Istilah bullying tentu sudah tidak asing lagi di telinga kita. Indonesia dengan keberagaman suku, budaya, bahasa yang ada tidak menutup kemungkinan terjadinya kasus bullying.
Menurut riset Programme for International Students Assessment (PISA) mengungkapkan pada tahun 2018, sebanyak 41,1% siswa mengaku pernah mengalami bullying sehingga menempatkan Indonesia pada urutan ke-5 dari 78 negara sebagai negara yang paling banyak muridnya mengalami kasus bullying.[1]
Bullying adalah tindakan intimidasi, perundungan, pengucilan yang dilakukan seseorang kepada orang lain baik berupa fisik maupun non-fisik. Tindakan bullying akan memberikan dampak buruk pada korban dan pelaku.
Baca juga: Seminar tentang Bullying dan Hate Speech di Kalangan Milenial
Korban akan merasakan cemas dan trauma yang berlarut-larut. Jika kejadian ini terjadi dalam waktu yang lama, korban akan mengalami gangguan kejiwaan akibat stres dan depresi yang menyebabkan terbentuknya mental yang pesimistis. Sedangkan bagi pelaku, akan merasa berkuasa dan memiliki keinginan tinggi untuk mendominasi orang lain yang dianggap lemah.
Perilaku bullying dalam Islam merupakan salah satu bentuk akhlak tercela. Karena dalam salah satu hadits dijelaskan bahwa kita diperintahkan berlaku baik dan tidak boleh mencela satu sama lain. Haditsnya yaitu sebagai berikut:
عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال : قال رسول الله عليه و سلم “سباب المؤمن فسق و قتاله كفر” (رواه مسلم)
Dari Abdullah bin Mas’ud ra, dia berkata: “Telah bersabda Rasulallah SAW: mencela seorang mukmin adalah perbuatan fasik dan membunuh seorang mukmin adalah sebuah tindakan kekufuran“. HR Muslim.
Dari hadis tersebut dapat diketahui bahwa Nabi sangat mengecam perilaku bullying yang sangat merugikan korbannya baik secara fisik maupun mental sehingga hal tersebut termasuk perbuatan fasik.
Bullying dilarang bukan hanya karena menimbulkan perasaan malu bagi korban karena kehormatannya dijatuhkan, akan tetapi juga terselip perasaan bahwa pelaku bullying ini lebih baik dari orang lain sehingga ia berhak melecehkan mereka.
Dalam hadis lain juga disebutkan bahwa kita tidak boleh membalas mereka yang telah menghina dan mempermalukan kita. Karena Allah akan membalas perbuatan buruk yang telah mereka lakukan sebelumnya.
Dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 11 juga menjelaskan tentang larangan sekelompok laki-laki atau perempuan mencela sekelompok yang lain, karena boleh jadi mereka lebih baik dari kita. Selain itu, dalam ayat tersebut juga dijelaskan bahwa kita dilarang untuk memanggil seseorang dengan panggilan yang buruk, panggilan yang mengandung ejekan.
Perilaku bullying dapat dicegah dengan menyeimbangkan lingkungan atau faktor terjadinya bullying diantara keluarga, sekolah, dan teman sebaya. Dengan memaksimalkan masing-masing faktor tersebut akan mengurangi angka bullying yang telah terjadi.
Dampak bullying juga bisa diatasi dengan cara mengajak mereka berbicara dengan baik, dicari tahu apa masalahnya dan dipertemukan kedua belah pihak guna menyelesaikan dan menghilangkan dampak dari bullying itu sendiri.
Baca juga: Dampak Bully pada Kesehatan Psikis Anak
Solusi yang bisa diberikan ialah dengan meminimalisir dan mensosialisasikan kepada semua orang, terlebih para remaja dan pelajar bahwa tindakan bullying tidak memberikan dampak yang positif justru berdampak negatif baik pada korban maupun peakunya.
Sesama manusia sudah seharusnya saling menghargai dan menghormati satu sama lain. Perbedaan atau kekurangan yang ada jangan dijadikan sebagai alasan untuk membully, menghina, mencemooh dan mengejek seseorang.
Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 13 bahwa tujuan dari penciptaan manusia yang berbangsa-bangsa adalah untuk saling mengenal bukan untuk saling menghina.
Penulis: Nora Atika
Mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
[1] Dwi Hadya Jayani, PISA: Murid Korban ‘Bully’ di Indonesia Tertinggi Kelima di Dunia, databoks.katadata.co.id, 12 Desember 2019, https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/12/12/pisa-murid-korban-bully-di-indonesia- tertinggi-kelima-di-dunia, diakses 28 Maret 2022
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI















