Komunikasi Mahasiswa dengan Dosen dan Masyarakat dalam Sikap dan Perilaku

Komunikasi Mahasiswa dengan Dosen
Komunikasi Mahasiswa dengan Dosen dan Masyarakat dalam Sikap dan Perilaku. Gambar: MMI.

Abstrak

Komunikasi merupakan bagian penting dalam interaksi antara mahasiswa, dosen, dan masyarakat. Kemampuan berkomunikasi yang baik, baik secara verbal maupun nonverbal, mencerminkan kualitas diri mahasiswa sebagai insan akademik.
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana mahasiswa membangun komunikasi efektif dengan dosen dan masyarakat melalui sikap dan perilaku yang sesuai etika.
Hasil kajian menunjukkan bahwa komunikasi yang baik dapat meningkatkan hubungan interpersonal, menciptakan suasana akademik yang kondusif, serta memperkuat peran mahasiswa dalam kehidupan sosial.
Kata Kunci: Komunikasi, Mahasiswa, Dosen, Masyarakat, Etika Komunikasi.

Pendahuluan

Komunikasi merupakan proses pertukaran pesan yang sangat penting dalam membangun hubungan akademik maupun sosial. Banyak peneliti telah membahas pentingnya komunikasi mahasiswa, seperti Cangara (2021) yang menekankan bahwa komunikasi efektif adalah kunci terjalinnya hubungan profesional dalam lingkungan pendidikan. Mulyana (2020) juga menyatakan bahwa komunikasi interpersonal mahasiswa berpengaruh besar dalam pembentukan karakter dan kemampuan adaptasi sosial. Selain itu, Effendy (2019) menegaskan bahwa pemahaman etika komunikasi menjadi modal penting bagi mahasiswa dalam membangun interaksi yang sehat. Penelitian-penelitian tersebut menunjukkan bahwa kemampuan komunikasi bukan hanya keterampilan teknis, tetapi juga bagian dari pembentukan identitas akademik mahasiswa. Namun demikian, banyak mahasiswa yang masih menghadapi kendala seperti penggunaan bahasa yang kurang tepat, kurang menghargai audiens, serta rendahnya pemahaman terhadap etika komunikasi formal. Oleh karena itu, jurnal ini bertujuan untuk membahas secara mendalam pentingnya komunikasi mahasiswa baik dengan dosen maupun masyarakat, serta bagaimana sikap dan perilaku yang baik dapat menciptakan kualitas komunikasi yang efektif.

Landasan Teori

Teori-teori komunikasi menjadi dasar pemahaman mengenai bagaimana mahasiswa seharusnya berinteraksi dalam lingkungan akademik dan sosial. Harold Lasswell (1948) menjelaskan komunikasi melalui formula “Who Says What In Which Channel To Whom With What Effect” yang menekankan pentingnya menyesuaikan pesan dengan audiens. Dalam interaksi mahasiswa, formula ini menegaskan perlunya ketepatan isi pesan, saluran komunikasi, dan sikap ketika berhadapan dengan dosen maupun masyarakat. Shannon dan Weaver (1949) memandang komunikasi sebagai proses penyampaian pesan yang rawan gangguan atau noise. Gangguan tersebut dapat berupa bahasa ambigu, sikap tidak sopan, atau kondisi psikologis yang membuat pesan tidak efektif. Teori ini relevan dalam konteks mahasiswa yang harus mampu meminimalkan gangguan agar pesan tersampaikan dengan baik. Menurut Wilbur Schramm (1954), komunikasi efektif terjadi apabila pengirim dan penerima memiliki pengalaman yang selaras atau field of experience. Mahasiswa dan dosen sering memiliki perbedaan pengalaman sehingga diperlukan penyesuaian bahasa, gaya komunikasi, dan sikap agar tercipta pemahaman bersama. Albert Mehrabian (1971) menegaskan bahwa komunikasi nonverbal jauh lebih dominan daripada verbal, di mana 55% makna komunikasi berasal dari bahasa tubuh, 38% dari intonasi suara, dan hanya 7% dari kata-kata. Teori ini menunjukkan bahwa sikap dan perilaku mahasiswa dalam berkomunikasi dengan dosen atau masyarakat sangat menentukan keberhasilan komunikasi. Habermas (1984) melalui teori Communicative Action menekankan pentingnya komunikasi yang berlandaskan kejujuran, kesetaraan, dan saling pengertian. Mahasiswa harus berkomunikasi secara etis, jujur, dan menghargai setiap perbedaan sudut pandang. Sementara itu, DeVito (2013) berpendapat bahwa komunikasi interpersonal merupakan proses dinamis yang memengaruhi dan dipengaruhi oleh hubungan antarindividu. Pandangan ini menekankan pentingnya empati, kesadaran diri, dan kemampuan mendengarkan aktif dalam interaksi mahasiswa dengan dosen dan masyarakat. Selain itu, Edward T. Hall (1976) menjelaskan bahwa budaya memiliki pengaruh besar terhadap cara seseorang berkomunikasi. Dalam masyarakat yang memiliki keragaman budaya, mahasiswa harus mampu menyesuaikan gaya komunikasi, baik ketika berinteraksi di lingkungan kampus maupun saat melakukan kegiatan lapangan. Teori budaya ini sangat penting dalam memahami hubungan komunikasi mahasiswa dengan masyarakat yang memiliki nilai, norma, dan cara pandang yang berbeda.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang bertujuan menggambarkan fenomena komunikasi mahasiswa berdasarkan kondisi yang sebenarnya. Data dikumpulkan melalui observasi terhadap interaksi mahasiswa di lingkungan kampus, wawancara informal dengan beberapa mahasiswa dan dosen, serta studi literatur dari buku dan jurnal terkait teori komunikasi. Data yang diperoleh kemudian dianalisis melalui proses reduksi data, pengelompokan berdasarkan tema seperti komunikasi verbal, nonverbal, sikap, dan perilaku, serta penarikan kesimpulan berdasarkan pola interaksi yang ditemukan.

Pembahasan

Komunikasi mahasiswa dengan dosen dan masyarakat dapat dipahami secara mendalam melalui teori-teori yang telah dipaparkan. Berdasarkan teori Lasswell, mahasiswa perlu menyesuaikan pesan yang ingin disampaikan dengan audiens yang dituju. Dengan dosen, mahasiswa harus menggunakan bahasa yang formal, sopan, dan terstruktur. Sebaliknya, ketika berkomunikasi dengan masyarakat, mahasiswa perlu menggunakan bahasa yang lebih sederhana dan sesuai dengan tingkat pemahaman masyarakat. Bila hal ini diabaikan, pesan berpotensi tidak diterima dengan baik sehingga efek komunikasinya menjadi negatif. Teori Shannon dan Weaver menjelaskan bahwa gangguan komunikasi sering terjadi dalam interaksi akademik. Ketidakjelasan suara, penggunaan bahasa gaul, atau sikap mahasiswa yang terkesan tidak serius dapat menjadi noise yang menghambat penyampaian pesan. Karena itu, mahasiswa perlu memperhatikan intonasi, sikap tubuh, serta memilih waktu dan tempat yang tepat ketika berbicara. Dengan menggunakan teori Schramm, mahasiswa dapat memahami bahwa perbedaan pengalaman antara mahasiswa dan dosen sering menjadi penyebab kesalahpahaman. Mahasiswa harus menyesuaikan cara bicara, memilih istilah yang tepat, serta menghargai waktu dosen. Saat berkomunikasi dengan masyarakat, mahasiswa harus mempertimbangkan latar belakang budaya, pendidikan, dan kebiasaan setempat agar pesan dapat dipahami secara efektif. Teori Mehrabian memperjelas bahwa sikap nonverbal mahasiswa memiliki pengaruh besar terhadap persepsi dosen dan masyarakat. Kontak mata yang baik, posisi tubuh yang sopan, serta intonasi bicara yang lembut dapat meningkatkan kualitas komunikasi. Sebaliknya, sikap malas, bicara tanpa memperhatikan audiens, atau menampilkan ekspresi tidak peduli akan menurunkan citra diri mahasiswa. Pandangan Habermas menekankan bahwa komunikasi mahasiswa harus dilandasi sikap jujur, terbuka, dan moralitas yang baik. Dalam diskusi kelas, mahasiswa harus berani menyampaikan pendapat dengan tetap menghargai pandangan dosen dan teman. Saat berada di masyarakat, mahasiswa harus menjunjung tinggi nilai-nilai etika, terutama ketika melakukan penelitian atau observasi lapangan. Menurut DeVito, komunikasi interpersonal membutuhkan empati dan kemampuan mendengarkan aktif. Mahasiswa harus mampu memahami situasi emosional lawan bicara, menunjukkan respon yang tepat, dan menghindari tindakan yang dapat menyinggung. Kemampuan ini sangat penting untuk menciptakan hubungan positif baik di dunia akademik maupun di tengah masyarakat. Teori Hall mengenai konteks budaya memperkaya pemahaman tentang pentingnya adaptasi dalam berkomunikasi. Ketika berhadapan dengan masyarakat dari budaya tertentu, mahasiswa harus menghargai norma sopan santun, pola bicara, dan kebiasaan lokal agar komunikasi berjalan lancar dan penuh penghargaan. Secara keseluruhan, pembahasan ini menegaskan bahwa komunikasi mahasiswa bukan hanya bergantung pada kemampuan verbal, tetapi juga pada sikap, etika, budaya, serta kemampuan memahami audiens. Dengan menerapkan teori-teori tersebut, mahasiswa dapat membangun komunikasi yang lebih efektif dan profesional.

Kesimpulan

Komunikasi yang baik antara mahasiswa, dosen, dan masyarakat sangat penting dalam menciptakan hubungan yang harmonis dan produktif. Dengan memahami teori-teori komunikasi dan menerapkannya dalam sikap serta perilaku sehari-hari, mahasiswa dapat meningkatkan kemampuan interpersonal, menciptakan suasana akademik yang positif, serta memberikan kontribusi nyata di masyarakat. Penguasaan komunikasi verbal dan nonverbal, pemahaman budaya, serta etika komunikasi menjadi modal penting bagi mahasiswa dalam menghadapi tantangan akademik dan sosial.

Penulis:
1. Miftahurrahma Iska
2. Zuvira Dinda Hayu
3. Arini Jinan
4. Ere Mardella Arbiani, M.Pd.
Mahasiswa dan Dosen lmu Al-Qur’an dan Tafsir IAI IMSYA Indonesia

Dosen Pengampu: Ere Mardella Arbiani, M.Pd.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

Daftar Pustaka
Cangara, H. (2021). Pengantar Ilmu Komunikasi.
DeVito, J. (2013). The Interpersonal Communication Book.
Effendy, O. U. (2019). Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek.
Hall, E. T. (1976). Beyond Culture.
Habermas, J. (1984). The Theory of Communicative Action.
Lasswell, H. (1948). The Structure and Function of Communication in Society.
Mehrabian, A. (1971). Silent Messages.
Mulyana, D. (2020). Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar.
Schramm, W. (1954). How Communication Works.
Shannon, C., & Weaver, W. (1949). The Mathematical Theory of Communication.

 

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses