Fetish: Normal atau Perlu Diwaspadai?

apa arti fetish
Fetish: Normal atau Perlu Diwaspadai? Gambar: MMI.

Dalam beberapa tahun terakhir, istilah fetish semakin sering muncul di berbagai ruang publik, terutama media sosial. Banyak orang membicarakannya dengan nada penasaran, sebagian menganggapnya sesuatu yang lucu, dan tak sedikit pula yang langsung mengaitkannya dengan perilaku menyimpang.

Persepsi masyarakat sangat beragam: ada yang meyakini fetish sebagai preferensi seksual yang wajar selama tidak merugikan, namun ada juga yang memandangnya sebagai tanda gangguan yang harus dihindari.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Perbedaan pandangan ini menunjukkan satu hal penting fenomena fetish masih dibayang-bayangi stigma dan minimnya pemahaman. Di tengah kebingungan itu, muncul pertanyaan besar “sebenarnya, apa itu fetish?”.

Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi kelima (DSM-5), Gangguan Fetishistik (Fetishistic Disorder) diklasifikasikan sebagai salah satu gangguan parafilia. Fetish merujuk pada ketertarikan seksual yang terarah pada benda mati atau bagian tubuh tertentu yang bukan area genital.

DSM-5 menjelaskan bahwa fetish baru dianggap sebagai Gangguan Fetishistik ketika dorongan tersebut muncul secara intens, berlangsung lama, dan benar-benar menguasai kehidupan seseorang hingga menimbulkan tekanan psikologis atau mengganggu hubungan sosial.

Artinya, tidak semua fetish adalah gangguan, ada batas jelas antara preferensi seksual yang masih normal dan kondisi yang perlu perhatian profesional.

Meskipun demikian, terdapat sejumlah gejala yang umumnya muncul pada gangguan fetish, sebagaimana dijelaskan dalam DSM-5-TR dan didukung oleh berbagai temuan dalam literatur ilmiah.

Gejala secara umum biasanya tampak melalui ketertarikan seksual yang kuat dan menetap pada objek tertentu, mulai dari benda mati hingga bagian tubuh non-genital, yang kemudian menjadi pusat dari rangsangan seksual seseorang.

Banyak individu yang bergantung pada objek untuk membangkitkan gairah. Tanpa adanya objek tersebut, aktivitas seksual terasa kurang maksimal

Ketertarikan ini kerap disertai dengan perilaku tertentu seperti mengusap, mencium, atau menggunakan objek itu secara berulang dalam aktivitas seksual. Di sisi lain, dorongan untuk mencari dan memakai objek sering kali sulit dikendalikan, memicu rasa malu atau konflik internal.

Gejala-gejala ini menjadi lebih mengkhawatirkan ketika mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, merusak hubungan, menurunkan produktivitas, atau menimbulkan distress psikologis. Pada titik inilah fetish dapat dikategorikan sebagai gangguan yang memerlukan perhatian profesional.

Penyebab fetishistik tidak berasal dari satu faktor saja, melainkan dari gabungan pengalaman psikologis, faktor biologis, dan lingkungan sosial. Secara psikologis, fetish dapat terbentuk sejak remaja ketika gairah seksual pertama kali berkaitan dengan objek tertentu.

Baca Juga: Perilaku Seksual Menyimpang di Era Kemudahan Akses Informasi

Minimnya edukasi seksual, emosi yang tidak tersalurkan, atau kesulitan menjalin kedekatan dengan orang lain juga dapat memperkuat pola ini. Dari sisi biologis, beberapa penelitian menunjukkan adanya peran ketidakseimbangan pada sistem saraf dan kerja kimia otak yang memengaruhi kontrol impuls seksual.

Sementara itu, faktor lingkungan seperti konflik keluarga, kekerasan, pelecehan seksual, hingga paparan pornografi tertentu turut menjadi pemicu yang mempercepat terbentuknya ketertarikan seksual yang tidak umum.

Namun, satu pertanyaan yang paling sering muncul adalah “bagaimana kita tahu apakah fetish itu wajar atau sudah masuk kategori gangguan?”.

Kuncinya terletak pada intensitas dan dampaknya. Jika fetish tidak mendominasi kehidupan seksual, tidak menimbulkan tekanan emosional, dan tidak mengganggu hubungan atau aktivitas harian, maka fetish hanya merupakan bagian dari variasi seksual manusia.

Sebaliknya, ketika fetish menjadi kebutuhan utama untuk mencapai gairah, memunculkan dorongan kompulsif yang sulit ditahan, atau membuat hubungan romantis menjadi tegang dan tidak seimbang, maka kondisi itu cenderung mengarah pada Gangguan Fetishistik.

Dorongan dan perilaku fetish yang muncul terus-menerus dapat membawa sejumlah dampak yang merugikan dalam kehidupan sehari-hari. Ketergantungan pada objek atau bagian tubuh tertentu sering membuat aktivitas seksual tanpa objek tersebut terasa sulit atau tidak memuaskan, bahkan dapat memicu disfungsi seksual.

Kondisi ini juga sering menimbulkan distress emosional mulai dari rasa malu, bersalah, hingga cemas, terutama ketika dorongan muncul di situasi yang tidak tepat misalnya di tempat umum, sehingga menurunkan harga diri dan menambah tekanan psikologis.

Selain itu, fokus seksual yang berlebihan pada objek fetish dapat memengaruhi hubungan interpersonal, khususnya dalam hubungan romantis. Pasangan bisa merasa tersisih atau tidak dihargai karena perhatian seksual tidak lagi terarah pada kedekatan emosional, yang pada akhirnya memicu jarak dan konflik dalam hubungan.

Untuk individu yang mengalami gangguan fetishistik, bantuan profesional dapat menjadi jalan keluar yang efektif. Terapi psikologis seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT) membantu individu memahami ulang pola pikir dan perilaku seksualnya, sekaligus mengurangi ketergantungan pada objek tertentu.

Pada kasus yang lebih kompleks, dokter mungkin memberikan obat yang berfungsi meredakan impuls seksual atau mengelola gejala emosional seperti kecemasan dan depresi. Selain itu, psikoedukasi bagi individu dan keluarganya penting dilakukan untuk mengurangi stigma dan menciptakan lingkungan yang mendukung pemulihan.

Pada akhirnya, memahami fetish bukan hanya soal menilai benar atau salah, melainkan membangun pemahaman yang lebih sehat tentang ragam ekspresi seksual manusia. Dengan edukasi yang tepat, masyarakat dapat melihat fenomena ini secara lebih objektif, tanpa prasangka dan tanpa sensasi berlebihan.

Baca Juga: Kertas Api: Satu-satunya Band di Dunia yang Mengusung Tema Seks Edukasi

Kesadaran semacam ini bukan hanya membantu individu yang mengalami gangguan, tetapi juga mendorong terciptanya lingkungan yang lebih empatik dan dewasa dalam menyikapi isu-isu seksual.

Dalam kondisi sosial yang lebih sehat seperti itu, pembahasan tentang fetish tidak lagi menjadi sumber stigma, melainkan menjadi kesempatan untuk memahami manusia secara lebih menyeluruh.

Penulis:
1. Ayuning Dara Puspita (G1C124009)

2. Natasya Tama Ardi (G1C124028)
3. Ghaly Bilal Ramadhan (G1C124035)
4. Mesha Dwi Ramadhani (G1C124036)
Mahasiswa Psikologi Universitas Jambi

Dosen Pengampu:
1. Nurul Hafizah, S.Psi., M.Psi., Psikolog.
2. Hanna Widya Gultom, S.Psi., M.Psi., Psikolog.
3. Mindy Maghfira, S.Psi., M.Psi., Psikolog.

Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses