Di Balik Era Serba Mudah, Generasi Muda Justru Semakin Rentan Burnout

burnout akibat tekanan produktivitas
Gambar: Dok. MMI

Pendahuluan

Di balik era digital yang serba mudah dan serba cepat ini, kehidupan generasi muda sering terlihat lebih praktis dibandingkan generasi sebelumnya.

Hampir semua hal bisa dilakukan hanya lewat gawai, mulai dari belajar, bekerja, sampai mencari hiburan.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Namun, di sisi lain muncul fenomena yang makin sering dirasakan banyak anak muda, yaitu kelelahan mental atau burnout.

Menariknya, kondisi ini justru muncul di era yang katanya paling “mudah” dan penuh kemudahan akses.

Kalau dilihat lebih dalam, burnout ini bukan sekadar rasa capek biasa.

Banyak generasi muda yang sebenarnya tetap aktif tapi di dalam dirinya merasa kosong, lelah, dan kehilangan motivasi.

Data dari Kementerian Kesehatan RI menunjukkan sekitar 4,8% pelajar mengalami gejala depresi dan 4,4% mengalami kecemasan, dengan tingkat yang bahkan lebih tinggi dibanding kelompok usia dewasa.

Angka ini cukup menunjukkan bahwa tekanan mental pada usia muda bukan lagi hal kecil tapi sudah menjadi masalah yang nyata dan perlu diperhatikan.

Budaya Produktivitas yang Menekan

Salah satu penyebab utamanya menurut saya adalah budaya “harus selalu produktif” yang sekarang semakin kuat.

Banyak anak muda merasa kalau diam itu sama dengan tertinggal. Istirahat bahkan sering dianggap malas.

Akhirnya, mereka terus memaksa diri untuk sibuk tanpa benar-benar memikirkan kondisi mentalnya sendiri.

Di titik ini produktivitas bukan lagi hal yang sehat, tapi berubah jadi tekanan.

Peran Media Sosial 

Selain itu, media sosial juga punya peran besar. Kita setiap hari melihat orang lain terlihat sukses, sibuk, produktif, atau punya hidup yang “rapi”.

Walaupun kita sadar itu hanya potongan kecil dari hidup mereka, tetap saja secara tidak sadar kita membandingkan diri sendiri.

Dari situ muncul perasaan kurang, tidak cukup baik, dan takut tertinggal.

Ini yang lama-lama menguras mental karena kita terus merasa harus mengejar sesuatu yang sebenarnya tidak ada habisnya.

Tekanan Akademik dan Masa Depan

Tekanan juga datang dari sisi akademik dan masa depan.

Banyak mahasiswa atau pelajar dituntut untuk cepat lulus, cepat kerja, dan cepat sukses.

Di tengah kondisi ekonomi dan persaingan kerja yang ketat, tekanan ini jadi makin berat.

Akhirnya, banyak yang merasa seperti sedang “berlari tanpa garis finish”, selalu dituntut tapi tidak pernah benar-benar merasa cukup.

Dampak Burnout

Dampaknya cukup jelas. Burnout membuat seseorang kehilangan energi, sulit fokus, dan menurunkan motivasi belajar atau bekerja.

Bahkan hal-hal yang dulu menyenangkan pun bisa terasa tidak menarik lagi.

Rohimat (2021) menegaskan bahwa dalam jangka panjang, kondisi ini juga bisa mengganggu hubungan sosial karena seseorang cenderung menarik diri dan merasa tidak punya tenaga untuk berinteraksi.

Tidak hanya itu, secara fisik pun bisa muncul gangguan seperti sulit tidur, mudah lelah, sampai daya tahan tubuh menurun.

Jika dilihat secara keseluruhan, burnout pada generasi muda bukan sekadar masalah individu, tetapi sudah menjadi masalah sosial.

Kita hidup di lingkungan yang menuntut cepat dan produktif, tetapi tidak selalu memberi ruang untuk berhenti dan memulihkan diri.

Solusi dan Refleksi

Menurut saya, langkah paling dasar adalah mengubah cara pandang terhadap produktivitas.

Tidak semua waktu harus diisi dengan aktivitas yang menghasilkan.

Istirahat adalah kebutuhan, bukan kemalasan.

Selain itu, lingkungan seperti keluarga, teman, dan institusi pendidikan perlu lebih terbuka terhadap isu kesehatan mental agar tidak ada lagi stigma bahwa kelelahan mental adalah tanda kelemahan.

Media sosial juga perlu disikapi dengan lebih sadar.

Tidak semua yang terlihat di layar adalah kenyataan penuh.

Mengurangi kebiasaan membandingkan diri bisa membantu menjaga kesehatan mental.

Selain itu, edukasi tentang kesehatan mental perlu terus diperkuat agar generasi muda lebih paham cara mengelola tekanan hidup.

Penutup

Pada akhirnya, kemudahan di era digital memang membawa banyak keuntungan, tetapi juga tantangan baru yang tidak terlihat.

Yang perlu ditekankan bukan hanya bagaimana menjadi cepat dan produktif, tetapi juga bagaimana tetap sehat secara mental di tengah tekanan yang terus berjalan.


Penulis: Chesya Kori Octavia
Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi, Universitas 17 Agustus Surabaya


Dosen Pengampu: Dheny Jatmiko, S.Hum., M.A.


Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi


Referensi

  1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Laporan kesehatan jiwa pada pelajar Indonesia. Kementerian Kesehatan RI.
  2. The Jakarta Post. (2026, March 11). Indonesia records rising concern over youth mental health issues. https://www.thejakartapost.com
  3. Kompas.com. (2026, April 9). Penelitian ungkap jutaan remaja Indonesia mengalami gangguan kejiwaan. https://www.kompas.com
  4. World Health Organization. (2025). Mental health and well-being among adolescents. https://www.who.int
  5. Rohimat, F. C. A. (2021). Burnout and its impact on individuals. 1(1), 54–60. https://doi.org/10.17509/psikoeduko.v1i1.32832

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses