Konsumerisme pada anak dimulai dari hal-hal kecil yang tampak tidak berbahaya. Ia menonton video unboxing mainan, lalu meminta mainan yang sama. Anda sebagai orang tua melihat harga wajar dan anak senang maka tidak masalah membelikannya. Seminggu kemudian permintaan baru muncul, lalu baru lagi dan lagi. Anda pun mulai bertanya-tanya, “kenapa anak jadi sering rewel minta dibelikan ini itu?”.
Sebelum anda menyalahkan sikap konsumtifnya, coba jawab pertanyaan-pertanyaan ini: berapa lama screen time anak yang anda tetapkan? Satu jam? Dua jam? Apakah anda yakin dengan konten yang mereka tonton?
Selama tidak violent dan tidak vulgar, dianggap aman? Seberapa yakin video tersebut bukan iklan terselubung? Video “bermain” yang sebenarnya disponsori brand? Tahukah anda bahwa iklan terselubung ini adalah mesin konsumerisme yang sedang menghipnotis anak dengan satu video dalam satu waktu?
Tapi bagaimana iklan terselubung ini bisa begitu efektif? Bagaimana video yang “tepat” selalu muncul di layar anak Anda? Mengapa setelah menonton satu video unboxing boneka, tiba-tiba semua video berikutnya juga tentang boneka dengan berbagai warna, merek, dan harga? Ini bukan kebetulan.
Di balik layar yang penuh warna-warni dan suara ceria itu, ada sistem yang bekerja non-stop: sebuah algoritma yang dirancang untuk satu tujuan yaitu membuat anak Anda terus menonton, terus menginginkan, terus meminta dinamakan sistem rekomendasi.
Baca Juga: Fenomena FOMO serta Dampaknya yang seperti Jebakan bagi Anak-Anak Remaja
Apa itu Algoritma Sistem Rekomendasi?
Sistem rekomendasi adalah sebuah AI yang mampu memberikan saran akan sebuah item kepada pengguna. Sistem rekomendasi bergantung kepada analisis big data dan algoritma machine learning (ML) untuk menemukan pola dari perilaku user yang kemudian memberikan rekomendasi akan suatu item berdasarkan pola yang ditemukan.
Tahap dalam algoritma sistem rekomendasi berupa pengumpulan data (gathering), penyimpanan data (storage), analisis data (analysis), penyaringan data (filtering), dan pemurnian data (refining). Pada sistem rekomendasi Youtube misalnya, data pengguna yang disimpan adalah riwayat pencarian, riwayat tontonan, klik, waktu menonton, like, dislike, share, komentar, dan response survey (rating kepuasan) dari pengguna.
Data tersebut dijadikan “signal” untuk Youtube menemukan video yang mungkin ingin pengguna tonton. Selain itu, penggunaan algoritma collaborative filtering yang membagikan video yang disukai satu pengguna kepada pengguna lain dengan pola perilaku user yang sama membuat lingkar interest pengguna semakin luas.
Karena contohnya seorang pengguna yang hanya memiliki interest pada video lagu anak-anak mungkin akan diberikan rekomendasi video boneka labubu karena pengguna lain memiliki interest pada video lagu anak-anak dan boneka labubu.
Baca Juga: Perubahan Budaya Sosial dalam Permainan Anak-Anak Zaman Dulu Vs Zaman Sekarang
Dari Youtube sendiri memang memberikan kontrol untuk pause, edit, dan delete riwayat pencarian dan tontonan yang bisa ditemukan di menu “Your Data in Youtube” pada profil anda. Namun sebagaimana platform pada umumnya, kemungkinan Youtube masih menyimpan data seperti alamat IP, waktu akses, jenis perangkat, interaksi pasif berupa pola scrolling, dan lain-lain karena ada 80 miliar “signal” yang disimpan dan digunakan.
Jadi, jika Youtube sendiri telah mampu menemukan pola menonton anak anda maka ia dapat lebih mengenal anak anda. Bisa saja anak anda menonton satu video boneka dan youtube dengan sistem rekomendasinya mampu memberikan lebih dari 10 video rekomendasi yang mungkin anak anda juga suka tonton.
Dan faktanya, sebuah organisasi bernama Common Sense Media melakukan penelitian terhadap video Youtube yang ditonton oleh anak-anak. Ditemukan bahwa hampir 45% video menampilkan dan mempromosikan produk dengan 22% di antaranya tinggi akan sikap konsumerisme.
Dalam penelitian lain yang masih berkesinambungan, ditemukan 48% video terindikasi konsumerisme. Karena awal anak belajar dari meniru perilaku orang disekitar, jika karakter dalam video anak sering muncul dan menjadi familiar olehnya maka anak akan cenderung meniru perilaku karakter tersebut.
Jadi, jika sebuah karakter favorit anak merekomendasikan sesuatu untuk dibeli dan narasi ini terus berulang ditonton anak, maka akan memunculkan keinginan anak untuk membeli barang tersebut. Artinya semakin sering anak menonton video dengan iklan didalamnya dapat meningkatkan sikap konsumerisme pada anak.
Dampak Konsumerisme dan Bagaimana Mencegahnya
Sikap konsumerisme sangat berdampak bagi anak, karena anak-akan memiliki kecenderungan untuk mengukur kebahagiaan dari kepemilikan barang. Selain itu dapat mengakibatkan penurunan self-esteem anak dengan background orang tua miskin yang tidak mampu membelikan barang yang anak mereka minta.
Anak dengan paparan iklan berlebihan juga dapat kehilangan kemampuan berpikir dan menilai apakah barang itu benar-benar dibutuhkan dan berfokus pada bagaimana cara memiliki barang tersebut.
Bahkan dalam beberapa kasus, anak memesan barang jutaan rupiah melalui online shop penyedia jasa cash on delivery (COD) tanpa berfikir apakah orang tua mereka mampu membayar barang tersebut atau tidak. Masalah ini bukan hanya pada kesalahan parenting namun juga pada sistem AI yang mampu mengenal anak anda dengan merekomendasikan terus menerus video berisikan iklan tanpa sepengetahuan anda.
Ada beberapa hal yang dapat anda lakukan untuk mencegah anak bersikap konsumtif. Pertama lakukan co-viewing, tonton bersama dengan anak dan ajukan pertanyaan seperti “menurutmu kakak di video ini kenapa suka mainan ini?” untuk melatih critical thinkingnya.
Kedua, lakukan pengaturan pada “Your Data in Youtube” untuk mengatur riwayat tontonan, riwayat pencarian, dan personalized ads yang boleh ditonton anak. Ketiga, secara aktif menonton video yang telah terverifikasi dapat membantu tumbuh kembang anak seperti video tentang eksperimen science dan lain lain. Terakhir, mulai ajarkan anak video mana yang mengandung iklan serta untuk paham barang mana yang diperlukan dan tidak.
Konsumerisme pada anak bukan tentang melarang anak menggunakan teknologi, namun bagaimana anda sebagai orang tua mempunyai kontrol akan apa yang bisa diserap anak dan memberikan penjelasan akan bahayanya.
Jarak yang ditempuh dari screen time ke keranjang belanja hanyalah beberapa klik pada video tapi dengan mengambil kontrol akan video yang bisa ditonton anak dapat memutus bahaya konsumerisme dari iklan terselubung pada video. AI yang semakin pintar memerlukan kepedulian lebih orang tua terhadap tumbuh kembang anak mereka.
Penulis: Maghfira Rosnadila Rachmat
Mahasiswa Magister Informatika Universitas Islam Indonesia (UII)
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Source
IBM
Youtube
Common Sense Media
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













