Abstract
This research aims to describe the role of teachers’ educational communication in instilling Islamic values through a Malay cultural approach. Good communication is an important aspect in the learning process because it not only functions to convey information, but can also help students to master the lesson and create a conducive and motivating learning atmosphere for students.
Through a polite, clear, friendly, and two-way communication style, teachers are able to build positive relationships so that students can more easily understand the material and emulate the Islamic values exemplified by the teacher through the way they communicate with students in class.
This study uses a quantitative approach that aims to objectively measure and describe respondents’ perceptions using a descriptive survey method, involving 32 respondents from among teachers/lecturers and students. The results of the study showed a high level of agreement regarding the effectiveness of educational communication, such as the use of polite language (90.9%), two-way communication (93.9%), and teacher role models through communication (81.8%).
In addition, as many as (57.6%) respondents considered that the Malay cultural approach was quite effective in instilling Islamic values, especially through Malay customs, proverbs, stories and cultural practices that are in line with sharia. However, some respondents showed a neutral attitude, as a sign of the need for more consistent cultural integration in learning.
Overall, this study confirms that the role of verbal and nonverbal communication can build comfort and good relationships between teachers and students and the combination of educational communication and Malay cultural approaches plays a significant role in strengthening the internalization of Islamic values in students.
Keywords: educational communicating, Islamic values, Malay culture, learning
Abstrak
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan peran komunikasi edukatif guru dalam menanamkan nilai-nilai keislaman melalui pendekatan budaya Melayu. Komunikasi yang baik menjadi aspek penting dalam proses pembelajaran karena tidak hanya berfungsi menyampaikan informasi, namun juga dapat membantu siswa untuk menguasai pelajaran dan membentuk suasana belajar yang kondusif dan memotivasi siswa.
Melalui gaya komunikasi yang santun, jelas, ramah, serta berorientasi dua arah, guru mampu membangun hubungan yang positif sehingga siswa lebih mudah memahami materi sekaligus meneladani nilai-nilai Islami yang dicontohkan guru melalui cara berkomunikasinya dengan siswa di kelas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif yang bertujuan mengukur dan mendeskripsikan secara objektif persepsi responden dengan metode survei deskriptif, yang melibatkan 32 responden dari kalangan guru/dosen serta siswa/mahasiswa.
Hasil penelitian menunjukkan tingkat persetujuan yang tinggi terhadap efektivitas komunikasi edukatif, seperti penggunaan bahasa santun (90,9%), komunikasi dua arah (93,9%), dan keteladanan guru melalui komunikasi (81,8%). Selain itu,sebanyak (57,6%) responden menilai bahwa pendekatan budaya Melayu dinilai cukup efektif dalam penanaman nilai keislaman, terutama melalui adat, pepatah, kisah Melayu serta praktik budaya yang selaras dengan syariat.
Meskipun demikian, sebagian responden menunjukkan sikap netral, sebagai tanda bahwa perlunya integrasi budaya yang lebih konsisten dalam pembelajaran. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa peran komunikasi verbal dan nonverbal dapat membangun kenyamanan dan hubungan yang baik antara guru dan siswa serta kombinasi komunikasi edukatif dan pendekatan budaya Melayu berperan signifikan dalam menguatkan internalisasi nilai-nilai keislaman pada peserta didik.
Kata kunci: komunikasi edukatif, nilai-nilai keislaman, budaya Melayu, pembelajaran
Pendahuluan
Proses belajar mengajar tidak dapat dipisahkan dari komunikasi antara guru dan siswa. Guru sebagai pendidik bukan hanya berperan menyampaikan pengetahuan, tetapi juga harus mampu menciptakan suasana belajar yang nyaman melalui interaksi komunikasi yang efektif. Komunikasi yang baik akan menumbuhkan rasa nyaman pada murid, membuat murid lebih aktif, serta menambah motivasi dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.
Pada kegiatan belajar di sekolah, komunikasi merupakan faktor utama dalam mencapai tujuan pendidikan. Guru yang mampu berkomunikasi secara verbal maupun nonverbal dengan baik dapat menumbuhkan perhatian siswa dan mengarahkan mereka pada pemahaman yang optimal terhadap materi pelajaran.
Merujuk pada penelitian terdahulu bahwa gaya berkomunikasi guru sangat beragam, seperti ramah, singkat, padat, jelas, penuh perhatian, hidup-animatif, relaks, hingga dramatik. Setiap gaya komunikasi memberikan dampak yang berbeda terhadap suasana belajar dan respon siswa.
Muncul beberapa pertanyaan tentang komunikasi seperti, bagaimana bentuk interaksi komunikasi yang efektif antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran? Apa saja tipe atau karakteristik gaya komunikasi guru? Bagaimana peran komunikasi verbal dan nonverbal guru dalam membangun kenyamanan dan perhatian siswa selama pembelajaran? Bagaimana pengaruh gaya komunikasi guru terhadap motivasi, pemahaman, dan keterlibatan siswa dalam kegiatan belajar?
Untuk memperkuat kedudukan penelitian ini, beberapa penelitian relevan yang fokus pada variabel serupa perlu dicantumkan sebagai perbandingan dan penentuan posisi. Penelitian oleh S, J. H., Zaitu, Z., & Dewi, E. (2025) yang diterbitkan dalam Research and Development Journal of Education (RDJE) mengenai “Analisis Kompetensi Guru PAI dalam Penggunaan Bahan Ajar Berbasis Budaya Lokal Melayu Riau.” Kajian ini berfokus pada sejauh mana kompetensi guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam mengadaptasi materi ajar menggunakan kearifan lokal Melayu.
Penelitian oleh Muhtadin (2020) dalam Tesis UIN Sunan Kalijaga yang berjudul “Komunikasi Interpersonal Guru dalam Menanamkan Nilai-Nilai Pendidikan Islam.” Kajian ini menyoroti bagaimana berbagai strategi komunikasi guru seperti modelling (keteladanan), dialog interaktif, dan pola komunikasi sirkular digunakan guru untuk menanamkan nilai-nilai pendidikan Islam.
Berdasarkan tinjauan penelitian terdahulu, terlihat bahwa kajian mengenai peran guru, komunikasi, dan penanaman nilai keagamaan melalui budaya lokal telah banyak dilakukan. Namun, penelitian-penelitian tersebut cenderung berfokus pada kompetensi guru dan bahan ajar atau hanya pada aspek komunikasi interpersonal secara umum. Belum ditemukan penelitian yang secara spesifik dan komprehensif membedah mekanisme dan implementasi praktis komunikasi edukatif guru (meliputi gaya komunikasi dan teknik penyampaian) secara detail, dengan fokus terintegrasi pada penanaman nilai-nilai keislaman melalui adat dan pepatah Melayu di Pekanbaru.
Oleh karena itu, penelitian ini hadir untuk menganalisis secara mendalam peran komunikasi edukatif guru sebagai satu kesatuan utuh dalam menanamkan nilai keislaman menggunakan pendekatan Budaya Melayu.
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendeskripsikan gaya berkomunikasi guru dalam proses pembelajaran, mengidentifikasi dan menjelaskan tipe-tipe gaya komunikasi guru yang muncul dalam proses belajar mengajar, menganalisis peran komunikasi verbal dan nonverbal guru terhadap suasana serta kenyamanan belajar siswa, dan mengkaji pengaruh gaya komunikasi guru terhadap motivasi, pemahaman, dan keterlibatan siswa melalui integrasi Pendekatan Budaya Melayu dalam penanaman nilai.
Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Sebagai referensi ilmiah terkait komunikasi pendidikan, khususnya mengenai gaya komunikasi guru. Dapat memberikan kontribusi untuk memperkaya kajian tentang peran komunikasi dalam efektivitas pembelajaran.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Guru
Memberikan pemahaman mengenai pentingnya gaya komunikasi yang tepat dan efektif dalam proses belajar dan menjadi acuan guru dalam memperbaiki kemampuan komunikasi untuk meningkatkan perhatian dan pemahaman siswa.
b. Bagi Siswa
Meningkatkan kenyamanan, motivasi, dan fokus belajar melalui pembelajaran yang komunikatif dan menarik.
c. Bagi Sekolah
Menjadi masukan untuk pengembangan kompetensi guru dalam bidang komunikasi pembelajaran.
Kajian Literatur
Cara Berkomunikasi Guru dengan Siswa
Berdasarkan penelitian Purwadita (2/09/2019) terdapat beberapa gaya berkomunikasi guru yang baik dan efektif membantu murid menguasai pelajaran dan berhasil secara optimal. Pertama komunikasi yang ramah/bersahabat yaitu seorang guru memberikan dukungan dan dorongan kepada murid dengan cara-cara yang positif.
Kedua komunikasi yang singkat/padat, komunikasi seorang guru ialah padat, singkat, jelas, teratur, terorganisasi, terkontrol. Ketiga komunikasi yang penuh perhatian dengan cara meyakinkan murid bahwa ia mendengarkan mereka. Keempat komunikasi yang hidup dan animatif, aktif menggunakan kreativitas seni dalam berbicara ataupun mengajar juga antusias menyampaikan pelajaran, gaya tersebut menarik perhatian murid dan dapat membuat mereka fokus.
Nilai-Nilai Keislaman yang Ditanamkan oleh Guru melalui Komunikasinya
Secara umum makna nilai-nilai religius adalah nilai-nilai kehidupan yang mencerminkan tumbuh kembangnya kehidupan beragama yang terdiri dari tiga unsur pokok yaitu aqidah, ibadah, dan akhlak yang menjadi pedoman perilaku sesuai dengan aturan Ilahi untuk mencapai kesejahteraan serta kebahagian hidup di dunia dan akhirat.
Berikut ini adalah Indikator Nilai-Nilai Keislaman
a. Taat pada Syariat Islam
Indikator ini meliputi pemahaman ajaran Islam yang sesuai dengan syariat, serta mengikuti perintah dan menjauhi larangan yang telah ditetapkan oleh Allah. Taat pada syariat Islam mencakup ibadah dan amalan-amalan yang dianjurkan oleh agama, seperti salat, puasa, sedekah, dan lain sebagainya. Ketaatan pada syariat Islam juga dapat tercermin dari perilaku seseorang dalam berinteraksi dengan orang lain (Kristiyowati & Afiqi, 2021).
b. Adil dan Jujur
Keadilan dapat diartikan sebagai sikap untuk memberikan hak yang sama kepada semua orang, tanpa melihat latar belakang, ras, agama, atau status sosial mereka. Sedangkan kejujuran ialah berbicara dan berbuat sesuai fakta tanpa ada kebohongan dan kecurangan sedikitpun. Dalam Islam, adil dan jujur adalah nilai yang sangat penting dan termasuk bagian dari ibadah.
c. Ikhlas
Menurut KBBI, ikhlas berarti bersih hati, tulus hati. Menurut Imam Syafi’i ikhlas berarti beramal semata-mata karena Allah SWT. Ikhlas berupa niat dalam hati yang dibentuk sebelum melakukan suatu perbuatan atau perkataan (UIN Alauddin Makassar, 2024).
d. Rendah Hati atau yang Disebut sebagai Tawadhu
Hal ini mengacu pada sikap rendah hati, tidak sombong, dan mampu menghargai orang lain meskipun berbeda pandangan atau latar belakang. Dalam konteks pendidikan Islam, nilai ini dianggap penting karena akan membentuk karakter peserta didik yang menghargai pluralitas dan keberagaman (Sundari, 2023).
e. Istiqomah
Menurut Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah istiqomah ialah tindakan konsisten dalam beribadah dan melakukan kebaikan (Al-Atsaary, 2020). Istiqomah diibaratkan sebagai sebuah jalan lurus yang harus ditempuh tanpa ke kanan atau ke kiri.
f. Amanah
Dalam Islam, janji dan komitmen dianggap sebagai amanah yang harus dijaga dengan baik. Menjaga janji dan komitmen berlaku pada berbagai aspek kehidupan, seperti pekerjaan, hubungan sosial, dan sebagainya. Dengan menjaga janji dan komitmen, seseorang akan terlihat sebagai orang yang dapat dipercaya dan dihormati oleh orang lain, serta memperlihatkan nilai-nilai religius yang kuat dalam dirinya.
Peran Budaya Melayu dalam Penanaman Nilai Keislaman
Budaya Melayu memiliki peran yang sangat signifikan, bahkan bisa dibilang integral dalam menanamkan nilai-nilai keislaman di Nusantara. Hal ini terjadi karena Islam di wilayah Melayu tidak datang sebagai entitas yang sepenuhnya asing, melainkan berakulturasi secara harmonis dengan tradisi dan budaya lokal yang sudah ada.
Ada sebuah falsafah hidup masyarakat Melayu yang isinya “Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah” Ini adalah filosofi inti yang menegaskan bahwa adat (budaya Melayu) didasarkan pada syariat Islam, dan syariat didasarkan pada Al-Qur’an dan Hadis. Artinya, adat yang bertentangan dengan prinsip Islam akan ditinggalkan, sementara adat yang sejalan atau netral akan dipertahankan dan diberi nuansa Islami.
Nilai-nilai fundamental keislaman tidak hanya ditanamkan melalui doktrin formal, tetapi secara efektif diinternalisasi ke dalam masyarakat Melayu melalui berbagai praktik dan artefak budaya yang telah terintegrasi. Salah satu media penanaman yang paling menonjol adalah seni bahasa dan sastra.
Bahasa Melayu menjadi perantara bagi penyebaran ilmu Islam. Ulama-ulama Nusantara menggunakan Jawi (aksara Arab-Melayu) untuk menyusun karya-karya keagamaan yang membahas konsep inti seperti tauhid, fiqh, dan tasawuf (akhlak). Karya-karya monumental seperti Hikayat Raja-Raja Pasai, Syair Perahu karya Hamzah Fansuri, hingga Tuhfat al-Nafis karya Raja Ali Haji, tidak hanya mencatat sejarah, tetapi juga menjelaskan ajaran Islam melalui metafora dan kiasan yang akrab dengan masyarakat lokal.
Selain itu, adat istiadat kehidupan Melayu sepenuhnya diserap dan diharmonisasikan dengan Syariat Islam. Sebagai contoh ritual dalam kehidupan mulai dari proses kelahiran (misalnya, azan di telinga bayi), pernikahan (seperti merisik atau bertunang yang menjunjung tinggi nilai izzah dan iffah), hingga tata cara pengurusan jenazah. Semuanya disesuaikan agar tidak bertentangan dengan prinsip Islam.
Adat ini secara fungsional menanamkan nilai-nilai sosial Islami seperti ukhuwah (persaudaraan) melalui praktik gotong royong dalam kenduri, musyawarah dalam pengambilan keputusan, dan adab (etika) dalam interaksi sosial. Adat yang sejalan dengan Islam diberi legitimasi dan dikuatkan, mencerminkan filosofi “Adat Bersendi Syarak”.
Bentuk lain dari penanaman nilai dapat dilihat dalam arsitektur dan pakaian tradisional. Desain rumah Melayu seringkali memperhatikan orientasi ke kiblat sebagai simbol sentralitas ibadah dalam kehidupan. Pembagian ruang antara ruang publik dan privat, serta pemisahan ruang laki-laki dan perempuan, menanamkan nilai etika pergaulan (ikhtilat) dan kesopanan.
Sementara itu, busana Melayu tradisional seperti baju kurung dan baju melayu secara implisit mewujudkan nilai menutup aurat, kesopanan, dan kepatutan yang diajarkan dalam Islam, menjadikannya simbol visual dari identitas Melayu-Islam itu sendiri.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif (Quantitative Approach). Pendekatan ini dipilih karena tujuan utama penelitian adalah mengukur dan mendeskripsikan secara objektif persepsi responden (Guru/Dosen dan Siswa/Mahasiswa) terhadap variabel yang diteliti. Data yang dikumpulkan bersifat numerik (angka dan persentase), seperti persentase tingkat persetujuan (90.9% “sangat setuju”, 93.9% “setuju”, dll.) yang memerlukan analisis statistik deskriptif. Fokus pada penelitian ini ialah menguji hubungan antara variabel yang sudah ditentukan (misalnya, Komunikasi Dua Arah) dengan hasil yang terukur (Persepsi Efektivitas dalam pemahaman nilai keislaman).
Penelitian ini menggunakan metode survei deskriptif dengan teknik pengambilan sampel Non-Probability Sampling, yaitu Sampling Purposif. Sampel berjumlah 32 responden (15 Guru/Dosen dan 17 Siswa/Mahasiswa) dipilih berdasarkan kriteria tertentu, yaitu individu yang secara langsung terlibat dalam proses komunikasi edukatif dan memiliki pemahaman mendalam tentang nilai keislaman dan budaya Melayu. Pemilihan ini bertujuan untuk mendapatkan persepsi yang relevan dan representatif terkait variabel penelitian.
Jenis penelitian yang digunakan adalah Survei Deskriptif (Descriptive Survey Research). Tujuan Utama penelitian ini untuk mendeskripsikan atau menggambarkan karakteristik suatu populasi (dalam hal ini, populasi Guru/Dosen dan Siswa/Mahasiswa) secara sistematis, faktual, dan akurat, berdasarkan data yang dikumpulkan dari sampel. Karakteristik penelitian ialah data dikumpulkan melalui instrumen baku (kuesioner/angket) dengan menggunakan skala Likert, kemudian diolah menjadi persentase untuk menyajikan temuan secara deskriptif.
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dua hal utama:
- Deskripsi Persepsi: Menggambarkan bagaimana responden (sampel) mempersepsikan Gaya Komunikasi Edukatif Guru (kejelasan, kesantunan, komunikasi dua arah, dan keteladanan).
- Deskripsi Efektivitas: Menggambarkan sejauh mana responden menilai Pendekatan Budaya Melayu efektif dalam penanaman nilai keislaman.
Hasil dan Pembahasan
Hasil Penelitian
1. Data Demografi Responden
Sebanyak 32 responden mengisi bagian demografi penelitian. Berdasarkan profesi, responden terdiri dari Guru/Dosen sebanyak 46,9% (15 responden) dan Siswa/Mahasiswa sebanyak 53,1% (17 responden). Sebaran usia didominasi oleh kelompok umur 18 dan 19 tahun, masing-masing 15,6% (5 responden). Usia 23 dan 24 tahun juga menonjol dengan persentase masing-masing 12,5% (4 responden). Dari segi asal daerah, dominasi terbesar berasal dari Provinsi Riau sebesar 12,5% (4 responden).
Komposisi demografi ini menunjukkan bahwa data dikumpulkan dari responden yang cukup beragam, baik dari sisi pendidikan maupun usia, sehingga persepsi yang diperoleh lebih representatif dalam menggambarkan pengalaman guru dan siswa terkait komunikasi edukatif.
2. Persepsi Responden terhadap Komunikasi Edukatif Guru
Berdasarkan 32 responden yang mengisi bagian persepsi, diperoleh hasil sebagai berikut:
a. Penggunaan bahasa santun dan mudah dipahami
Sebanyak 90,9% responden memberikan respons “sangat setuju” bahwa guru seharusnya menggunakan bahasa santun dan mudah dipahami dalam proses pembelajaran. Hanya 9,1% yang bersikap netral atau tidak setuju.
b. Komunikasi dua arah dalam membangun pemahaman nilai keislaman
Pernyataan ini mendapat persetujuan tertinggi, yaitu 93,9% responden setuju bahwa komunikasi dua arah membantu siswa memahami nilai keislaman secara lebih mendalam. Sebanyak 6,1% bersikap netral atau tidak setuju.
c. Guru komunikatif sebagai teladan perilaku Islami
Sebanyak 81,8% responden setuju bahwa guru yang komunikatif dapat menjadi teladan dalam perilaku Islami. Sisanya 18,2% memberikan respons netral atau tidak setuju.
3. Penanaman Nilai Keislaman melalui Pendekatan Budaya Melayu
a. Efektivitas penyampaian nilai Islam melalui adat Melayu
Sebanyak 57,6% responden menyatakan setuju bahwa nilai Islam lebih mudah ditanamkan ketika disampaikan melalui kebiasaan dan adat Melayu. Sementara itu, 36,4% bersikap netral dan 6,1% tidak setuju.
b. Penggunaan pepatah atau kisah Melayu dalam pembelajaran agama
Mayoritas tipis, yaitu 51,5% responden setuju bahwa pembelajaran agama lebih menarik ketika guru menggunakan pepatah atau kisah Melayu. Namun, persentase respon netral cukup tinggi (48,5%), menunjukkan bahwa pendekatan ini belum sepenuhnya dianggap efektif oleh seluruh responden.
Pembahasan
1. Komunikasi Edukatif sebagai Kunci Efektivitas Pembelajaran
Tingginya persetujuan responden terhadap penggunaan bahasa yang santun dan mudah dipahami (90,9%) memperkuat pandangan bahwa komunikasi merupakan faktor sentral dalam proses belajar. Guru yang mampu menyampaikan pesan secara jelas dan santun dapat membangun suasana belajar yang positif, menumbuhkan rasa nyaman, serta meningkatkan minat siswa.
Temuan ini sejalan dengan penelitian terdahulu yang menegaskan bahwa kejelasan, perhatian, dan kesantunan guru menjadi faktor penting bagi efektivitas pembelajaran. Selain itu, kesantunan bahasa tidak hanya berfungsi sebagai teknik komunikasi, tetapi juga mencerminkan karakter guru sebagai pendidik yang menghargai siswa. Hal ini berdampak pada meningkatnya motivasi dan keterlibatan siswa secara emosional dalam pembelajaran.
2. Pentingnya Komunikasi Dua Arah dalam Pembelajaran Nilai
Komunikasi dua arah dinilai sangat efektif oleh responden (93,9%), terutama dalam membangun pemahaman nilai keislaman. Ini menunjukkan bahwa proses dialog, tanya jawab, dan interaksi aktif memungkinkan siswa merefleksikan nilai yang dipelajari secara lebih mendalam.
Temuan ini mendukung teori komunikasi pendidikan yang menyatakan bahwa gaya komunikasi hidup–animatif dan penuh perhatian mampu meningkatkan keterlibatan siswa dan memperkuat transfer nilai. Komunikasi dua arah juga memberikan ruang bagi siswa untuk mengklarifikasi, mengonfirmasi, dan memaknai materi secara personal.
3. Guru Komunikatif sebagai Sumber Keteladanan
Sebanyak 81,8% responden setuju bahwa guru yang komunikatif dapat menjadi teladan bagi siswa dalam perilaku Islami. Hasil ini menunjukkan bahwa komunikasi guru tidak hanya berfungsi menyampaikan pengetahuan, tetapi juga menjadi sarana modeling perilaku. Melalui komunikasi yang konsisten, jelas, dan bersahabat, siswa lebih mudah meniru karakter dan nilai yang dicontohkan guru.
Hal ini selaras dengan pandangan teori pembelajaran sosial (social learning) bahwa siswa belajar melalui observasi dan interaksi. Dengan demikian, guru yang mampu berkomunikasi secara efektif dapat menguatkan pembentukan perilaku dan nilai Islami pada diri siswa.
4. Pendekatan Budaya Melayu dalam Penanaman Nilai Keislaman
Hasil penelitian menunjukkan respons yang cenderung positif terhadap pendekatan budaya Melayu, meskipun persentase sikap netral relatif tinggi pada beberapa pernyataan. Sebanyak 57,6% responden setuju bahwa nilai Islam lebih mudah dipahami ketika dikaitkan dengan adat Melayu, seperti kebiasaan sehari-hari, tradisi, atau norma sosial masyarakat.
Namun, tingginya persentase respon netral (36,4%–48,5%) mengindikasikan bahwa pendekatan budaya masih belum digunakan secara optimal oleh guru atau belum sepenuhnya familiar bagi sebagian siswa. Faktor lain yang mungkin mempengaruhi adalah perbedaan latar belakang budaya responden atau kurangnya integrasi budaya secara eksplisit dalam pembelajaran agama.
Meskipun demikian, pendekatan budaya lokal dapat menjadi strategi yang efektif dalam pembelajaran kontekstual. Ketika nilai-nilai keislaman dikaitkan dengan pepatah, kisah, atau adat Melayu, siswa lebih mudah memahami dan menginternalisasi nilai tersebut karena dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari.
5. Implikasi Temuan terhadap Tujuan Penelitian
Temuan penelitian ini menjawab seluruh tujuan penelitian yang telah dirumuskan, yaitu:
- Gaya komunikasi guru dalam pembelajaran didominasi oleh kesantunan, kejelasan, dan pola dua arah yang dianggap paling efektif oleh responden.
- Tipe gaya komunikasi seperti ramah, jelas, penuh perhatian, dan komunikatif muncul sebagai ciri dominan dalam proses pengajaran.
- Peran komunikasi verbal dan nonverbal terbukti penting dalam membangun kenyamanan dan hubungan positif antara guru dan siswa.
- Pengaruh gaya komunikasi terhadap motivasi, pemahaman, dan keterlibatan siswa terlihat kuat melalui tingginya persetujuan responden terhadap efektivitas komunikasi guru.
Kesimpulan
Penelitian survei deskriptif kuantitatif ini bertujuan mendeskripsikan peran komunikasi edukatif guru dalam menanamkan nilai-nilai keislaman melalui pendekatan budaya Melayu. Berdasarkan analisis data dari 32 responden (guru/dosen dan siswa/mahasiswa), dapat disimpulkan beberapa poin utama:
- Peran komunikasi edukatif guru terbukti sangat signifikan dan efektif dalam proses pembelajaran, terutama dalam penanaman nilai. Hal ini didukung oleh tingkat persetujuan responden yang tinggi terhadap penggunaan bahasa santun dan mudah dipahami (90,9%) yang membangun suasana positif, serta Komunikasi Dua Arah (93,9%) yang dinilai paling efektif dalam memfasilitasi dialog dan internalisasi nilai keislaman.
- Guru yang komunikatif dapat menjadi teladan dalam perilaku Islami (81,8%), yang menegaskan bahwa komunikasi tidak hanya berfungsi mentransfer pengetahuan, tetapi juga menjadi sarana modeling karakter dan nilai yang dicontohkan guru.
- Pendekatan budaya Melayu berperan signifikan dalam menguatkan internalisasi nilai-nilai keislaman, sejalan dengan filosofi “Adat Bersendi Syarak”. Responden menunjukkan respons positif (57,6% setuju) bahwa nilai Islam lebih mudah dipahami ketika dikaitkan dengan adat, kebiasaan, serta penggunaan pepatah atau kisah Melayu dalam pembelajaran.
- Meskipun positif, persentase sikap netral yang relatif tinggi (36,4% hingga 48,5%) pada aspek budaya Melayu mengindikasikan bahwa integrasi budaya dalam penanaman nilai masih perlu ditingkatkan agar lebih konsisten dan optimal.
Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa kombinasi antara komunikasi verbal dan nonverbal yang edukatif dengan pendekatan budaya Melayu yang selaras dengan syariat berperan signifikan dalam memperkuat internalisasi nilai-nilai keislaman pada peserta didik.
Penulis: Kelompok 2
1. Afifah Khairu Aqila
2. Nadia Rahman Fitri
3. Rumaisyah
4. Naili Rushda Labibi
5. Kamila Hafidzah
6. Alfisyah Dinda Laily Purwanto
7. Anggun Dwi Rianti
8. Naailah Nurul Tsaabitah
9. Asila Fitri
10. Siti Aisyah
11. Pinkan Mei Lisa
12. Nabila Fauziah Qulazmi
Mahasiswa Prodi Hukum Keluarga Islam, Institut Agama Islam Imam Syafi’i Indonesia
Dosen Pengampu: Ere Mardella Arbiani, M. Pd.
Daftar Pustaka
- Ahmad, A. Samad. (Penyunting). (1979). Sulalatus Salatin (Sejarah Melayu). Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
- Al-Atsaary, A. I. (2020). Istiqamah Dalam Beramal. Radio Rodja. Diakses dari https://www.radiorodja.com/49122-istiqamah-dalam-beramal/
- Al-Attas, Syed Muhammad Naquib. (1972). Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu. Kuala Lumpur: Universiti Kebangsaan Malaysia.
- Ansori, R. A. M. (2017). Strategi penanaman nilai-nilai pendidikan Islam pada peserta didik. Jurnal Pusaka 4, No. 2 : 14-32.
- Azra, A. (2004). Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII: Akar Pembaharuan Islam Indonesia. Kencana.
- Djenal, Peunoh. (1974). Hukum Islam dan Adat di Indonesia. Jakarta: IAIN Syarif Hidayatullah.
- Effendy, Tenas. (2004). Tunjuk Ajar Melayu. Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu.
- Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah.
- Kristiyowati, M. T., & Afiqi, I. (2021). Implementasi Nilai-Nilai Religius Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Di Sekolah Dasar. Jurnal Ilmiah Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 12(2), 160–169.
- Muhtadin. (2020). Komunikasi Interpersonal Guru dalam Menanamkan Nilai-Nilai Pendidikan Islam: Studi Kasus Di SD Islam Al-Azhar 59 Wonosari Yogyakarta [Tesis Master, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga].
- Purwadita, T. (2019). Peran Komunikasi Antarpribadi Guru dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa. Jurnal Komunikasi Islam, 9(2), 183–200.
- Raja Ali Haji. (1982). Tuhfat al-Nafis (The Precious Gift). Terbitan ulang/Suntingan Kritikal. Dewan Bahasa dan Pustaka.
- S, J. H., Zaitu, Z., & Dewi, E. (2025). Analisis Kompetensi Guru PAI Dalam Penggunaan Bahan Ajar Berbasis Budaya Lokal Melayu Riau Di SMK Negeri 2 Mandau. Research and Development Journal of Education, 11(2), 1062–1072.
- Sundari, S. (2023). Peran Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Menanamkan Nilai-Nilai Karakter Tawadhu Siswa di Era Digital. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 10(1), 1–10.
- Teeuw, A., & Muhammad, J. T. (Penyunting). (1991). Hikayat Raja-Raja Pasai. Balai Pustaka.
- UIN Alauddin Makassar. (2024). Imam Syafi’i: Ikhlas Beramal Karena Allah. Diakses dari https://uin-alauddin.ac.id/tulisan/detail/imam-syafi-i–ikhlas-berarnat-karena-allah-0924
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













