah satu sumber informasi yang banyak digunakan untuk mencari referensi mengenai produk maupun layanan, termasuk produk kuliner. Melalui konten berupa ulasan, rekomendasi, dan pengalaman konsumsi, media sosial dapat memengaruhi ketertarikan individu terhadap suatu produk atau tempat kuliner (Andi et al., 2026).

Oleh karena itu, media sosial tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga berperan dalam membentuk preferensi dan perilaku konsumsi masyarakat. Kelompok yang paling dekat dengan perkembangan media sosial adalah Generasi Z. Generasi ini tumbuh di tengah perkembangan teknologi digital sehingga memiliki tingkat keterpaparan yang tinggi terhadap berbagai informasi yang beredar di internet.

Dalam proses pengambilan keputusan konsumsi, Generasi Z sering memanfaatkan media sosial sebagai sumber referensi sebelum mencoba suatu produk atau layanan. Informasi yang diperoleh dari media sosial dapat memengaruhi minat dan ketertarikan mereka terhadap suatu produk maupun pengalaman konsumsi tertentu (Adriyansyah et al., 2025).

Baca Juga: Analisis Penentuan Harga Pokok Produksi (HPP) dengan Metode Variable Costing pada UMKM “Too Long Potato” di Kuliner Rindam Magelang

Untuk memahami kecenderungan perilaku individu setelah menerima informasi tertentu, penelitian ini menggunakan konsep behavioral intention. Menurut Ajzen (1991), behavioral intention merupakan faktor yang paling dekat dalam memprediksi munculnya perilaku aktual seseorang. Dalam Theory of Planned Behavior, niat perilaku dipengaruhi oleh sikap terhadap perilaku, norma subjektif, dan perceived behavioral control. Semakin kuat niat seseorang untuk melakukan suatu tindakan, semakin besar kemungkinan tindakan tersebut diwujudkan dalam perilaku nyata.

Dalam konteks perilaku konsumen, Zeithaml et al. (1992) menjelaskan bahwa behavioral intention dapat digunakan untuk melihat intensi perilaku konsumen terhadap suatu produk atau layanan setelah memperoleh pengalaman maupun informasi terkait produk atau layanan tersebut. Behavioral intention diukur melalui lima dimensi, yaitu Loyalty, Switch, Pay More, External Response dan Internal Response. Kelima dimensi tersebut digunakan untuk menggambarkan intensi perilaku konsumen dalam merespons suatu produk atau layanan dan menjadi dasar pengukuran behavioral intention dalam penelitian ini.

METODE

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif. Pendekatan kuantitatif digunakan untuk mengumpulkan data dalam bentuk angka yang kemudian dianalisis secara statistik, sedangkan desain deskriptif bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai suatu fenomena berdasarkan data yang diperoleh dari partisipan (Sugiyono, 2013) Desain ini dipilih untuk menggambarkan intensi perilaku konsumen Generasi Z setelah terpapar konten kuliner viral di media sosial pada fenomena kuliner viral di Pujasera Blok M.

Seluruh partisipan merupakan Generasi Z pengguna aktif media sosial dan memiliki ketertarikan atau pengalaman terhadap kuliner viral di Pujasera Blok M. Data dikumpulkan secara daring melalui Google Form yang disebarkan kepada partisipan yang memenuhi kriteria penelitian.

Instrumen yang digunakan adalah Behavioral Intentions Scale yang dikembangkan oleh Valarie A. Zeithaml, Leonard L. Berry, dan A. Parasuraman (1996) serta telah diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia. Skala ini digunakan untuk mengukur intensi perilaku konsumen setelah memperoleh pengalaman dalam mengkonsumsi suatu produk atau layanan. Instrumen terdiri dari 13 item pernyataan yang mencakup lima dimensi, yaitu Loyalty, Switch, Pay More, External Response, dan Internal Response (Zeithaml et al., 1992). Kelima dimensi tersebut digunakan untuk mengukur berbagai intensi perilaku konsumen setelah memperoleh pengalaman konsumsi. Setiap item disusun dalam bentuk pernyataan yang kemudian dijawab oleh responden sesuai dengan kondisi dan pengalaman yang mereka rasakan terkait kuliner viral di Pujasera Blok M.

Sebelum digunakan dalam penelitian, instrumen terlebih dahulu melalui proses adaptasi dengan menyesuaikan bahasa dan konteks penelitian agar lebih mudah dipahami oleh responden. Proses adaptasi dilakukan tanpa mengubah makna dari item pada instrumen asli. Selanjutnya, instrumen direview melalui expert judgment untuk menilai kesesuaian isi, kejelasan bahasa, dan relevansi item dengan tujuan penelitian.

Hasil penilaian tersebut digunakan sebagai dasar untuk memperbaiki pernyataan item yang dianggap kurang sesuai. Dari keseluruhan item yang digunakan, terdapat dua item unfavorable yang memerlukan proses reverse scoring sebelum dilakukan analisis data agar arah penilaian seluruh item menjadi konsisten.

Data yang telah terkumpul kemudian diolah menggunakan perangkat SPSS 25. Analisis dilakukan menggunakan statistik deskriptif untuk menggambarkan karakteristik dan kecenderungan data penelitian (Sugiyono, 2013). Statistik yang digunakan meliputi nilai rata-rata (mean), standar deviasi, nilai minimum, dan nilai maksimum. Hasil analisis tersebut digunakan untuk memberikan gambaran mengenai gambaran tingkat intensi perilaku konsumen Generasi Z terhadap fenomena kuliner viral di Pujasera Blok M.

Baca Juga: Modernisasi Kuliner Tradisional: Tim ITB STIKOM Bali Dorong Digitalisasi UMKM Jaje Gina di Batubulan

HASIL

Penelitian ini melibatkan 60 responden Generasi Z yang aktif menggunakan media sosial dan mengetahui kuliner viral di Pujasera Blok M. Dari jumlah tersebut, 48 responden (80%) adalah perempuan dan 12 responden (20%) adalah laki-laki. Dari data tersebut, terlihat bahwa sebagian besar responden dalam penelitian ini adalah perempuan. Jika dilihat dari tahun kelahirannya, sebagian besar responden lahir pada tahun 2004 dan 2005, masing-masing sebanyak 18 orang (30%).

Setelah itu terdapat responden yang lahir pada tahun 2006 sebanyak 7 orang (11,7%), tahun 2003 sebanyak 5 orang (8,3%), tahun 1999 dan 2007 masing-masing sebanyak 4 orang (6,7%), serta tahun 1997 sebanyak 3 orang (5%). Sementara itu, responden yang lahir pada tahun 2012 berjumlah 1 orang (1,7%). Dari data tersebut, terlihat bahwa sebagian besar responden berada pada usia akhir remaja hingga dewasa awal. Kelompok usia ini juga merupakan kelompok yang cukup aktif menggunakan media sosial dalam kehidupan sehari-hari.

Beberapa responden menggunakan lebih dari satu platform media sosial dalam kehidupan sehari-hari untuk mecari rekomendasi atau konten mengenai kuliner di Pujasera Blok M. Jika dilihat dari platform yang digunakan, Instagram menjadi media sosial yang paling banyak digunakan oleh responden, yaitu sebanyak 52 orang (86,7%). Setelah itu terdapat TikTok yang digunakan oleh 49 orang (81,7%), X/Twitter sebanyak 24 orang (40%), dan YouTube sebanyak 21 orang (35%).

Sementara itu, Facebook, Threads, serta WhatsApp dan Spotify masing-masing digunakan oleh 1 orang (1,7%). Dari data tersebut, terlihat bahwa Instagram dan TikTok menjadi media sosial yang paling sering digunakan oleh responden. Hal ini cukup wajar karena kedua platform, yakni  Instagram dan TikTok memang sering digunakan untuk mencari informasi, melihat ulasan, dan memperoleh rekomendasi mengenai kuliner yang sedang viral.

Secara umum, hasil tersebut memberi gambaran bahwa media sosial memang punya peran yang cukup besar dalam menarik perhatian Generasi Z terhadap kuliner viral. Konten yang mereka lihat tidak hanya menjadi sumber informasi atau hiburan, tetapi juga bisa memunculkan keinginan untuk datang, mencoba, membeli, bahkan membagikan pengalaman tersebut kepada orang lain. Jadi, apa yang awalnya hanya muncul di beranda media sosial sering kali berlanjut menjadi pengalaman nyata.

Dalam penelitian ini, media sosial menjadi salah satu tempat responden mengenal kuliner viral di Pujasera Blok M. Video, ulasan, dan rekomendasi yang mereka lihat tidak hanya membuat penasaran, tetapi juga menjadi bahan pertimbangan sebelum memutuskan untuk mencoba. Misalnya, apakah harganya sesuai, lokasinya mudah dijangkau, atau kulinernya cocok dengan selera mereka. Sehingga, informasi yang ditemukan di media sosial tidak berhenti sebagai tontonan saja, tetapi ikut memengaruhi keputusan responden untuk mencoba dan membentuk pengalaman setelah berkunjung.

Hasil analisis menunjukkan bahwa skor intensi perilaku responden berada pada rentang yang cukup beragam, yaitu antara 20–42. Rata-rata skor yang diperoleh adalah 32,43 dengan standar deviasi sebesar 4,069. Skor yang paling sering muncul adalah 33 yang diperoleh oleh 12 responden (20%). Setelah itu, skor 32 diperoleh oleh 10 responden (16,7%) dan skor 31 diperoleh oleh 8 responden (13,3%). Sebagian besar responden juga memiliki skor pada rentang 31–35. Kalau dilihat dari sebaran skornya, banyak responden yang memiliki skor cukup tinggi. Artinya, banyak responden yang menunjukkan ketertarikan yang cukup besar terhadap kuliner viral di Pujasera Blok M.

Melihat berbagai konten yang beredar di media sosial, banyak responden yang merasa penasaran dan ingin mencoba sendiri kuliner yang sedang ramai dibicarakan tersebut. kemudian kembali membeli, menyebarkan atau merekomendasikan kepada orang lain setelah merasakan pengalaman dari kuliner yang beredar di media sosial. Menariknya, jawaban yang diberikan responden juga relatif mirip satu sama lain. Hal ini terlihat dari nilai standar deviasi yang relatif kecil. Dengan kata lain, sebagian besar responden memiliki pandangan yang hampir sama terhadap pengalaman kuliner viral yang mereka temukan di media sosial.

Baca Juga: Nasi Gandul Khas Pati: Sejarah, Keunikan, dan Cara Menikmati Kuliner yang Legendaris

Hasil penelitian ini juga sejalan dengan konsep behavioral intention yang dikemukakan oleh Zeithaml et al., (1992). Menurut konsep tersebut, pengalaman yang dirasakan konsumen setelah mengkonsumsi suatu produk dapat berkaitan dengan munculnya kecenderungan perilaku di masa mendatang terhadap produk tersebut. Dengan kata lain, perilaku konsumen tidak hanya berhenti pada keputusan untuk mencoba suatu produk, tetapi juga mencakup berbagai kemungkinan respons setelah pengalaman konsumsi terjadi.

Hal tersebut juga terlihat pada responden dalam penelitian ini. Setelah mencoba kuliner di Pujasera Blok M, pengalaman yang mereka peroleh ternyata tidak berhenti pada aktivitas mencicipi makanan yang sedang ramai diperbincangkan. Pengalaman tersebut juga berkaitan dengan munculnya berbagai kecenderungan perilaku setelahnya. Ada responden yang ingin kembali membeli, ada yang bersedia merekomendasikannya kepada orang lain, dan ada pula yang mulai mempertimbangkan apakah harga yang dibayarkan sebanding dengan pengalaman yang mereka dapatkan. Dengan kata lain, setelah rasa penasaran untuk mencoba terpenuhi, pengalaman yang dirasakan responden tampaknya ikut berperan dalam membentuk berbagai respons terhadap kuliner yang mereka konsumsi.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa Generasi Z yang aktif menggunakan media sosial memiliki tingkat intensi perilaku yang cukup tinggi terhadap kuliner viral di Pujasera Blok M setelah mereka merasakan pengalaman mengkonsumsinya secara langsung.  Hal ini terlihat dari rata-rata skor responden sebesar 32,43 dengan sebagian besar skor berada pada rentang 31 –35. Selain itu, nilai standar deviasi yang relatif kecil menunjukkan bahwa jawaban responden cenderung serupa, sehingga dapat dikatakan bahwa sebagian besar responden memiliki pandangan yang hampir sama terhadap pengalaman mengkonsumsi kuliner viral yang sebelumnya mereka temukan melalui media sosial.

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa media sosial menjadi salah satu sumber utama responden dalam mengenal kuliner viral di Pujasera Blok M. Sebagian besar responden aktif menggunakan Instagram dan TikTok yang memang banyak menampilkan konten kuliner berupa ulangan maupun rekomendasi dari pengguna lain. Informasi yang mereka temukan melalui media sosial mampu menumbuhkan rasa penasaran dan mendorong mereka untuk datang serta mencoba kuliner yang sedang ramai diperbincangkan. Namun, yang lebih penting bukan hanya keputusan untuk mencoba, melainkan bagaimana pengalaman tersebut kemudian diikuti  oleh munculnya berbagai kecenderungan perilaku setelah konsumsi dilakukan.

Secara umum, intensi perilaku tersebut terlihat melalui kecenderungan responden untuk melakukan pembelian mempertimbangakan harga dalam keputusan pembelian, memberikan rekomendasi kepada orang lain, serta memberikan respons terhadap pengalaman yang mereka peroleh setelah mengkonsumsi kuliner di Pujasera Blok M. Informasi yang mereka temukan melalui media sosial tidak hanya berhenti sebagai sumber informasi atau hiburan, tetapi juga menjadi salah satu pertimbangan sebelum memutuskan untuk mencoba kuliner yang sedang viral.

Baca Juga: Nasi Grombyang: Keunikan Kuliner Legendaris Khas Pemalang, Perpaduan Rasa Mirip Soto dan Rawon

Hasil data menunjukkan, setelah memperoleh pengalaman secara langsung, banyak responden menunjukkan kecenderungan untuk melakukan pembelian kembali atau memilih berpindah produk lain, kesediaan membayar harga yang dianggap sesuai dengan pengalaman, memberikan rekomendasi kepada orang lain, serta menyampaikan masukan atau keluhan langsung kepada pengelola atas pengalaman yang diperoleh.

Temuan ini sejalan dengan konsep behavioral intention dari Zeithaml et al., (1992) yang menjelaskan bahwa pengalaman konsumsi terhadap suatu produk dapat tercermin melalui niat untuk membeli, merekomendasikan, mempertimbangkan harga, serta memberikan respons setelah konsumsi dilakukan. Dengan demikian, penelitian ini memberikan gambaran bahwa Generasi Z yang aktif menggunakan media sosial menunjukkan intensi perilaku yang cenderung positif terhadap kuliner viral di Pujasera Blok M setelah mereka memperoleh pengalaman konsumsi secara langsung.


Penulis:
1. Kanaya Azaria Wijaya
2. Fatimah Nurul Fathi
3. Keisha Kamilah
4. Alvin Eryandra, S.Psi., M.Si.

Mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA)


Dosen Pengampu: Alvin Eryandra, S.Psi., M.Si.


Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi


Daftar Pustaka

Adriyansyah, Awianatasya, M., Azzahraa, S., & Hidayat, P. (2025). Pengguna Media Sosial Oleh Gen Z Terhadap Pemenuhan Kebutuhan Informasi Terkait Rekomendasi Tempat Kuliner. 9(1), 131–143.

Ajzen, I. (1991). The Theory of Planned Behavior. 179–211. https://doi.org/https://doi.org/10.1016/0749-5978(91)90020-T

Andi, T. A., Aprilia, M. R., Martalena, C., Safitri, S. R., Rahajeng, D. I., Sehah, A. N., & Aprilia, N. A. (2026). Analisis Daya Tarik Blok M Sebagai Lokasi Bisnis Kuliner Viral : Study Kasus Cookies Boom. 1(1), 75–80.

Meliyanti, P. V., Subagiyo, R., & Sholihah, U. (2026). Pengaruh Media Sosial, FOMO (Fear of Missing Out) dan Pendapatan terhadap Perilaku Konsumtif Generasi Z di Kabupaten Tulungagung. 7(3). https://doi.org/https://doi.org/10.38035/jemsi.v7i3

Sekarsari, L. A. (2018). Hubungan antara restaurant image, perceived value, customer satisfaction, dan behavioral intention. 15(2), 108–119. https://doi.org/https://doi.org/10.29264/JKIN.V15I2.3743

Siddiq, M. R., & Barlian, B. (2026). Minat Beli Generasi Z terhadap Produk UMKM Kuliner : Peran Kreativitas Konten dan Endorsement Influencer di TikTok. 04(01), 43–54. https://doi.org/https://doi.org/10.59422/lmp.v4i01.1230

Sugiyono. (2013). Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Alfabeta.

Tjokrosaputro, M. (2023). Experietial Value Toward Behavioral Intention of Local Food Through Consumer Attitude : Insight From Gen Z’s in Jakarta. 21(1), 179–190. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.21776/ub.jam.2023.021.1.13.

Zeithaml, V. A., Berry, L. L., & Parasuraman, A. (1992). The Behavioral Consequences of Service Quality. 60, 31–46. https://doi.org/https://doi.org/10.1177/002224299606000203

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses