Perilaku seksual menyimpang menjadi isu yang semakin mengkhawatirkan di tengah perkembangan teknologi dan media digital saat ini. Akses informasi seputar hal berbau seksual yang begitu mudah membuat banyak orang tanpa sadar terpapar berbagai bentuk perilaku atau konten yang dapat mengubah cara mereka memandang seksualitas.
Banyak fenomena seksual yang sebelumnya jarang diketahui kini dapat ditemukan dengan cepat melalui media sosial atau internet. Penelitian menunjukkan bahwa perilaku seksual menyimpang dapat muncul karena adanya pola komunikasi keluarga yang tidak terbuka, pola asuh yang tidak diarahkan, dan tidak adanya edukasi seks yang memadai sejak masa kanak-kanak (Hertinjung dkk., 2022).
Ketika seseorang tumbuh tanpa pengetahuan dasar tentang seksualitas, pengaruh lingkungan dan media menjadi semakin besar mempengaruhi, lalu berdampak pada cara mereka memahami hubungan seksual. Selain itu, pengalaman pribadi yang sifatnya menimbulkan trauma dan dibiarkan tanpa bimbingan dapat ikut berperan dalam membentuk kecenderungan seksual tertentu ketika seseorang tumbuh dewasa (Khairi, 2023).
Perilaku seksual menyimpang sendiri memiliki banyak bentuk dan tidak selalu terlihat secara jelas. Ada perilaku yang sifatnya dapat diamati secara langsung, seperti memperlihatkan alat kelamin kepada orang yang tidak menginginkannya (eksibisionisme), mengintip seseorang dengan tujuan mendapatkan kepuasan seksual (voyeurisme), atau menyentuhkan tubuh kepada orang lain tanpa persetujuan (frotteurisme).
Ada juga bentuk penyimpangan yang lebih ekstrem seperti ketertarikan pada objek tertentu, hewan, atau bahkan mayat. Perubahan cara manusia mendapatkan informasi berperan besar dalam munculnya perilaku ini.
Penelitian menunjukkan bahwa tayangan konten seksual yang berlebihan di internet dapat mengubah respon seseorang terhadap rangsangan seksual dan membuat mereka lebih mudah menerima hal-hal yang tidak wajar (Maulia & Tahun, 2022).
Ketika seseorang terbiasa melihat konten seperti itu, batasan antara yang normal dan menyimpang menjadi semakin tidak jelas. Hal ini menjadikan internet sebagai salah satu faktor yang perlu diperhatikan, terutama dalam kehidupan generasi muda yang lebih sering berinteraksi dengan dunia maya.
Berdasarkan hasil suervei yang dilakukan terhadap lima belas responden dari Universitas Andalas, terlihat bahwa setiap responden sudah memiliki pemahaman dasar mengenai istilah perilaku seksual menyimpang, meski definisi dan contoh yang mereka sebutkan berbeda-beda.
Sebagian responden menyebut LGBT, seks bebas, pedofilia, serta ketertarikan pada sesama jenis sebagai bentuk penyimpangan. Sementara itu, responden lain menyebut contoh yang lebih spesifik, seperti ekshibisionisme, voyeurisme, sadisme-masokisme yang tidak melibatkan persetujuan, frotteurisme, fetishisme ekstrem, bestialitas, hingga nekrofilia.
Adapula respon yang menjelaskan penyimpangan seksual sebagai tindakan atau ketertarikan seksual yang dianggap aneh atau tidak diterima oleh masyarakat. Dari jawaban-jawaban ini tampak bahwa pemahaman responden masih belum sepenuhnya seesuai dengan makna asli dari penyimpangan seksual.
Hal ini wajar karena topik penyimpangan seksual jarang dibahas secara mendalam di lingkungan pendidikan formal, sehingga informasi diperoleh dari berbagai sumber yang belum tentu sama.
Ketika ditanya tentang pentingnya pendidikan seks, hampir semua responden menyatakan bahwa edukasi seksual sangat penting untuk mencegah perilaku seksual menyimpang. Namun, pengalaman mereka terhadap pendidikan seks sangat bermacam-macam.
Ada yang pernah mendapatkan penjelasan secara langsung melalui materi kuliah atau seminar, ada yang hanya pernah mendengar secara sekilas. Padahal, pendidikan seks merupakan salah satu langkah pencegahan paling penting untuk membentuk pemahaman mengenai batasan perilaku seksual (Damanik dkk., 2023).
Tanpa edukasi yang jelas, seseorang lebih mudah terpengaruh oleh opini lingkungan sekitar atau informasi yang tidak valid di media sosial. kondisi ini menciptakan kemungkinan yang sangat besar bagi terbentuknya pemahaman yang keliru mengenai perilaku seksual.
Pada bagian survei yang menguji pemahaman responden mengenai contoh perilaku seksual menyimpang, empat belas dari lima belas responden menjawab dengan benar. Satu responden memberikan jawaban yang kurang tepat.
Pada bagian ini, terlihat bahwa sebagian besar responden memiliki pengetahuan dasar yang cukup baik tentang perilaku yang termasuk dalam kategori penyimpangan seksual. Ketika diminta memilih faktor penyebab yang paling berpengaruh, mayoritas responden memilih pengaruh media dan pornografi sebagai penyebab utama.
Sebagian lainnya memilih pergaulan bebas serta gangguan emosi sebagai faktor yang dapat mendorong seseorang melakukan perilaku menyimpang. Pilihan ini sejalan dengan penelitian yang menegaskan bahwa lingkungan dan kebiasaan seseorang memainkan peran penting dalam pembentukan kecenderungan seksual tertentu (Hertinjung, Nurfirdausa, & Aulia, 2022).
Selain lingkungan, kesehatan mental juga memiliki pengaruh penting. Beberapa bentuk penyimpangan, seperti fetish ekstrem, dapat berkaitan dengan kondisi psikologis tertentu yang berkembang tanpa disadari (Sukoco dkk. 2022).
Sementara itu, paparan konten seksual yang terlalu sering dilihat dapat memperkuat kecenderungan untuk mengulangi perilaku yang dilihat dari media online (Maulia & Tahun, 2022).
Sebagian besar responden menilai bahwa pemahaman mengenai perilaku seksual menyimpang sangat penting untuk dimiliki oleh setiap orang. Mereka berpendapat bahwa dengan pemahaman yang baik, seseorang dapat menjaga diri dari tindakan berisiko serta mampu menahan diri dari melakukan hal-hal yang merugikan orang lain.
Tidak ada satu pun responden yang menganggap topik ini tidak penting. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran tentang pentingnya batasan dalam perilaku seksual sudah cukup tinggi, meskipun pengetahuan responden tentang hal ini secara mendalam masih ber,acam-macam.
Survei ini memperlihatkan bahwa pemahaman tentang penyimpangan seksual sebenarnya sudah terbentuk, tetapi cara memaknainya masih berbeda-beda karena sumber informasi yang diterima tidak semua sama.
Memahami perilaku seksual menyimpang bukan hanya tentang menilai suatu tindakan sebagai benar atau salah. Lebih dari itu, pemahaman ini berhubungan dengan bagaimana seseorang mengetahui batasan perilaku seksual yang aman.
Di tengah perkembangan teknologi yang sangat cepat, kemampuan untuk memilah informasi menjadi hal yang sangat penting agar seseorang tidak mudah terpengaruh oleh perilaku yang menyimpang. Pendidikan yang baik dapat membantu seseorang menjaga diri, memahami batasan, serta menghindari tindakan yang berpotensi merugikan baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain (Damanik dkk., 2023).
Memahami perilaku seksual menyimpang juga penting di tengah perubahan sosial yang terus berkembang. Cara orang berinteraksi sekarang jauh lebih bebas, dan batas antara hal pribadi dan hal publik semakin tipis.
Banyak hal yang dulu dianggap tabu kini dibicarakan secara bebas, sehingga orang perlu punya pemahaman yang cukup agar tidak salah bersikap atau tanpa sadar merugikan orang lain. Pengetahuan tentang isu ini membantu seseorang tetap menghargai nilai, etika, dan batasan sosial yang ada (Sukoco dkk., 2022).
Dengan pemahaman yang lebih baik, seseorang dapat lebih bijak dalam mengambil keputusan dan tidak mudah terbawa arus informasi yang tidak sehat.
Penulis:
- Anisatul Fadila (2410311026)
- Nayla Hikmi (2410311029)
- Muhammad Zidane Pattrise (2410311030)
- Nadifa Putri Aldira (2410311040)
- Qonita Lutfi Syeban (2410313046)
- Kayyisah Rahma (2410313049)
Mahasiswa Kedokteran, Universitas Andalas
Dosen Pengampu: Alex Darmawan., S.S., M.A.
Referensi
Damanik, H., Manurung, S. S., Sagala, D. S. P., Ritonga, E. P., Naibaho, E. N. V., & Siburian, C. H. (2023). HUBUNGAN UPAYA PREVENTIF DALAM SEKSUAL MENYIMPANG PADA REMAJA DENGAN RESIKO PEYIMPANGAN SEKSUAL DI SMA IMELDA MEDAN. Jurnal Ilmiah Keperawatan IMELDA, 9(2), 173-178. https://doi.org/10.52943/jikeperawatan.v9i2.1498
Hertinjung, W. S., Nurfirdausa, L., & Aulia, S. N. (2022). Peran Pola Asuh Orang Tua Dengan Penyimpangan Seksual: Literature Review. Epigram, 19(1), 98-105. https://doi.org/10.32722/epi.v19i1.4448
Khairi, A. M. (2023). Perilaku Penyimpangan Seksual: Studi Kekerasan Seksual Masa Lalu dalam Pembentukan Perilaku Pedofilia Narapidana Lapas Klaten. Hisbah: Jurnal Bimbingan Konseling dan Dakwah Islam, 20(1), 1-18. https://doi.org/10.14421/hisbah.2023.201-01
Maulia, E., & Tahun, O. D. (2022). Pengaruh media internet terhadap perilaku menyimpang seksual pada remaja di SMA Al-Hidayah tahun 2022. Syntax Literate; Jurnal Ilmiah Indonesia, 7(5), 5910-5917. https://doi.org/10.36418/syntax-literate.v7i5.7096
Sukoco, H. Z., Althof, F., & Nihayah, U. (2021). Menyoal Gangguan Kesehatan Mental Deviasi Seksual Fetish. Islamic Counseling: Jurnal Bimbingan dan Konseling Islam, 5(2), 148-164.
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












